ADAKAH TOPONYMY KOTA DEPOK YANG MENJADI “Cultural HERITAGE” ATAU the Intangible Cultural Heritage ?
Taqyuddin (Kartografi, departemen Geografi FMIPA-UI)
Pertanyaan sebagi Judul di atas memang terlalu berlebihan untuk kota Depok? Tetapi setidaknya pertanyaan itu di tujukan kepada pemerintah, masyarakat, di Bagian wilayah Indonesia yang lain tentunya ada yang dapat diidentifikasi sebagai the Intangible Cultural Heritage atau Cultural Heritage.
Permasalahannya: di mana bagian wilayah itu, di Indonesia? sudah adakah penelitian tentang itu?
Pada catatan kali ini mengangkat Studi kasus Toponimi Kecamatan dan Kelurahan yang ada di Kota Depok Jawa Barat sampai tahun 2010.
Hasil yang sudah dipetakan: Berdasar data sekunder Peraturan Daerah Nomor 08 Tahun 2007 sebagai berikut:
- Kecamatan Beji meliputi wilayah kerja: Kelurahan Beji, Kelurahan Beji Timur, Kelurahan Kemiri Muka, Kelurahan Pondok Cina, Kelurahan Kukusan, dan Kelurahan Tanah Baru.
- Kecamatan Pancoran Mas meliputi wilayah kerja: Kelurahan Pancoran Mas, Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Rangkapan Jaya, Kelurahan Rangkap Jaya Baru, dan Kelurahan Mampang.
- Kecamatan Cipayung meliputi wilayah kerja: Kelurahan Cipayung, Kelurahan Cipayung Jaya, Kelurahan Ratu Jaya, Kelurahan Bojong Pondok Terong, dan Kelurahan Pondok Jaya.
- Kecamatan Sukmajaya meliputi wilayah kerja: Kelurahan Sukmajaya, Kelurahan Mekarjaya, Kelurahan Baktijaya, Kelurahan Abadijaya, Kelurahan Tirtajaya, dan Kelurahan Cisalak.
- Kecamatan Cilodong meliputi wilayah kerja: Kelurahan Sukamaju, Kelurahan Cilodong, Kelurahan Kalibaru, Kelurahan Kalimulya, dan Kelurahan Jatimulya.
- Kecamatan Limo meliputi wilayah kerja: Kelurahan Limo, Kelurahan Meruyung, Kelurahan Grogol, dan Kelurahan Krukut.
- Kecamatan Cinere meliputi wilayah kerja: Kerurahan Cinere, Kelurahan Gandul, Kelurahan Pangkal Jati Lama, dan Kelurahan Pangkal Jati Baru.
- Kecamatan Cimanggis meliputi wilayah kerja: Kelurahan Cisalak Pasar, Kelurahan Mekarsari, Kelurahan Tugu, Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kelurahan Harjamukti, dan Kelurahan Curug.
- Kecamatan Tapos meliputi wilayah kerja: Kelurahan Tapos, Kelurahan Leuwinanggung, Kelurahan Sukatani, Kelurahan Sukamaju Baru, Kelurahan Jatijajar, Kelurahan Cilangkap, dan Kelurahan Cimpaeun.
- Kecamatan Sawangan meliputi wilayah kerja: Kelurahan Sawangan, Kelurahan Kedaung, Kelurahan Cinangka, Kelurahan Sawangan Baru, Kelurahan Bedahan, Kelurahan Pengasinan, dan Kelurahan Pasir Putih.
- Kecamatan Bojongsari meliputi wilayah kerja: Kelurahan Bojongsari, Kelurahan Bojongsari Baru, Kelurahan Serua, Kelurahan Pondok Petir, Kelurahan Curug, Kelurahan Duren Mekar, dan Kelurahan Duren Seribu.
