Sep 22

PENDIDIKAN SEKSUALITAS UNTUK ANAK MELALUI PEMASARAN SOSIAL SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENCEGAHAN CHILD SEXUAL ABUSEPenelitian Tindakan Terhadap Sepuluh Orang Tua yang Memiliki Anak pada Usia Taman Kanak-kanak sampai dengan Kelas Empat Sekolah Dasar 


Pendahuluan UU. No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak pun dikeluarkan sebagai salah satu upaya untuk menjauhkan anak-anak dari segala sesuatu yang dapat mengganggu kondisi fisik, psikologis dan sosial mereka. Namun realita yang ada pada saat ini masih memperlihatkan bahwa kondisi dunia anak-anak yang jauh dari apa yang diharapkan. Adapun salah satu kondisi yang menunjukkan bahwa implementasi UU. No. 23/2002, terutama pasal 13, masih jauh dari yang diharapkan adalah semakin banyaknya pemberitaan mengenai child sexual abuse. Fakta yang menyedihkan adalah anak-anak yang menjadi korban sexual abuse adalah anak-anak yang masih sangat muda. Berdasarkan data yang diperoleh di Pusat Krisis Terpadu (PKT) RSCM, korban child sexual abuse lebih banyak menimpa anak yang belum sekolah, anak yang sedang duduk di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Mereka menjadi korban karena memiliki beberapa karakter yang seringkali membuat pelaku bisa lebih mudah memperdaya mereka. Briggs dan Hawkins (1997: 114-115) pun mengungkapkan beberapa penyebab yang membuat anak-anak mudah menjadi sasaran child sexual abuse, yaitu: anak-anak yang polos mempercayai semua orang dewasa, anak-anak yang berusia belia tidak mampu mendeteksi motivasi yang dimiliki oleh orang dewasa, anak-anak diajarkan untuk menuruti orang dewasa, secara alamiah, anak-anak memiliki rasa ingin tahu mengenai tubuhnya, dan anak-anak diasingkan dari informasi yang berkaitan dengan seksualitasnya.Oleh karena anak-anak memiliki berbagai karakter yang dapat menjerumuskan mereka menjadi korban child sexual abuse, anak-anak membutuhkan perlindungan dari orang dewasa terutama orang tuanya. Orang tua harus dapat memberikan pendidikan seksualitas terhadap anak-anaknya sehingga anak-anak dapat tercegah dari child sexual abuse. Pendidikan seksualitas kepada anak-anak sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse terhadap anak menjadi suatu hal yang penting karena child sexual abuse memiliki berbagai dampak yang negatif. Tentu saja, pihak yang akan merasakan dampak negatifnya secara langsung adalah korban child sexual abuse itu sendiri. Salah satu efek negatif yang dapat berakibat kepada diri korban dalam jangka waktu yang panjang adalah seperti yang dikemukakan oleh Brierre dan Runtz (dalam Briggs dan Hawkins, 1997: 120) bahwa: The anxiety, fear, and depression previously noted as short term symptoms tended to become chronic and remain as long-term symptoms… (rasa cemas, rasa takut, dan depresi yang sebelumnya disebut sebagai gejala jangka pendek cenderung menjadi kronis dan menetap menjadi gejala jangka panjang…). Kondisi psikologis yang akan dialami oleh anak yang mengalami child sexual abuse tersebut tentu akan mempengaruhi bagaimana ia dalam berperan di masyarakat. Dengan demikian, child sexual abuse tidak hanya memberikan dampak negatif pada level mikro saja (individu dan keluarga), tetapi juga bisa berdampak pada proses pembangunan sosial di masa yang akan datang karena dampak child sexual abuse juga menyangkut pada masalah kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu diperlukan perubahan sosial terencana yang mampu mengeliminir dampak negatif tersebut. Dalam ilmu kesejahteraan sosial dikenal beberapa strategi intervensi yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan perubahan sosial terencana tersebut. Salah satu strategi intervensi yang dapat dikembangkan adalah strategi pemasaran sosial. Adi (2003: 88) mengungkapkan bahwa model intervensi komunitas yang diadopsi dari bidang pemasaran ini memfokuskan pada upaya memasarkan produk sosial kepada kelompok sasarannya. Strategi pemasaran sosial tersebut dapat dipergunakan untuk menggaungkan urgensi dari pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse.Dianawati (2003) mengatakan bahwa “pendidikan seksualitas yang diberikan oleh orang tua akan jauh lebih efektif karena kebersamaan anak dan orang tua tidak dibatasi oleh waktu”. Namun permasalahannya adalah orang tua kerap kali merasa tabu dalam melakukan pendidikan seksualitas kepada anak-anaknya. Sementara itu, anak-anak membutuhkan pendidikan seksualitas sejak dini sehingga mereka dapat terhindar dari child sexual abuse.  Oleh karenanya, penelitian ini dilakukan melalui penelitian tindakan. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana proses penyebarluasan pemahaman perlunya upaya pencegahan child sexual abuse, proses penyebarluasan pemahaman mengenai pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse, perilaku kelompok sasaran dalam melakukan  pendidikan seksualitas terhadap anak sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse, kebutuhan kelompok sasaran dalam melakukan pendidikan seksualitas terhadap anak sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse, dan proses pelaksanaan kegiatan yang ditujukan untuk merubah perilaku kelompok sasaran dalam melakukan pendidikan seksualitas terhadap anak sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse. Metode Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian tindakan ini adalah kualitatif. Berdasarkan kemanfaatannya, penelitian ini adalah penelitian terapan. Jenis penelitian terapan yang dipergunakan adalah penelitian tindakan (action research). Stringer (1991:19) menyebutkan bahwa tahapan penelitian tindakan terdiri dari tahap look, think dan act. Strategi pemasaran sosial yang dipergunakan dalam penelitian tindakan memilih Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Depok (FISIP UI), sebagai cakupan wilayah sasaran. FISIP UI sebagai tempat pekerjaan dinilai strategis karena dapat menjangkau orang tua (kelompok sasaran) yang sulit dicapai di lingkungan komunitas warga karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan di tempat pekerjaan.Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian tindakan ini adalah wawancara mendalam. Adapun model wawancara yang dipergunakan adalah focused (terfokus) atau semi-structured interviews (wawancara yang setengah terstruktur). Selain itu, pengamatan juga dipergunakan sebagai teknik pengumpulan data. Teknik ini dipergunakan untuk memperkaya data-data. Metode pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan yang tidak berstruktur. Kelompok sasaran sebagai partisipan penelitian tindakan dipilih berdasarkan non-probability sampling. Proses pemilihan kelompok sasaran yang telah dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: 1.       Kelompok sasaran dipilih dengan theoritical sampling, yaitu orang tua yang memiliki anak dalam kelompok usia taman kanak-kanak sampai dengan kelompok usia kelas 4 sekolah dasar. Peran yang dijalankan oleh orang tua di FISIP UI adalah beragam. Penelitian tindakan ini memilih orang tua yang berperan sebagai pegawai FISIP UI. 2.       Mencari informasi kepada setiap kepala unit FISIP UI mengenai jumlah pegawai yang memenuhi kriteria sebagai kelompok sasaran. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari masing-masing kepala unit di FISIP UI, pegawai FISIP UI yang memenuhi kriteria kelompok sasaran tindakan ini adalah sejumlah 27 orang, yaitu 26 pegawai laki-laki dan 1 orang pegawai perempuan.3.       Mencari informasi mengenai pegawai FISIP UI–yang memenuhi kriteria sebagai kelompok sasaran, yang bersedia untuk mengikuti setiap tahap penelitian tindakan (convenience sampling). Dari 27 orang pegawai FISIP UI yang memenuhi kriteria sebagai kelompok sasaran, diperoleh 10 orang pegawai FISIP UI yang bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian tindakan ini, yaitu 9 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.  HASIL Pemaparan hasil penelitian tindakan dituangkan berdasarkan tahapan penelitian tindakan yang telah dilakukan, yaitu tahap look, think dan act. Pada setiap tahapan penelitian tindakan tersebut, dijelaskan pula tahapan pemasaran sosial (Najib dan French) yang telah dilakukan, yaitu: tahap analisa masalah/kebijakan, analisa situasi, analisa kelompok sasaran, strategi komunikasi, membuat daftar aktivitas, rencana manajemen, rencana pembuatan media, rencana pelatihan staf, dan rencana pengawasan dan evaluasi. Walaupun proses pelaksanaan tahapan pemasaran sosial tersebut tidak bersifat linear, gambaran mengenai temuan lapangan diuraikan secara berurutan berdasarkan tahapannya, sesuai kondisi akhir pelaksanaan penelitian. A.     Tahap Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan ( tahap look)Tahap look dalam penelitian tindakan ini akan memberikan pemaparan mengenai beberapa tahapan perencanaan pemasaran sosial, yaitu analisa masalah/situasi dan analisa kelompok sasaran. Pemaparan mengenai tahapan masalah dan analisa situasi diuraikan menjadi satu bagian, yang selanjutnya akan dijelaskan analisa kelompok sasaran.A.1. Analisa Masalah dan SituasiSeluruh anggota kelompok sasaran memiliki sikap yang negatif terhadap fenomena child sexual abuse. Mereka merasa prihatin terhadap child sexual abuse yang diberitakan oleh berbagai media massa karena pelaku child sexual abuse yang mereka ketahui dari berbagai media massa adalah ayah kandung, kakek, guru pramuka, dan teman sebaya. Pengetahuan kelompok kelompok sasaran mengenai pelaku child sexual abuse membuat mereka sangat khawatir terhadap keselamatan anaknya. Berbagai upaya yang selama ini dilakukan oleh kelompok sasaran untuk melindungi anaknya dari child sexual abuse tidak memperhitungkan bahwa anak-anak dapat mengalami child sexual abuse dalam keadaan orang tua sedang lengah dan bahwa mereka dapat mengalami child sexual abuse oleh orang terdekatnya. Oleh karena itu, kelompok sasaran perlu memperhitungkan upaya pemberdayaan anak semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya child sexual abuse sedini mungkin. Salah satu upaya yang dapat dilakukan orang tua dalam proses pemberdayaan anak adalah dengan memberikan pendidikan seksualitas kepada anaknya sejak dini. Sehingga anak-anak pun  dapat mencegah terjadinya child sexual abuse pada saat sedang tidak dalam pengawasan orang tuanya, baik dari pelakunya adalah orang asing maupun orang terdekat.Berdasarkan analisa situasi yang telah dilakukan, terdapat organisasi yang bersedia untuk menyelenggarakan kegiatan pemasaran sosial dalam penelitian tindakan ini. Organisasi tersebut adalah Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI. Organisasi tersebut bersedia menyelenggarakannya karena memiliki kepedulian terhadap upaya pencegahan child sexual abuse dan berkehendak untuk menerapkan salah satu metode intervensi sosial yang selama ini dikembangkan dalam ilmu Kesejahteraan Sosial, yaitu pemasaran sosial. Sumber daya yang dapat dipergunakan dari Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI adalah berupa sumber dana kegiatan dan sumber daya manusia. A.2. Analisa Kelompok Sasaran 6 dari seluruh jumlah anggota kelompok sasaran  memiliki persepsi bahwa pendidikan seksualitas merupakan suatu hal yang berbeda dengan pendidikan agama. Kemudian 7 orang dari 10 orang anggota kelompok sasaran mengungkapkan bahwa penyampaian mengenai pendidikan seksualitas oleh orang tua bukan suatu hal yang tepat. Selanjutnya 9 orang anggota kelompok sasaran, termasuk anggota kelompok sasaran yang berniat untuk melakukan pendidikan seksualitas sejak dini dan memiliki pengetahuan yang banyak mengenai pendidikan seksualitas (An), juga merasa bahwa pendidikan seksualitas tidak efektif untuk mencegah terjadinya perilaku salah secara seksual kepada anak yang masih berusia belia.Berdasarkan informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi orang tua dalam melakukan pendidikan seksualitas pada kelompok sasaran, produk sosial yang akan ditawarkan kepada para kelompok sasaran lebih banyak yang berupa pengetahuan (gagasan). Produk sosial tersebut diharap dapat menyelesaikan permasalahan kelompok sasaran  yang merasa pengetahuannya mengenai pendidikan seksualitas untuk anak, masih kurang. Pada awalnya, produk sosial tersebut akan ditawarkan kepada kelompok sasaran dalam sebuah kegiatan diskusi kelompok. Mengenai hal tersebut, kelompok sasaran tidak berniat untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan. Bahkan beberapa orang anggota kelompok sasaran yang tidak berniat untuk melakukan pendidikan seksualitas kepada anaknya sejak dini pun merasa enggan untuk menghadiri kegiatan pemasaran sosial yang diselenggarakan dalam penelitian tindakan ini. Padahal anggota kelompok sasaran tersebut telah menandatangani surat kesepakatan untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan dalam penelitian tindakan ini. Oleh karenanya, metode diskusi kelompok dinilai tidak efektif. Pemilihan metode pemasaran sosial perlu dipertimbangkan secara masak mengingat isu yang diangkat dalam penelitian tindakan ini masih dipandang tabu dan setiap anggota kelompok sasaran memiliki sikap yang berbeda terhadap pendidikan seksualitas untuk anak. Tambahan pula, beberapa orang anggota kelompok sasaran pun ada yang mengungkapkan bahwa mereka tidak begitu pandai dalam mengungkapkan pendapatnya. Dengan demikian, kegiatan pemasaran sosial dalam penelitian tindakan ini dilakukan dalam bentuk seminar. Seminar yang dilaksanakan dalam penelitian tindakan ini juga terbuka untuk peserta umum. Dengan demikian, gagasan yang ditawarkan dalam seminar dapat lebih diperkaya oleh peserta seminar yang lain dan kelompok sasaran dapat memperoleh pengetahuan yang lebih banyak. Dari kegiatan seminar ini, kelompok sasaran tidak hanya mendapatkan produk sosial berupa ide, tetapi juga practice, yaitu berupa kiat-kiat yang dapat dilakukan dalam melaksanakan pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan pelakuan salah secara seksual. Tambahan pula, kelompok sasaran juga mendapatkan produk sosial berupa objek kasat mata yang berwujud fotokopi materi seminar yang disampaikan narasumber. B.     Tahap ThinkTahap think dalam penelitian tindakan ini akan jauh memperinci perencanaan yang telah dibuat pada tahap look, yaitu dengan memahami lebih jauh permasalahan dan kebutuhan kelompok sasaran dalam melakukan pendidikan seksualitas–sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse. Dengan demikian, kegiatan yang ditujukan untuk memecahkan permasalahan dan memenuhi kebutuhan kelompok sasaran dapat dilakukan. Untuk itu, di dalam tahap think akan memberikan uraian mengenai beberapa tahapan perencanaan pemasaran sosial, yaitu tujuan komunikasi dan strategi komunikasi. Tahap tujuan komunikasi memaparkan tujuan kegiatan pemasaran sosial berdasarkan hasil analisa kelompok sasaran. Sedangkan strategi komunikasi menguraikan perencanaan awal yang dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan pemasaran sosial dalam penelitian tindakan ini.B.1. Tujuan KomunikasiPembahasan materi yang akan diuraikan dalam acara seminar tentu harus bertolak pada kebutuhan kelompok sasaran. Berdasarkan permasalahan yang dirasakan oleh kelompok sasaran dalam melakukan pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse, dapat disimpulkan bahwa semua kebutuhan kelompok sasaran  pada dasarnya bermuara pada satu kebutuhan, antara lain: kebutuhan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai pendidikan seksualitas. Melalui pengetahuan yang benar mengenai pendidikan seksualitas, para anggota kelompok sasaran diharap dapat mengetahui, menyadari dan menyepakati bahwa pendidikan seksualitas merupakan salah satu upaya yang dapat dipergunakan untuk mencegah perilaku salah secara seksual terhadap anak. Perilaku yang ingin dicapai dari kegiatan pemasaran sosial ini berupaya agar kelompok sasaran dapat memperoleh pengetahuan baru mengenai urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse, dan dapat mengevaluasi kembali pengetahuan yang selama ini dimilikinya, sehingga menyepakati isu yang digulirkan dalam kegiatan pemasaran sosial tersebut. Dengan demikian, tujuan kegiatan pemasaran sosial yang ingin diselenggarakan adalah:1.       Kelompok sasaran  mengetahui, menyadari dan menyepakati bahwa pendidikan seksualitas terintegrasi dalam pendidikan agama.2.       