January 3, 2011

Pangan dan Permasalahannya

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:56 am

Pagi tanggal 1 Januari 2011, yang paling dirasakan sangat nikmat adalah pada saat sarapan pagi nasi goreng buatan sendiri, dengan memakai sambal pedas dari rumah makan di Margonda, yang memang spesialis menyediakan aneka macam sambal yang terkenal pedasnya, yang kebetulan sore hari 31 Desember 2010 seorang teman mentraktir makan di rumah makan sambal pedas, karena telah lolos ujian skripsinya. Pokok permasalahan disini bukan terhadap sambalnya, melainkan nasi yang kita makan sehari-hari. Pernahkah terpikirkan bagaimana padi bisa menjadi nasi yang kita makan sehari-hari?

Liburan natal 2010, kebetulan berkesempatan mengunjungi kampung halaman istri, yang terletak 60 kiometer arah selatan Cianjur. Oleh-olehnya diberi beberapa kilogram beras, yang katanya baru saja dipanen dari sawah. Karena terburu-buru, padi hasil panen tersebut hanya sempat diproses di mesin penggilingan, belum sempat dibersihkan. Nah, ketika akan ditanak menjadi nasi, beras masih banyak gabahnya. Terpaksalah harus dibersihkan dahulu dengan cara ditapi memakai tampah yang besar, seperti orang-orang di kampung kalau membersihkan beras. Ternyata tidak gampang, selain makan waktu lama, banyak beras yang terbuang bersama gabah. Pernahkan terbayangkan, jika kita membeli beras yang putih bersih tidak ada gabah sebutirpun, bagaimana cara membersihkannya? Pantaslah kalau begitu, kenapa harga beras begitu mahal ketika sudah sampai di pasar, tetapi siapakah yang paling diuntungkan dalam hal ini?

Waktu kuliah sistem perekonomian dahulu, masih teringat cerita seorang dosen, dengan mengimpor beras dan melemparkan ke pasaran, sehingga harga beras menjadi murah, sebetulnya yang disubsidi orang-orang kota yang mengkonsumsi beras. Orang desa yang sebagian besar para petani beras tidak menikmatinya, petani beras juga harus menjual beras sesuai harga di pasar yang banyak dibanjiri dengan beras impor. Padahal kalau dihitung-hitung, petani harus banyak mengeluarkan uang untuk membeli pupuk yang begitu mahal. Belum lagi dihitung tenaga yang dikeluarkan petani dalam mengolah sawah, yang biasanya tidak pernah dikonversikan ke dalam satuan harga beras yang akan dijualnya. Jadi bagaimanakah cara menghitung berapa layaknya beras harus dijual di pasar?

Ketika lahan sawah untuk menanam padi semakin berkurang karena dipakai untuk pembangunan rumah dan prasarana lainnya, sementara penduduk makin bertambah yang berarti juga makin banyak orang yang perlu makan (beras), timbul masalah. Sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan politik ketahanan pangan. Salah satu diantaranya yaitu dengan membuka lahan sawah baru di beberapa tempat, diantaranya di Papua. Tetapi ini juga menimbulkan masalah, karena perluasan dan pengelolaan lahan sawah baru ini diberikan kepada para pengusaha kelas kakap. H.S Dillon dari Lembaga Kemitraan mengecam kebijakan ini. Dengan pola ini yang diuntungkan para pengusaha, bukan petani. Padahal kehidupan para petani dari dahulu hingga sekarang tidak berubah, tetap sengsara. Kenapa tidak diberikan saja kepada koperasi para petani, sehingga dengan demikian dapat mengangkat kehidupan dan pendapatan para petani. Jadi sebetulnya kebijakan ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah, siapakah yang diuntungkan?

Waktu baru-baru ini mengikuti seminar Geosains di FMIPA UI, seorang pembicara menyinggung tentang konsep ketahanan pangan. Selama ini pemerintah kalau bicara tentang ketahanan pangan menyangkut kepada soal pengadaan beras. Padahal sekarang ini konsep hidup sehat itu bukan karena makan nasi, melainkan karena asupan gizi yang seimbang ke dalam tubuh seseorang. Kalau sudah begitu, maka beras hanyalah salah satu komponen saja dari asupan gizi yang diperlukan seseorang. Saat ini beras dapat digantikan dengan bahan/makanan lain yang nilainya sama dengan yang terkandung dalam beras. Lagipula sekarang orang-orang kota pola makannya sudah berubah, tidak lagi tergantung kepada makan nasi. Jadi kalau begitu, masih perlukah kita berpola pikir, makan itu harus harus dengan nasi?

Pada sebagian masyarakat, kini sudah mulai untuk mencari alternatif pengganti beras. Ada yang mengkampanyekan untuk menanam pohon sukun. Karena ternyata kandungan dalam buah sukun dapat mengantikan beras. Baru-baru ini waktu diadakan Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Indonesia (OSN-PTI) yang ke-3 yang disponsori Pertamina, para peserta bidang Biologi diberikan kasus tentang bagaimana membangun ketahanan pangan yang saat ini sedang digalakkan pemerintah. Ada peserta yang mempunyai ide dan solusi yang bagus, antara lain dengan menggalakkan budidaya rumput laut dan yang lain-lainnya. Jadi sebetulnya apakah ketahanan pangan sekarang ini harus terfokus kepada pengadaan beras? Sipakah yang diuntungkan dengan mengimpor beras dari luar? Sampai kapan kita masih tetap berpikir secara konvensional, tidak mau mencoba hal-hal baru dan inovatif? Apakah warga kampus akan tinggal diam saja?

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment