Oct
23

BAHASA YANG BAIK TETAPI TIDAK BENAR

by syahidin.badru , in: Uncategorized

Dalam situasi santai kita tidak ”diharamkan” berbahasa Indonesia yang baik tetapi tidak benar. Berikut ini contohnya.

(l)     Berapa nih, Bu, bayemnya?

(2)    Ke Pasar Tanah Abang, Bang. Berapa?

Mengapa kalimat (1) dan (2) di atas tergolong bahasa yang baik tetapi tidak benar? Jika demikian, apakah ada bahasa Indonesia yang tidak baik tetapi benar? Apakah ada bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar?  Pertanyaan itu kerap disampaikan oleh siswa kepada guru bahasa Indonesia. Guru menjawab, “Ya, bentuk-bentuk yang Anda tanyakan tersebut ada dalam bahasa Indonesia.” Pertanyaan itu muncul karena para siswa pada umumnya lebih akrab dengan slogan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Jika bahasa sudah baku atau standar, baik yang ditetapkan secara resmi lewat surat putusan pejabat pemerintah atau maklumat, maupun yang diterima berdasarkan kesepakatan umum dan yang wujudnya dapat kita saksikan pada praktik pengajaran bahasa kepada khalayak, dapat dengan lebih mudah dibuat pembedaan antara bahasa yang benar dengan yang tidak.  Pemakaian bahasa yang  mengikuti kaidah yang  dibakukan atau yang dianggap baku  itulah yang merupakan bahasa yang benar. 

Jika orang masih membedakan pendapat tentang benar   tidaknya suatu bentuk bahasa, perbedaan paham itu menandakan tidak atau belum adanya bentuk baku yang mantap. Jika dipandang dari sudut itu, kita mungkin berhadapan dengan bahasa yang semua tatarannya sudah dibakukan; atau yang sebagiannya sudah baku,  sedangkan bagian yang lain masih dalam proses pembakuan; ataupun yang semua bagiaanya belum atau tidak akan dibakukan. Bahasa Indonesia, agaknya, termasuk golongan yang kedua. Kaidah ejaan dan pembentukan istilah kita sudah distandarkan; kaidah pembentukan kata yang sudah tepat dapat dianggap baku, tetapi pelaksanaan patokan itu dalam kehidupan.sehari-hari belum mantap.

Orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya, apa pun jenisnya itu, dianggap telah dapat berbahasa dengan efektif. Bahasanya membuahkan efek atau hasil karena serasi dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapinya. Di atas sudah diuraikan bahwa orang yang berhadapan dengan sejumlah lingkungan hidup harus memilih salah satu ragam yang cocok dengan situasi itu. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik atau tepat. Bahasa yang harus mengenai sasarannya tidak selalu perlu beragam baku. Dalam tawar-menawar di pasar, misalnya, pe­makaian ragam baku akan menimbulkan kegelian, keheranan, atau kecurigaan. Akan sangat ganjillah bila dalam tawar-menawar dengan tukang sayur atau tukang becak kita memakai bahasa baku seperti

(3)   Berapakah ibu mau menjual bayam ini?

(4)  Apakah Bang Becak bersedia mengantar saya ke Pasar Tanah  Abang dan berapa ongkosnya?           

Contoh di atas adalah contoh bahasa Indonesia yang benar, tetapi tidak baik karena tidak cocok dengan situasi pemakaian kalimat-kalimat itu. Untuk situasi seperti di atas, kalimat (5) dan (6) berikut akan lebih tepat.

(5) Berapa nih, Bu, bayemnya?

(6) Ke Pasar Tanah Abang, Bang. Berapa?

Sebaliknya, kita mungkin berbahasa yang baik, tetapi tidak benar. Frasa seperti ini hari merupakan bahasa yang baik di kalangan para makelar karcis bioskop, tetapi bentuk ini bukan merupakan bahasa yang benar karena letak kedua kata dalam frasa ini terbalik.Karena itu, anjuran agar kita “berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan “bahasa Indonesia yang baik dan benar” mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran. (Sumber: Alwi, Hasan et al. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas & Balai Pusataka.)

You can leave a commentor a trackback .


Comment this post