Arli's blog

Bioinformatician's weblog

RSS Feed

E-Learning, Agar Pembelajaran Makin Luas

Posted by Aditya Parikesit on 28th April and posted in Uncategorized

Proses belajar-mengajar di perguruan tinggi secara konvensional adalah dengan menggunakan ruang kelas dan fasilitas pendukung seperti papan tulis dan LCD Projector. Mahasiswa dan dosen melakuan interaksi secara fisik atau nyata di ruang kelas.

Namun, proses pembelajaran secara konvensional tidak dapat menjamin perluasan akses material pengajaran kepada universitas lain, terutama yang berada di provinsi atau daerah yang jauh dari pusat belajar-mengajar tersebut.

Oleh karena itu, diperlukan teknologi untuk membantu perluasan akses tersebut. Salah satunya adalah teknologi e-learning. Apa saja aspek penting untuk mendukung proses pembelajaran virtual ini?

Selayang Pandang e-learning 

Secara sederhana, e-learning adalah memindahkan proses belajar-mengajar secara konvensional kepada dunia maya, atau ke internet. Umumnya, aplikasi yang digunakan adalah web-based. Pada aplikasi e-learning, dapat kita temukan fitur ruang kelas virtual, video streaming/live, papan tulis virtual, kuis/ujian virtual, discussion thread, kuesioner online, TV online dan berbagai fitur pendukung lainnya.

Indonesia sudah memiliki teknologi tersebut, dan salah satunya disosialisasikan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Pustekkom Kemendikbud RI) di http://setjen.kemdikbud.go.id/pustekkom/

Pustekkom Kemendikbud memiliki berbagai macam aplikasi e-learning, yang dapat digunakan untuk menjamin perluasan akses material pembelajaran ke seluruh Indonesia, secara gratis, selama terdapat jaringan internet. Berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia juga telah menggunakan e-learning web based untuk proses belajar-mengajar mereka.

Salah satu aplikasi web yang paling umum digunakan untuk e-learning adalah Moodle, yang merupakan platform Open Source dan gratis. Moodle juga dikenal sebagai Course Management System (CMS), Learning Management System (LMS), dan juga sebagai Virtual Learning Environment (VLE). Sejauh ini, Moodle telah melayani lebih dari 70 juta user, termasuk di Indonesia.

Perbedaan pembelajaran konvensional dan e-learning

Sepintas, seakan tidak ada bedanya antara proses belajar-mengajar secara konvensional dan e-learning. Seakan-akan, dengan memindahkan proses pembelajaran ke dunia maya, maka semua proses belajar-mengajar akan dapat berjalan sama persis seperti teknik konvensional, hanya saja ini dilakukan pada aplikasi web based. Namun, pada akhirnya, asumsi seperti ini terbukti adalah salah kaprah.

Perbedaan proses antara kedua plaform tersebut ternyata sangat signifikan. Contohnya, pada proses video streaming, baik secara recorded atau live, ternyata tidak bisa diperlakukan sama dengan proses belajar-mengajar secara konvensional.

Pada sesi  video streaming, tutor harus mempersiapkan slide supaya dapat dengan mudah dipelajari via video, yaitu tidak boleh terlalu banyak kata-kata. Tutor juga harus fokus terhadap kamera, karena terkadang tutor suka menyamakan kelas virtual dengan konvensional, sehingga tidak fokus dengan kamera.

Tutor juga harus bisa menjaga jarak dengan baik terhadap mikrofon, yaitu sebanyak satu tapak tangan, supaya suara terekam dengan baik. Sementara itu, pada discussion thread, baik tutor dan mahasiswa harus selalu siap secara online, sehingga interaksi yang berkesinambungan selalu terjaga.

Secara garis besar, problematika e-learning terpusat pada manajemen konten pembelajaran. Tutor dituntut untuk selalu update konten tersebut, sementara mahasiswa dituntut untuk selalu mengikuti update.

Berhubung interaksi antara tutor dan mahasiswa terjadi di dunia maya, maka kedua belah pihak harus rajin mengakses dan me-manage LMS, yang merupakan backbone utama proses pembelajaran. Pada akhirnya, memang diperlukan perubahan mindset vis a vis pembelajaran konvensional.

Tutor dan Pembelajar Independen

e-learning tidak lebih dan tidak kurang adalah sebuah alat bantu proses belajar-mengajar. Pada akhirnya, the man behind the gun yang akan paling menentukan apakah proses tersebut sukses atau tidak.

Di sini, baik tutor dan mahasiswa dituntut untuk menjadi insan yang independen. Apa artinya? Tutor dituntut untuk kreatif dalam menciptakan konten, sementara mahasiswa dituntut untuk aktif dalam memberikan pertanyaan, feedback, maupun kritik.

Jika salah satu pihak, atau malah kedua belah pihak, menjadi pasif dan tidak aktif dalam menggunakan semua fitur aplikasi e-learning, maka dapat dipastikan bahwa proses belajar mengajar akan gagal.

Memang benar bahwa menjadi kreatif merupakan prasyarat untuk pembelajaran konvensional juga. Namun perlu ditekankan, bahwa proses belajar mengajar di dunia maya sangatlah berbeda dengan konvensional.

Di sini, seorang tutor dan mahasiswa tidak menghadapi manusia atau dunia nyata, namun menghadapi layar komputer. Di sini, mindset kita dituntut untuk menjadi terbuka dan kreatif dalam rangka mengekplorasi teknologi yang terbaru.

Menjadi insan digital native, yang selalu berhasil mengoptimalkan perkembangan TIK terbaru, adalah syarat utama supaya e-learning bisa berjalan dengan baik.

Comments are closed

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28