Kelompok sasaran  mengetahui, menyadari dan menyepakati bahwa pendidikan seksualitas yang diberikan oleh orang tua juga merupakan kebutuhan anak.3.       Kelompok sasaran  mengetahui, menyadari dan menyepakati bahwa pendidikan seksualitas merupakan salah satu upaya pencegahan child sexual abuse, sejak anak masih belia. Angka yang akan dipergunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pemasaran sosial ditetapkan berdasarkan jumlah anggota kelompok sasaran yang menyepakati isu mengenai urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse. Sebagaimana yang tergambar dalam tahapan analisa kelompok sasaran, dari 10 orang anggota kelompok sasaran, hanya empat orang yang tidak memisahkan pendidikan seksualitas dengan pendidikan agama. Kemudian dalam tahapan analisa kelompok sasaran juga disebutkan bahwa hanya satu orang anggota kelompok sasaran  yang memiliki persepsi bahwa pendidikan seksualitas dari orang tua merupakan kebutuhan anak dan urgensi pendidikan seksualitas sejak dini sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse. Kemudian dari 10 orang anggota kelompok sasaran, hanya 3 orang anggota kelompok sasaran  yang menyatakan bahwa mereka berniat untuk melakukan pendidikan seksualitas kepada anak sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse. Dengan demikian, angka yang paling realistis untuk dijadikan tolak ukur keberhasilan dari kegiatan pemasaran sosial adalah 5 dari 10 anggota kelompok sasaran  menyepakati berbagai gagasan yang ditawarkan dalam seminar pada penelitian tindakan ini.B.2. Strategi KomunikasiSetelah menetapkan tujuan pemasaran sosial, hal lain yang perlu dilakukan dalam tahap awal perencanaan pemasaran sosial adalah membuat strategi pemasaran sosial, yang terdiri dari pengolahan metode dan bentuk pesan komunikasi dari kegiatan pemasaran sosial itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan kelompok sasaran, dapat diidentifikasi bahwa praktisi yang dibutuhkan kelompok sasaran adalah praktisi yang menguasai fenomena child sexual abuse, praktisi yang menguasai pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse berdasarkan aspek religi, dan praktisi yang menguasai pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse berdasarkan aspek psikologi. Praktisi yang menguasai fenomena child sexual abuse, diharapkan dapat meyakinkan kelompok sasaran bahwa child sexual abuse harus dihindari semaksimal mungkin. Sedangkan praktisi yang menguasai pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse berdasarkan aspek religi, diharapkan dapat menjelaskan kepada para orang tua bahwa pendidikan agama, terutama pendidikan agama yang diberikan oleh guru di sekolah hanya merupakan kegiatan komplementer. Kemudian praktisi yang menguasai pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan  child sexual abuse berdasarkan aspek psikologi, diharapkan dapat menguraikan latar belakang terjadinya child sexual abuse dan kiat-kiat praktis yang dapat dilakukan oleh orang tua. Dengan demikian, orang tua memiliki ketrampilan untuk melatih anaknya berjaga diri dari tindakan kejahatan para pelaku child sexual abuse.Setiap praktisi akan menyampaikan pembahasan sesuai dengan keahliannya di jam yang berbeda. Dengan demikian, tidak seperti kegiatan ceramah atau  pada umumnya, kegiatan pemasaran sosial yang dikemas dalam sebuah kegiatan seminar yang berjudul  “Berani untuk Berdiskusi Masalah Seksualitas Bersama Anak sebagai Salah Satu Upaya Pencegahan Child Sexual Abuse” tersebut membagi jadwal acara kegiatan menjadi tiga sesi. Sesi pertama adalah pembahasan fenomena child sexual abuse yang dilaporkan ke Pusat Krisis Terpadu RSCM. Sesi kedua adalah pembahasan urgensi pendidikan seksualitas sebagai upaya pencegahan child sexual abuse berdasarkan aspek religi. Sedangkan sesi ketiga merupakan sesi yang membahas urgensi pendidikan seksualitas sebagai upaya pencegahan child sexual abuse berdasarkan aspek psikologi.Produk sosial yang akan ditawarkan dalam pemasaran sosial ini akan dikemas dalam desain metode pemasaran sosial berupa slides dan dalam pertemuan massal. Sedangkan desain pesan yang dipergunakan antara lain: ajakan secara emosi, ajakan secara negatif, ajakan secara masa, ajakan secara serius, argumen dua arah, argumen secara langsung atau tidak langsung, kesimpulan pasti atau terbuka, dan ajakan satu kali. C.     Tahap ActSelanjutnya, tahap act dalam penelitian tindakan terdiri dari tahap perencanaan, implementasi kegiatan dan evaluasi kegiatan. Proses pelaksanaan tahap act adalah sebagai berikut:C.1. Perencanaan Kegiatan SeminarHal yang paling penting untuk direncanakan dengan baik adalah isi dari setiap materi pembahasan yang akan diuraikan pada saat seminar berlangsung. Untuk itu, harapan mengenai isi pembahasan setiap narasumber disampaikan melalui term of reference. Term of reference tersebut pun diupayakan untuk bisa disampaikan secara langsung kepada narasumber yang bersangkutan. Berkaitan dengan hal ini, ada beberapa daftar aktivitas yang perlu dilakukan. Daftar aktivitas yang terdiri dari semua kegiatan persiapan dikomunikasikan kepada seluruh anggota tim pemasaran. Adapun yang dipersiapkan oleh panitia adalah berbagai hal yang dibutuhkan untuk seminar –selain penyiapan term of reference dan penyampaian term of reference kepada narasumber, adalah perizinan, undangan, persiapan ruang seminar beserta perlengkapannya (sound system, LCD, laptop, dan lain-lain), konsumsi, fotokopi materi seminar yang disampaikan narasumber, dokumentasi, dan lain-lain. Berbagai kebutuhan tersebut dipersiapkan secara detil dalam bentuk rencana manajemen. Dengan demikian, setiap anggota tim pemasar mengetahui gambaran kerjanya masing-masing.Salah satu persiapan yang perlu dilakukan dalam pemasaran sosial adalah pre-test dan post-test. Namun penelitian tindakan ini tidak melakukannya karena waktu penelitian yang sempit. Seminar pun dapat diselenggarakan pada hari Senin, tanggal 5 Juni 2006, di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia. Tanggal pelaksanaan kegiatan seminar diputuskan berdasarkan kesediaan narasumber. Selain itu, kesediaan para kelompok sasaran juga turut dipertimbangkan dalam menentukan waktu penyelenggaraan seminar, mengingat para kelompok sasaran adalah para pegawai yang terikat dengan tugas pelayanan di FISIP UI.   C.2. Implementasi KegiatanGambaran mengenai implementasi kegiatan seminar yang akan dipaparkan adalah berbagai materi yang dibahas dalam seminar dari masing-masing narasumber. Sedangkan berbagai hal lain yang berkaitan dengan manajemen pelaksanaan yang bersifat teknis tidak digambarkan karena dinilai tidak berkaitan dengan proses perubahan perilaku kelompok sasaran. Dengan demikian, pemaparan implementasi kegiatan seminar yang telah dilakukan dalam seminar ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama dijelaskan proses pembahasan mengenai fenomena child sexual abuse yang dilaporkan ke PKT RSCM. Kemudian pada bagian yang kedua dijelaskan proses pembahasan mengenai urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse berdasarkan aspek religi. Sedangkan pada bagian yang ketiga dijelaskan proses pembahasan mengenai urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse berdasarkan aspek psikologi.a.    Pembahasan   Fenomena    Child Sexual  Abuse yang Dilaporkan ke PKT RSCM.Pembahasan mengenai fenomena child sexual abuse dimulai dengan pemaparan mengenai definisi anak. Setelah itu dijelaskan kepada para kelompok sasaran mengenai jenis-jenis kekerasan seksual kepada anak. Kelompok sasaran juga diberi penjelasan mengenai Pusat krisis terpadu RSCM (PKT RSCM). Pembahasan pun dilanjutkan dengan pemaparan mengenai kasus-kasus yang dilaporkan ke PKT RSCM sejak tahun 2002 sampai dengan tahun 2006. Data yang diberikan antara lain jumlah kasus child sexual abuse yang dilaporkan ke PKT RCM, gambar luka fisik korban child sexual abuse, dan lain-lain.Salah satu informasi yang sangat penting untuk diketahui oleh kelompok sasaran sebagai orang tua yang bekerja adalah informasi mengenai waktu dan tempat kejadian child sexual abuse. Dalam seminar ini dijelaskan bahwa child sexual abuse biasanya terjadi pada jam 6.00-12.00 wib. Kejadiannya berlangsung di rumah si korban pada saat orang tua sedang tidak ada di rumah. Kelompok sasaran juga diberikan informasi bahwa dampak fisik yang diderita korban child sexual abuse tidak sepele. Gambar-gambar yang ditampilkan menimbulkan banyak reaksi dari para kelompok sasaran. Ada yang tidak mau melihat, ada yang mengernyitkan keningnya, dan lain-lain. Berdasarkan pertanyaan peserta seminar, Narasumber menjelaskan bahwa yang mengantarkan korban ke PKT RSCM biasanya adalah polisi, orang tua, lembaga swadaya masyarakat, dan ada pula kasus dimana anak melapor sendiri. Kondisi orang tua pun biasanya stress dan tidak menyangka bahwa pelaku adalah orang terdekat anak. Orang tua juga ada yang diberikan konseling dan ada juga pelaku yang diberikan konseling. Narasumber juga menjelaskan bahwa kasus yang dilaporkan biasanya berasal dari kalangan ekonomi lemah. Kejadian child sexual abuse pun biasanya terjadi pada rumah petak. Apabila pelaku adalah anak, penyebab yang mempengaruhi mereka untuk melakukan sexual abuse adalah karena mereka melihat orang tuanya. Child sexual abuse juga terjadi di kalangan ekonomi atas tapi tidak di laporkan karena orang yang berasal dari kalangan ekonomi atas merasa kejadian ini merupakan suatu aib bagi mereka. Pelaku pada kalangan atas biasanya adalah sopir, pengasuh, dan lain-lain. Solusi yang diberikan narasumber untuk mencegah child sexual abuse kepada anaknya adalah memberi tahu kepada anak-anak mengenai bagian tubuh mana saja yang tidak boleh dipegang oleh orang lain. Kemudian anak juga diberi tahu bahwa apabila terjadi suatu hal yang tidak senonoh, anak harus lapor kepada orang tua atau guru. Sedangkan kepada anak yang sudah menginjak remaja, kelompok sasaran disarankan untuk memberikan perlindungan yang maksimal kepada anak dan tidak perlu sampai paranoid yang berlebihan.b.   Urgensi   Pendidikan  Seksualitas Sebagai     Salah     Satu     Upaya Pencegahan   Child  Sexual  Abuse berdasarkan Aspek Religi.Narasumber menyampaikan makalhnya yang berjudul “Pendekatan Pendidikan Agama dalam Pendidikan Seks Sebagai Upaya Pencegahan Child sexual abuse”. Ia mencoba untuk menjelaskan kepada kelompok sasaran bahwa pendidikan seks merupakan upaya pengajaran penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kapada anak sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri, dan perkawinan. Narasumber menekankan bahwa pendidikan seks akan lebih baik apabila diberikan oleh orang tua dalam suasana akrab dan terbuka antara orang tua dan anak. Sedangkan pendidikan seksualitas di sekolah merupakan kelanjutan dari pendidikan yang diberikan oleh orang tua. Pendidikan seksualitas yang diberikan oleh orang tua maupun sekolah sebaiknya tidak dilakukan dengan komunikasi yang bersifat dua arah. Orang tua maupun guru sebaiknya tidak hanya memberikan larangan kepada anak, tetapi juga menjelaskan alasan mengapa sebuah perilaku dilarang.Berdasarkan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta seminar, narasumber menjelaskan bahwa orang tua harus berhati-hati dengan pemberian USB kepada anak, karena ada kasus dimana USB anak berisi video atau gambar-gambar porno dimana anak mengambilnya dari internet. Kemudian narasumber juga menjelaskan bahwa dari kasus-kasus yang muncul, jika anak tidak mendapatkan pendidikan seks dalam perspektif agama, mereka akan berpacaran dengan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang yang sudah menikah. c.   Urgensi   Pendidikan    Seksualitas Sebagai     Salah     Satu      Upaya Pencegahan   Child Sexual  Abuse berdasarkan Aspek Psikologi.Narasumber yang membahas mengenai urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse berdasarkan aspek psikologi, menampilkan pokok bahasan sesinya dengan tema “Melawan Kekerasan Seksual Kepada Anak”. Beliaupun memulai pemaparannya dengan data-data yang berkaitan dengan peristiwa child sexual abuse. Berdasarkan pemaparannya tersebut, narasumber menekankan bahwa pada zaman ini, memandang enteng persoalan ini sama dengan mengorbankan anak sendiri. Walaupun demikian, narasumber menambahkan bahwa orang tua tidak perlu berasumsi bahwa semua orang tua itu jahat. Ada yang jahat, tapi ada juga yang baik, kita tetap perlu hati-hatiNarasumber memberikan penekanan bahwa pemberdayaan anak sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse sangat penting karena anak tidak mungkin diawasi terus, pelaku kekerasan makin canggih, saat-saat yang menentukan justru harus diputuskan oleh korban, dan saksi paling menentukan dalam kasus kekerasan seksual adalah saksi korban. Oleh karena itu, pendidikan seksualitas kepada anak memang perlu dilakukan.Pendidikan seksualitas perlu diberikan oleh orang tua sejak anak berusia tiga tahun. Di Amerika, anak yang berusia tiga tahun sudah diajarkan oleh orang tuanya untuk tidak menerima pemberian orang lain tanpa sepengetahuan orang tuanya. Apabila anak dipaksa, anak harus memanggil guru atau orang tua. Orang tua juga harus memberitahu anak bahwa ada bagian-bagian tertantu yang tidak boleh dipegang oleh orang lain. Jika anak sudah berusia 10-11 tahun anak harus diajari masalah-masalah seksual. Berdasarkan pertanyaan yang diajukan dalam seminar, narasumber menjelaskan bahwa kelompok sasaran sebagai orang tua harus menjelaskan kepada anak apa yang berbahaya. Jika kita menjelaskan apa yang bahaya bagi anak, anak dapat lebih siap menghadapi permasalahan. Selain itu, orang dewasa pada dasarnya memiliki otoritas untuk menetapkan peraturan dan mengatur informasi dikeluarganya. Narasumber pun menekankan supaya orang tua memberitahu kepada anak agar harus bermain di tempat yang terbuka dan bisa diawasi oleh orang banyak. Kemudian apabila ada orang dewasa yang bermain bersama anak telah memegang bagian tubuh anak yang dilarang untuk disentuh, maka orang tua harus melarang anak bermain lagi dengan pelakunya.C.3. Evaluasi Setelah mengikuti seminar, salah seorang anggota kelompok sasaran yang sebelumnya tidak berniat untuk melakukan pendidikan seksualitas sejak dini (Mkj), pada akhirnya mengatakan bahwa pendidikan seksualitas penting untuk diberikan kepada anak. Perubahan sikap ini terjadi karena ia khawatir apabila anaknya menjadi korban child sexual abuse. Selain itu, dua orang anggota kelompok sasaran (An dan Rst) juga semakin meyakini bahwa child sexual abuse yang dapat dilakukan oleh orang terdekat mereka. Oleh karena itu, kedua anggota kelompok sasaran tersebut semakin waspada terhadap aktivitas yang dilakukan oleh anaknya walaupun aktivitas tersebut dilakukan bersama paman atau sepupunya.Walaupun tujuh orang anggota kelompok partisipan telah bersepakat terhadap urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse, mereka masih merasa memiliki hambatan untuk melakukan pendidikan seksualitas kepada anak di usianya yang masih dini. Mereka merasa perlu mengetahui lebih jauh mengenai bagaimana cara berkomunikasi dengan anak, sehingga ia dapat menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh anaknya.Sedangkan kelompok sasaran yang tidak bersepakat akan urgensi pendidikan seksualitas sebagai upaya pencegahan child sexual abuse (Oa), merasa tidak perlu berkomunikasi secara proaktif kepada anaknya. Menurutnya, pendidikan agama tetap yang paling utama dan diyakini dapat menjaga anaknya dari berbagai kejadian yang tidak diinginkan. Ia berpikir bahwa agama itu suatu hal yang baku dan tidak dapat dikaitkan dengan pendidikan seksualitas. Ia juga menyatakaan kekecewaannya terhadap materi yang disampaikan dalam seminar, terutama pada tampilan gambar kondisi fisik korban child sexual abuse. Partisipan tersebut juga tidak mau melaksanakan kiat-kiat yang diberikan oleh narasumber ketiga (pemberdayaan anak untuk berkata tidak jika diberi iming-iming oleh orang lain). Bagi dirinya, mengajarkan anak untuk menolak pemberian orang lain bukan perilaku yang santun. Secara keseluruhan, kelompok sasaran yang sepakat ataupun yang tidak sepakat akan urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse merasa bahwa kegiatan yang dilaksanakan dalam penelitian ini memberikan manfaat kepada diri mereka. Namun apabila diilustrasikan dalam sebuah tabel, hasil pencapaian tujuan pemasaran sosial adalah sebagaimana yang dipaparkan dalam tabel berikut:

Tabel 1. Evaluasi pencapaian target seminar

No Anggota kelompok sasaran Sikap kelompok sasaran terhadap ujuan seminar    KategoriKelompok sasaran Sepakat bahwa pendidikan seksualitas terintegrasi dalam Pendidikan Agama Sepakat bahwa pendidikan seksualitas yang diberikan oleh orang tua juga merupakan kebutuhan anak Sepakat dengan urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse, kepada anaknya yang masih belia
1 Srd Sebelum mengikuti seminar, kelompok sasaran tidak berniat melakukan pendidikan seksualitas sejak dini X X X X
3 Eng X X X
4 Mkj X X
5 Oa Sebelum mengikuti seminar, kelompok sasaran tidak berniat melakukan pendidikan seksualitas sejak dini X X X X X X
6 Mld Sebelum mengikuti seminar, kelompok sasaran berniat melakukan pendidikan seksualitas sejak dini
7 Srn X X X
8 An X

 Keterangan:

= Ya
X = Tidak

Berdasarkan tabel 1, lebih dari lima orang menyepakati setiap gagasan yang ditawarkan dalam kegiatan seminar. Tetapi ada salah seorang kelompok sasaran yang bersepakat terhadap isu urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan sexual abuse (srd), belum merubah sikapnya terhadap gagasan bahwa pendidikan seksualitas terintegrasi dalam pendidikan agama. Hal ini dikarenakan kelompok sasaran tersebut tidak menghadiri seminar secara penuh. Sesi yang menjelaskan pendidikan seksualitas berdasarkan aspek religi pun dihadirinya ketika sesi tersebut akan berakhir. Ketidakhadirannya dalam sesi tersebut membuat srd merasa tidak memahami keterkaitan pendidikan agama dengan pendidikan seksualitas. Sedangkan sikapnya yang cenderung positif terhadap dua isu lain dikarenakan ia membaca fotokopi materi seminar yang disampaikan narasumber pada saat seminar.Berdasarkan tabel tersebut pula, ada satu orang anggota kelompok sasaran (Oa) yang begitu konsisten untuk menolak isu mengenai urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse. Sikapnya yang negatif terhadap isu yang digulirkan dalam kegiatan seminar tersebut menarik untuk dibandingkan dengan sikap dua orang anggota kelompok sasaran yang tidak mengikuti seminar. Gambaran mengenai sikap anggota kelompok yang tidak mengikuti seminar tersebut dapat dilihat dalam tabel 2 berikut ini:

 Tabel 2. Evaluasi perubahan sikap anggota kelompok sasaran yang tidak mengikuti seminar

No Partisipan Sikap kelompok sasaran  terhadap tujuan seminar    KategoriKelompok sasaran Sepakat bahwa pendidikan seksualitas terintegrasi dalam Pendidikan Agama Sepakat bahwa pendidikan seksualitas yang diberikan oleh orang tua juga merupakan kebutuhan anak Sepakat dengan urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse, kepada anaknya yang masih belia
1 Sgn Kelompok sasaran yang tidak berniat melakukan pendidikan seksualitas sejak dini X X X X
2 Srs X X

Keterangan:

= Ya
X = Tidak

Berdasarkan tabel 2, salah seorang kelompok sasaran  (sgn) yang tidak menghadiri kegiatan seminar menyatakan bahwa ia sepakat apabila pendidikan seksualitas merupakan suatu hal yang terintegrasi dengan pendidikan agama. Hal ini disebabkan kelompok sasaran  tersebut merasa bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan anak memang harus dilandasi dengan nilai agama. Jika tidak, pendidikan anak menjadi tidak berarah. Kemudian ia pun memiliki kesepakatan terhadap gagasan bahwa pendidikan seksualitas dari orang tua juga merupakan kebutuhan anak. Perubahan sikap ini disebabkan kelompok sasaran tersebut telah menonton sebuah acara di televisi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak. Walaupun demikian, kelompok sasaran tersebut tetap bersikukuh bahwa pendidikan seksualitas hanya dapat diberikan kepada anak-anak yang sudah remaja. Berdasarkan apa yang disampaikan oleh Sgn dan Oa, terlihat bahwa Sgn dan Oa memiliki persepsi yang berbeda terhadap pendidikan agama. Sgn melihat bahwa pendidikan agama dapat dikaitkan dengan pendidikan seksualitas. Dengan demikian, menurut Sgn, pendidikan seksualitas yang diberikan kepada anak lebih terarah. Sedangkan Oa memandang bahwa pendidikan agama suatu hal yang baku dan tidak bisa dicampuradukkan dengan hal lain, terutama pendidikan seksualitas yang dipersepsikannya sebagai suatu hal vulgar. Itulah mengapa, Oa tidak bersepakat terhadap berbagai isu yang digulirkan dalam seminar. Oa juga memiliki persepsi upaya pencegahan child sexual abuse lebih efektif apabila dilakukan dengan memberikan penyadaran kepada para pelaku child sexual abuse. PEMBAHASAN A.     Penyebarluasan Pemahaman Mengenai Perlunya Upaya Pencegahan Child Sexual AbuseUpaya pencegahan child sexual abuse perlu mempertimbangkan berbagai hal yang menjadi penyebab terjadinya child sexual abuse. David Finkelhor (Quinn: 163) membuat teori bahwa ada empat prasyarat timbulnya child sexual abuse terhadap anak. Empat prasyarat tersebut adalah:a.       Prasyarat 1: Pelaku Memiliki Motivasi melakukan perlakuan salah secara seksual.Pelaku pasti memiliki pemikiran, kepentingan dan keinginan secara seksual pada seorang anak dan merasakan bahwa anak tersebut dapat memenuhi kebutuhannya. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut antara lain keyakinan bahwa laki-laki harus dominan secara seksual, berkuasa dalam sebuah hubungan dimana pasangannya harus pasif, tidak ada keinginan dan lemah.b.       Prasyarat 2. Pelaku Menguasai Hambatan Internal. Pelaku berhasil dalam meniadakan atau mengecilkan suara-suara yang menyatakan bahwa child sexual abuse merupakan suatu hal yang salah dan menyakitkan, pelanggaran, dan suatu hal yang ‘seharusnya tidak saya lakukan’. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti toleransi masyarakat untuk kejahatan yang disebabkan mabuk, keyakinan individu bahwa anak-anak adalah makhluk yang mempesona, eksistensi pornografi anak.c.       Prasyarat 3. Menguasai hambatan eksternal.Pelaku menciptakan akses dan kesempatan untuk melakukan perlakuan salah secara seksual tanpa dapat diketahui… hal ini dapat difasilitasi oleh keluarga yan terisolasi dari jaringan pendukung dan keyakinan adanya privasi dan kesakralan dalam sebuah keluargad.       Prasyarat 4. Pelaku Menguasai Penolakan AnakPelaku memaksa, memanipulasi, mengancam, menyuap, menakuti atau mengakali anak untuk melakukan hubungan seksual dan tidak berbicara pada siapapun. Hal ini didukung oleh beberapa faktor seperti pengetahuan anak yang kurang terhadap pengetahuan seksualitas dan kelemahan secara umum pada anak-anak pada masyarakat kita. Berdasarkan teori tersebut, kelompok sasaran tidak memperhitungkan salah satu prasyarat (precondition) terjadinya child sexual abuse dalam mencegah terjadinya child sexual abuse pada anaknya. Prasyarat yang tidak dipertimbangkan adalah prasyarat ke-4. Dalam prasyarat tersebut, pelaku akan mengakali anak dengan cara lain apabila cara memaksa, memanipulasi, mengancam, menyuap, atau menakuti anak tidak berhasil membuat anak menjadi korban child sexual abuse. Oleh karena itu, berbagai informasi yang disampaikan dalam seminar ditujukan supaya kelompok sasaran menyadari betul bahwa upaya pencegahan child sexual abuse perlu dilakukan secermat mungkin. Kelompok sasaran perlu menyadari bahwa upaya pencegahan child sexual abuse perlu dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa anak memiliki potensi untuk melindungi dirinya dari child sexual abuse.  B.     Penyebarluasan Pemahaman Mengenai Pendidikan Seksualitas Sebagai Salah Satu Upaya Pencegahan Child Sexual AbuseSalah satu komponen yang perlu dipertimbangkan dalam membuat perencanaan kegiatan pencegahan adalah level kegiatan pencegahan. Level kegiatan pencegahan yang dimaksudkan terdiri dari level primer, tersier dan sekunder (Hardiker, Exton dan Barker, 1999, h.18) Di setiap level kegiatan tersebut, dapat dilakukan dengan berbagai strategi pencegahan sebagaimana yang dijelaskan Quinn dalam tabel sebagai berikut:

 Tabel 3. Model perencanaan untuk perlindungan dan pencegahan child sexual abuse. 

