
Mubazir itu temennya syaiton. So jangan mubazir, termasuk dalam berkata-kata. Kalau bisa hemat, kenapa harus boros. Check this out.
Tanggul itu mengalami kebobolan (Tanggul itu bobol).
Ia menderita kerugian (Ia rugi).
Setan melakukan penipuan (Setan menipu).
Melaksanakan pengorbanan (berkorban).
read more at warnaislam.com
Lagi baca-baca halaman ini, lantas tercengang melihat kalimat aneh berikut

Semuanya tertulis “We are The Yellow Jackets”. Tulisan ini banyak tertulis di bermacam media merchandise Universitas Indonesia, seperti jaket, kaus, stiker, dll. Kalau “We” disana mengacu ke pemakainya, tentu maknanya agak aneh. “Kami si jaket kuning” kuranglah pas didengar. Tetapi kalau ditambahkan sedikit, “Kami si pejaket kuning”, maka menjadi relevanlah slogan itu.
Apa tidak salah tulis? Saya pikir seharusnya “”We are The Yellow Jacketers”. Entah mengapa ‘kesalahan’ ini menjadi mentradisi … ???
Sering sekali terjadi di banyak tempat. Adalah penggunaan “di” pada awal kata yang sering terbalik. “di” berfungsi ganda, yaitu sebagai kata depan dan imbuhan.
- Dicubit <- “di” berfungsi sebagai imbuhan depan (prefiks) atau awalan. Biasanya digunakan untuk mengubah kata kerja menjadi bentuk pasif. Disini “di” adalah imbuhan, sehingga “di” digabung dengan kata “cubit”.
- Di pasar <- “di” berfungsi sebagai kata depan (penunjuk tempat). Disini “di” dipisah dengan kata “pasar”.
Kesalahan ini cukup fatal, karena dapat membuat orang lain salah mengerti tulisan kita.
Contoh : Saya dipalu dan Saya di Palu (sering juga ditemukan nama tempat berhuruf depan kecil). Kalau penggunaannya terbalik maka artinya bisa gawat.