UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DALAM PELESTARIAN HUTAN SEBAGAI PENCEGAH
PEMANASAN GLOBAL
Oleh: Tarsoen Waryono

 

Fenomena Pemanasan Global
Pemanasan global telah menjadi isu internasional sejak beberapa dekade yang lalu, walaupun mungkin sebenarnya masih terdapat ketidakpastian apakah benar akan terjadi pemanasan global. Sebagai akibat dari pemanasan global, memberikan dampak sangat besar baik terhadap iklim dunia, maupun kenaikan permukaan air laut.
Dampak iklim global ini akan mengakibatkan perubahan tatanan hujan pada suatu wilayah; dimana sebagian wilayah hujannya akan bertambah dan di beberapa wilayah lainnya hujannya akan berkurang. Hal ini memberikan dampak turunan terhadap sistem pertanian dalam arti luas.
Kenaikan permukaan laut akan menyebabkan terendamnya daerah pantai yang rendah, hal ini akan menimbulkan kesulitan terhadap negara-negara yang memiliki pulau-pulau kecil, seperti Maldives, Fiji dan Marshall; negara dengan delta yang luas (Mesir dan Banglades), serta negara yang memiliki daerah rawa pantai yang luas seperti Indonesia.
Di Indonesia daerah rawa pantai seperti mangrove, tambak udang, daerah pasang surut dan kota-kota yang berdataran rendah seperti (Jakarta, Surabaya dan Banjarmasin), terancam akan terendam. Kerugian lain misalnya akan munculnya gelombang badai dan menyusupnya intrusi air laut.
Mencermati atas uraian tersebut di atas, dalam kaitannya dengan upaya pengendalian terhadap pemanasan global; memberdayakan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam membangun kawasan hijau baik dalam bentuk hutan maupun hijauan lainnya; merupakan alternatif pendekatan yang dinilai efektif dan rasional. Hal ini mengingat bahwa pepohonan hutan berpotensi dalam hal pencegahan pemanasan global; karena jasa-jasa biologis dan hidrologisnya serta mampu mendaur ulang CO2 secara alami.
Atas dasar itulah dalam paparan ini penulis ingin mencoba mengungkap lebih jauh proses terjadinya pemanasan global, dampak dan upaya penangannya, serta memberdayakan masyarakat untuk tujuan pencegahannya.
Bumi mempunyai suhu yang sesuai bagi kehidupan baik manusia maupun lainnya, akibat dari efek rumah kaca (ERK). Jika tidak ada ERK di dunia ini, maka bumi akan mempunyai suhu di bawah titik beku, yang akan berpengaruh terhadap kehidupan di muka bumi ini. Dengan demikian ERK tidaklah seburuk apa yang diduga oleh setiap insan yang awam terhadap penge-tahuan tersebut.
Cahaya matahari yang berwarna putih, sebenarnya terdiri atas berbagai macam jenis warna (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu). Masing-masing jenis warna mempunyai panjang gelobang tertentu; cahaya ungu mempunyai panjang gelombang terpendek, dan merah terpanjang.
Di sisi lain ada cahaya yang tidak tampak yaitu “Ultra violet” dengan panjang gelombang lebih pendek dari pada cahaya unggu; namun sebaliknya cahaya infra-merah dengan panjang gelombang lebih panjang dari pada merah, dan merupakan sinar yang bersifat panas.
Di dalam atmosfer, bumi terdapat berbagai jenis gas; dimana gas-gas tersebut dapat meneruskan sinar matahari yang bergelombang pendek, hingga sinar mata hari dapat sampai ke permukaan bumi dan akibat yang ditimbulkannya permukaan bumi menjadi panas, dan permukaan bumi memancarkan kembali sinar yang diterimanya. Menurut hukum fisika panjang gelombang sinar yang dipancarkan sebuah benda tergantung pada suhu benda tersebut. Makin tinggi suhunya akan semakin pendek gelombangnya. Matahari dengan suhu yang tinggi, memancarkan sinar dengan gelombang yang pendek. Namun sebaliknya karena permukaan bumi dengan suhu yang rendah, maka memancarkan sinar dengan gelombang panjang yaitu sinar infra-merah. Sinar infra merah dalam atmosfer terserap oleh gas tertentu, hingga tidak terlepas ke angkasa luar. Panas yang terperangkap di dalam lapisan bawah atmosfir yang disebut troposfer; sebagai akibat yang ditimbulkannya permukaan bumi dan tropsfer menjadi naik suhu udaranya; dan peristiwa inilah yang disebut dengan istilah “efek rumah kaca”.

*) Makalah Dalam Rangka Sarasehan Revitalisasi Kalpataru, 2009. Hotel Redstop Jakarta 5 Juni 2009.
**). Staf pengajar Dep. Geografi FMIPA Universitas Indonesia dan Penerima Kalpataru 2005.
Gas yang menyebabkan terjadinya ERK disebut “gas rumah kaca“ (GRK); yang antara lain meliputi uap air (H2O); Carbon dioksida (CO2), metan (CH4); N02; Ozon dan CFC (gas buatan manusia).
Pemantauan terhadap kadar GRK dalam atmosfer, kecuali air menunjukan kecende-rungan semakin meningkat; oleh karena itu dikhawatirkan intensitas ERK akan menjadi naik, hingga suhu permukaan bumi akan menjadi lebih tinggi dari keadaan sekarang ini; peristiwa inilah yang dikenal dengan istilah “pemanasan global”. Menurut Scneirder (1989), jika kecenderungan seperti sekarang ini terus berlangsung, maka pada abad yang akan datang suhu udara permukaan bumi akan naik antra 2,3oC sam pai 7,0oC; walaupun kenaikan ini nampaknya kecil, namun dampaknya akan sangat besar.

2. Hutan dan Isu Global
Kerusakan hutan, khususnya hutan hujan tropis, kini ditelaah erat kaitannya dengan isu global, terutama kepunahan jenis flora dan fauna atau keragaman hayati (biodiversity), dan pemanasan global. Oleh karena itu dampak hidroorologi akibat kerusakan hutan sifatnya lokal, regional dan nasional, dan masalah ini kurang disoroti sebagai isu global. Namun demikian masalah penggurunan, sebagai akibat proses erosi yang berlebihan hingga terbentuk bentang alam yang menyerupai gurun, telah menarik perhatian internasional. Hal ini nampaknya erat kaitannya dengan dampak negatif akibat pemanasan global yang terjadi.
Isu-isu di atas, dapat dilihat dari dua kepentingan baik internasional maupun nasional. Terhadap kepentingan internasional, erat kaitannya dengan pembagian biaya penanganan masalah global. Ditinjau dari segi luasan penyusutan hutan, nampaknya hutan tropis relatif lebih kecil dibanding dengan hutan non-tropis. Kerusakan hutan tropis tercatat 15,15% (7,01 juta km2), dan kerusakan padang rumput sebesar 19,1% (6,47 juta km2), sedangkan kerusakan hutan non-tropis sebesar 13,6 kali lipat lebih besar dibanding dengan penyusutan pada hutan hujan tropis. Akan tetapi isu yang terlontar bahwa kerusakan hutan hujan tropis lebih besar dibanding dengan hutan non-tropik. Dugaan lebih mendasar bagi negara-negara maju saat itu, bahwa kerusakan lapisan ozon di stratosfer disebabkan oleh rusaknya hutan tropis.
Akhirnya dugaan itu menjadi reda setelah diperolehnya data penyebab rusak-nya lapisan ozon dan kadar GRK di atmosfer, lebih cenderung disebabkan oleh kenai-kan gas CFC (gas buatan manusia, mengkonsumsi 29%) yang banyak digunakan dalam industri (karet, plastik busa, AC dan alat pendingin lainnya). Kerusakan lapisan ozon seperti yang dikemukakan oleh Falk dan Brownlow (1989), mempunyai pengaruh naiknya sinar UV-B yang dapat mencapai bumi; yang berakibat sebagai penyebab naiknya frekwensi penyakit kangker kulit, katarak dan menurunnya kekebalan tubuh manusia.
Walaupun hutan memberikan dampak yang relatif kecil terhadap pemanasan global dibanding dengan gas CFC; bukan berarti bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi dianggap aman. Penebangan hutan secara besar-besaran terutama di negara-negara berkembang cenderung memberikan pengaruh besar terhadap iklim global. Oleh karena itu harus diakui bahwa hutan sebagai sumber utama penyebab ERK. Demikian halnya dengan besaran laju erosi yang melebihi ambang batas erosi yang diijinkan, menimbulkan sedimentasi baik di sepanjang badan sungai dan atau muara sungai, hingga menyebabkan banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.
Sedimen yang terjadi pada muara-muara sungai, memberikan dampak negatif terhadap kelangsungan hidup hutan mangrove, yang erat kaitannya dengan kehidupan biota perairan laut. Di sisi lain, kerusakan hutan tropis menyebabkan terancamnya degradasi jenis flora dan fauna khsusnya terhadap jenis-jenis endemik.

