Oct 14

Betapa sulitnya menjadi orang tua. Setiap perkataan, perbuatannya selalu diamati lalu diikuti oleh anak-anaknya 

Suatu hari ada 2 orang anak yang berpikir kreatif. Mereka melihat mobil jip milik ayahnya tak terpakai di garasi rumahnya. Mereka berniat untuk belajar sendiri mengendarai mobil tersebut. Mereka berunding dan mengumpulkan kekuatan.  Salah seorang dari mereka ada yang merasa sudah besar dan tinggi badannya cukup. Ia sudah berusia 14 tahun dan berbadan tinggi, Sehingga ia  bisa menginjak rem, gas, dan kopling dengan kakinya. Anak yang satu lagi lebih pendek. Ia baru duduk di kelas 6 SD, tapi ia tahu dan mengusai “ilmu” mengenai bagaimana mengendarai mobil. Ia tahu bagaimana menyalakan mobil, apa fungsi kopling dan gigi, dan bisa membedakan mana yang disebut dengan kopling itu sendiri dengan rem dan gas. Ia tahu karena sering memperhatikan dan bertanya kepada ayah dan supir ayahnya.  

Setelah bersepakat, mereka berdua langsung menuju mobil jip yang ada di garasi rumah. Anak yang paling besar segera menaiki jok mobil yang ada setirnya.  Sedangkan adiknya berusaha mendorong mobil dari belakang. Sang adik mengatakan: “teh… di turunkeun heula rem tangannya! ambeh tiasa di dorong!” (teh, diturunin dulu rem tangannya! biar bisa di dorong). Kakak yang pertama segera menurunkan rem tangan. Mereka mengeluarkan mobil ke luar garasi hingga berhasil memarkirkannya di depan pagar rumah. (Fiew…. cpd…) 

Selanjutnya anak yang ke dua memberikan instruksi: “teh… nyalakeun mobilna….” (kak, nayalakan mobilnya). Setelah itu, ia pun menyusul kakaknya ke dalam mobil. Lalu memberikan instruksi lagi. “Injek koplingnya, nu palih ditu (injak koplingnya yang sebelah sana). Adiknya menunjukkan kopling. “gigi-na di ka hiji-keun. Angkat koplingna pelan-pelan teh…” (giginya di ke  satu-in. Angkat koplingnya pelan-pelan, the…) si teteh, sang kakak, menuruti saja.  “halah mati euy…” (yah… mati… ) kata teteh. Ternyata si teteh terlalu cepat melepas koplingnya dan membuat mobil yang mereka kendarai berhenti. Namun mereka tidak menyerah, teteh yang menjadi supir mencoba untuk menyalakan mobilnya lagi. Kali ini teteh berhasil dan mereka dapat mengendarai mobil sampai ke lapangan di sekitar rumah mereka. Di lapangan, sang adik meminta teteh untuk memberikan giliran belajar menyetir mobil kepadanya. Teteh pun mengijinkan.

Setelah mereka puas belajar mobil di lapangan, mereka pun pulang. Ternyata sang ayah (yang mereka segani) telah menunggu di halaman rumah. Kakak kedua anak tersebut juga ada di samping ayahnya. Ia menunjuk-nunjuk ke arah mobil yang sedang dikendarai adik-adiknya. “tah tah tah, pak! Dicarekan weh!” (tuh tuh tuh, pak! Dimarahin saja!). Sang tidak menggubris perkataan si kakak. Beliau hanya menatap anak-anaknya yang ada di mobil tersebut sambil bertolak pinggang.

Setelah mobilnya terparkir di depan rumah, sang ayah tidak berkomentar apapun. Beliau tidak memarahi anak-anaknya. beliau hanya menanyakan kondisi anak-anaknya yang nekat belajar mengendarai mobil tanpa didampingi orang dewasa. Keesokan harinya, sang ayah memutuskan untuk segera mengajari anak-anaknya mengendarai mobil sampai anak-anaknya mahir.

*sebagaimana yang diceritain teteh/mamih rose kepada saya

6 Responses to “betapa sulitnya menjadi ORANG TUA*”

  1. nazla Says:

    keluarga bapak machdum ini emang metal2 dalam bidang supir menyupir. tukang kebut kabeh!

  2. nazla Says:

    bagusan yang kemarin layout blognya.

  3. sari.viciawati Says:

    yang ada pohon2nya? atau yang biru?

  4. sari.viciawati Says:

    bapak kemi sekarang mau menyusul ketertinggalannya menjadi tukang kebut. hihihi…

  5. daryanti Says:

    salam kenal mba

  6. sari.viciawati Says:

    lam kenal juga…

Leave a Reply