Pencegahan Primer—Komunitas Umum Pencegahan Sekunder—Target khusus, kelompok yang riskan Pencegahan Tersier—Identitas korban, pelaku keluarga mereka
Strategi ditujukan pada kondisi sebelum terjadinya child sexual abuse (CSA) Strategi ditujukan pada kondisi sebelum terjadinya child sexual abuse (CSA) Strategi bertujuan untuk menetralkan kondisi sebelumnya dan mendampingi korban yang selamat/sembuh dan keselamatan yang akan datang
Ditujukan untuk mengatasi prasyarat 1 dan 2 Ditujukan untuk mengatasi prasyarat 1 dan 2 Ditujukan untuk mengatasi prasyarat 1 dan 2
Tindakan legal melawan pemasaran yang merencahkan derajat anak dan perempuan, dan yang mengeksploitasi seksualitas  anak-anak dan perempuan Konsultasi dan mendukung anak-anak yang selamat dari perlakuan salah secara seksual, terutama laki-laki yang akan menjadi orang tua Program yang ditujukan kepada pelaku sehingga mereka bertanggung jawab terhadap kelakuannya dan dampak kelakuannya
Pendidikan komunitas untuk melawan sikap yang bertoleransi terhadap kekerasan Tindakan melawan kelompok pedofil, membatasi kesempatan mereka untuk memperluas jaringan Tindakan yang ditujukan untuk membuat pelaku menghadapi dampak negatif yang telah mereka lakukan,misalnya mempergunakan pernyataan dari korban mengenai dampak yang dideritanya
Pendidikan untuk orang tua dan berbagi mengenai peran yang seharusnya dijalankan orang tua    
Ditujukan pada preconditions 3 dan 4 Ditujukan pada preconditions 3 dan 4 Ditujukan pada preconditions 3 dan 4
Pendidikan komunitas melawan sikap bahwa anak-anak adalah hak orang tua dan permasalahan keluarga tidak dapat dicampuri oleh orang lain Mendidik praktisi, orang tua, kelompok komunitas yang termasuk dalam indikasi terjadinya CSA Memberdayakan orang tua bukan pelaku
Lobi untuk hak anak-anak Kontrak kerja untuk terhadap para praktisi termasuk pernyataan mengenai konsekuensi apabila gagal menghargai hal anak, hak untuk keselamatan dan kerahasiaan Mempergunakan kekuatan hukum untuk melawan pelaku
Pendidikan komunitas untuk melawan sikap yang negatif terhadap anak-anak, misalnya anak-anak tidak dapat dipercaya, manipulatif atau memiliki fantasi Peningkatan kewaspadaan terhadap para praktisi berkaitan dengan kelompok yang riskan seperti anak cacat, bahasa inggris yang terbatas dan anak-anak yang sebelumnya telah diperlakukan secara salah Membangun dan memperkuat hubungan antara orang tua—yang bukan pelaku, dengan anaknya
    Memperkuat jaringan orang dewasa di sekitar anak. Memberikan kekuatan melalui pengetahuan dan sumber daya

Sumber: Quinn (1999: 164-165) 

Berdasarkan tabel 3, isi materi produk sosial yang ditawarkan kepada kelompok sasaran termasuk dalam kategori model perencanaan di tingkat primer, karena seminar yang dilakukan berupaya untuk memberikan informasi kepada kelompok sasaran bahwa anak-anak pada dasarnya memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya. Pengetahuan tersebut sedikit bertentangan dengan pengetahuan kelompok sasaran yang memiliki persepsi bahwa anak-anak itu lemah, tidak berdaya, dan harus selalu dilindungi dan diawasi oleh orang tua. Padahal, anak-anak tidak dapat diawasi selamanya oleh orang tua. Tujuan pelaksanaan kegiatan pencegahan child sexual abuse adalah untuk mengatasi salah satu prasyarat terjadinya child sexual abuse yang ke-4, dimana pelaku selalu berupaya mengatasi penolakan yang dilakukan oleh anak.  C.     Perilaku Kelompok Sasaran dalam Melakukan Pendidikan Seksualitas terhadap Anak Sebagai Salah Satu Upaya Pencegahan Child Sexual Abuse.Perilaku kelompok sasaran untuk melakukan pendidikan seksualitas –sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse—adalah beragam. Hal tersebut terjadi karena pengetahuan setiap anggota kelompok sasaran mengenai pendidikan seksualitas berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka yang bersikap negatif terhadap isu yang dipasarkan dalam seminar memiliki persepsi yang keliru terhadap tujuan pendidikan seksualitas, isi materi pendidikan seksualitas yang harus diberikan kepada anak, dan kapan waktu yang tepat untuk memberikan  pendidikan seksualitas kepada anak-anak. Namun melalui kegiatan seminar yang diselenggarakan dalam penelitian tindakan ini, 6 orang dari 8 orang kelompok sasaran –yang tidak berniat untuk melakukan pendidikan seksualitas dan mengikuti seminar–mau melakukan perubahan sikapnya. Salah satu hal yang membuat kelompok sasaran merubah sikapnya adalah rasa takut kelompok sasaran terhadap kasus-kasus child sexual abuse, yang ternyata lebih mengerikan dari yang selama ini mereka bayangkan. Gambar mengenai dampak fisik yang dialami para korban child sexual abuse membuat kelompok sasaran menjadi sadar bahwa child sexual abuse harus dicegah, salah satunya dengan memberikan pendidikan seksualitas. Apalagi setelah mengikuti seminar, mereka menjadi tahu bahwa pendidikan seksualitas tidak bertolak belakang dengan nilai agama. Kelompok sasaran menjadi sadar bahwa mereka harus meminimalisir rasa tabu yang selama ini menghalangi mereka untuk melakukan pendidikan seksualitas. Namun informasi yang disampaikan dalam seminar masih terlampu sedikit untuk menjadi bekal kelompok sasaran dalam melakukan pendidikan seksualitas kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, kelompok sasaran diberikan dorongan untuk mengasah ketrampilannya dalam melakukan pendidikan seksualitas. Dengan demikian, pendidikan seksualitas dapat diberikan berdasarkan kesiapan dan kebiasaan yang ada dikeluarganya masing-masing, dan yang terpenting, dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan anak. D.     Kebutuhan Kelompok Sasaran Dalam Melakukan Pendidikan Seksualitas terhadap Anak Sebagai Salah Satu Upaya Pencegahan Child Sexual AbuseBerbagai hal yang perlu dipertimbangkan oleh seorang pemasar sosial untuk mengenal kelompok sasarannya dan membuat produk sosial sesuai dengan kelompok sasarannya adalah tidak sederhana. Secara lebih jelas lagi, “The Roger’s Shoemaker Adoption Diffusion Paradigm” (Kotler dan Roberto, 1989: 128) menguraikan keterkaitan antara berbagai atribut yang dimiliki oleh individu yang termasuk dalam kelompok sasaran, dengan kegiatan pemasaran sosial, dan keputusan individu yang termasuk dalam kelompok sasaran tersebut untuk mengadopsi atau menolak produk sosial yang ditawarkan. Dalam “The Roger’s Shoemaker Adoption Diffusion Paradigm” dijelaskan kesesuaian antara produk sosial pengetahuan individu–yang termasuk dalam kelompok sasaran, sebagai kebutuhannya dapat memberikan kesempatan kepada individu tersebut untuk mengadopsi produk sosial yang ditawarkan. Dengan demikian, produk sosial yang akan ditawarkan untuk merubah kelompok sasaran perlu mempertimbangkan pengetahuan individu yang termasuk dalam kelompok sasaran. Dimana pengetahuan individu yang termasuk dalam kelompok sasaran tersebut kerapkali dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni variabel penerima dan variabel sistem sosial.Pada praktiknya, kebutuhan setiap anggota kelompok sasaran memang tidak dapat disamaratakan antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagian besar anggota kelompok sasaran yang tidak berniat untuk melakukan pendidikan seksualitas memiliki alasan bahwa pendidikan seksualitas merupakan suatu hal yang terpisah dari pendidikan agama. Namun, salah seorang dari kelompok sasaran tetap teguh memegang pendiriannya bahwa pendidikan seksualitas bukan suatu hal yang berkaitan dengan pendidikan agama. Sikap tersebut muncul karena kelompok sasaran tersebut memiliki pengetahuan bahwa pendidikan agama tidak bisa disangkutpautkan permasalahan lain yang menyangkut permasalahan duniawi. Sebaliknya anggota kelompok sasaran yang mudah menerima salah satu produk sosial yang ditawarkan dalam seminar tersebut memiliki pengetahuan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini memang harus dikaitkan dengan pendidikan agama. Berdasarkan sikapnya, anggota kelompok sasaran yang bersikeras dengan pendiriannya nampaknya belum memiliki kebutuhan untuk melakukan inovasi (variabel penerima). Ia telah merasa puas dengan upaya pencegahan child sexual abuse yang dilakukannya selama ini. Ia juga merasa bahwa produk sosial yang ditawarkan dalam seminar tidak sesuai dengan kebutuhannya (karakteristik inovasi yang dimiliki sumber komunikasi). Itulah mengapa, isu urgensi pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan perlakuan salah secara seksual seharusnya dapat dilakukan dengan cara dan bahasa yang sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki kelompok sasaran mengenai pendidikan agama itu sendiri. Kekhilafan dalam memperhatikan variabel penerima dan variabel sistem sosial yang mempengaruhi pengetahuan individu dapat berakibat fatal terhadap keberhasilan pemasaran sosial. E.     Penyelenggaraan Kegiatan yang Ditujukan untuk Merubah Perilaku Kelompok Sasaran dalam Melakukan Pendidikan Seksualitas terhadap Anak–Sebagai Salah Satu Upaya Pencegahan Child Sexual Abuse.Salah satu bentuk produk sosial yang ditawarkan kepada kelompok sasaran adalah berupa ide, yaitu ide mengenai “berani untuk berdiskusi mengenai seksualitas bersama anak sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse”. Kata berani mengawali tema seminar dimaksudkan supaya kelompok sasaran tidak merasa tabu untuk berdiskusi mengenai seksualitas karena pendidikan seksualitas bisa mencegah child sexual abuse. Salah satu cara untuk menawarkan gagasan tersebut adalah dengan memberikan informasi kepada kelompok sasaran mengenai dampak fisik dan psikologis kepada kepada kelompok sasaran seperti yang dilakukan oleh narasumber pertama. Melalui informasi tersebut, kelompok sasaran diyakinkan kembali bahwa pencegahan child sexual abuse adalah suatu hal yang sangat penting dan bukan suatu hal yang sepele. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan, cara penyampaian pesan seperti ini cukup efektif untuk mendorong kelompok sasaran merubah sikapnya yang dimiliki selama ini. Enam orang anggota kelompok sasaran penelitian yang mengikuti seminar menjadi jauh lebih waspada terhadap berbagai kemungkinan negatif yang akan terjadi pada anaknya. Beberapa anggota kelompok sasaran ternyata ada yang tidak mengetahui bahwa korban child sexual abuse dapat mengalami luka yang sedemikian parah (misalnya selaput dara dapat robek hanya karena dimasukkan tangan pelaku, dubur korban sodomi dapat berbentuk corong, dan lain-lain).Selain berupa keyakinan, produk sosial yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan kelompok sasaran adalah berupa sikap atau seperangkat pengetahuan yang mampu mendorong kelompok sasaran untuk mengevaluasi sikap yang selama ini memperngaruhi perilakunya. Produk sosial tersebut dikemas dalam segenap fakta yang menyatakan bahwa gagasan yang selama ini dimiliki oleh kelompok sasaran tidak benar, misalnya pengetahuan bahwa ternyata pendidikan seksualitas memiliki banyak keterkaitan dengan pendidikan agama, pengetahuan bahwa ternyata orang yang dikenal lebih membahayakannya dari pada orang yang tidak dikenal, dan lain-lain.Kemudian produk sosial ditawarkan kepada kelompok sasaran juga dikemas dalam bentuk value, yaitu segenap gagasan apa yang harus dilakukan oleh kelompok sasaran dan apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh kelompok sasaran dalam rangka menjaga anaknya dari child sexual abuse. Sebagaimana yang dikemukakan oleh narasumber yang kedua, memberikan pendidikan seksualitas kepada anak merupakan suatu hal yang penting. Tetapi isi dari pendidikan seksualitas yang benar harus disesuaikan dengan usia anak.Produk sosial yang ditawarkan kepada kelompok sasaran juga ada yang berupa praktek. Produk ini dikemas dalam seperangkat pengetahuan yang lebih praktis, yang disampaikan oleh narasumber ketiga. Kelompok sasaran pun mendapatkan kiat-kiat yang bisa diupayakan untuk melakukan pemberdayaan anak, kiat-kiat yang dapat dilakukan oleh kelompok sasaran untuk melindungi anaknya dari pengaruh lingkungan, dan lain-lain.Kemudian yang terakhir, penelitian tindakan ini juga mempergunakan produk sosial yang berupa produk kasat mata berupa beberapa makalah yang berisi materi seminar. Produk sosial ini cukup efektif dalam memasarkan gagasan yang ditawarkan. Efektivitasnya dapat dilihat dari informasi beberapa orang anggota kelompok sasaran mengaku telah membacanya kembali di rumah dan berusaha untuk serta mendalaminya di rumah. Jenis produk sosial dan tempat dimana produk sosial tersebut akan ditawarkan juga menjadi dasar pertimbangan pada saat menetapkan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh kelompok sasaran untuk mengadopsi produk sosial yang ditawarkan. Apalagi produk sosial yang ditawarkan kali ini menuntut perubahan mendasar dari kelompok sasaran yang sebagian besar merasa tabu terhadap pendidikan seksualitas dan tidak berniat untuk melakukan pendidikan seksualitas kepada anaknya masih belia. Adapun tujuan yang telah ditetapkan dari kegiatan pemasaran sosial dalam penelitian tindakan ini adalah kelompok sasaran mengetahui, menyadari dan menyepakati bahwa pendidikan seksualitas merupakan salah satu upaya yang dapat dipergunakan untuk mencegah terjadinya child sexual abuse. Berdasarkan tujuan tersebut, tuntutan perubahan kepada para kelompok sasaran tidak hanya pada perubahan pengetahuan saja, tetapi juga aspek kognisi dan konasi mereka. Dengan demikian, biaya yang harus dikeluarkan kelompok sasaran tidak sedikit. Itulah mengapa, desain strategi komunikasi yang dirancang untuk menawarkan produk sosial kepada para kelompok sasaran harus memperhitungkan berbagai keuntungan yang akan didapat oleh kelompok sasaran. Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan, teridentifikasi bahwa para kelompok sasaran mengeluarkan beberapa biaya yang terdiri dari ide/nilai, pola perilaku dan energi. Sedangkan keuntungan yang didapat berdasarkan masing-masing biaya adalah keuntungan psikologis, produk (tidak kasat mata), keuntungan pelayanan dan sosial. Dengan demikian, berbagai keuntungan yang didapat oleh kelompok sasaran seimbang dengan biaya yang harus dikeluarkannya. Misalnya, jika kelompok sasaran harus meninggalkan perilaku lama, ia mengetahui perilaku baru yang dapat dipraktikkan secara langsung. Kelompok sasaran juga merasa puas karena ia mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan yang bisa diterapkan guna keselamatan anaknya.  KESIMPULAN Seluruh anggota kelompok sasaran meyakini bahwa child sexual abuse harus dicegah. Namun upaya pencegahan yang mereka lakukan selama ini tidak memperhitungkan faktor internal anak yang berpotensi untuk melindungi diri dari child sexual abuse. Melalui seminar yang dilakukan dalam penelitian tindakan ini, sebagian besar anggota kelompok sasaran mendapat pengetahuan bahwa child sexual abuse memiliki dampak yang mengerikan. Mereka pun memiliki kesadaran bahwa  child sexual abuse harus dihindari dengan berbagai cara, salah satunya dengan upaya pemberdayaan anak.Salah seorang anggota kelompok sasaran ada yang memegang sikapnya yang negatif terhadap pendidikan seksualitas sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse. Perbedaan respon dari kelompok sasaran disebabkan masing-masing anggota kelompok sasaran memiliki kebutuhan yang berbeda. Masing-masing anggota kelompok sasaran memiliki kebutuhan yang berbeda untuk melakukan inovasi. Kebutuhan untuk melakukan inovasi sebagai salah satu variabel penerima yang dimiliki oleh kelompok memang sasaran sangat penting untuk diperhatikan dalam mendesain sebuah produk sosial yang ditawarkan. Mengenai hal tersebut, pemasaran sosial yang dilakukan memiliki kelemahan. Apalagi metode pemasaran sosial yang dipilih adalah dalam bentuk seminar. Metode tersebut dinilai tidak efisien mengingat jumlah anggota kelompok sasaran yang relatif sedikit. Walaupun demikian, pemilihan metode pemasaran tersebut dilakukan dengan berbagai pertimbangan, yaitu kebutuhan kelompok sasaran, kompetensi yang perlu dimiliki oleh narasumber dan moderator, serta heterogenitas sikap yang dimiliki oleh kelompok sasaran. Hasil yang diperoleh dari penelitian tindakan ini perlu tindak lanjut dan pengembangan lagi. Beberapa saran yang perlu dilakukan, antara lain:1.       Diperlukan pelatihan yang dilakukan dengan metode diskusi kelompok yang dapat memfasilitasi kelompok sasaran untuk lebih mengasah pengetahuan dan ketrampilannya untuk melakukan pendidikan seksualits sebagai salah satu upaya pencegahan child sexual abuse, sesuai dengan kebutuhannya. 2.       Perlu dibuat produk kasat mata–baik berupa booklet, buku, dan lain-lain, yang praktis dan sederhana sehingga kelompok sasaran memiliki pengetahuan yang lebih praktis dalam memberikan pendidikan seksualitas kepada anak sebagai salah satu upaya pencegahan kepada anak.  

