ASPEK STRATEGIS
UPAYA MEWUJUDKAN KOTA JAKARTA
TEDUH HIJAU ROYO ROYO DAN BERKICAU
*Naskah ini disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta (Sutijoso)
sebagai sumbangsih pemikiran.
Derah khusus Ibukota Jakarta seperti halnya kota-kota berkembang di negara-negara lain, dalam pertumbuhannya menghadapi berbagai macam fenomena permasalahan. Disam-ping menurunnya lingkungan fisik kritis perkotaan, masalah sosial juga merupakan fenomena permasalahan seperti urbanisasi, lunturnya budaya asli, dan permukiman kumuh.
Penduduk DKI Jakarta pada akhir pertengahan tahun 1997, tercatat 11,3 juta jiwa pada siang hari, dan 8,2 juta jiwa pada malam hari. Tumbuh berkembangnya wilayah perkotaan, yang cenderung semakin meningkat seiring dan sejalan dengan tumbuh berkembangnya wilayah perkotaan. Kondisi ini nampaknya memacu terhadap luasan kawasan kumuh yang kini tercatat seluas 11.340 ha, atau (17,3% dari luas daratan DKI Jakarta).
Menurunnya daya dukung lingkungan hidup kota Jakarta, sebagai akibat meningkatnya jumlah kendaraan bermotor 3,7 juta buah kendaraan dengan menggunakan bahan bakar minyak dan gas bumi, semakin luasnya bangunan beton dan aspal yang menutup tapak hingga seluas 18.798,5 ha, atau 28,7% luas daratan DKI Jakarta. Meningkatnya bangunan berdinding kaca hingga mencapai 4.061 ha atau 6,2% dari luas daratan DKI Jakarta, tingginya tingkat laju erosi (wilayah pengkikisan), dan hasil sedimentasi pada wilayah pengendapan, cenderung sebagai faktor penyebab semakin meluasnya wilayah genangan musiman dan kawasan kumuh hingga 19.540 ha atau 29,8% dari luas daratan DKI Jakarta. Demikian halnya dengan semakin terdesaknya luasan kawasan hijau akibat lajunya pembangunan fisik wilayah, baik untuk kepentingan permukiman maupun pusat-pusat kegiatan kota, dan semakin meningkatnya laju pemanfaatan air tanah dangkal, serta maraknya bangunan pancang, hingga merusak sirkulasi dan sistem tata air tanah (hidrologis), serta masuknya intrusi air laut yang kini telah mencapai luas 7.210 ha atau 11% dari luas daratan DKI Jakarta. Disisi lain meningkatnya pencemaran udara selama kurun waktu 5 tahun (1992-1997) seperti Karbon dioksida (Co2) dari 187,4 menjadi 300,0 mg/m2; kadar debu rata-rata dari 186,2 menjadi 433,0 mg/m2; suhu udara rata-rata dari 26,2 menjadi 27,1 oC; kadar debu rata-rata dari186,2 mg/m2 dan kini meningkat menjadi 433,0 mg/m2; Kadar timbal (Pb) dari rata-rata 241,3 meningkat menjadi 400 mg/m2; demikian halnya dengan kebisingan rata-rata 32,9 Db dan kini meningkat menjadi 43,0 Db. Continue Reading »