Dari 11 nama kecamatan dan 63 nama kelurahan, dibuatlah Peta Isogloss Hasil (dengan asumsi kajian belum mendalam):
1. Pilihan Penamaan Berdasar Asal-Usul Bahasa (Ethymologi):
Dominan penggunaan bahasa Sunda dan Indonesia.
2. Pilihan Penamaan Berdasar Penamaan Lokal (Demonymy):
Nama Kecamatan: Beji (nama orang Buyut Beji dari Banten), Pancoran Mas (Situs Pancuran berkepala Emas, kemudian di ganti Kuningan pada jaman Jepang dan sekarang sudah tidak ada), Rangkapan Jaya (dasar penamaan belum diketahui), Cipayung (Nama Sungai (tetapi apa yang dimaksud dengan payung belum diketahui), Sukmajaya (nama orang Raden Sukma Jaya), Cilodong (nama sungai dan Lodong dari bahasa Sunda yang artinya Bambu), Cimanggis (nama sungai dalam bahas Sunda yang bercirikan pohon buah manggis), Tapos (nama pohon dalam bahasa latin), Limo (lima dalam bahasa Indonesia atau pelafalan Limau dalam bahasa Betawi), Cinere (sepintas seperti nama sungai dalam bahasa Sunda, tetapi ada sumber yang menyatakan bahwa nama tersebut merupakan akronim dari kata cina dan kere (bahasa Jawa) yang artinya tempat etnis tionghoa miskin), Sawangan (bahasa Jawa untuk penyebutan suatu tempat di ketinggian dari daerah sekitarnya untuk memandang, memantau), Bojongsari (dalam bahas sunda yang maksudnya suatu tempat untuk sari/bibit/inti).
Untuk nama-nama kelurahan di buat isogloss atas dasar:
1. Nama Kelurahan atas dasar Penamaan Lokal (berbahasa Betawi) diantaranya: Krukut, Limo
2. Nama kelurahan yang Dominan penggunaan kata Jamak yang terdiri dari 2 kata (35 kelurahan)
3. Pilihan Penamaan Berdasar Ethnonymy :
Masyarakat Kota Depok lebih banyak memberikan nama Kelurahan atas dasar fenomena fisik geografis (28,6 %), atas dasar biodiversiti khususnya Flora (22,2 %), atas dasar fenomena sosial (23,8 %). Data: 18 Kelurahan (FG), 14 Kelurahan (Flora), 15 Kelurahan (Sosial),16 Kelurahan (Lain-lain).
Explanasi (menyusul) atas dasar tinjauan :
1. Filologi (Prasasti, Naskah, Tradisi Lisan).
Memerlukan penggalian kajian lebih dalam.
2. Arkeologis (Bukti Artefaktual)
Bukti-bukti arkeologis:
1. Naskah (Sunda Kuno).
2. Tradisi Lisan (Kuncen: Sumur 7, Sumur Bandung, Sumur Pancoran, Sumur Gondang)
3. Makam Islam: Siti Gamparan, Ratu Maemunah (Ratu Anti/istri Raden Pakpak, Bojonggede), Buyut Beji, Raden Sungging (pondok Terong), Raden Uyut Tempang dll.
4. Peninggalan Kolonial di kawasan Depok Lama sekarang (Gereja, sekolah, Pastoran, Kerkhof dll).
3. Geografis (Pola-pola Keruangan).
Dari persebaran menurut kategori yang dipakai untuk pengujian pada kenyataan secara umum indikasinya yaitu: nama-nama tempat yang terkait dengan fenomena hidrologis secara keruangan berdekatan atau ada sungai, di sekitarnya, bisa dikatakan sebagai bentuk keterikutan penamaan tempat (berasosiasi dengan sungai yang ada). Penggunaan nama flora secara analogi di daerah lain menunjukkan dominasi asal flora (12-13 Jenis) di tempat tersebut (perlu pembuktian survey dominasi tumbuhan lebih lanjut), misal: Kokosan (sejenis duku), Pinang (Jambe Siji akronim Beji (dari bahasa Jawa)?), Manggis, Salak, Kemiri, Durian, Nangka, Tapos, Jati, Terong, Bambu (Lodong), Limau(?) dan Kedaung (Kedawung). Secara keruangan belum dapat diungkapkan pola keruangnnya.
Berdasar sosial ada bagian tempat di Kota Depok yang menunjukkan pengelompokan nama kelurahan atas dasar fenomena sosial di kecamatan Sukma Jaya, sementara Nama Kecamatan sukma Jaya sendiri atas dasar penghargaan atas Jasa Raden Sukma Jaya dan kelurahan di sekitarnya mengindikasikan keragaman penamaan sosial; Ratu Jaya (Ratu Maimunah), Beji (Buyut Beji dari Banten), dan nama-nama kelurahan yang kata akhirnya Jaya, Mulya. Disinyalir disinilah asal muasal Padepokan (dan ada yang menafsirkan patapaan), sebelum masa kolonial.
Kesimpulan
Nama-nama Kecamatan dan Kelurahan di Kota Depok ini sampai tahun 2010 merupakan warisan budaya (Cultural Heritage) produk sosial masyarakat kota Depok, baik yang memiliki nilai Lokal (penamaan dengan bahasa Betawi) maupun yang memiliki nilai Regional (penamaan berbahasa Banten, Jawa, Sunda), Nasional (penamaan Bahasa Indonesia), serta Internasional (penamaan dengan menggunakan bahasa Sanskerta, Latin; misal Tapos). Dari pengidentifikasian bahasa setidaknya ada tujuh asal bahasa yang digunakan sebagai bahan penamaan Kecamatan maupun Kelurahan di Kota Depok dan jika dipaksakan ditambah satu bahasa lagi yaitu Bahasa Belanda untuk Akronim nama Depok sendiri (masa kolonial).
Dari sisi pembentukan kata untuk memberi nama kecamatan atau kelurahan, masyarakat Depok lebih banyak terbukti menggunakan nama-nama yang tersusun dari banyak kata (bentuk Jamak) dibandingkan nama-nama dengan kata tunggal.
Dan ciri yang lain yaitu tradisi penamaan kecamatan dan kelurahan di Kota Depok lebih banyak menyukai nama-nama berdasar fenomena fisik geografis (Natural, Abiotik) dibandingkan penamaan atas dasar biodiversitas (flora, maupun atas dasar fenomena sosial.
Penutup
Demikian, sekedar contoh untuk dapat dikembangkan dalam penelitian Toponimi di Indonesia. Adapun yang masih menjadi pemikiran yaitu penamaan kelurahan yang belum jelas (ethymologi, demonymy, ethnonymy) diantaranya, yaitu: Rangkapan, Ci-”mpauen”, Limo (5 dalam bahasa Indonesia, Limo dalam bahasa Jawa, atau Limau (sejenis pohon Jeruk yang disebut Limo oleh masyarakat berbahasa Betawi), Maruyung, Ci- Langkap, Sarua.
Referensi:
Peraturan Daerah Kota Depok, Nomor 08 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Wajib dan Pilihan yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Kota Depok.
Timadar, Rian. 2008. Persebaran Data Arkeologi di Depok Abad 17—19 M. Sebagai Kajian Awal Rekontruksi Sejarah Permukiman Depok. Sekripsi Arkeologi. FIB-UI





ada yang mengatakan Sawangan konon berasal dari Bahasa Minahasa yang berarti kebersamaan.
Sangat menarik! saya juga menggunakan data yang sama dalam kajian arkeologi. Hasil penelitian ini semakin memperkuat asumsi Hasah Djafar bahwa Depok pada masa lalu merupakan salah satu daerah yang sangat berperan sebagai ‘perantara persebaran antar budaya’ baik dalam aspek sosial, ekonomi maupun religi.