DAFTAR PUSTAKA 

Adi, I.R.(2003). Pemberdayaan, pengembangan masyarakat dan intervensi komunitas: Pengantar pada pemikiran dan pendekatan praktis. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Assifi, Najib M dan James H. French. (tanpa tahun).

Guidelines for Planning Communication Support for Rural Developments Campaigns. UNDP/DTCP.

Briggs, F. dan Hawkins, R. (1997).

Child protection: A guide for teacher and child care professionals. Sydney: Southwest Pty Ltd.Dianawati, A. (2003).

Pendidikan seks untuk remaja. Jakarta: Kawan Pustaka.Kotler, P. dan Roberto, E.L.(1989).

Social marketing: Strategies for changing public behavior. New York: The Free Press.

Neuman, W.L. (2000). Social research methods: Qualitative and quantitative approaches. Boston:

Allyn And Bacon.Stringer, E.T. (1999). Action research. Second Edition. London: Sage Publication.

Hardiker P., Exton, K., dan Barker, M. (1999). The social policy contexts of prevention in child care.

Social Work Practice 3: Family and Child Welfare. Second Session. UNSW. Quinn, C. (1999).

Protection and prevention: An integral approach to child sexual assault. Social Work Practice 3: Family and Child Welfare. Second Session. UNSW.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2004. (2002). Diakses pada tanggal 8 Maret 2006 dari http//www.pdat.co.id/hg/reference-pdat/2005/01/03/rfr,2005 0103-02,id.htm

Sep 04

PEnDAHULUAnIndonesia dari sejak dulu sampai pada saat ini adalah negara yang sangat kaya. Namun sayang, sejak dulu dan juga sampai pada saat ini, orang-orang yang tinggal di negeri ini belum mampu untuk memanfaatkan kekayaan yang ada secara maksimal. Oleh karenanya, salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini tentu saja meningkatkan kualitas sumber daya manusia di negeri ini. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia seringkali dikaitkan dengan masalah “anggaran”. Baik “anggaran” di tingkat negara sampai dengan keluarga. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, negara dituntut untuk memberikan alokasi yang pantas untuk  pembangunan di bidang pendidikan. Di sisi lain, keluarga juga harus melihat seberapa besar anggaran yang ia miliki sehingga dapat memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya sehingga anaknya dapat menjadi seorang yang berkualitas. Proses peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas menjadi begitu erat kaitannya dengan uang. Padahal tidak selamanya ‘pendidikan’ yang mahal memberikan pelayanan dengan kualitas prima. Sebut saja permasalahan-permasalahan yang terdapat di lembaga pendidikan: bullying, tawuran, mencontek, pre-marital sex, narkoba, dll. Seringkali lembaga-lembaga pendidikan dengan guru-guru yang profesional tidak mampu menangani permasalahan-permasalahan yang ada di sekolah. Apalagi, sebagian besar permasalahan kenakalan anak di sekolah berakar dari permasalahan pendidikan anak di keluarga. Karena itu, pendidikan anak di keluarga tetap menjadi suatu hal yang utama. Mendidik anak di keluarga untuk menjadikan anak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas juga tidak selamanya membutuhkan uang yang mahal. Sebenarnya jika orang tua telah berupaya untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya, hal itu juga sudah menjadi modal yang besar untuk membekali anak-anak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.Urgensi pendidikan anak di keluarga bukan suatu hal yang baru sebagai salah satu upaya peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas dalam proses kebangkitan nasional. Bahkan terkesan kuno. Tapi sepertinya Indonesia memang tidak butuh teori-teori dan masukan-masukan baru. Gagasan mengenai urgensi pendidikan anak di keluarga sudah menjadi kuno dan usang mungkin karena selama ini hanya menjadi sebuah teori dan belum banyak yang mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.   

A. Pembangunan  dan Kemiskinan di IndonesiaWacana mengenai permasalahan kualitas sumber daya manusia di Indonesia telah lama diperbincangkan. Namun sungguh disayangkan bahwa dahulu -dan bahkan sampai pada saat ini–, kebijakan pembangunan di Indonesia lebih berkiblat pada sebuah pemikiran yang meyakini bahwa kemiskinan dapat diselesaikan dengan pembangunan yang memprioritaskan aspek ekonomi. Pembangunan yang mengacu pada pendekatan pertumbuhan tersebut diyakini kemajurannya. Sehingga apabila pembangunan telah mencapai keberhasilan, maka kemiskinan di Indinesia akan terminimalisir dengan sendirinya. Pemikiran ini mengacu pada pandangan Rostow (dalam Adi, 2003, h.6 ) yang mengasumsikan bahwa bila terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sebagai konsekwensinya akan terjadi ‘tricle down effect’ (tetesan ‘rejeki’ kebawah). Secara teori, pemikiran tersebut dapat menjadikan sebuah negara menjadi maju dan makmur. Tetapi pembangunan yang mengabaikan pemberdayaan kualitas sumber daya tersebut harus dilaksanakan oleh para pelaku pembangunan yang tidak mementingkan segelintir orang saja. Sehingga, sesuai teori Rostow, kehasilan pembangunan dapat oleh banyak kalangan. Di Indonesia, para pelaku pembangunan banyak yang melakukan kecurangan. Praktik kolusi dan nepotisme juga merajalela. Sehingga pembangunan yang selama ini dilakukan menjadi suatu hal yang tidak berarti. Apalagi Indonesia tidak memiliki sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu menjalankan roda pembangunan dengan baik. Sementara itu, hasil-hasil pembangunan di Indonesia juga tidak sampai pada penduduk yang tinggal di daerah pedesaan. Pada akhirnya para penduduk desa banyak yang tergiur dengan kehidupan di daerah perkotaan. Padahal pekerjaan di perkotaan menuntut para pekerja yang terampil. Penduduk yang berpindah dari desa ke kota semakin termarjinalkan. Permasalahan sosial di daerah perkotaan juga semakin banyak dengan bermuculannya para pedagang kaki lima, pengemis, gelandangan, dan berbagai kasus kriminalitas lainnya (Adi, 2003, h. 7). Ditengah hiruk pikuk pembangunan yang dilakukan, daerah pedesaan pun tetap langgeng dengan kondisi kemiskinan dan ketidakberdayaan. Adi (2003: h. 7-8) menggambarkan kegagalan pembangunan dengan pendekatan pertumbuhan sebagai berikut:“Kepincangan sosial antara desa dan kota, juga membantu terbetuknya ‘raja-raja’ baru dalam dunia bisnis. Terutama mereka yang punya ‘kedekatan’ dengan sumber ‘informasi’ dan ‘dana’ dalam pembangunan. Bahkan kesenjangan dalam pembangunan antara desa dan kota inilah yang menjadi akar semakin besarnya kantung-kantung kemiskinan” Kemiskinan memang tidak akan pernah hilang. Tetapi bukan berarti tidak dapat diminimalisir. Apalagi dibiarkan begitu saja hingga memunculkan permasalahan sosial yang rumit di masyarakat. Pembangunan pun seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan perubahan kondisi kepada masyarakat luas, tentunya perubahan dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik. Secara ideal, pembangunan yang dilakukan seharusya dapat memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk keluar dari kondisi serba kekurangan dan meraih kualitas hidup yang baik. negara pun dapat mencapai kondisi kesejahteraan sosial yang didefinisikan Midgley (dalam Adi, 2005, h. 16) sebagai berikut:“a state or condition of human well-being that exist when social problems are managed, when human needs are met, and when social opportuities are maximized” 

(suatu keadaan atau kondisi kehidupan manusia yang tercipta ketika berbagai permasalahan sosial dapat dikelola dengan baik; ketika kebutuhan manusia dapat terpenuhi dan ketika kesempatan sosial dapat dimaksimalkan)

 Ketiga kondisi yang disebutkan Midgley sebagai kondisi kesejahteraan sosial tentunya—sekali lagi—membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Tanpa adanya sumber daya manusia yang berkualitas, maka permasalahan sosial tidak dapat dikelola dengan baik. Sumber daya manusia yang berkualitas tentu akan berusaha secara maksimal untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, sumber daya manusia yang berkualitas juga mampu memanfaatkan setiap kesempatan yang dimiliki untuk membantu dirinya. Kealpaan proses pembangunan terhadap pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas membuat negara menjadi rapuh terhadap berbagai tantangan yang ada.  

B. Pendidikan Formal dan Kualitas Sumber Daya ManusiaSelama  ini upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia selalu dikaitkan proses peningkatan kualitas  pendidikan formal. Proses  peningkatan kualitas pendidikan formal itu sendiri telah dilakukan tetapi ternyata memunculkan berbagai masalah, terutama perihal anggaran yang harus dialokasikan untuk membiayai keperluan proses belajar mengajar. Sehingga pendidikan terasa menjadi begitu mahal. Untuk kalangan yang beruntung, persoalan biaya memang bukan soal. Lain halnya dengan orang miskin. Jangankan untuk bersekolah di tempat yang mewah dan berfasilitas lengkap. Untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti sadang, pangan dan papan pun sangat jauh dari cukup. Mereka tentu akan sangat terbantu dengan adanya bantuan pemerintah, swasta dan juga lembaga swadaya masyarakat seperti BOS, pemberian beasiswa, dan pelayanan lain yang –setidaknya—dapat menghantarkan putera-puteri bangsa ini megenyam pendidikan yang cukup (setidaknya sampai dengan SMU atau bahkan perguruan tinggi). Sehingga sudah cukup bagi mereka bersekolah di tempat yang sederhana. Tetapi apakah pendidikan yang mereka raih di sekolahnya tersebut lebih buruk? Akankah kualitas hidup mereka akan lebih buruk dari pada anak-anak yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah yang mewah?Telah menjadi rahasia umum bahwa proses penyelenggaraannya pendidikan di sekolah, dari tingkat yang paling rendah sampai dengan pendidikan tinggi, memiliki beragam permasalahan. Sebut saja kasus bullying. Permasalahan ini telah terjadi di banyak sekolah. Bahkan di sekolah yang dikenal bergengsi, berprestasi dan mahal. Padahal bulyying dapat menimbulkan banyak dampak negatif terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan anak baik kepada anak yang menjadi korban, tetapi juga pada pelaku bulyying. Coloroso (dalam Sekar, 2007, h. 73) ”… Serangan yang tidak berkesudahan mematahkan jiwa dan menghancurkan harga diri anak. Kita hanya dapat menduga jumlah anak yang lebih memilih ke matian daripada menghadapi keganasan para penindas”. Sedangkan dampak negatif yang dapat terjadi pelaku seperti yang dijelaskan Andrew Miller (dalam Sekar, 2007, h. 74)– bahwa pelaku bullying akan tumbuh menjadi sosok penguasa, kriminal yang tidak memiliki empati terhadap orang lain. Karena itu, Apabila institusi pendidikan dibiarkan mengabaikan perbuatan siswa-siswinya untuk mempraktikkan perillaku bullying di sekolah, maka institusi pendidikan tersebut tidak akan dapat membuahkan sumber daya manusia dengan kualitas yang optimal –walaupun mereka berprestasi dengan memiliki nilai akademik yang sangat tinggi.Perilaku bullying yang dilakukan anak-anak di sekolah nampaknya telah mengakar begitu kuat. Bahkan pihak sekolah yang bertarif mahal dan berpredikat unggulan pun belum dapat menahan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswanya. Hak itu berarti ketidakmampuan guru-guru disekolah dalam mendidik anak bukan disebabkan oleh gaji yang tidak memadai. Dengan demikian, pendidikan formal yang memiliki fasilitas lengkap, mahal dan berprestasi di segala bidang tidak selamanya memberikan jaminan untuk sebagai alat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Bullying di institusi pendidikan juga hanya salah satu persoalan dari beragam permasalahan. Sebut saja perilaku mencontek yang dilakukan oleh siswa, menyuap guru supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus, praktik jual beli soal ujian, tawuran, dan sebagainya.Perilaku menyimpang yang dilakukan anak-anak di institusi pendidikan memang tidak sederhana. Perilaku bullying yang dilakukan anak-anak di sekolah nampaknya telah mengakar begitu kuat. Bahkan pihak sekolah yang bertarif mahal dan berpredikat unggulan pun belum dapat menahan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswanya. Hal itu berarti ketidakmampuan guru-guru disekolah dalam mendidik anak bukan disebabkan oleh gaji yang tidak memadai. Dengan demikian, pendidikan formal yang memiliki fasilitas lengkap, mahal dan berprestasi di segala bidang tidak selamanya memberikan jaminan untuk sebagai alat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Seringkali, tidak berbeda dengan pendidikan formal di sekolah, pendidikan di dalam keluarga juga seringkali dalam dikaitkan dengan ‘uang’. Anak yang lahir di dalam keluarga miskin diasumsikan akan memiliki masa depan yang lebih suram dari pada anak yang lahir dari keluarga yang berkecukupan. Kesimpulan tersebut ada karena ada asumsi bahwa seorang anak yang miskin tentu akan mendapatkan gizi yang buruk, contoh yang buruk dari orang tuanya, dan lingkungan masarakat yang buruk. Sebaliknya anak yang lahir dari keluarga yang berkecukupan akan mendapatkan gizi yang baik, bimbingan yang baik dari orang tuanya karena orang tuanya juga berpendidikan tinggi, dan terlindungi dari pengaruh lingkungan masarakat yang buruk. Pada praktiknya sebagian besar asumsi tersebut tidak selamanya benar. Ada anak yang lahir dari keluarga miskin. Sebut saja dengan si A. Ia tidak medapatkan gizi yang baik, sehingga ia tidak memiliki daya tangkap yang baik. Kekurangannya tersebut membuatnya tidak dapat menyelesaikan sekolah dengan baik. Sehingga ia mider dan berhenti sekolah pada saat ia duduk di kelas 3 sekolah dasar. Ia pun mengisi hari-harinya dengan membantu pekerjaan ibunya di rumah atau membantu keperluan kerabat keluarganya yang sedang membutuhkan bantuannya seperti sakit, dll.Berbeda dengan anak lain, sebut saja si B. Ia lahir di keluarga yang berkecukupan. Semua kebutuhannya pun dapat terpenuhi oleh keluarganya hingga ia dapat bersekolah hingga jenjang SMU. Ia tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, padahal ia mampu. Ia memutuskan untuk menikah dan kini memiliki 4 orang anak. Dalam rangka menghidupi keluarganya, B berusaha untuk bekerja di berbagai tempat usaha. Tetapi B seringkali diberhentikan dari tempat kerjanya. Suatu saat ia pernah mendapatkan kesempatan untuk membuka warung kecil dengan modal yang ia dapatkan dari kakak iparnya.Tetapi usahanya itu juga gagal. Ia pun sering menganggur. Secara terpaksa, biaya hidup keluarganya selalu dipenuhi oleh kakak iparnya. Kemudian ia pun bekerja di sebuah perusahaan adik iparnya. Namun, walaupun sudah mendapatkan penghasilan tetap, B tetap mendapatkan subsidi dari kakak iparnya berupa pakaian, bahan makanan pokok, biaya pendidikan anak, dan lain-lain. Mengenai hal tersebut si B hanya berkometar: “punya sodara kaya emang enak.”Adapun perusahaan dimana B bekerja adalah sebuah perusahaan jasa  yang melayani pelayanan pengiriman barang dan satu perusahaan dengan si A yang juga masih memiliki hubungan kerabat dengan B. Baru beberapa bulan bekerja, B mendapatkan surat peringatan dari direktur pelaksana di tempat kerjanya yang baru. Surat peringatan tersebut diberikan kepada  B karena beberapa kelalaian yang selalu ia lakukan. Berdasarkan data yang didapatkan dari staf human resource development (HRD) di perusahaan tempat ia bekerja, B sering kali terlambat datang ke kantor, lambat dalam menunaikan pekerjaannya, dan kesalahan terakhir yang ia lakukan adalah ia tidak mengantarkan barang ke klien tepat pada waktunya karena menyasar di jalanan. Kemudian kesalahan lain yang membuat B harus mendapatkan surat peringatan adalah B dianggap tidak memiliki kemauan untuk belajar dan menganggap “enteng” pekerjaannya. Berbeda dengan si A. A memulai pekerjaannya sebagai office boy. Setelah beberapa bulan ia bekerja, karirnya cepat meningkat. Tentu saja berikut dengan jumlah gajinya. A melakukan pekerjaannya dengan baik, bahkan nyaris tanpa kesalahan. Bahkan A yang tidak pernah bisa membaca, memiliki kemauan untuk belajar dan ia pun dapat melalui tes untuk mendapatkan SIM. Sehingga ia dapat melakukan pekerjaan pengiriman barang dan ia pun tidak pernah salah alamat pada saat melakukan pengiriman barang. Ia juga tidak pernah mengeluh. Ia merasa bersyukur dengan pekerjaan yang dilakukannya. Ia juga selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk setiap pekerjaan yang diamanahkan kepadanya. Ia megatakan bahwa ia harus bekerja untuk menjalankan hidup ini. Jika tidak bekerja, dari mana ia akan mendapatkan uang untuk menghidupi dirinya.Uraian kasus mengenai A menceritakan bahwa anak yang dilahirkan dari keluarga miskin bukan berarti tidak memiliki masa depan yang cerah. Sedangkan uraian kasus mengenai B berupaya menggambarkan bahwa anak yang dilahirkan dari keluarga berkecukupan tidak secara otomatis akan mendapatkan masa depan yang cerah. Tidak hanya itu, tinggi atau rendahnya tingkat pendidikan formal yang dilalui oleh seseorang juga tidak selalu memberikan jaminan terhadap seseorang untuk mendapatkan kualitas hidup yang terbaik. 

C. Pendidikan Keluarga dan Kualitas Sumber Daya ManusiaAda beberapa sifat yang dapat membuat individu sukses dalam kehidupannya. Sifat-sifat tersebut antara merasa tidak mau bergantung dengan orang lain—bahkan dengan orang tuanya sendiri, tekun, jujur, selalu mau belajar—dalam keterbatasannya, beranggapan bahwa setiap amanah yang ada dihadapannya adalah suatu hal yang penting, dan memiliki cita-cita tinggi. Siapa saja–baik ia adalah anak-anak, remaja, dewasa, siswa, guru, pegawai, pengusaha,  apalagi pejabat pemeritah—membutuhkan sifat-sifat tersebut jika menginginkan hidup yang sukses. Ada beberapa lembaga yang berperan dalam rangka pembentukan manusia yang berbudi luhur, salah satu diantaranya adalah keluarga. Pendidikan anak di keluarga menjadi komponen yang terpenting dalam pembentukan generasi bangsa yang berkualitas, karena disitulah anak-anak mulai belajar menyerap nilai. Bagaimana pun kondisi keluarganya, setiap anak yang lahir di negeri ini berhak untuk mendapatkan masa depan yang gemilang. Baik ia terlahir di keluarga yang berkecukupan maupun yang tidak berkecukupan. Seorang anak berhak memiliki cita-cita yang setinggi-tingginya. Bagi anak yang terlahir di keluarga miskin, harus berpikir bahwa ia dapat keluar dari kemiskinannya tersebut. Bagi anak yang lahir dari keluarga yang berkecukupan juga harus berpikir bahwa ia tidak dapat menggantungkan diri pada kekayaan orang tuanya. Sehingga sifat yang mudah putus asa, pesimis, malas, tidak jujur, cepat merasa puas, tidak mengakar dalam diri anak. Permasalahan sosialisasi sikap hidup yang positif kepada anak akan menjadi sulit karena orang tua yang membimbing anak-anak pun memiliki latar belakang yang beragam. Di lain sisi, mendidik anak itu sendiri adalah perkara yang tidak sederhana. Orang tua banyak yang belum memiliki pemahaman tentang parenting skill. Tetapi ada pula orang tua yang memiliki pengetahuan yang memadai mengenai pendidikan anak, tetapi mereka sering kali tidak dapat mengaplikasikannya sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Contoh sederhana mengenai suatu hal penting dalam pendidikan anak adalah perihal efektivitas contoh teladan orang tua (orang tua sebagai role model) dalam proses pendidikan anak. Proses penyerapan nilai dalam diri anak pun akan lebih bermakna apabila sosialisasi nilai kepada anak dilakukan melalui contoh. Tanpa contoh yang benar dari orang tua, penyampaian nilai-nilai tersebut akan sia-sia. Memberikan contoh teladan yang baik bagi anak juga tidak memerlukan biaya yang mahal. Orang yang memang terpaksa hidup dalam kondisi serba kekurangan juga memiliki kemampuan untuk menjadi orang tua yang pandai memberikan contoh teladan. Jika orang tua menginginkan anaknya bersikap satun, maka orang tua patut memberikan contoh yang konsisten tentang kesantunan kepada anaknya. Jika orang tua menginginkan anaknya bersikap lemah lembut kepada orang lain, maka orang tua patut memberikan contoh yang konsisten tentang sikap yang lemah lembut kepada anaknya, dllJika orang tua yang ada dalam kehidupan sederhana –atau bahkan sangat sederhana—memiliki kesempatan untuk mecetak generasi bangsa yang berkualitas, maka orang tua yang lebih mapan secara ekonomi, seharusnya memiliki akses yang besar untuk memberikan fasilitas pendidikan yang terbaik kepada anaknya. Orang tua golongan ini memiliki kemampuan untuk memberikan anak berbagai macam kursus dan medaftarkan anaknya ke sekolah-sekolah yang berkualitas. Tetapi tentunya itu bukan suatu hal yan penting. Orang tua harus tetap menjadi teladan yang utama bagi anak dan tidak menyerahkan proses pendidikan anak kepada pihak sekolah. Sehingga nilai-nilai yang diajarkan di sekolah berbenturan dengan nilai-nilai yang ada dikeluarganya. Jika nilai-nilai yang diajarkan di sekolah berbenturan dengan nilai-nilai yang ada dikeluarganya, pelajaran yang diterima anak di sekolah menjadi suatu hal yang kurang berguna. Misalnya, sekolah mengajarkan anak untuk bersikap menghargai orang lain, tetapi anak melihat contoh dari orang tuanya berbuat sewenang-wenang terhadap pembantu rumah tangga. Kemudian anak belajar di sekolah dan mendapatkan masukan dari guru untuk selalu berhemat dan sederhana, tetapi ia melihat kedua orang tuanya begitu boros membelanjakan hartanya.Urgensi peran orang tua sebagai contoh teladan bagi anaknya menuntut orang tua untuk selalu memiliki kemauan belajar. Kemauan untuk belajar dibutuhkan orang tua sehingga orang tua haus akan ketrampilan-ketrampilan baru dalam mendidik. Apalagi pada saat ini teknologi dan informasi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Orang tua yang memiliki kemauan belajar dapat mengimbangi keingintahuan anak dan melindungi anak dari informasi dan teknologi yang kurang bermanfaat dari lingkungannya. Oleh karenanya, semangat orang tua untuk memperbaharui semangatnya dalam menjalani kehidupan sangat dibutuhkan. Tanpa semangat hidup, seseorang akan merasa bosan dengan rutiitas sehari-hari, menjalani hari-harinya tanpa makna. Semangat hidup untuk yang ia miliki akan tertular secara otomatis kepada anak-anaknya. Anak-anak akan melihat bagaimana orang tuanya menikmati setiap detik kehidupan. Pekerjaan yang ada di hadapannya bukanlah suatu beban, melainkan sebuah permainan yang mengasyikkan dan tidak membosankan. Sehingga pekerjaan apapun—bahkan pekerjaan di rumah tangga seperti mencuci piring dan pakaian di rumah, memasak, menyiram tanaman, mencuci mobil — dapat dituntaskan secara baik walaupun pekerjaan tersebut tidak menghasilkan uang. Kepuasan yang didapat dalam bekerja bukanlah besaran uang yang diterima. Kepuasan dari melakukan suatu pekerjaan tidak lagi disejajarkan dengan seberapa banyak penghargaan orang lain terhadap apa yang telah dikerjakan. Lebih dari itu, kepuasan kerja lebih dapat diartikan sebagai kerelaan diri kita dalam mengerjakan sesuatu. Menjalani peran orang tua memang tidak mudah, dan sulit untuk melakukannya secara sempura. Tetapi, sekali lagi, bukan berarti orang tua tidak dapat belajar. Jika orang tua di Indonesia memiliki kemauan untuk belajar menjadi contoh teladan yang baik, diharapkan dampak kedepannya adalah terbentuk good civil society di negara ini. Pemikiran ini muncul dari suatu keyakinan bahwa apabila orang tua memiliki niat untuk memberikan contoh yang baik kepada anaknya, dan meyakini bahwa hal tersebut dapat membentuk anaknya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, maka secara otomatis mereka akan berusaha untuk bekerja dengan tekun, jujur, selalu mau belajar—dalam keterbatasannya, beranggapan bahwa setiap amanah yang ada dihadapannya adalah suatu hal yang penting, dan memiliki cita-cita tinggi. Dengan demikian, dalam jangka yang panjang—orang tua yang juga berperan sebagai pekerja seperti pendidik, pejabat pemerintah, pengusaha, pegawai, atau bahkan petugas kebersihan,  diharapkan dapat berlomba-lomba untuk melakukan pekerjaannya dengan amanah, tidak melakukan korupsi, selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk hidupnya dan selalu berusaha untuk mencapai kualitas hidup yang terbaik untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat banyak.Issu yang sama sekali bukan suatu hal yang baru ini akan sulit diaplikasikan. Apalagi pada saat ini keluarga-keluarga yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia diserbu oleh berbagai masukan-masukan yang negatif dari media televisi. Anak-anak dan orang tua di dalam sebuah keluarga rentan terhadap pengaruh buruk yang berasal dari televisi banyak yang memproduksi tayangan-tayangan yang kurang tepat untuk dikonsumsi oleh anak. Berbagai tayangan televisi sering kali telah membuat anak-anak (bahkan orang tuanya) mengenal kekerasan, pasif dan menjadi konsumtif serta jarang ada yang dapat memberikan inspirasi. Apa yang dilihat dan di dengar dari televisi jauh dari kebutuhan anak-anak (bahkan orang tua) yang memiliki hak untuk berkembang sebagai sumber daya manusia yang berkualitas. Para produsen yang membuat tayangan-tayangan negatif tersebut bersikukuh bahwa produk yang mereka buat memang sesuai dengan keinginan sebagian besar penduduk Indonesia. Seakan-akan penduduk Indonesia telah memiliki label yang begitu negatif sehingga hanya dapat menikmati berbagai hiburan yang mengumbar kekerasan dan mimpi untuk mendapatkan kemewahan yang didapat secara cepat. Walaupun ada beberapa tayangannya yang baik dan bermutu, tayangan tersebut seringkali sulit untuk dicerna dengan mudah, terutama untuk mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.Kondisi yang tidak kondusif ini harus segera ditidaklajuti dengan berbagai kegiatan nyata berupa pembuatan berbagai produk sosial yang dapat meredam semua tayangan yang tidak bermanfaat untuk anak, bahkan untuk orang tua sekalipun. Usaha konkret ini pun harus didahului dengan keyakinan bahwa bangsa ini pasti telah jenuh dengan hal-hal yang positif dan maju. Salah satu upaya konkret yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan pemasaran sosial mengenai urgensi pendidikan keluarga. Pada saat ini, setiap orang tua –terutama orang tua yang mapan secara ekonomi– berlomba-lomba untuk mendaftarkan anak-anaknya ke dalam sekolah yang terkenal, berprestasi dan menjadi sekolah unggulan. Karena telah menjadi sebuah ambisi, ada pula orang tua yang melakukan proses pendaftaran dengan cara yang tidak arif. Ia melakukan suap kepada salah satu guru yang mengajar di sekolah dasar berpredikat “unggulan dan berprestasi” di wilayahnya. Dengan bangga orang tua tersebut mengatakan bahwa ia baru saja memberikan “upeti” sebesar Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah) kepada salah seorang oknum di sekolahnya, tepat dihadapan anaknya sendiri. Padahal anaknya baru berusia 7 (tujuh) tahun. Kasus suap yang dilakukan orang tua tersebut akan memiliki dampak yang negatif terhadap anaknya. Setidaknya, anak akan belajar dari orang tuanya bahwa “keberhasilan” dapat dicapai dengan mudah hanya dengan uang dan bukan dengan usaha, kerja keras dan ketekunan. Ia pun belajar bahwa perilaku suap itu suatu hal yang normal dan bahkan membanggakan. Walaupun masuk dengan cara yang tidak arif, orang tua tersebut tidak peduli. Hal yang terpenting bagi dirinya adalah: ia bangga anaknya dapat menjadi salah seorang siswa di sekolah dengan predikat “unggul dan berprestasi”. Padahal apabila dicerna labih jauh lagi, sekolah macam apa yang dijadikan tempat menuntut ilmu jika sekolah tersebut terkenal dapat dengan mudah untuk diberikan “upeti”? Kemudian target apa yang ingin dicapai oleh orang tua tersebut jika ia memberikan contoh yang negatif dalam menghadapi suatu persaingan dan juga kecurangan?Di lain sisi, jasa pendidikan juga seperti komoditas yang diperjual belikan. Seakan-akan sekolah yang mahal serta berlabel “plus” akan menjadi jaminan bagi anak-anak menjadi seseorang yang berkualitas. Seiring dengan ‘tren’ komersialisasi pendidikan tersebut, kepercayaan diri orang tua seakan-akan menjadi luntur. Pada akhirnya seakan-akan mereka ingin menyerahkan tanggung jawabnya kepada pihak sekolah. Sehingga jika ada sesuatu hal yang salah terhadap proses pendidikan anaknya, maka yang akan mudah disalahkan adalah pihak sekolah. Seperti kasus ibu Ana (sebut saja demikian), misalnya. Sebelum ibu Ana mendaftarkan anaknya ke SMU X, ibu Ana sangat tertarik dengan iklan SMU X yang menjanjikan bahwa setiap muridnya akan memiliki akhlak yang baik. Iklan tersebut dirasa Ibu Ana sangat sesuai dengan harapannya. Apalagi Ibu Ana memiliki pandangan yang buruk mengenai ‘remaja pada saat ini’. Salah satu gambaran Ibu Ana mengenai remaja di saat ini adalah tidak memiliki sikap yang sopan terhadap orang tua. Ia berharap, SMU X dapat memberikan pendidikan akhlak yang terbaik bagi anaknya (sebut saja Rani). Pada kenyataannya, SMU X memang berupaya untuk menerapkan akhlak yang baik kepada murid-muridnya. Salah satu cara yang diterapkan oleh SMU X dalam memberikan pendidikan akhlak kepada murid-muridnya adalah dengan membiasakan murid-muridnya untuk tidak ber-khalwat (satu orang laki-laki berduaan dengan satu orang perempuan yang bukan mahramnya di suatu tempat). Suatu hari, Rani di tegur oleh salah seorang guru di SMU X karena telah berkhalwat. Teguran ini diberikan karena guru tersebut melihat secara langsung pada saat Rani di bonceng oleh salah seorang murid laki-laki. Rani tidak menerima teguran tersebut. Rani membantah dan merasa lebih benar karena ia pergi berduaan ke sekolah dengan kawan-nya atas izin dari orang tuanya (ibu Ani). Rani juga merasa benar karena ia merasa jauh lebih nyaman pergi ke sekolah dengan temannya yang lebih ia kenal—walaupun berjenis kelamin laki-laki, dari pada pergi sekolah dengan menggunakan dengan ojek—yang diartikan lebih berbahaya dari pada teman laki-lakinya karena pengemudi ojek adalah orang yang tidak dikenal. Bantahan yang diberikan oleh Rani tidak diterima oleh guru yang menegur tersebut (sebut saja Bapak Ali). Tetapi, sangat disayangkan, Bapak Ali menanggapi bantahan dari Rani dengan cara yang tidak bijak. Setelah mendengar bantahan dari Rani, Pak Ali melengos pergi. Pada hari berikutnya, Pak Ali tidak menyapa Rani. Padahal, menurut Ibu Ani, seharusnya Pak Ali membuka komunikasi yang bersifat dua arah dengan Rani, muridnya. Jika Pak Ali memang merasa yakin bahwa tegurannya itu adalah sesuatu yang terbaik untuk muridnya, maka ia harus bisa menyampaikan hal tersebut. Menurut Ibu Ani pula, sikap pak Ali kepada anaknya Rani dinilai tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, sikap Bapak Ali membuat anaknya, Rani, semakin merasa benar dan menjadi tidak menghormati Bapak Ali sebagai gurunya.Semestinya Ibu Ana menyadari bahwa ia tidak dapat menyalahkan pihak sekolah yang bersangkutan karena ibu Ani sebagai orang tua juga harus menyadari bahwa ia masih terlibat dalam proses pendidikan akhlak anaknya.Sekolah memang berperan banyak dalam proses pertumbuhan dan perkembangan diri anak. Tetapi keluarga juga tetap ikut andil dalam proses pendidikan anak. Dalam Model ekologi sosial Bronfenbrenner, Bowes dan Hayes (1999, h. 8-9) memaparkan bahwa sistem paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak disebut dengan sistem mikro. Selain sekolah, sistem mikro tersebut antar lain dari  keluarga, pelayanan kesehatan, teman bermain di sekitar rumah, dan lain-lain. Pengaruh yang diberikan kepada anak juga tidak hanya tampilan fisik, tetapi juga sistem kepribadian dan kepercayaan. Oleh karenanya, jika ada suatu hal yang salah dalam proses pendidikan anak, maka ada berbagai macam faktor yang perlu dipertimbangkan. Salah satunya adalah proses pendidikan anak di keluarga itu sendiri  

D. Pemasaran Sosial Mengenai Urgensi Pendidikan Keluarga Issu urgensi pendidikan anak di keluarga—walaupun sudah usang—perlu disebarluaskan kembali  ke masyarakat. Salah satu strategi yang dapat dipergunakan adalah pemasaran sosial (social marketing). Melalui pemasaran sosial, masyarakat tidak hanya memiliki pengetahuan baru mengenai urgensi pendidikan anak dalam keluarga. Pengetahuan yang disebarkan melalui metode pemasaran sosial juga dilakukan untuk merubah perilaku seseorang. Mengenai tujuan pemasaran sosial tersebut, Kotler dan Roberto mendefinisikan pemasaran sosial sebagai berikut: “Sosial marketing is a strategy for changing behavior. It combines the best elements of the traditional approaches to sosial change in integrated planning and action framework and utilizes advances in communication technology and marketing skills.” (Kotler dan Roberto, 1989, h. 24) (Pemasaran sosial adalah strategi untuk merubah perilaku. Pemasaran Sosial mengkombinasikan elemen-elemen terbaik dari pendekatan tradisional untuk perubahan sosial dalam perencanaan yang terintegrasi dan kerangka tindakan dan mempergunakan teknologi komunikasi yang maju dan ketrampilan pemasaran)  Definisi pemasaran sosial yang didefinisikan oleh Kotler dan Roberto mengatakan bahwa pemasaran sosial dapat merubah perilaku seseorang. Sehingga orang yang semula kurang atau bahkan tidak peduli terhadap perilakunya yang buruk, dapat menjadi seorang yang peduli terhadap perilakunya dan mau mencoba memperbaikinya karena ia tahu bahwa perilakunya yang buruk dapat mengakibatkan efek yang negatif terhadap proses pendidikan anaknya. Bahkan, melalui pemasaran sosial, orang tua yang tidak memiliki pengetahuan mengenai urgensi pendidikan anak di keluarga menjadi tahu, kemudian berusaha untuk melakukan perubahan dalam mendidik dan membesarkan anaknya, berusaha mendapatkan ketrampilan terbaru dalam proses mendidik anaknya, dan –yang paling penting–berusaha untuk memperbaiki diri sendiri sehingga dapat menjadi orang tua yang dapat memberikan contoh teladan yang baik bagi anaknya.Upaya perubahan perilaku tersebut tentu tidak mudah. Pemasaran sosial tidak seperti pemasaran pada umumnya (generic marketing). Pemasaran sosial harus “memaksa” targetnya untuk mengubah keyakinan, nilai, sikap yang selama ini telah tertanam di dalam dirinya. Berbeda dengan iklan mie yang sering ditawarkan oleh berbagai produsen mie instan. Para kosmen instan dapat dengan mudahnya mengganti produk mie instan yang lama dengan produk mie instan yang baru. Perubahan ini dapat mereka lakukan dengan mudah, bahkan tanpa pertimbangan yang berat. Hal itu dapat terjadi karena konsumen dapat merasakan keuntungannya secara langsung apabila ia merubah kebiasaannya dalam mengkonsumsi produk mie. Lain halnya dengan pemasaran sosial, misalnya mengenai urgensi pendidikan anak di keluarga keluarga dengan memberikan teladan yang baik kepada anak. Target pemasaran sosial tidak dapat merasakan manfaat perubahan perilaku yang ia lakukan dengan instan. Walaupun pada akhirnya ia memutuskan untuk merubah perilakunya, maka ia harus berusaha menanggalkan pengetahuan lamanya, merubah keyakinannya dan sikapnya yang telah menjadi perilakunya sehari-hari. Karena itu, pemasaran sosial dikatakan oleh Kotler dan Roberto membutuhkan seperangkat perencanaan yang terintegrasi. Tidak hanya itu, pemasaran sosial juga membutuhkan teknologi komunikasi yang maju dan ketrampilan pemasaran.  Tanpa itu semua, pemasaran sosial yang dilakukan tidak akan menjadi komunikasi yang efektif bagi sasarannya.Selain kegiatan yang terorganisir dan teknologi komunikasi yang baik, pemasaran sosial juga tidak akan berhasil apabila proses pengerjaannya tidak mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi dalam perilaku manusia itu sendiri. Green dan Kreuter (1991, h. 151) menuliskan beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang, yaitu:a.      Faktor Predisposisi, yaitu penyebab yang mempengaruhi perilaku secara rasional atau motivasi perilaku.b.      Faktor Pendukung, yaitu penyebab perilaku yang memfasilitasi motivasi untuk dapat terrealisasikanc.      Faktor Pendorong, yaitu faktor yang diakibatkan oleh perilau yang menyediakan penghargaan yang terus menerus atau insentif yang memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan perilaku tersebut Setiap faktor juga terdiri dari berbagai hal yang perlu dipertimbangkan. Faktor predisposisi terdiri dari faktor pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai dan persepsi. Sedangkan faktor pendorong terdiri dari sikap dan perilaku dari petugas atau yang lainnya. Kemudian faktor pendukung terdiri dari ketersediaan sumber daya, peraturan dan juga ketrampilan yang dibutuhkan kelompok sasaran sehingga ia dapat merubah perilakunya. Keterkaitan seluruh faktor tersebut digambarkan dalam model precede-proceed yang dipaparkan Green and Kreuter. Sebagian dari gambar model precede-proceed adalah sebagai berikut (dalam Viciawati, 2006, h.67):

Pendidikan kesehatan

Faktor Predisposisi
Faktor Pendorong
Faktor pendukung
 Perilaku dan gaya hidup
lingkungan
KebijakanPeraturanOrganisasi  
Tahap 5 Diagnosa administrasi dan kebijakan
Tahap 4Diagnosa organisasi dan pendidikan 

Gambar 1.  Tahap Precede yang ke 4 dan 5 menunjukkan strategi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mempengaruhi faktor predisposisi, pendorong dan pendukung yang mempengaruhi atau mendukung perubahan perilaku dan lingkungan. Cuplikan model precede-proceed memberikan gambaran bahwa perilaku seseorang tidak hanya melibatkan beberapa faktor berinteraksi secara langsung (pengetahuan diri, sikap diri, keyakinan diri, nilai diri, persepsi diri terhadap suatu issu; sikap dan perilaku dari petugas atau yang lainnya; ketersediaan sumber daya, peraturan dan juga ketrampilan yang dibutuhkan kelompok sasaran sehingga ia dapat merubah perilakunya). Selain itu, perubahan perilaku juga membutuhkan adanya suatu faktor yang bersifat makro, yang bisa membuat lingkungan dimana seseorang tinggal merasa tidak nyaman dengan perilakunya yang buruk. Sebaliknya ia merasa nyaman dengan perilakunya yang baru. Faktor tersebut berupa kebijakan negara. Dengan adanya dukungan negara terhadap, issu mengenai urgensi pendidikan anak di keluarga akan menjadi jauh lebih mudah dilaksanakan. D.1.Pemasaran Sosial Mengenai Urgensi Pendidikan Anak di Keluarga pada Tingkat nasionalKegiatan pemasaran sosial sebagai upaya untuk memasarkan issu urgensi pendidikan anak di keluarga membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah yang mendukung issu ini dibutuhkan untuk menciptakan atmosfir di masyarakat sehingga masyarakat dapat lebih mudah mengetahui bahwa keterlibatan penuh keluarga sangat dibutuhkan dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Selain itu, pemerintah juga berperan untuk merangkul berbagai elemen yang ada di masyarakat dalam proses pelaksanaannya. Elemen-elemen masyarakat yang dibutuhkan antara lain Swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Sektor swasta dibutuhkan dalam proses pelaksanaan kegiatan pemasaran sosial ini terutama terkait perihal pendanaan. Pemasaran sosial akan menyedot dana yang sangat besar. Apalagi kegiatan ini diupayakan untuk menjangkau masyarakat Indonesia yang ada di pelosok sekalipun. Sebagaimana yang dikemukakan Weinreich (tt.a., h. 3-4) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan purse string adalah sumber dana yang diperlukan untuk kelancaran penyelenggaraan kegiatan pemasaran sosial. Apalagi pemasaran sosial membutuhkan teknologi komunikasi yang maju. Salah satu teknologi komunikasi yang dapat dipergunakan adalah televisi. Televisi sangat efisien dalam menciptakan atmosfir yang dibutuhkan. Sebaiknya pemasaran sosial melalui televisi juga dilakukan dengan membuat sebuah film yang dapat menandingi sinetron-sinetron ‘picisan’ –yang bermuatan gambaran kehidupan keluarga dengan hidup materialis, konsumtif dan rentan terhadap perilaku kekerasan di dalam rumah tangga– yang selama ini dikonsumsi masyarakat Indonesia. Karena itu, pembuatan film yang berbobot dan dapat dicerna oleh masyarakat umum harus dapat dibuat sebanyak-banyaknya dan semenarik mungkin sehingga dapat mematahkan sebuah pendapat yang menyatakan bahwa selera sebagian besar rakyat Indonesia adalah rendah.

