“Mari Geograf Berfikir dan Mampu Mengamalkannya”

(Wawancara Dengan Website Departemen Geografi)

Tri Arko Nurlambang, akrab di panggil Mas Arko merasa bersyukur dengan perkembangan diskusi tentang geografi di berbagai forum. Berbagai artikel rasanya pas untuk memberikan ilustrasi menyeluruh tentang perkembangan ilmu geografi, berikut kontribusi riilnya dalam berbagai aspek kehidupan/pembangunan serta proses pembelajaran yang mempengaruhinya. Memang banyak artikel geografi yang menarik meskipun menjelaskan di belahan bumi lain Indonesia, tetapi menurut Mas Arko cukup relevan untuk menjadi refleksi perkembangannya di Indonesia.

Mas Arko sampai saat ini merasa seperti seorang yang terus mencari tingkat intelektualitas yang lebih tinggi melalui berbagai media kehidupan (pendidikan, pekerjaan dan lebih penting lagi dari kehidupan sehari-hari).

Pengalaman Mas arko yang cukup beragam tetapi semuanya terkait dengan urusan ruang. Pagi hari beliau di Bappenas membahas tentang public space dikaitkan dengan good governance, siangnya di Bakosurtanal diskusi berbagai hal tentang tugas dan fungsi Bakosurtanal, kemudian malamnya membicarakan tentang Kajian Lingkungan Hidup Strategis di KLH bersama konsultan asing dan rekan-rekan dari ITB, UNPAD dan IPB. Memang rasa syukur itu datang setelah Mas Arko mampu berperan. Sharing knowledge dan spatial way of thinking itulah perwujudan rasa syukur yang Mas Arko nikmati dalam perjalanan pencarian intelektual (yang tidak tahu batasnya). Read the rest of this entry »

PTN BELUM BANGKIT

Oleh: Triarko Nurlambang

Status sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) telah memberikan keleluasaan bergerak (otonomi) secara akademik dan manajemen untuk mengembangkan institusinya. Hal ini memang dibutuhkan agar institusi pendidikan tinggi ini lebih mampu menjadi organisasi yang dewasa (mature) sehingga bisa lebih mandiri dan berdaya saing tinggi diantara sesama perguruan tinggi pada tingkat internasional. Sudah sewindu sejak pertama kali dicanangkan melalui Undang-Undang BHMN bagi empat PTN unggulan di Indonesia yaitu UI, IPB, ITB dan UGM tetapi sepertinya keempat PTN hanya gonjang-ganjing diantara peringkat yang tidak menunjukkan ada kemajuan berarti walaupun telah dianalisis dengan berbagai metode oleh lembaga kajian peringkat universitas dunia yang berbeda (kecuali yang diiklankan oleh majalah Global yang menurut saya hanya untuk kepentingan komunikasi pemasaran belaka dari Universitas yang terkait dengan majalah tersebut).

Tidak dapat dipungkiri bahwa waktu sewindu itu terhitung cukup lama bagi perjalanan prosesi pengembangan sebuah institusi pendidikan. Paling tidak jika dikaitkan dengan perkembangan satu bidang ilmu saja yang rata-rata mengalami perubahan atau penambahan konsep beberapa kali dalam setahun dan semakin cepat sejalan dengan semakin terbukanya data, informasi dan pengetahuan melalui pengembangan dunia ICT (Information Communiction Technology). Tetapi mengapa belum juga ada geliat yang signifikan bagi kebangkitan PTN BHMN ini? Padahal boleh dikatakan keempat PTN ini secara keseluruhan relative masih menjadi lembaga pendidikan tinggi unggulan ditingkat nasional sampai saat ini dan masih menjadi referensi perkembangan perguruan tinggi nasional. Read the rest of this entry »

MENEMUKAN KEMBALI DAYA SAING INDONESIA

Oleh Prof. DR. Martani Huseini

Memang diakui ekonomi Indonesia belum sepenuhnya pulih. Bahkan jika dilihat dari beberapa indikator makro ekonomi selama kurun kurun sebelum dan sesudah masa krisis moneter ada kecenderung menurun. Sampai dengan akhir tahun 2002 GDP Indonesia tercatat US$ 796, sementara itu tahun 1996 (sebelum krisis) GDP Indonesia adalah US$ 1.136. Disisi lain, Cina mengalami kemajuan yang pesat dalam kurun waktu yang sama yaitu bertambah kurang lebih 50%. Dari indikator FDI Confidence Index (diantara investor global), ternyata Indonesia masih di bawah Malaysia dan Vietnam (index Vietnam sekitar 3 kali Indonesia). Walau demikian, diantara negara Asia, prestasi FDI Confidence Index Indonesia masih di atas Filipina. Sebagai tambahan , AT Kearney (2003) mengatakan bahwa ada 6 yang menyebabkan lemahnya FDI Index di atas di lihat dari critical risk to corporations, yaitu berturut-turut peraturan pemerintah, resiko finansial negara, resiko mata uang, ketidakstabilan sosial-politik, lemahnya hukum dan aturan, dan gangguan terhadap supply chain.

Lebih dari itu Business Competitiveness Index Indonesia sampai dengan tahun 2003 adalah yang terbawah dibandingkan Filipina, Vietnam dan Malaysia. Dari index ini diperoleh satu pegetahuan bahwa dalam masa 1998 – 2003 menunjukkan adanya gejala penurunan. Yang dimaksud dengan Business Competitiveness Index ini adalah produktifitas human capital (nasional) dan sumberdaya alam. Tingkat situasi bisnis di Indonesiapun masih lebih rendah diantara negara-negara ASEAN bahkan sampai tahun 2008 (berdasarkan EIU) Indonesia dinyatakan ‘bertahan’ sebagai negara yang lemah dalam menciptakan situasi kondusif untuk berbisnis. Read the rest of this entry »

Kategori