Hidup Kembali di Rumah Sakit Penang, Malaysia

Written by yaslis on May 13, 2008 – 12:14 pm -

Aku punya pengalaman yang menarik setiap pergi ke Medan dalam perjalanan dinas baik mengajar maupun sebagai kosultan atau peneliti. Yang ingin aku mau sharing kali ini pengalaman 2 teman yang menderita sakit dan mendapatkan pelayanan kesehatan di Medan. Teman yang pertama, seorang dokter dan dosen di Universitas Sumatera Utara. Beliau ini menderita sakit dengan gejala sakit perut dan diarea berdarah. Berobat dan dirawat inap lah dia di RS Pringadi. Sebagai dokter, tentunya dia mendapat semacam privilege dan perhatian yang cukup dari sejumlah Profesor doktor yang merawat beliau.

Para Profesor telah melakukan anamnesa dan pemeriksaan labaoratorium ( darah, faeces dan urine) USG dan endoscopy, tapi Diagnosa belum dapat ditegakkan. Obat antibiotika dan obat lainnya terus juga diberikan tanpa mengurangi penderitaan. Pada kondisi ini, teman aku ini sudah berkali-kali menanyakan apakah Diagnosa penyakit yang dideritanya, tetapi belum juga mendapat jawaban yang jelas. Selalu dijawab dengan gaya Medan: ” Tenanglah kau kita akan bantu dan beri layanan terbaik” Masalahnya apa yang terjadi? Setelah 7 hari rawat, Diagnosa belum juga tegak, penderitaan tidak juga berkurang dan anti biotik terus juga dimakan. Beliau merasa yakin, sebagai dokter, bahwa pengobatan ini akan memperburuk kondisi tubuhnya. Akhirnya pada hari ke 7, beliau meminta paksa pulang dengan alasan akan dirawat di rumah. Tentu saja, para Profesor Doktor yang merawat melarang, tetapi dia memaksa pulang karena tidak yakin lagi dengan pengobatan yang diberikan. Sebenarnya, dia tidaklah pulang, tetapi langsung terbang ke Penang, Malaysia. Sampai di Airport Penang, dia dijemput oleh petugas rumah sakit, kemudian dokter ahli melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dengan USG. Apa yang terjadi? Dokter mengatakan anda menderita Kanker Colon dan untuk memastikan dilakukan Endoscopy kemudian Diagnosa ditegakkan. Pada hari itu dipersiapkan semua hal yang berkaitan dengan tindakan operasi yang akan dilakukan besok harinya. Telah lima tahun dia merasa hidup kembali, sekarang setiap tahun dia tetap mengunjungi RS di Penang tersebut untuk kontrol kesehatannya. Ada pertanyaan yang selalu ada pada benak teman kita ini :”Sebenarnya apa yang dikerjakan para ahli kita di RS kita”? Kita mempunyai alat yang sama juga para ahli dengan gelar Profesor Doktor kenapa Diagnosa tidak dapat ditegakkan dalam kurun waktu 7 hari? Berapa besar resiko finansial, kesehatan, kecacatan dan kematian yang mungkin diderita oleh pasien oleh karena kualitas kerja dokter kita? Anda bisa bayangkan kalau seorang dokter sudah kapok berobat ini merupakan informasi paling bernilai tentang buruknya kualitas kedokteran kita. Teman aku yang kedua adalah Manajer PT Askes. Dia telah menderita sakit yang kronis dengan gejala deman, panas tinggi dan sering buang air besar sampai 6 kali sehari. Pertama, dia di rawat selama 3 minggu di rumah sakit swasta di Medan, tapi tidak ada sama sekali perubahan. Akhirnya, atas nasihat teman beliau berangkatlah ke suatu RS di Penang. Di Rumah sakit pertama dia di anamnesa dan diperiksa kemudian ditegakkan diagnosa Kanker Non Hogkin Lymphopma stadium 4. Yang menarik, dokter Rumah sakit ini mengatakan bahwa dia tidak dapat merawat penyakit bapak, seterusnya dia dirujuk kesuatu rumah sakit yang mempunyai dokter ahli kanker yang dapat menanganinya. Di Rumah sakit rujukan, dokter memeriksa kembali dan memberikan pengobatan Chemo therapy 1 kali. Beliau dirawat selama 8 hari, kemudian dilanjutkan chemo therapy sebanyak 5 kali di rumah saki Medan. Sekarang beliau telah sehat kembali dapat berkerja dengan baik.Apa pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman kedua teman kita ini? Tampaknya keseriusan dokter untuk memeriksa dengan baik, menegakkan diagnosa dalam waktu 24 jam sangatlah penting bagi keselamatan pasien. Yang juga pelajaran penting, kode etik dan kejujuran profesi yang dipegang teguh oleh dokter Penang dengan merujuk pasien kepada ahlinya, karena dia menyadari tidak mampu mengobatan pasien dengan baik. Kedua teman aku itu berkata, rasa ajal telah menjemput di Medan dan hidup kembali di Penang. Kapan ya, dokter ahli kita punya etika dan kejujuran profesi dan kinerja seperti sejawat mereka di negeri jiran? Wallahu Alam Bishawat


Posted in Bincang2 kesmas, Uncategorized | 7 Comments »

7 Comments to “Hidup Kembali di Rumah Sakit Penang, Malaysia”

  1. atiek Says:

    aku sependapat dengan pengalaman kedua pasien tsb, karena pengalaman saudara sendiri. dokter tidak pernah mendiagnosa kalau saudara saya sakit ada pembengkakan dibagian leher yang ternyata menurut temannya yang kebetulan dokter dari malaysia, dilihat dari gejala2 dan tanda-tanda lain dibagian tubuh, menurut dia tyroid. kemudian kita coba cek, ke rs, hasilnya saudara saya harus diopname. awalnya sewaktu konsul dokter di rs saudara saya hanya bilang seperti yang dikatakan dokter temennya itu. sepertinya dokter rs tidak menyangka, kemudian dilakukan cek ‘palpasi’ dan akhirnya mengakui adanya gejala pembengkakan kelenjar tyroid tadi.

  2. atiek Says:

    yang menjadi keheranan saya, apa ada beda standar prosedur pemeriksaan di Indonesia dengan diluar negeri.. kalau memang beda, tidak ada salahnya mencontoh dengan yang baik, bukan. setidaknya memberi kemudahan bagi pasien dalam hal pengeluaran uang. seperti pengalaman bapak dari medan berminggu-minggu dirawat tidak ada hasil. tetapi begitu ke penang, langsung menunjukkan hasil dan tidak perlu menunggu hingga dirawat berminggu-minggu yang membutuhkan uang yang tidak sedikit.
    so, please, untuk para profesi kedokteran dimana saja, tunjukkanlah keprofesionalan anda, and jangan memilih2 dalam menangani pasien, mereka semua sama. maaf, kalau ada kata-kata yang kurang sopan..

  3. dani Says:

    salam,

    wah miris juga mengetahui kisah seperti ini masih terjadi.. :(
    sebegitu burukkah kondisi profesi dokter kita..

  4. wywy kusumadinarta Says:

    saya sebagai orang Medan,sudah tidak kaget mendengar kabar itu. tidak heran keluarga saya tidak mau berobat di medan untuk penyakit yang serius. bahkan nenek saya pernah disuruh ke kelenteng karena didiagnosa kena santet oleh seorang dokter. dan yang paling naif, ibu saya harus meninggal karena saat gagal nafas, dibawa ke RS, tapi tidak ada dokter yang standby karena ada acara pesta ultah RS, sehingga tidak mendapat pertolongan

  5. Yuli Says:

    Seperti itulah keadaan kita di Batam, bila mau murah dan sembuh berobat baik langsung ke Malaysia or Singapore yang notabene harga pelayanannya sama dengan Rumah sakit di Batam…

  6. Edu Says:

    Tertarik juga mendengar tentang berobat di Penang..ada yang punya rekomendasi RS apa saja yg dikenal bagus utk berobat di Penang? ortu saya debar jantungnya tinggi & recommended dioperasi salah 1 syarafnya (yg menghambat sistem kerja jantung) di Jkt, tapi ada yg menyarankan treatment ke Penang.
    Trims

  7. ibnu Says:

    apalagi di “rs terbesar se-Indonesia”,yang oleh masyarakatnya terkesan buat praktek karena kondisinya memang rs pendidikan,padahal dulu dokter2 Malaysia banyak belajar dari dokter2 Indonesia

Leave a Comment