Mengenang Pak Rozy Munir

February 22nd, 2010 by rani

Seperti kata pepatah, Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Itu barangkali kiasan yang tepat untuk seseorang yang meninggal yang semasa hidupnya berbuat amal shaleh yang baik dan orang mengenangnya karena apa yang dilakukannya sangat bermanfaat.  Hal tersebut telah dilakukan  Almarhum Pak Rozy Munir, staf pengajar Fakultas Ekonomi UI, yang terakhir menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di Negara Qatar. Selain sebagai staf pengajar FEUI, Pak Rozy Munir juga adalah  salah seorang tokoh NU, pernah menjadi menteri dalam kabinet pemerintahan Gus Dur.

 

Pembicaraan terakhir kali melalui telepon dengan Pak Rozy Munir adalah pada saat musim haji tahun 2008. Dimana saat itu saya dan isteri tengah melaksanakan ibadah haji, kebetulan pula Pak Rozy Munir pun sama-sama  melaksanakan ibadah haji. Dalam pembicaraan itu disinggung tentang putrinya yang bertugas sebagai dokter haji. Baru pada awal tahun ini, saya sempat ketemu  dan mengobrol dengan putranya yang sedang mengambil S3 lingkungan Program Pasca Sarjana UI Kampus Salemba. Kalau dengan istri Pak Rozy Munir kerap bertemu, karena Ketua Koperasi Dikara Putri UI.

 

Pada akhir tahun 1980 an Pak Rozy Munir sempat menjabat sebagai Ketua Pranata Pembangunan, salah satu pusat Studi di bawah Lembaga Penelitian UI. Menurut seorang teman, pada waktu itu (alm)Gus Dur sering diundang atau sekedar ngobrol-ngobrol dengan Pak Rozy Munir di Pusat Pranata Pembangunan UI. Pada saat itulah sering dibicarakan tentang calon Presiden. Pada akhir masa pemerintahan Orde Baru, memang santer dibicarakan tentang kepemimpinan Pasca Suharto. Salah satu calon yang populer yaitu Benny Murdani (panglima TNI). Berdasarkan hitung-hitungan, kalau Benny Murdani sebagai presiden, figur wakil presiden yang paling cocok untuk mendampingi dan diterima kalangan masyarakat yaitu Gus Dur. Sehingga pada saat berkunjung ke Jepang Gus Dur pernah bicara dihadapan para mahasiswa Jepang,  dia adalah  bakal calon presiden. Hal ini diungkapkan Ayip Rosidi  (waktu itu menjadi pengajar bahasa Indonesia di salah satu universitas di Jepang) dalam buku biografinya.

 

Tetapi rupanya memang “garis tangan” menentukan lain. Alih-alih jadi wakil presiden, yang terjadi adalah menjadi Presiden RI yang ke-4. Karena itulah maka Pak Rozy Munir masuk dalam jajaran kabinet Gur Dur. Kalau saja bisa bicara, maka tembok-tembok kantor Pranata Pembangunan di Gedung Mochtar Kampus UI di Jalan Pegangsaan akan bicara banyak, apa-apa saja yang dibicarakan antara Gur Dur dan Pak Rozy Munir tempo dulu. Tetapi rupanya “pembicaraan’ diantara keduanya terus berlanjut di “alam sana.”

Sesungguhnya kita ini berasala dari padaNya dan akan kembali pula kepadaNya.

 

Selamat Jalan Pak Rozy Munir!

Pak Ustad Salman

February 19th, 2010 by rani

Pertama kali kenal melalui tulisan-tulisannya di blog staff.ui.ac.id.  Gaya tulisannya mempunyai ciri tersendiri dan enak dibaca. Kemudian dari obrolan-obrolan dengan para staf pengajar FTUI lainnya jadi tahu lebih jauh. Tetapi belum pernah ketemu secara tatap muka. Jadi selama ini hanya bisa membayangkannya, berdasarkan atas tulisan-tulisannya di blog staf ui.

 

Biasanya setiap shalat jumat selalu diusahakan melakukannya di dekat rumah, karena harus menunggu anak-anak pulang sekolah serta menyediakan makan siang. Tapi jumat ini (19/02) terbersit keinginan untuk shalat jumat di kampus. Sudah lama rasanya tidak mendengarkan khutbah jumat di kampus, yang biasanya selalu menyajikan topik yang menarik untuk disimak, karena khatibnya dari kalangan staf pengajar UI, dimana selalu punya gaya dan analisis berbeda dengan para khatib di mesjid lainnya. Selain itu, ada harapan lagi dengan melakukan shalat di mesjid UI, makan siang bersama para pengurus mesjid di mihrab (belakang mimbar), yang menyediakan sajian yang khas dari tahun ke tahun, seperti sayur lodeh, ayam goreng, goreng tempe dan sambal terasi yang cukup pedas. Biasanya ditambah buah-buahan, kalau tidak pisang atau jeruk.

 

Sehabis pulang bersilaturahmi dengan teman di FISIP, waktu shalat tinggal 10 menit lagi. Kalau shalat di luar kampus pasti tidak ada waktu, karena tidak bawa motor, akhirnya kaki diayunkan dengan mantap menuju mesjid UI. Numpang wudlu di belakang mimbar, karena kalau di tempat umum pasti tidak akan keburu. Masuk ruangan masjid lewat pintu dekat mimbar. Ruangan sudah penuh, tapi barisan kedua di dekat mimbar masih kosong. Segera cepat-cepat menempati ruang yang kosong tersebut. Tampak seseorang mengajak tersenyum dan mengulurkan tangan untuk salaman.. Segera shalat sunat, orang yang mengajak salaman tadi pindah ke barisan paling depan. Dalam hati membatin,wah, jangan-jangan dia pindah karena tempat duduknya sempit ”diserobot” saya. Ketika waktu shalat tiba, orang yang salaman tadi naik mimbar. O…, rupanya pak khatib.

 

Usai shalat, ketika akan makan siang, ketemu lagi dengan Pak Khatib. Penasaran, saya tanya kepada pengurus mesjid, siapa gerangan nama pak Khatib itu. Ternyata Pak Ustad Salman, staf pengajar dari Fakultas Teknik. Akhirnya obrolan pun menjadi semakin lancar hingga membicarakan tulisan di blog staf ui ac id. Rupanya apa yang saya bayangkan dari tulisan dengan kenyataannya memang tidak jauh berbeda sosok Pak Ustad Salman.

Makanan Menghubungkan ke Masa Lampau

February 5th, 2010 by rani

Pagi ini (05/02) dari rumah sengaja  membawa makanan tradisional harum manis, tetapi tidak memakai benang-benang yang dibuat dari gula itu, yang dibeli pada saat ke Surabaya beberapa waktu lalu. Di kantor tak dinyana ternyata seorang teman bercerita tentang  satu tayangan stasiun televisi yang menyajikan seseorang yang mempunyai hobi makanan ringan /jajanan jaman dahulu kala, termasuk diantaranya  makanan harum manis itu.

 

Obrolan pun beralih kepada suasana jakarta pada awal tahun 1970 an, di seputar Sunter dekat pabrik asembling motor Honda, karena ternyata teman yang diajak ngobrol itu sering bermain di tempat tersebut. Waktu itu kali Sunter masih jernih dimana anak-anak biasa berenang atau memancing. Bahkan di sekitar pabrik honda pesawahan masih terbentang luas dengan banyak pepohonan yang besar dan rindang, masih ada kandang sapi yang ditempatkan di kandang-kandang dengan rapih, danau sunter belum ada dan perumahan pun masih sedikit. Sunter pada tahun itu masih menjadi salah satu tempat tujuan wisata bagi para penduduk jakarta. Di belakang pbarik honda juga waktu itu masih ada sumur bor, yang biasa menjadi tempat bermain bagi penduduk sekitarnya, termasuk juga anak-anak yang tinggal di kompleks Kodam.

 

Pembicaraan pun selanjutnya beralih ke topik tentang HSS, yang baru-baru ini menjadi pemberitaan di media massa. Ayahnya teman ini adalah seorang pemborong rekanan TNI, sering berkontak langsung dengan HSS, yang waktu itu merupakan salah satu petinggi di TNI yang sudah dikenal  bergaya “flamboyan”. Satu saat ayah teman ini ditugaskan untuk membangun rumah di kawasan Puncak. Ternyata HSS mempunyai lahan puluhan hektar. Entah punya dia sendiri ataukah aset punya TNI.

 

Kemudian pembicaraan sampai juga kepada masa-masa sekolah jaman dahulu. Teman ini tahun 1974 sekolah di STMN I  Jalan Budi Utomo Jakarta Pusat. Tahu betul suasana di seputar Budi Utomo. Waktu itu di situ ada STMN 5, ada SKKA dan ada SMAN I. Pernah terjadi siswa STMN I berantem dengan siswa SMAN I Budi Utomo  dan akhirnya untuk melerai supaya tidak terjadi perkelahian yang berkelanjutan di jalan Budi Utomo dijaga panser. Usut punya usut ternyata (waktu itu) di SMAN I , seorang siswanya adalah anak nomor satu penguasa republik ini. Pada waktu peristiwa Malari misalnya, jalanan Budi utomo ditutup dan dijaga oleh para tentara sehingga para siswa yang sekolah di sekolahan jalan Budi Utomo tidak bisa keluar sama sekali. Rupanya memang sengaja jalanan diblokir, karena ternyata di Pasar Baru dan Proyek Senen sudah terjadi penjarahan dan pembakaran. Kalau tidak diblokir, mungkin ada diantara para siswa ikut menjarah, tertangkap dan atau cedera.

 

Belakangan menurut teman itu, sisa-sisa reruntuhan dari Pasar baru dan Proyek Senen, dibuang ke tempat pembuangan sampah, yang sekarang menjadi lokasi ITC Cempaka Putih. Beberapa penduduk ada yang mengais-ngais di tempat sampah tersebut dan banyak ditemukan emas, arlodji dan barang berharga lainnya yang masih bisa dimanfaatkan. Mungkin terinspirasi dari situlah barangkali para pemulung sekarang ini melakukan kegiatan mengais-ngais di tempat sampah. Siapa tahu mendapatkan sebongkah emas/berlian.

“Menangkap” Peristiwa

February 4th, 2010 by rani

Walaupun dalam perkuliahan dahulu diajarkan mengenai hal yang berkaitan dengan dunia jurnalisme, dimana sempat mendapat “pencerahan” antara lain dari Jakob Oetama, Rosihan Anwar, Djafar H. Assegaf, Aristides Katoppo, Ed Zoelferdi dan juga  Masmingar Mangiang, tetapi rasanya masih tetap belum “manteb”, karena belum praktek langsung.  Selain itu wawasan komunikasi menjadi lengkap karena bekal yang diberikan beberapa pakar antara lain seperti Djajusman Tanudikusumah, Harsono Suwardi, Alwi Dahlan, Astrid S Susanto, Haryono Suyono, dan lain-lain. Karena itulah maka ketika  mengikuti matakuliah Teknik Mencari dan Menulis Berita, bersemanat sekali. Apalagi waktu itu ada tabloid Komunikasi Massa yang diterbitkan Departemen Ilmu Komunikasi (dahulu Jurusan Komunikasi Massa) dan surat kabar kampus Warta UI, tempat dimana bisa memuat hasil tulisan.

 

Dari dua media massa itulah banyak belajar bagaimana mempersiapkan suatu sajian berita, topik-topik apa yang akan dimunculkan, apa latar belakang dan alasan pemunculan topik tersebut, siapa-siapa saja yang harus diminta informasi sebagai narasumber. Dari situ juga  sering mengikuti berbagai kegiatan yang ada di lingkungan UI. Bahkan ikut menjadi anggota kelompok minat dan organisasi ekstra,  banyak berinteraksi dengan orang dari berbagai golongan, etnis, kelompok dan latar belakang. Banyak informasi didapat yang tidak bisa ditemukan di bangku kuliah atau kegiatan formal semata. Disinilah kebersamaan terjalin dan keindonesiaan tertanam dalam diri. Suatu hal yang sangat sulit didapat jikalau kita berada di kampus hanya sekedar untuk belajar saja. Dan hal ini juga ternyata kelak kemudian hari sangat bermanfaat , dalam melakukan pekerjaan yang digeluti.

 

Dari kegiatan itulah  kemampuan untuk menangkap suatu peristiwa diasah terus menerus, yang akhirnya melatih intuisi jika akan meliput atau menghadiri suatu kegiatan. Dari latihan ini, menjadi terbiasa untuk memilah mana suatu kegiatan atau peristiwa yang dapat dikembangkan lebih jauh menjadi suatu sajian informasi yang menarik dan mempunyai nilai tambah. Dari sini pula akhirnya berubah haluan dalam memilih medium, dari yang tadinya media cetak sebagai ajang untuk  menampilkan hasil kreasi tulisan, beralih ke media audio visual karena mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan media cetak.

 

Sebetulnya apa pun media yang jadi  tempat untuk menampilkan suatu hasil karya, tetaplah aspek yang berkaitan dengan  komunikasi harus menjadi dasar pegangan. Hanya dengan berpatokan pada ini, seseorang  memperoleh ”kebebasan” dalam menangkap suatu realita yang terjadi di masyarakat untuk dipindahkan ke dalam media tulisan atau audio visual. Kebebasan ini juga menjadi salah satu prasyarat juga dalam mengembangkan keilmuan dan melakukukan riset-riset, seperti yang dikemukakan oleh B.J. Habibie pada waktu menerima gelar doktor honoris causa dari UI akhir  Januari 2010. Kebebasan yang dimaksud disini adalah kebebasan yang bertanggung jawab.

Pikiran, BukU dan Ilmu (PUI) di Perpustakaan UI

January 29th, 2010 by rani

Tiga kata serangkai yang senafas dan menjadi tulang punggung peradaban bangsa. Pikiran mencerminkan orang yang dinamis dan kreatif. Buku melambangkan penuangan gagasan pikiran yang sistimatis yang juga menunjukkan satu peradaban dalam perjalanan sejarah dunia, dimana Gutenberg ’menciptakan’ mesin cetak yang menimbulkan pemasyarakatan dan pemasalan ilmu pengetahuan dalam bentuk buku.. Ilmu adalah sebagai pengejawantahan dari pikiran dan aplikasi ilmu pengetahuan yang didapat secara tertulis (buku). Pengembangan keseluruhan tiga kata tersebut telah menghasilkan suatu perubahan peradaban dunia secara signifikan. Dan perubahan ini (pada mulanya) dimulai dari lingkungan pendidikan. Tengoklah bagaimana perubahan negara ini dimulai. Berawal ketika penduduk bumiputera mendapatkan pendidikan dari penjajah. Muncullah kesadaran berbangsa dan bernegara di kalangan para terdidik di Hindia Belanda.

 

Gagasan tulisan ini muncul, tatkala melihat gedung perpustkaan UI yang hampir selesai pembangunan fisiknya, yang konon katanya untuk merampungkannya masih memerlukan sejumlah dana. Gedung tersebut akan diisi berbagai buku dari fakultas yang ada di lingkungan UI dan akan dibuka non-stop 24 jam. Tapi saya membayangkan akan sangat monoton dan membosankan.

 

Saya membayangkan di gedung perpustakaan itu ada stasiun  televisi UI lengkap dengan studio untuk melakukan rekaman atau penayangan langsung acara tersebut. Gedung yang tinggi memudahkan untuk memasang antene televisi. Di TVUI itu bisa dibuat berbagai acara yang mengkhususkan diri  dengan topik yang berkaitan dengan PUI, sehingga suasana perpustakaan menjadi ramai. Letak gedung yang berada di tengah-tengah kampus Depok, memungkinkan untuk meliput berbagai kegiatan yang terjadi di lingkungan kampus Depok dengan mudah. Setiap saat bisa dilakukan rekaman, baik untuk siaran TVUI maupun untuk membuat modul-modul pengajaran. Paket modul pengajaran ini nantinya bisa juga dipakai untuk perguruan tinggi lainnya. Dengan nama besar UI serta SDM yang ada di UI, saya kira tidak akan kehabisan topik untuk dibuat menjadi paket siaran yang menarik. TVUI juga sebagai jawaban atas apa yang ditayangkan oleh semua stasiun televisi swasta yang ada, dimana tidak terlalu memberikan porsi terhadap kegiatan yang bersifat atau ‘berbau’ akademis.

 

Biayanya dari mana? Bagaimana pengelolaannya?

Jangan dulu berpikir seperti itu, namanya juga mimpi. Paling tidak sudah bisa menuangkan pikiran untuk meramaikan perpustakaan UI.

Cerita Lain Tentang Calon Guru Besar

January 28th, 2010 by rani

Siang menjelang sore hari ini (28/01) secara kebetulan bertemu dengan seorang staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI di kantor Bank BNI kampus UI Depok. Seorang teman yang cukup dekat, satu angkatan sama-sama masuk ke UI, tetapi dia kuliah di fakultas kedokteran. Ketika ditanya bagaimana kabarnya, dia langsung melayangkan selembar surat. Ketika dibaca, ternyata surat penolakan terhadap usulan pengangkatan sebagai calon Guru Besar.

 

Di dalam surat itu disebutkan tentang belum adanya keputusan yang jelas dari yang memeriksa (reviewer) berkas berkasnya di tingkat Departemen/jurusan. Dia berang, karena merasa telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Antara lain kum yang telah dikumpulkan mencapai 1050. Padahal persyaratan yang harus dipenuhi cukup dengan mengumpulkan kum 850 saja. Berkali-kali bolak-balik diperiksa di tingkat departemen dan Fakultas. Semua keraguan tentang perkembangan keahliannya telah dijawabnya. Tetapi ternyata akhirnya yang keluar surat penolakan sebagai calon guru besar. Walaupun memang persoalannya belum final, tetapi membuatnya masygul.

 

Baru kali itulah saya melihat ekspresi dia yang tampak loyo. Padahal biasanya selalu optimistis. Saya cuma bisa menghiburnya, barangkali belum waktunya saja. Kalau memang sudah waktunya, siapa pun tidak akan bisa menghalangi.

 

Di beberapa fakultas di lingkungan UI, begitu cepatnya seorang staf pengajar  bisa mencapai jenjang guru besar, seperti yang terjadi di Fakultas Teknik. Tetapi ada fakultas yang pengangkatan guru besarnya sudah cukup umur, seperti di Fakultas Kedokteran.

Sebetulnya kalau teman itu proses  pengangkatan guru besarnya lancar, termasuk guru besar yang terbilang muda di lingkungan fakultasnya, satu prestasi tersendiri.

Selalu Ada Pro dan Kontra

January 28th, 2010 by rani

Membaca berita pagi ini (28/01) di tabloid Tempo, katanya jalan-jalan protokol di ibukota akan dipenuhi dengan para demonstran yang pro dan kontra pemerintahan SBY memperingati 100 hari kabinet bersatu jilid ke-2. Saya jadi teringat kepada peristiwa yang berlangsung kemarin pagi (27/01) di kampus UI Depok.

 

Kemarin telah berlangsung upacara pengukuhan dua orang Guru Besar, yaitu Prof.Dr. Ibnu Hamad, Msi, dosen Ilmu Komunikasi FISIP dan Prof.Dr. Hamdi Muluk, Msi., staf pengajar Fakultas Psikologi. Dua-duanya mempunyai kesamaan tahun kelahirannya yaitu 1966 dan sama-sama masuk UI tahun 1985. Tetapi dalam tulisan ini tidak akan disinggung tentang keduanya, tetapi membicarakan ihwal yang berkaitan seputar guru besar.

 

Kalau dahulu kala, pengangkatan guru besar harus mendapat persetujuan dari presiden, maka pada tahun 2000 an, cukup dengan persetujuan menteri pendidikan nasional. Namun memang harus ada persyaratan tertentu yang masih harus dipenuhi misalnya, dosen yang bersangkutan harus sudah mencapai lektor kepala, mengumpulkan sejumlah kum tertentu dan pernah melakukan publikasi  dalam jurnal ilmiah. Kalau pada jaman dulu yang menjadi guru besar usianya tua-tua, tetapi sekarang cenderung lebih banyak yang muda-muda, karena salah satu  faktor pendorongnya yaitu publikasi ilmiah yang kerap dilakukan oleh para dosen muda.

 

Proses seleksi dan pengusulan dimulai dari Jurusan/departemen, apakah seorang calon sudah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Setelah itu di tingkat fakultas pun diseleksi lagi, dilihat perkembangan keahlian sang calon, kum yang telah dikumpulkan dan lain-lain. Barulah diusulkan ke tingkat universitas. Di sini pun ada tim guru besar yang memeriksa lagi semua berkas-berkas sang calon. Kalau sudah dianggap tidak ada masalah barulah diusulkan kepada Ditjen Dikti Depdiknas.

 

Walaupun persyaratan menjadi guru besar sekarang (relatif) lebih mudah, tetapi untuk dikukuhkan sebagai guru besar ternyata oleh sebagian orang masih dianggap ribet, misalnya saja faktor biaya dalam upacara pengukuhan, seperti mencetak buku pidato pengukuhan, mencetak undangan, menyediakan konsumsi untuk undangan yang sebagian besar ditanggung oleh calon guru besar.

 

Rupanya  di kalangan para pengajar pun ada juga yang tidak menyukai sistem pengukuhan guru besar yang sudah berlangsung, dengan alasan yang telah disebutkan di atas. Mereka menganggap sudah cukup dengan SK dari Mendiknas, tidak usah ada acara seremonial segala macam. Publiklah yang akan menilai apakah seorang dosen pantas menjadi Guru Besar Sehingga tidak sedikit dosen yang sudah mengantongi SK Guru Besar belum dikukuhkan. Tetapi golongan yang pro terhadap pengukuhan beranggapan, perlu ada seremonial seperti orasi ilmiah, karena dengan demikian publik dapat mengetahui perkembangan keahlian dan keluasan/wawasan bidang ilmu yang digeluti seorang Guru Besar.

Lulusan Fakultas Kedokteran Tahun 1968

January 28th, 2010 by rani

Lulusan Fakultas Kedokteran UI Tahun 1968

1.Binsar Parasian Simorangkir;  2. Raden Eman Guratman;  3. Ny. Hariasri Sudjono;  4. Likarti;  5. Narmansjah Daini Rachman;  6. R. Mohammad Dedi Afandi Widjajakusuma;  7. Mohammad Hartono Abdoerachman;  8. Mohammad Iljas;  9. Ratzarwin Nazar;  10. Slamet Wirjosaputro;  11. Surono;  12. Soewarna Adimihardja;  13. Simon Kusnandar (Tan Tjay Sing);  14. Warno Boedi Soemartono;  15. Lukman Mustar;  16. Argo Surip Martosiswojo;  17. Mubarik Achmad;  18. Philip Hasanuddin Panrita;  19. J.M.V. Suwarto;  20. Darmo Sugondo;  21. Fausi Darwis;  22. Ny. Ietje Suharti Soebianto Angoesman Singgih;  23. Ali Imron Mashuri;  24. Ismail Tukimin;  25. Marisi Butarbutar Izaac Zeth;  26. Machrani Siregar;  27. Rekso Santoso;  28. Sadeli Suganda;  29. Slamet Suroso Sugianto;  30. R. Soeharto;  31. Tatang Kartiman;  32. Ny. Tien Chudrin Tirtawinata;  33. Soekarno Soekarban;  34. Moh. Nurhidajat;  35. Haryanto Budi (A.J. Yap Ping Lien);  36. Marsoedi Sumanto Tjorowidjojo;  37. Hasidawaty Achmad;  38. Anida Idram;  39. Abd. Sjukur;  40. Jo Hok An;  41. Mohamad Ali Hanafiah;  42. Hamzah A. Chusni;  43. Loe Sian Nio;  44. Soerjadi Kartosoediro;  45. Bambang Soetjipto Prijosoedarmo;  46. Njoman Kumara Rai;  47. I. Gusti Putu Wiadnjana;  48. Sjamsoewidajat;  49. Mohamad Farid Aziz;  50. Like Sari Handikin;  51. Oei Hwie Ing;  52. Subur Budiman Setjaatmadja;  53. Tri Ruspandji Adisujono;   54. Siswohandojo;  55. Achmad Daurie Mochran;  56. Achmad Muajat Mohammad Natsir;  57. Achmad Tadjuddin Tirtawinata;  58. Ny. Alina Soekandar Amin Soetarto;  59. Anwar Jusuf;  60. Asril Bahar;  61. Aulia Alamsjah;  62. Priutama Aulia-Auw Phoi Siong;  63. Azis Wiriadidjaja;  64. Benjamin Putuhena;  65. Boedi Sadjarwa Anwar Mertawidjaja;  66. Boerman;  67. Boni Manupak Pasaribu;  68. Buchari Abdurrachman;  69. Busjra Muhammad Nur;  70. Dede Kusmana;  71. R. Djoko Simbardjo;  72. Doddy Pramodo Partomihardja;  73. Enud Jaja Surjana;  74. Esti Dwi Sabarati Sujachman;  75. Fachrida Ligi;  76. Fahmi Dja’far;  77. Firman Lubis;  78. Hadi Boedianto;  79. Hasnan Hamid;  80. M. Hatta Sjachrum;  81. Hedi Rosmiati;  82. Hermansjur Kartowisastro;  83. Idris Hadji Mas’ud;  84. I. Ketut Nukarna;  85. I Made Nasar;  86. Ii Supriatna;  87. Indriati Harahap;  88. Irawati Pulungan;  89. Jose Roesma;  90. R. Jubianto Judonarso;  91. Herman Setiawan (Jo Tiong Keng);  92. Junus Sumedi  Gazali;  93. Jusmansjah Idris;  94. Santoso Sumarahardjo (Khouw Lip Tik);  95. Laode Rote Tumada;  96. Asikin Mentari (Lie Kin Siong);  97. Regini Prabandari Soerjadi (liem Gien Nio);  98. Suwandhi Widjaja (LiemTjong Swan);  99. Maulana Mardajat;  100. Muslim Achmad Nathin;  101.Muzakkir Tanzil;  102. Nikmah Bahaudin;  103. Nirwan Arief;  104. J.S. Noerdin;  105. Nur Alam Massile;  106. Nursal Puar Sjahnawi;  107. Nusjirwan Rifki;  108. Ananta Widjaja (Oei Tjong An);  109. Rachman Arifin;  110. R. Rusmono;  111. Sjaiful Fahmi Daili;  112. Sajogo Sastrodihardjo;  113. Sangkot Mardjuki; 114. Santoso Cornain;  115. Felix Pardy Pranta (Siauw Ing Hok);  116. Siti Aisah;  117. Sjahruddin Harun;  118. Soepardi Soedibyo;  119. Sjarifuddin Sjamsuddin;  120. Ra. Soerjandari;  121. Sri Murni Poerwokusumo;  122. Suparman Kartosumitro;  123. Suparmi Ny. I Gusti Putu Wiadnjana;  124. Suparnadi Praptasuganda;  125. Supono;  126. Suprapto;  127. Paulus Kusuma Gunawan;  (The Kian Gie);  128. Taralan Tambunan;  129. Ronald Imam Setiadi (Tio Sie Tik);  130 Eddie Irsan (Thjio Giok Sing);  131.  Djohan Kusnan (Tjia Koen Jauw);  132. David Tirtasetia Agahari (Ng Tjio Sin);  133. Irwan Djajarahardja (Tjoa Khe Goan);  134. Tirto Hardjono Pudjianto (Tjoa Pi Hok);  135. Togar Simandjuntak;  136. R. Undang Iskandar;  137. Vera Pang;  138. Yusdi Haris;  139. Zakiah Balfas:  140. Rachmad Sadeli;  141. Ridhwan Ibrahim;  142. Zulrasjdi Djairis;  143. Anoebowo Moeljono Hardjopuro;  144. Soetjipto.

(sumber: Buku Lulusan UI 1950-1975)

Doktor Honoris Causa

January 26th, 2010 by rani

Pagi ini (26/01) ketika akan menuju ke kantor, di lift bertemu dengan seseorang yang menceritakan serba sedikit tentang pemberian penghargaan gelar akademik doktor honoris causa. Pikiran melayang kepada peristiwa beberapa waktu lalu saat UI memberikannya kepada orang-orang yang telah berjasa dalam bidang ilmu tertentu. Disini tidak akan diceritakan apa itu doktor honoris causa, dipersilahkan pembaca mencara informasi sendiri. Hanya akan bercerita bagaimana proses atau kegiatan pemberian doktor honoris causa pada waktu dahulu kala.

Pada tahun 60-an atau 70-an, UI pernah memberikan doktor honoris causa kepada Presiden Filipina Ferdinand E. Marcos. Menurut seorang pegawai administratif yang ikut hadir pada acara tersebut, perhatian orang bukan kepada penerima gelar doktor honoris causa, tetapi kepada pendampingnya yaitu  Imelda Marcos. Dengan busana khas negaranya, punggung Imelda dibiarkan terbuka. Orang-orang yang melihatnya sampai berdecak. Maklumlah, Imelda sebelum dipersunting Marcos adalah pemegang gelar Ratu Ayu di negaranya.

Lain lagi yang terjadi pada era tahun 80-an. Sewaktu penulis masih menjadi mahasiswa sempat mengikuti upacara pemberian gelar doktor honoris causa kepada seniman Malaysia Sayed Hussein. Tapi rupanya pada saat pemberian gelar doktor kehormatan itu ijazah doktornya belum selesai. Setiap penulis ke kantor Humas di Gedung Rektorat Kampus Salemba, ijazah tersebut terpampang di salah satu sudut dinding kantor Humas.

Tahun 1990-an UI tidak terlalu aktif memberikan gelar doktor kehormatan. Tetapi produktif sekali mencetak para doktor yang melakukan studi secara terstruktur di berbagai fakultas di lingkungan UI. Baru pada era Rektor Prof. Gumilar R. Somantri pemberian doktor kehormatan ini mulai aktif kembali. Untuk menyeleksi siapa yang pantas diberikan doktor kehormatan, Rektor membentuk tim tersendiri para anggotanya dari berbagai fakultas. Dalam kurun waktu dua tahun telah diberikan  gelar doktor kehormatan kepada 4 orang, baik kepada orang-orang yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar Negeri. Mereka itu adalah Taufik Ismail (Sastrawan/Penyair), Taufik Abdullah (peneliti dari LIPI), Isidro Aguella (pengelola Webometrix) dan salah seorang pendiri salah satu universitas di Jepang.

Rupanya tidak hanya UI saja yang  memberikan gelar doktor kehormatan. Beberapa perguruan tinggi lain seperti ITB, IPB dan UGM pun melakukan kegiatan yang sama. Ini artinya ada semaca m persaingan yang sehat untuk menghargai orang yang berajasa dalam bidang ilmu tertentu. Dalam waktu dekat ini, UI juga sedang melakukan persiapan untuk memberikan doktor kehormatan kepada B.J. Habibie.

Ada ’kabar-kabari’ UI ingin memberikan doktor honoris causa kepada salah satu kepala negara terkenal. Namun rupanya perguruan tinggi lain pun punya maksud yang serupa. Kalau sudah begini, urusannya harus melibatkan negara sebagai ”penengahnya” karena sudah menyangkut kepada reputasi dan kehormatan perguruan tinggi. ”Penengah” ini yang akan menentukan keputusan mana yang akan diambil. Kita lihatlah nanti bagaimana kelanjutan dari ‘kabar-kabari’ ini.

Lulusan Fakultas Kedokteran UI Tahun 1966-1967

January 25th, 2010 by rani

Lulusan Fakultas Kedokteran UI Tahun 1966

1.Alexander Jacob Anton Papilaja;  2. Abdul Gafur T. Idris;  3. Abdul Muin;  4. Adjit Singh;  5. Achmad Sanusi Tambunan;  6. Achmad Winardi  Boediarso;  7. Akrib Soekaman Wiranatanegara;  8. Amrah Moehtar;  9. Ang Hwat Gwan;  10. Ardaja;  11. Aris Tarkus Pauntu;  12. Armen Muhtar;  13. Aswita Damajanti Zainy;  14. Averdi Roezin;  15. Bagus Muljadi Sastrakusuma;  16. Bambang Kris Partawinata;  17. Ben Katarto K. Kusnoto;  18. Soedi Santoso;  19. Daldijono Hardjodisastro;  20. Damanhuri Rosadi;  21. Bulan Ginting Munthe;  22. Djailani;  23. Djajusman Damin; 24. Djohan Efendi;  25. Eddy Muhamad Hidajat;  26. Edi Suroto;  27. Entjep Hadjar;  28. Hadiarto Mangunnegoro;  29. Harmadji;  30. Harnoto;  31.Hoedijono;  32. Husaeri;  33. Husen Sutakarja;  34. Husni Hasbullah;  35. Ihutan Pane. 36. Ismail Atmadipura;   37. Jusuf Nisbah;  38. Kauw Kiat Djwan;  39. G. Kho Gwan Siang;  40. Ko Eng Hian;  41. Koo Boen Kiat;  41. Kwee Bok Eng Bujung;  42. Ny. Kwee Giok Jong- Lim Heng Tjoei;  43. Lembah Redati;  44. Liem Hian Tie;  45. Lukman Ahmad;  46. Maria Abdulsalam;  47. Masjuni Manaf;  48. Mimin Suminarsih Sachwan;  49. Mohamad Abubakar;  50. Moedjtahid Ahmad Djojosugito;  51. Mohamad Jusuf;  52. Mohamad Salmon;  53. Muljoto Kusumo Miharso;  54. Nicolaas M.W. Potoh;  55. Nugroho Indro Kusumo Kuntjoro;  56. Oom Surachman Sumawikarta;  57. Ong Swie Ling;  58. Arijanto D. Poesponegoro;  59. Osmar Oemar Ali;  60. Mangasa Pintor Panusunan Simorangkir;  61. Pudji Kusumaningyas;  62. Putu Wirja Masna;  63. Rasjid Piarah;  64. Riwajat Sujono;  65. Rukmini;  66. Rusmini Saoeni;  67. Richard Siahaan;  68. Sidik Setiamihardja;  69. Lautry G. Siregar;  70. Sawitri Pane;  71. Slamet Setioso;  72. Soedibjo Toeloes;  73. Soehariadi Soediro;  74. Soebroto Sapardan;  75. Sumadi;  76. R.B. Surjanto Sindubroto;  77. Sutarto Notokarsono;  78. Tan Bian Teng;  79. Tan Jenny Souraya;  80. Tan Siong Lim;   81. Tatang kartawan;  82. Tang Kui Bouw;  83. Thung Han Gie;  84. Tjan Jok Kie;  85. Tjia Oen Han;  86.Tjiong Han Bien;  87. Umar Salim;  88.Wahjuning Ramelan Sunardi;  89. Wibisono;  90. Wowoh Achdar Roehendar;  91. Yap Yong Beng;  92. Zainah;  93. Zainal Abidin Dja’far;  94. Zulkifli st. Tjaniago;  94. Sjarifuddin;  95. Usman Saptari.

 

Lulusan Fakultas Kedokteran UI Tahun 1967

1.Nurpias Tajab;  2. Ismet Nasri Oesman;  3. Kaunang David Samuel;  4. Bondan Hariono Wardi;  5. Ong Tiong Han;  6. Abdul Rasjid Adam;  7. Muhamad Mawardi;  8. Dervan Johanis Lada;  9. Wattie Frederik;  10. M.Tjoe Siauw Loan;  11.  A. Yauw Tjing Cheng;  12. Junizar;  13. Ino Laksana;  14. Surjanto Sundarno;  15. Parmanto;  16. Abubakar;  17. Alaudin Targun;  18. Abu Hanifah;  19. Bompa Mappangara;  20. Buchari;  21. Choa Kiem Liong;  22. Dewa Made Chandranegara;  23. Ny. Elijati Damanhuri Rosadi;  24. Dindin Zainuddin Hermawan;  25. Hadisantoso Katibul;  26. Jahdin Hasan Sjahlan;  27. Jusuf;  28. Milus Njunting;  29. S. Oei Tok Jang;  30. Parlindungan Siregar;  31. Sudarmadi;  32. Sudarmadi Wibisono;  33. Tan Eng Siong;  34. Thamrin Mahmud;  35. Adjo Achmad Sukardjan;  36. Adri Rivai;  37. Amin Soetarto;  38. Bambang Suprijo;  39. Emilia Hamzah;  40. Hilas Jonias Songan;  41. Rusdi;  42. Suprapto;  43. Takasihaeng Jan;  44. Mugijo Kartoutomo;  45. Mohamad Hadat;  46. Soegiharto Sokran;  47. Waworuntu Benny;  48. Retno Iswari Sastrosoewignjo;  49. Abdul Harry Barasila;  50. Ade Satrijani;  51. Endarto Sutarto;  52. Tenri Abang;  53. Asmuni Rachmat Ranggasudiro;  54. Axes Winarso;  55. Askar Chusaeri;  56. Badjora Siregar;  57. R. Boentaran Suwito;  58. Chaidar Nan Sati;  59. Daulat Manurung;  60. David Manuputty;  61. Didin Rochidin Roesamsi;  62. Edison Silaen;  63. Eddy Tahir;  64. Efiaty Arsjad;  65. Errol Untung Hutagalung;  66. Anggraeni Chusaeri;  67. Erijono Inoe Widodo Wijono;  68. Conot Soenoto;  69. Hadjat Santoso;  70. Hadji Mi’radj;  71. Hafiz Soewito;  72. Harijanto Mahdi;  73. Ignatius Boediman;  74. I. Gusti Agung Kompiang Rata;  75. Ijan Soetia Wiraatmadja;  76. Is Suhariah Darmawiredja;  77. R. Is Soekarsanto Sastromartono;  78. Istiantoro;  79. Julfiana Djamin;  80. Joseph Widaya;  81. Karjino Amir;  82. Kustomo;  83. Jan Prasetyo (Lie King Hian);  84. Ronny Lie Seng Ho;  85. P. Liem Lian Bwee;  86. M.J. Lim Gin Ling;  87. Maruhun Panggabean;  88. Moekijono Reksoprodjo;  89. Moeljardjo;  90. R. Muhamad Achmad Martadjaja;  91. Muslan Saradhwarni;  92. Nurul Akbar;  93. Igantius Hajadi Widjaja (Oei Bie Tjiang);  94. Prijanto Poerjoto;  95. R. Achmad;  96. Sarwono Goenawan;  97. Siti Airiza Jenie;  98. Pleyte Willy Edith;  99. Darmansjah Sabarudin;  100. Dasnan Ismail;  101. Endang Kodir Sumiarta;  102. Hartatiningsih;  103. I. Njoman Suesen;  104. Jati Harwati Hardjowardojo;  105. Jojo Wahidiat Atmawidjaja;  106. Mariana Dharma (M.I. Liem Ting Nio);  107. Otto Juniarto Rachman;  108. Samoero Walujo Soerjodibroto;  109. Soetopo Prawirosoemarto;  110. Sri Soedarjati Soedarjo;  111. Sujaka Suganda;  112. Sutomo Slamet Iman Santoso;  113. Togar Pandapotan Harahap;  114. Kusumahastuti Taniatmadja;  115. Boediharto;  116. Lukas Mangindaan;  117. Paula Thio Kiem Nio;  118. Tio Giok Kwan;  119. Andre Prasetyo (Tio Tiong Djien);  120. Mambang Budiarso (Tjhie Tjhoeng Sing);  121. Santoso Wibowo (Tjiong Hoei Han);  122. Tjijpto Sumartono;  123. Teguh Santoso Sukamto (Tjoa Wie Kiat);  124. Udin Sjamsudin;  125. Wirasmi Johanna;  126. Wirda Azis;  127. Wiratmo Harjoko.

(Sumber: Buku Lulusan UI 1950-1975)