3. Dampak Pemanasan Global
Timbulnya isu pemanasan global, karena dampaknya yang sangat besar, dan seandainya hal tersebut betul terjadi, akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut, yang secara langsung baik cepat atau lambat akan menimbulkan dampak-dampak turunannya.

a. Perubahan iklim
Para pakar lingkunagan sependapat bahwa pemanasan global akan menyebab-kan terjadinya perubahan iklim sedunia. Karena kenaikan suhu udara di permukaan bumi, maka laju penguapan air akan meningkat, dengan demikian jumlah awan dan hujan secara umum akan meningkat, dan menyebabkan distribusi curah hujan secara regional akan berubah. Di suatu daerah tertentu jumlah hujannya naik, akan tetapi di beberapa tempat lainnya akan mengalami penurunan.
Di Asia Tenggara, curah hujan akan bertambah; sedangkan di wilayah Indonesia bagi daerah-daerah yang memiliki curah hujan tinggi, penambahan curah hujan akan menimbulkan bahaya banjir dan meningkatnya erosi. Sedangkan kenaikan suhu udara karena pemanasan global akan mempersulit masalah kekurangan air (defisit air) di daerah tertentu.
Mencermati pernyataan Scneirder (1989), terhadap perubahan suhu udara, kecende-rungan yang kini dirasakan telah menjadi kenyataan. Di beberapa kota di Indonesia, pada tahun 1970-an rata-rata suhu udara di Jakarta tercatat berkisar antara 24oC dan 26oC, dan kini telah (2007) berubah antara 29,12oC dan 31,26oC. Di kota Bogor (1972) tercatat berkisar antara 24,09oC dan 25,11oC, kini (2005) telah berubah antara 25,14oC dan 27,31oC, di Bandung (1970) tercatat berkisar antara 18,11oC dan 23,15oC, dan kini (2006) telah berubah antara 24,28oC dan 27,22oC. Perubahan suhu udara di beberapa kota juga berpengaruh terhadap kelembaban relatif, yang cenderung turun rata-rata 6,23% hingga 8,35%.
Perkiraan lainnya yang menyertai perubahan iklim di Asia Tenggara, menurut Scneirder (1989), naiknya frekuensi dan intensitas badai. Indonesia saat ini masih beruntung karena terletak di luar daerah badai topan; namun demikian apakah badai yang berlangganan di bagian wilayah Filipina akan bergeser kearah selatan.
Terhadap perubahan curah hujan, nampaknya juga mulai dirasakan pengaruh-pengaruhnya. Walaupun curah hujan meningkat dan ditandai dengan peningkatan genangan (banjir), akan tetapi neraca keseimbangan air setiap tahunnya memperlihatkan defisit air yang semakin berkelanjutan. Suatu contoh S. Ciliwung di Kota Depok, pada tahun 1970-an, pada bulan kering (Agustus), tercatat memiliki debit >413 m3/detik, namun kini (Agustus, 2005) hanya memiliki debit 32,44 m3/detik. S. Serayu di Rawalo (Jembatan Cindaga), pada bulan Juli 1980, tercatat memiliki debit 1.843 m3/detik, dan kini pada bulan yang sama (2005) hanya memiliki debit 169,65 m3/detik, dan kemungkinan juga terjadi pada beberapa sungai lainnya.
Contoh isu di atas, memperlihatkan adanya perubahan-perubahan yang terjadi akibat pemanasan global dimuka bumi ini.

b. Kenaikan Permukaan Laut
Beberapa pendapat juga masih mempersoalkan ketidak pastian yang besar sebagai akibat dari pemanasan global, walaun di beberapa tempat secara nyata telah dirasakan akibat-akibatnya. Suatu prediksi para pakar lingkungan, permukaan air laut akan naik setinggi satu meter sejak tahun 2045, dan akan terlihat efektif pada tahun 2060. Kenaikan air laut diduga disebabkan oleh beberapa hal antara lain: (a) adanya kenaikan suhu air laut, hingga menyebab-kan pemuaian di atas permukaan, dan menyebabkan volumenya bertambah, (b) melehnya es abadi di benua Antartika, dan pengunungan-pegunungan tinggi, serta (c) kenaikan air laut juga disebabkan turunnya permukaan tanah sebagai akibat dari proses geologi.
Sebagai akibat kenaikan permukaan air laut, menyebabkan (a) terendamnya daerah-daerah genangan (rawa), seperti di daerah pasang surut Pulau Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan dan Irian Jaya bagian Barat, (b) meningkat dan meluasnya intrusi air laut yang menyusur melalui badan-badan sungai pada saat musim kemarau.
Suatu pendapat para pakar lingkungan bahwa peranan fungsi jasa biologis, ekologis dan hidrologis komunitas vegetasi hutan dinilai mampu dalam mengendalikan degradasi lingkungan yang erat kaitannya dengan pemanasan global. Atas dasar itulah dalam paparan ini juga akan diungkap fenomen pelestarian hutan. Adapun keterkaitan dengan makna pemberdayaan masyarakat dalam kaitannya dengan pelestarian hutan, dimaksudkan untuk memacu keperduliannya untuk ikut berkiprah dalam pelestarian lingkungan melalui pembudidayaan hutan; karena hutan merupakan sumber oksigen yang sangat esensial dibutuhkan oleh setiap insan manusia, dan atau kehidupan lainnya.

4. Upaya Penanganan Terhadap Penyebab Pemanasan Global
Apabila benar kenaikan kadar GRK akan menyebabkan pemanasan global, maka fenomena yang terjadi tidak dapat dihindari lagi, dan harus diatasi serta ditangani seraca cermat berkelanjutan. Oleh karena itu usaha pertama yang harus ditempuh adalah dengan mengurangi emisi karbon ke atmosfer; dengan demikian upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain: (a) menaikan efesiensi penggunaan energi bahan bakar fosil; (b) mengikat dan mendaur ulang C02; (c) pengendalian pemanfaatan hutan secara tidak terkontrol; (d) peningkatan reboisasi dan penghijauan; yang secara rinci diuraikan sebagai berikut;
Bahan bakar fosil, merupakan sumber cemaran CO2 terbesar; walaupun sebagian mampu diikat oleh jasa biologis pepohonan dalam proses fotosintesis. Namun demikian kandungan lainnya yang tercampur dengan bahan cemaran tersebut seperti aerosol, kadar debu dan kandungan kimiannya, cenderung meningkatkan GRK.
Melalui kesadaran untuk efesiensi dalam penggunaan bahan bakar fosil, nampaknya merupakan alternatif yang dinilai positif. Kesadaran tersebut mulai muncul dengan perancangan pemanfaatan energi surya sebagai sumber penerangan dan atau kini sedang diuji pemanfaatanya untuk kepentingan otomotif.
Secara umum telah diketahui bahwa secara alamiah dalam kaitannya dengan CO2 terdapat dua proses yang berlawanan, yaitu proses fotosintesis dan pernafasan. Dalam proses fotosistensis hanya dapat dilakukan oleh hijau daun; dimana CO2 diolah menjadi gula dengan bantuan cahaya matahari sebagai sumber energinya. Sedangkan hasil samping yang diperoleh adalah O2 (oksigen). Selanjutnya gula dimanfaatkan untuk membentuk bagian dari tubuh tumbuhan (batang, akar dan daun); dengan demikian semakin banyak biomassa hijau, berarti pula semakin banyak CO2 yang diikat (diserap), demikian halnya dengan oksigen yang diproduksi.
Dalam proses pernafasan adalah sebaliknya; bahwa dalam tubuh memerlukan energi untuk pembakaran. Kedua proses tersebut berjalan bersamaan, dan secara lamiah bahwa hasil proses fotositesis lebih besar dibanding dengan proses pernafasan. Oleh karena itu jumlah CO2 yang diserap jauh lebih besar, berarti proses fotosintesis membantu dalam mengurangi jumlah CO2 pada atmosfer.
Jika menggunakan bahan bakar kayu untuk kepentingan rumah tangga dan atau lainnya, maka jumlah CO2 yang dihasilkan cukup besar. Dengan dalih bahwa kayu yang dimanfaatkan diimbangi dengan laju pertumbuhan hutan, maka besaran emisi CO2 di udara jumlahnya akan tetap dan tidak menjadi bertambah.
Sebuah aspek yang cukup menarik adalah pohon randu (Ceiba petandra), dulu diman-faatkan sebagai pengisi kasur dan bantal; akan tetapi sekarang justru tersingkir oleh karet busa. Karet busa diproduksi dengan menggunakan CFC di pabrik; dan merupakan sumber ozon di stratosfer. Untuk itu mempromosikan kembali untuk menggunakan kasur dan bantal dengan kapuk merupakan cara yang sehat dan membantu mengurangi ERK.
Penebangan hutan yang tidak terkontrol, perladangan berpindah dan aktifitas perhu-tanan lainnya. Penebangan hutan selain mengurangi jumlah biomassa yang berperanan fungsi sebagai pengikat CO2 , namun demikian akan dinilai wajar apabila terciptanya kese-imbangan antara biomassa yang diproduksi dengan biomassa yang dibangun.
Perladangan berpindah seperti yang dilakukan oleh masyarakat nomadik di sekitar kawasan hutan, walaupun metode pendekatan bercocok tanamannya dengan cara melakukan pembakaran, akan tetapi cara-cara yang dilakukan secara tertib dan terkontrol. Pembakaran dilakukan bertepatan menjelang 2-3 hari datangnya hujan, luasannya terbatas 0,5-1,5 ha, hingga cemaran CO2 cenderung dapat dikendalikan. Berbeda halnya dengan pembangunan hutan tanaman industri, dimana lahan yang dibuka relatif luas dan melakukan pembakan yang tidak terkontrol, hingga menyebabkan cemaran udara yang cenderung mendukung terjadinya pemanasan global.
Kegiatan ini selain memperbaiki kerusakan tanah, juga merupakan sumber oksigen yang diperoleh dari proses pengikatan (penyerapan) CO2 di alam bebas. Semakin luas implentasi reboisasi yang dibangun; berarti pula memberikan efektifitas terkendalinya ERK.
Dalam kenyataanya bahwa kegiatan reboisasi dan atau penghijauan juga sering meman-faatkan pendekatan melalui pembakaran hutan. Cara-cara pembangkaran yang menimbulkan polusi udara, nampaknya sudah mulai tidak lagi dilakukan. Melalui reboisasi dan penghijauan, selain memberikan manfaat terhadap pengendalian ERK, juga bermanfaat dalam hal pemulihan dan peningkatan produktifitas lahan.

5. Beberapa Aspek Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pelestarian Hutan
Masyarakat baik di pedesaan dan atau diperkotaan dan peralihannya, pada hakekatnya cenderung mendambakan atas kenyamanan lingkungan hidupnya. Oleh sebab itu masyarakat juga berkepentingan terhadap sumber-sumber kenyamanannya; yang berarti pula masyarakat tergolong salah satu stakeholder. yang harus bersama-sama dengan pihak yang berkepen-tingan untuk ikut serta bertanggung-jawab terhadap upaya-upaya pengendalian pemanasan global.
Di lingkungan perkotaan, kenyamanan nampaknya kini menjadi persyaratan mutlak yang harus dipenuhi; terlebih lagi di kawasan-kawasan permukiman, dimana keteduan, keredupan dan kesan pandang menjadi indaman bagi para huniannya. Secara alami makana kenyamanan lingkungan hidup diilustrasikan sebagai berikut;
cahaya mata hari
C02 + H2 0 C6 H12 06 + 02

Mencermati rumus fotosistesis yang sederhana di atas, nampaknya jelas bahwa kenyamanan lingkungan permukiman yang diilustrasikan (02) sangat dipengaruhi oleh kemampuan kawasan hijau (C6 H12 06) untuk mengikat dan atau mendaur ulang jumlah polutan yang didominan oleh C02 , yang bersumber kendaraan bermotor di wilayah perkotaan.
Dalam kaitannya dengan pelestarian hutan dan atau kawasan hijau di wilayah perkotaan, yang dinilai mampu sebagai pengendali dan pencegah terhadap pemanasan global; nampaknya partisipatif masyarakat perlu digalang dan dipacu untuk ikut serta dalam pelesta-riannya; dalam pada itu aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pemberdayaan masyarakat meliputi hal-hal sebagai berikut;
(1). Aspek kesadaran pentingnya hutan (kawasan hijau) sebagai salah satu penyangga kenyamanan lingkungan hidup;
(2). Aspek peningkatan pengetahuan masyarakat dalam kaitannya dengan multiguna peranan fungsi hutan (kawasan hijau);
(3). Aspek ekonomi, memberikan informasi dan peluang untuk bekerja dan berusaha pada sektor perhutanan;
(4). Aspek sosial, dimana hutan merupakan bagian hidup bagi masyarakat, karena produk oksigen dari pepohonan hutan merupakan kebutuhan esensial bagi setiap insan kehidupan;
(5). Aspek pengaman, dimana hutan (kawasan hijau) merupakan kawasan penyangga baik terhadap kesuburan tanah, air dan kehidupan satwa liar;
Mencermati uraian di atas, sehingga dapat dikatakan bahwa dampak pemanasan global akibat efek rumah kaca, nampaknya kini menjadi tanggung-jawab bersama mengingat bahwa ancaman-ancamanya mulai dapat dirasakan. Upaya pengendalian terhadap pemanasan global dinilai belum terlambat; serta keyakinan para pakar lingkungan bahwa pepohonan baik dalam bentuk hutan, budidaya pertanian dan atau lainnya mampu untuk mengegah dan mengendalikannya. Untuk itu menggalakan partisipasi masyarakat untuk ikut berkiprah merupakan pendekatan yang dinilai cukup strategis. Penyuluhan atas peranan fungsi jasa biologis, ekologis dan hidrologis kawasan hijau, nampaknya perlu diperdayakan kepada masyarakat secara luas, mengingat bahwa pepohonan merupakan bagian dari kehidupan setiap insan.

Leave a Reply