Oleh karenanya pemasaran sosial yang dilakukan melalui media televisi tersebut tidak hanya menjangkau para masyarakat yang menjadi konsumen saja. Produsennya juga perlu dilibatkan. Itulah mengapa peran pemerintah menjadi sangat penting dalam melindungi anak dan keluarga dari informasi-informasi yang merugikan.

Selain tekologi komunikasi yang maju, Kotler juga menekankan peran peting dari ketrampilan pemasaran. Seorang pemasar sosial membutuhkan ketrampilan yang tinggi mengingat keunikan dari kegiatan pemasara sosial. Metode masa tidak cukup untuk menjangkau tujuan kegiatan pemasaran sosial mengenai urgensi pendidikan anak di keluarga. Apalagi di Indonesia tersebar beragam bangsa, adat, bahasa dan keyakinan. Letak penduduknya juga terpisah di ribuan pulau. Sehingga, produk sosial yang ingin dipasarkan harus disesuaikan dengan target sasaran. Dengan demikian, pemasar sosial dapat memudahkan proses penyampaian pesan kepada target sasaran dan mencapai tujuan kegiatan pemasaran sosial itu sendiri.

Alur proses kegiatan pemasaran sosial yang terdiri dari target sasaran –dengan latar belakangnya, kualitas dari sumber komunikasi,  dan hasil yang dapat di capai dari kegiatan pemasaran social dijelaskan dalam “The Roger’s Shoemaker Adoption Diffusion Paradigm”. “Paradigma difusi pemakaian dari The Roger’s Shoemaker” tersebut dapat dijelaskan dalam gambar 2 berikut:

1.                    Karakteristik personal (contoh: sikap umum terhadap perubahan)2.                    Karakteristik sosial (contoh: gaya hidup perkotaan)3.                    Kebutuhan yang dimiliki untuk melakukan inovasi4.                    dan lain-lain
1.    Norma sitem sosial2.    Toleransi terhadap perilaku menyimpang3.    Integrasi komunikasi4.    dan lain-lain
Variabel Penerima
Antecedents
1.        Penggantian2.        Kekecewaan
PersuasiII
KeputusanIII
KonfirmasiIV
Sumber Komunikasi
Adopsi
Proses
Konsekuensi
Adopsi yang berkelanjutan
Tidak berlanjut
Penolakan
Adopsi di waktu lain
Penolakan yang berkelanjutan
1.        Keuntungan yang relatif2.        Kesesuaian3.        Kompleksitas4.        Kemampuan untuk di coba5.        Kemampuan untuk di amati
Karakteristik inovasi yang dimiliki
PengetahuanI
Variabel sistem sosial

Gambar 2 Paradigma penyebaran pemakaian dari the Roger’s Shoemaker Sumber: Kotler dan Roberto [1989, h. 128]  Berdasarkan gambar 2 tersebut, seorang pemasar sosial perlu untuk terjun langsung ke masyarakat. Dengan demikian, seorang pemasar sosial mengetahui berbagai atribut yang dimiliki oleh target sasarannya. Itulah mengapa pemerintah perlu untuk merangkul lembaga swadaya masyarakat, karea lembaga swadaya masyarakat dapat berfungsi untuk menjangkau masyarakat dan memastikan bahwa issu yang ingin disampaikan melalui pemasaran sosial telah dilaksanakan dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan.  D.2. Pemasaran Sosial Mengenai Urgensi Pendidikan Anak di Keluarga pada Tingkat komunitasAda berbagai lembaga swadaya masyarakat yang telah berupaya untuk menjangkau masyarakat dalam menyebarkan issu urgensi pendidikan anak di keluarga. Tetapi setiap lembaga swadaya masyarakat yang melakukan kegiatan belum saling bekerja sama antara lembaga swadaya masyarakat yang satu dengan yang lain. Bahkan setiap lembaga swadaya masyarakat terlihat saling memperebutkan “lahan wilayah garapan atau pun lahan issu” demi terlaksananya suatu proyek. Fenomena ini tentu perlu diminimalisir. Kerja sama antar lembaga yang dapat diorganisir oleh pemerintah diharapkan dapat memberikan suatu usaha kesejahteraan sosial yang lebih bermakna bagi masyarakat, karena koordinasi antar lembaga swadaya masyarakat dapat membuat kegiatan pemasaran sosial megenai urgensi pendidikan anak di keluarga menjadi lebih merata di masyarakat. Usulan tersebut tentunya patut untuk terus dilaksanakan, walaupun selama ini perihal “koordinasi” merupakan suatu hal yang sangat sulit. Dengan demikian, masyarakat di berbagai wilayah (di perkotaan atau di pedesaan) dan dengan berbagai peran (pejabat, guru, ibu rumah tangga, dll.) memiliki akses terhadap informasi yang disampaikan dalam kegiatan pemasaran sosial. Penjangkauan masyarakat yang ada di daerah pedesaan tentu akan berbeda dengan masyarakat yang ada di daerah perkotaan. Di daerah pedesaan, lembaga swadaya masyarakat memiliki berbagai wadah sebagai modal sosial yang dapat dijadikan media untuk melakukan pemasaran sosial. Beberapa contoh potensi masyarakat yang dapat dijangkau adalah kegiatan pengajian yang kerap kali di lakukan masyarakat di daerah pedesaan setiap satu kali per pekan, per dua pekan atau per bulan atau kegiatan perkumpulan ibu-ibu PKK. Satu hal yang menjadi sorotan dari beberapa kegiatan masyarakat di daerah pedesaan tersebut adalah sesi penyampaian materi. Kegiatan warga tersebut tentu akan jauh lebih bermakna apabila materi yang disampaikan bersesuaian dengan permasalahan yang sedang dialami di dalam keluarganya (sesuai dengan kebutuhan), mendalam, dan yang paling penting adalah dapat diaplikasikan secara langsung ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Contoh yang berkaitan dengan urgensi pendidikan anak dalam keluarga adalah bagaimana mendidik anak sesuai dengan usianya (misalnya melakukan sex education), bagaimana menerapkan disiplin kepada anak, bagaimana mengelola emosi pada saat mendidik anak, bagaimana berkomunikasi dengan anak,  dll. Materi-materi tersebut perlu dikemas dalam rangkaian kegiatan yang berkesinambungan dan tidak terputus. Oleh karenanya metode intervensi berupa community development dapat dipergunakan dalam rangka memasarkan issu urgensi pendidikan anak di keluarga. Sehingga pada satu saat, akan terbentuk pula kader-kader masyarakat yang menguasai ketrampilan sebagai orang tua (parenting skill). Mereka akan banyak berperan dalam menjaga keberlangsungan kegiatan yang memasarkan urgensi pendidikan anak di keluarga. Materi-materi yang berkaitan dengan parenting skill lebih mudah dijangkau oleh orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan, terutama mereka yang ada di kalangan menengah atas. Demi mendapatkan materi-materi tersebut, mereka rela membayar dengan sejumlah uang yang tidak sedikit. Tetapi seringkali kegiatan-kegiatan yang mereka ikuti tidak memiliki dampak yang lama. Sehingga, perlu dibuat tempat pemasaran (place) yang baru untuk masyarakat kalangan menengah ke atas, yang bersifat berkesiambungan. Mereka pun tidak lagi sepenuhnya menyerahkan proses perkembangan anaknya ke pihak sekolah (atau bahkan kepada pengasuh anaknya) dan menyadari bahwa pendidikan anak di dalam keluarga adalah yang paling utama, serta menyadari bahwa perilaku mereka sebagai orang tua berperan sangat besar terhadap perkembangan anaknya. Tempat pemasaran yang dapat dipergunakan sebagai saluran komunikasi antara lain adalah sekolah (dengan mempergunakan perkumpulan orang tua/wali murid) dan sebuah perkumpulan yang ada di kantor-kantor dimana orang tua bekerja.Begitu pula untuk kalangan masyarakat miskin di daerah perkotaan. Di komunitas ini, seorang pemasar sosial perlu membuat suatu wadah yang dapat mempertemukan warga. Ciri khas dari kampung-kampung miskin yang Evers (dalam Viciawati, 2002, h. 4) sebut dengan istilah “massa apung” ini adalah mobilitas geografis dan pekerjaan anggotanya yang tinggi. Permasalahannya juga lebih rumit karena mereka yang ada di dalam kelompok “massa apung” adalah kelompok  paling miskin. Permasalahan sosial menumpuk didalamnya. Sebut saja persoalan pelacuran, perampokan, perdagangan anak, pelecehan anak, dan lain-lain. Permasalahan sosial yang ada di massa apung muncul seperti sebuah lingkaran. Kehidupan anak-anak di massa apung, kehidupan keluarga dan komunitasnya saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain hingga membentuk suatu budaya, yaitu budaya kemiskinan. Karakteristik massa apung tersebut akan membuat proses pelaksanaan kegiatan pemasaran sosial menjadi lebih sulit, tetapi bukan berarti tidak mungkin terjadi.  Lingkaran budaya kemiskinan tersebut akan dapat diputus dengan menyorot kebutuhan orang tua dan anak-anak yang menjadi anggota massa apung.

Serupa dengan kegiatan pemasaran sosial yang dilakukan di daerah pedesaan, pemasaran sosial yang dilakukan di massa apung juga dapat diselenggarakan melalui metode community develoment. Dengan demikian, proses kegiatan pemasaran sosial yang dilakukan dapat bersesuaian dengan kebutuhan masyarakat, dapat memunculkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap segala bentuk kegiatan yang dijadikan tempat pemasaran issu urgensi pendidikan anak di keluarga, dan yang terpenting adalah dapat melahirkan kader-kader yang mampu melangsungkan kegiatan pemasaran sosial ini menjadi suatu kegiatan yang berkesinambungan.

 PEnutupPemasaran sosial mengenai urgensi pendidikan anak di keluarga ini digulirkan supaya masyarakat menyadari kembali peran penting yang perlu dijalani oleh orang tua. Orang tua juga perlu disadari kembali bahwa proses peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak menjadi tanggung jawab institusi pendidikan sepenuhnya. Sifat disiplin, keuletan, kejujuran, kerja keras, akan lebih tertanam di dalam diri seseorang apabila sekolah mengajarkannya di ruang kelas dan orang tua telah memberikan contoh kepada anaknya sejak anaknya kecil. Apabila setiap orang tua dengan peran apapun—baik guru, pejabat, petugas kebersihan–berlomba-lomba untuk mau dan mampu memberikan contoh yang terbaik kepada anaknya supaya anaknya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, diharapkan tidak ada lagi pekerja yang malas, tidak jujur atau mengambil yang bukan haknya. Negara ini pun dapat bangkit dan maju karena hampir semua individu yang ada di dalamnya menyadari bahwa ia-lah yang pertama harus bangkit dan maju, mengukir hari-harinya dengan perilaku terbaik yang dapat dilakukannya. Jadi, jangan tunggu lagi. Indonesia harus segera bangkit. Jadikan keluarga-keluarga di Indonesia menjadi taman pendidikan yang indah bagi anak-anak. Kemudian hidupkan serta aplikasikan sebuah slogan: keluargaku adalah sekolahku, orangtuaku adalah guru pertamaku.  DAFTAR PUSTAKA BUKUAdi, I.R. (2003). Pemberdayaan, pengembangan masyarakat dan intervensi komunitas: Pengantar pada pemikiran dan pendekatan praktis. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Adi, I.R. (2003). Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Jakarta: Lembaga Penerbit FISIP UI Press. Green, L.W. dan Kreuter, M.W. (1991). Health promotion planning: An educational and environmental approach. London: Mayfield Publishing Company. Kotler, P. dan Roberto, E.L.(1989). Social marketing: Strategies for changing public behavior. New York: The Free Press. JURNALSekar, D.A.C (2007). Penindasan (bullying) di sekolah. Jurnal Ilmu kesejahteraan Sosial, Jilid 5, no. 1, p.61-80.  ARTIKELWeinreich, N.K. (tt.a). What is social marketing. diakses pada tanggal 30 januari 2006. http://www.social-marketing.com/whatis.html.   KARYA AKADEMISViciawati, S. (2002). Program Pengembangan Masyarakat untuk Pemberdayaan Masyarakat Miskin Perkotaan. Program Sarjana Universitas Indonesia Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta. Viciawati, S. (2002). Pendidikan Seksualitas untuk Anak Melalui Pemasaran Sosial Sebagai Salah Satu Upaya Pencegahan Child Sexual Abuse. Program Pascasarjana Universitas Indonesia Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta.