:::: S A L M A N ‘S :: N O T E S ::::

“Sebaik-baik orang yang berilmu bukan dilihat dari seberapa banyak yang dia tahu, tetapi seberapa banyak dari ilmunya berbuah amal yang bermanfaat bagi kebaikan dan kemaslahatan orang banyak…”
Options:

Antara “Tidur” dan “Tertidur”

tidur.jpgTulisan ini saya buat menjelang tidur sambil mencoba memahami apakah selama ini saya lebih banyak “tidur” atau “tertidur”. Kita semua tentu memerlukan tidur untuk beristirahat. Namun ternyata ada bedanya orang yang tidur dan tertidur. Sebaik-baik tidur adalah tidur yang dipersiapkan dengan baik sehingga menjadi tidur yang baik dan berkualitas. Sebaliknya, tertidur adalah tidur yang tidak dipersiapkan dengan baik, bisa disebabkan karena tidur yang tidak disengaja atau bisa juga karena kemalasan.

Berbahagialah orang yang masih bisa merasakan tidur dengan baik, karena tidak sedikit orang yang merasakan betapa sulitnya untuk dapat tidur dengan baik, yang biasanya disebut dengan insomnia. Walaupun terkadang aneh juga, banyak orang yang biasanya sulit untuk tidur namun tiba-tiba bisa berubah jadi begitu mudahnya tertidur justru ketika mendengarkan khutbah jum’at..:-) Sebaliknya, ada juga orang yang begitu gampang tertidur, namun tiba-tiba bisa berubah menjadi insomia ketika datang musim pertandingan bola piala dunia.

“Seorang pemimpin yang dipundaknya banyak mengemban tanggung jawab dan amanah sudah seharusnya dapat mengelola tidurnya dengan baik. Ada pemimpin yang sedikit sekali tidur karena waktunya lebih banyak dicurahkan untuk bekerja keras dan memikirkan rakyatnya. Namun tidurnya yang sedikit itu, mampu menyegarkan kembali semangatnya untuk kembali bekerja. Sebaliknya tidak sedikit pula model pemimpin yang gampang tertidur ketika sedang bersidang dan rapat, padahal dia sedang mewakili sekian banyak kepentingan rakyatnya. Lebih parah lagi, bila pemimpin yang terus menerus ‘tertidur’ karena walaupun sudah terbangun namun sesungguhnya dia tidak pernah mampu melihat dan mengetahui apa yang sedang dirasakan rakyatnya..”

Tidur yang baik dan berkualitas bukan sekedar diukur pada lamanya waktu tidur. Tidurlah untuk memenuhi hak tubuh agar dapat beristirahat dengan baik, untuk menyegarkan kembali seluruh tubuh sehingga siap untuk kembali bekerja, berkarya dan menyongsong beban-beban amanah yang dipikul dengan sebaik-baiknya. Tidur yang baik adalah tidur yang benar-benar dipersiapkan. Tidur yang diawali dengan sebuah evaluasi harian (muhasabah) untuk merenungkan sudahkah hari ini menjadi hari terbaik dalam hidup, hari yang banyak berisi kebaikan, ataukah sebaliknya menjadi hari yang banyak berisi kelalaian dan keburukan karena telah menyakiti orang lain, menzhalimi dan merenggut hak orang lain. Awali tidur kita dengan banyak memohon ampun dan memasrahkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Sehingga andai pun esok hari kita sudah tidak sempat lagi melihat matahari terbit karena telah dipanggil olehNYA, kita sudah dalam keadaan yang lebih siap dalam menyambut panggilanNYA.

Orang yang tertidur umumnya tidur karena memang tertidur begitu saja. Tidak ada persiapan yang baik. Tidur dan bangun hanyalah rutinitas ragawi yang tidak melibatkan ruhnya. Tidak ada kesempatan melakukan evaluasi harian, bahkan tidak ada sedikitpun kesadaran dalam dirinya bahwa boleh jadi tidurnya saat ini adalah tidur yang terakhir dan selamanya…

Nasi dari Negeri Sakura

Saya baru saja terlibat diskusi dengan adik saya yang saat ini berada di Osaka Jepang mendampingi suaminya yang sedang melanjutkan studi di sana. Ketika membicarakan tentang pengalamannya belajar memasak resep makanan masyarakat Jepang, saya jadi kembali teringat dengan pengalaman saya sendiri yang berkesan sewaktu menjalani training di Kyushu sekitar 2 tahun yang lalu. Alhamdulillah disana ternyata saya masih bisa merasakan makan dengan nasi yang nikmat (hehe..maklum orang Melayu).

Inilah kemasan nasi instan yang jadi andalan saya selama berada di Jepang. Nasi instan ini setelah dipanaskan di microwave, berubah menjadi nasi yang pulen dan nikmat. Ngga perlu dimasak pake air segala. Hmm.. Oishi desu ne..Ternyata lebih enak daripada nasi cianjur ya..

nasi-jepang.jpg

Sama seperti di Indonesia,orang Jepang juga ngga bisa hidup nyaman tanpa makan nasi. Ada tiga kosa kata untuk makanan utama di Jepang, yaitu: padi (稲=ine), beras (お米=okome), dan nasi (ご飯=gohan).

Budidaya padi dengan berbagai varitasnya di Jepang sangat diperhatikan dengan serius sejak dahulu kala hingga ditengah modernisasi seperti sekarang ini. Padahal mereka menanamnya tetap di sawah kok. Sewaktu saya ke Kyushu, disana masih banyak terhampar sawah2 yang menghijau dan rapi. Memang Jepang memiliki beberapa wilayah Prefecture yang difokuskan untuk mengembangkan pertanian. Selain itu komoditas pertanian mendapatkan proteksi dari Pemerintah. Para petaninya bisa hidup dengan makmur dan mapan karena penjualan komoditas pertanian memberikan keuntungan ekonomi yang memajukan petani. Hasilnya, pertanian tambah maju, dan berasnya menghasilkan nasi yang sangat baik kualitasnya. Kalau dimakan dengan apapun nasinya tetap enak dan nikmat.

Di Asia selain Jepang, ada negara Philipina, Thailand dan Vietnam yang juga terkenal kualitas berasnya. Sepertinya Indonesia masih harus belajar banyak dari mereka. Tapi kenapa ya negeri Indonesia yang gemah ripah loh jinawi dan tanahnya terkenal subur ini pertaniannya belum bisa semaju mereka? Wah, kalau pertaniannya ngga maju2 nantinya bisa-bisa sebutan “Negara Agraris” bakal terhapus dari buku2 di sekolah… Sepertinya para alumni pendidikan pertanian harus mulai kembali mau mengurusi pertanian nih:-)

Selain itu ada baiknya, sekolah-sekolah SD di Indonesia juga mengenalkan siswanya bagaimana melakukan kegiatan belajar di sawah, memperkenalkan anak-anak tentang siklus dan tata cara menanam padi hingga panen dan juga mengenalkan mereka dengan berbagai jenis beras dsb. Jangan sampai generasi anak-anak kita makin jauh dan melupakan bahwa Indonesia adalah negeri pertanian dan bahwa mereka sehari-hari sesungguhnya masih ‘makan nasi’:-)

Tunas Kelapa yang Kian Menguncup

Melihat anak saya berpakaian Pramuka, saya jadi teringat ke masa-masa sekolah dulu. Ketika saya masih usia SD, ayah mendaftarkan saya untuk menjadi anggota Pramuka dari sebuah Gugus Depan yang biasa berlatih setiap minggu sore di komplek Pertanian dimana kami dulu tinggal. Hingga saya duduk di SMP pun saya masih melanjutkan untuk tetap aktif di Pramuka sekolah. Saya merasa, inilah kegiatan yang pas untuk saya mengaktualisasikan banyak hal. Membangun jiwa kepemimpinan, ketaqwaan, kemandirian, kejujuran, kreatifitas, solidaritas , rasa hormat dan segudang keterampilan hidup lainnya dari mulai urusan tali temali, sandi rahasia, membaca peta, memasak, menjahit, membangun tenda hingga survival.

Berikut ini adalah Foto Kenangan saat menjadi delegasi Pramuka SMPN 4 Bogor, menjuarai Lomba Tingkat se-Propinsi Jawa Barat di Jatinangor Sumedang n645868089_1075034_5123.jpg

Tentu tidak hanya sekedar rasa bangga karena bisa memiliki keterampilan yang banyak yang ditandai dengan sederet badge Tanda Kecakapan Khusus di selempangnya. Namun ada pula rasa berarti yang mendalam ketika diri kita bisa bermanfaat bagi orang lain yaitu ketika mampu memberikan pertolongan dan bantuan apapun kepada orang lain yang membutuhkan. Tidak salah kalau Pramuka kemudian dilambangkan dengan “Tunas Kelapa”.Betapa indahnya janji seorang Pramuka [..andaikan para pemimpin negeri ini juga memahami janji Dasa Dharma Pramuka…]. Kini saya merasakan janji itu mengiang kembali:

DASA DHARMA PRAMUKA,
Pramuka itu:
1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
3. Patriot yang sopan dan kesatria.
4. Patuh dan suka bermusyawarah.
5. Rela menolong dan tabah.
6. Rajin, terampil, dan gembira.
7. Hemat, cermat, dan bersahaja.
8. Disiplin, berani, dan setia.
9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya.
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Sayang, kini sang Tunas Kelapa itu kian menguncup. Pramuka sudah tidak lagi sepopuler dulu. Nampaknya kini sudah tidak banyak anak-anak kita yang tertarik lagi menjadi anggota Pramuka, kecuali tinggal seragam cokelatnya yang kini menjadi salah satu pakaian seragam yang wajib dipakai ke sekolah sepekan sekali…

Save Your Backbone…

Tulang Belakang (backbone) selalu dikaitkan untuk menunjukkan sesuatu yang vital, yang tanpa keberadaannya semua akan lumpuh dan tak berdaya. Bahkan dalam dunia IT -pun bagian yang vital dari susunan Network disebut dengan Backbone Network.

Beberapa hari terakhir ini, saya mendapatkan banyak hikmah dengan kejadian yang telah menimpa saya sehingga akhirnya banyak berurusan dengan Tulang Belakang. Saya mengalami musibah cedera tulang belakang yang penyebabnya tidak terduga. Ternyata hanya karena kecerobohan posisi tubuh yang salah ketika mengangkat beban yang lumayan berat. Sakit yang dirasakan membuat sulit bergerak dan beraktifitas, hingga akhirnya harus menjalani berbagai pemeriksaan dan tindakan fisioterapi.

tulangbelakang02.jpg

Subhanallah, Allah SWT telah menciptakan tubuh manusia ini dengan sempurna, yang ditopang dengan susunan tulang belakang yang memanjang dari leher sampai ke selangkangan yang terdiri dari 33 ruas tulang yang masing-masing memiliki nama dan fungsinya sendiri. Di dalam susunan tulang tersebut terangkai pula rangkaian susunan syaraf, yang bila terjadi cedera di tulang belakang maka akan mempengaruhi syaraf-syaraf tersebut.

Tulang belakang menjadi semacam gardu induk bagi 31 pasang urat saraf yang menjadi sistem saraf pusat yang mengatur semua sistem organ tubuh termasuk untuk sistem keseimbangan. Saraf-saraf ini keluar melalui bukaan-bukaan kecil di tulang belakang ke berbagai otot, organ-organ, bahkan ke jaringan kulit. Sumsum tulang belakang berfungsi sebagai pusat saraf yang meneruskan impuls ke otak dan sebagai pusat gerak refleks. Rangsangan (impuls sensorik) yang mengenai organ reseptor merambat melalui tanduk dorsal menuju sumsum tulang belakang dan menjadi impuls motorik. Kemudian impuls keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju ke efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensorik dan akan menghantarkannya ke sel saraf motorik.

Jika terjadi subluksasi (pergeseran tulang belakang), maka sistem saraf akan luka dan aliran energi ke organ pun terganggu. Karena kompleksnya susunan tulang belakang, bahkan gerakan normal pada tulang belakang pun bisa menimbulkan gangguan, misalnya terjatuh, salah mengangkat beban, pergerakan pada satu sisi yang berulang, postur tubuh yang salah dapat mengganggu mekanisme tulang belakang. Itulah mengapa, trauma tulang belakang bisa mengakibatkan kelumpuhan.

lifting.jpg

Berikut adalah beberapa tips yang berguna agar kita bisa menjaga kondisi tulang belakang dalam berbagai aktifitas yang kita jalani:

1. Ketika akan mengangkat barang atau bayi dari lantai, tekuk lutut Anda, jangan membungkuk. Ketika Anda membungkuk dan mengangkat barang berat dari lantai, hal ini bisa menyakiti dan membebani tulang punggung dengan beban terberat. Salah-salah, malah bisa terjadi kram atau dislokasi. Ketika akan mengangkat barang berat dari lantai, usahakan untuk menjaga tulang belakang tetap lurus. Tekuk kaki Anda untuk menyejajarkan diri dengan barang tersebut. Angkat barang tersebut dekat dengan tubuh, lalu perlahan berdiri kembali.

2. Begitu pula ketika Anda akan menaruh barang berat ke tempat yang tingginya di atas kepala Anda, usahakan jangan mengangkat barang tersebut lebih tinggi dari pundak Anda. Jika Anda akan menyimpan barang berat di tempat yang tinggi, gunakan tangga atau kursi. Mengangkat beban berat di atas batas pundak Anda bisa menyebabkan tulang belakang mendapat tekanan yang sangat besar.

3. Ganti posisi sesering mungkin jika Anda harus berdiri dalam waktu lama. Misalnya saat Anda berdiri sambil menyetrika baju, gunakan dingklik atau kursi kecil untuk menaruh kaki Anda bergantian. Ini perlu untuk menyeimbangkan dan mengganti tumpuan berat badan. Berdirilah tegak, jangan membungkuk dengan kepala tegak.

4. Berjalanlah dengan tegak, dengan kepala menatap ke depan dan punggung lurus. Berjalanlah dengan postur tegak, pandangan ke depan, dan ujung-ujung kaki menunjuk ke lurus ke depan. Gunakan sepatu yang nyaman dan berhak tipis. Hindari berdiri dengan posisi yang sama dalam waktu lama. Jangan berjalan membungkuk, hindari menggunakan sepatu berhak tinggi dalam waktu lama.

5. Ketika di dalam mobil, duduklah tegak, majukan tempat duduk pengendara agar kaki Anda lebih dekat dengan pedal. Usahakan kedua lutut Anda sejajar dengan pinggul. Sokong punggung bagian bawah dengan handuk gulung atau penyokong tulang belakang khusus. Jangan duduk terlalu jauh dari setir. Perhatikan kaki Anda ketika menginjak pedal. Jika terlalu jauh, dekatkan, karena ketika otot kaki tiba-tiba meregang tanpa pemanasan bisa menyebabkan kram dan tekanan di tulang punggung.

6. Saat duduk di depan komputer atau di depan televisi yang biasanya akan berlangsung lama, pastikan paha Anda sejajar dengan lantai, jangan sampai kaki menekuk terlalu tinggi (berarti lutut Anda lebih tinggi dari paha) atau kaki Anda menggantung jauh dari lantai. Biarkan kedua telapak kaki Anda rata di lantai dan punggung Anda mendapatkan dukungan dari belakang kursi. Untuk lebih amannya, berikan gulungan handuk di bagian punggung bawah. Pastikan pandangan Anda lurus ke depan, tidak menunduk atau melihat ke atas. Posisi yang tak nyaman dalam waktu lama bisa menyebabkan kram otot.

7. Saat tidur, manusia memang memiliki kebiasaan dan posisi nyamannya masing-masing. Namun, untuk menjaga agar tulang punggung tetap baik, pastikan tempat tidurnya cukup keras dan rata. Ketika tidur dengan posisi menyamping, tekuk sedikit lutut, biarkan kedua lutut tersebut bertumpukan. Jika Anda tidur telentang, berikan bantal kecil di bawah lutut. Hindari tidur telungkup, karena ini bisa menyakiti tulang belakang Anda. Hindari tidur di media yang terlalu lembut, seperti sofa, karena hal ini tidak bisa menyokong tulang punggung.

lifting2.jpg

Referensi:
- Save your Spine, Guidelines for Safe lifting and carrying, UNSW, 2001
- Lifting Techniques, USACHPPM Ergonomic Program Bulletin
- http://www.spinal-injury.net/treatment-of-spinal-cord-injury.htm
- http://tulangbelakang.blogspot.com/
- http://yudhim.blogspot.com/2009/04/tips-menjaga-tulang-belakang.htm

Melihat yang Tak Terlihat

mata.jpgKita memiliki mata untuk melihat. Namun penglihatan kita ada batasnya. Bahkan terkadang betapa mudahnya kita tertipu oleh apa yang kita lihat. Ternyata tidak semua yang kita lihat sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Orang yang arif tidak akan melihat hanya pada apa yang terlihat. Dia melihat tidak hanya dengan mata kepalanya, tapi juga melibatkan mata hatinya.

Dalam keseharian kita, boleh jadi orang yang penampilan lahirnya begitu bersahaja namun ternyata derajatnya begitu tinggi disisi Allah. Hatinya begitu bersih. Bahkan malam-malamnya dilalui dengan banyak bersimpuh di hadapan Yang Maha Mendengar dengan untaian do’anya yang menggetarkan. Perhatiannya begitu besar untuk berusaha meringankan beban orang lain. Ketulusan dan keikhlasannya membuat dia tetap istiqomah untuk berbuat kebaikan walaupun tidak ada satu pun orang yang tahu. Sementara sebaliknya, boleh jadi orang yang selama ini kita puja-puji dan hormati karena penampilannya, ternyata derajatnya begitu rendah dan hina karena sedikit sekali bersyukur kepada Allah. Apalagi kalau kebaikan dan kedermawanan yang selama ini ditampilkan hanyalah sebuah kamuflase untuk menebar pesona belaka. Ada ungkapan yang mengatakan, begitu mudahnya kita melihat orang berbuat baik, namun tidak mudah mencari orang yang baik.

Apalagi bagi seorang pemimpin, hendaknya dia memiliki kemampuan untuk melihat apa yang tidak terlihat oleh orang lain. Dengan mata hatinya yang tajam, dia akan memiliki kepekaan untuk bisa merasakan setiap derita dan kesulitan orang lain. Dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak, sebelum mampu memenuhi dengan baik hak-hak orang yang dipimpinannya. Semoga kelak kita akan mendapatkan seorang pemimpin yang tidak hanya (mau) melihat apa-apa yang terlihat saja…

Berhati-hatilah

road.jpgMusim penghujan di negeri ini bagi sebagian orang berarti harus waspada terhadap musibah banjir dan longsor yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Selain itu hujan berarti tiba saatnya bagi para pengguna jalan untuk mulai waspada dan mahir bermanuver di jalan-jalan yang rusak dan berlubang.

Namun demikian, semahir apapun kita berkendara di jalan yang rusak dan berlubang, jika tidak diiringi kehati-hatian maka peluang untuk terperosok ke dalam lubang pun makin besar. Apalagi ketika kerusakan jalan sudah terlalu lama dibiarkan akan menyebabkan makin banyak lagi lubang yang cukup dalam yang bertebaran dimana-mana. Pilihan untuk mencari bagian jalan yang kondisinya masih baik pun makin sedikit dan makin sulit sehingga diperlukan kehati-hatian yang lebih besar lagi agar bisa menyusuri jalan dengan aman dan selamat.

Kehati-hatian kita dalam menyusuri jalan rusak dan berlubang ini seharusnya juga mengingatkan kita bahwa dalam menjalani hidup pun sudah seharusnya kita jalani dengan penuh kehati-hatian. Setiap langkah perjalanan hidup yang kita lalui jangan sampai terperosok dari satu lubang ke lubang yang lain. Kalaupun kita sempat lengah sehingga terperosok pada satu lubang, maka selanjutnya kita harus makin berhati-hati untuk senantiasa menjaga setiap langkah hidup kita agar tidak terperosok ke lubang berikutnya apalagi terperosok di lubang yang sama berkali-kali.

Berhati-hatilah dengan lisan kita, jangan sampai ada orang lain yang hatinya terluka. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa luka hati bisa saja dimaafkan tapi belum tentu bisa dilupakan.

Berhati-hatilah dengan nafkah kita, jangan sampai ada sesuatu yang sebenarnya bukan hak kita yang ikut kita makan. Jangan sampai ada setitik pun sumber yang tidak halal, yang menjadi darah daging anak istri kita. Sehingga do’a-do’a kita pun menjadi hambar dan tidak lagi didengar oleh Allah.

Berhati-hatilah dengan amanah kekuasaan kita, jangan sampai posisi kita yang seharusnya menjadi momentum untuk membuat kebijakan yang membawa kebaikan, justru malah membawa kemudharatan.

Berhati-hatilah dengan setiap amal kebaikan yang kita tebarkan, jangan sampai menjadi sesuatu yang tidak bernilai hanya karena niat kita yang tidak ikhlas demi mengejar popularitas.

Berhati-hatilah dalam menyusuri perjalanan hidup kita yang singkat ini, agar kelak bisa menjadi sejarah yang indah untuk dikenang sepanjang masa…

Kesan yang Terindah…

treeBerapa banyak orang yang berusaha membangun citra dirinya dengan segala cara. Berbagai politik pencitraan dan personal branding pun dilakukan melalui berbagai media dengan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Namun sesungguhnya itu semua belum tentu akan mengubah citra diri seseorang.

Seperti apa citra diri seseorang dimata orang lain, sesungguhnya ditentukan oleh sikap dan perilakunya sehari-hari. Sepandai-pandainya seseorang memanipulasi citra dirinya, tentu pada akhirnya akan terungkap juga siapa orang itu sebenarnya.Seandainya kita sebagai seorang pimpinan atau atasan ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya citra diri kita dimata para karyawan. Tanyakanlah pada mereka bahkan hingga karyawan pada level terendah tentang bagaimana kesan mereka. Orang yang citra dirinya baik pasti akan meninggalkan kesan yang baik, yang akan terungkap dengan tulus, jujur dan tanpa rekayasa.

Sesungguhnya setiap bentuk perhatian dan kebaikan yang tulus yang kita berikan kepada siapapun pasti akan meninggalkan jejak kebaikan. Bahkan perhatian yang paling minimal pun seperti memberikan senyum, memberikan salam dan menyapa akan meninggalkan kesan yang indah. Jangan pernah memberi perhatian dan kebaikan dengan membeda-bedakan orang hanya karena posisinya. Boleh jadi, setiap orang, siapapun dia, yang merasakan kebaikan diri kita akan menjadi penyebab turunnya keberkahan karena do’a-do’a tulus yang mereka mohonkan pada Allah.

Saat-saat kita berinteraksi dan bergaul dengan keluarga hendaknya selalu menjadi moment yang sarat dengan kebaikan. Bahkan ketika berpamitan dengan mereka walaupun hanya untuk sekedar berangkat tidur dan berangkat bekerja jadikanlah selalu sebagai kesan yang terindah. Tinggalkanlah selalu senyuman, kecupan dan do’a sayang yang akan terus dikenang sepanjang hidup mereka.

Jadikan setiap pertemuan dan perjumpaan kita dengan siapa pun dapat meninggalkan kesan yang terindah, karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu, boleh jadi hari ini adalah hari terakhir perjumpaan kita dengan mereka…

Siapakah kita?

PositionBagi sebagian orang kehilangan jabatan adalah malapetaka dan musibah besar yang seakan-akan tanpa jabatan dirinya sudah tidak memiliki kehormatan lagi.Bahkan tidak sedikit orang yang menyandarkan kemuliaan dirinya pada deretan gelar dan pangkat yang disandangnya seakan-akan dengan tidak bertenggernya gelar dan pangkat disamping namanya,dia merasa tidak terhormat.

Ada pula yang ketika memasuki saat-saat pensiun dari berbagai posisi penting dan terhormat, seakan-akan dia sudah kehilangan segalanya.

Lalu siapakah diri kita sebenarnya dan semulia apakah diri kita sesungguhnya?
Sebaik-baik manusia adalah yang memiliki kemuliaan karena memang pribadinya yang dimuliakan Allah. Mulia karena memang dirinya ditinggikan derajatnya oleh Allah. Mulia karena ketakwaannya. Selalu gemar menebar kebaikan dan memberikan senyum tulus kepada siapapun tanpa membedakan kelas sosial atau karena adanya kepentingan tertentu.

Siapapun yang pernah bergaul dengannya akan merasakan kebaikannya. Dia dicintai dan dihormati bukan karena posisinya, jabatannya, pangkatnya, gelarnya atau apapun atribut-atribut kehormatan semu lainnya. Dan keberadaannya selalu dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Ketika dia meninggalkan dunia ini, dia akan selalu dikenang karena jejak-jejak kebaikannya.

Ketika kita menanggalkan semua gelar kehormatan dan atribut lainnya maka itulah diri kita yang sesungguhnya. Kalau orang masih menghormati kita hanya karena atribut-atribut ini, berarti pada hakikatnya kita belum menjadi orang yang baik dan terhormat. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang layak untuk dimuliakan dan ditinggikan derajatnya disisi Allah.

Semarak Ponsel dan Nada dering

Saat ini bisa dipastikan hampir setiap orang memiliki ponsel. Bahkan office boy dan cleaning service di kampus pun sudah banyak yang berponsel. Lebih unik lagi, tidak jarang kita menjumpai seseorang yang memiliki beberapa ponsel sekaligus, dari mulai yang CDMA hingga GSM dari berbagai operator. Nampaknya masing-masing ponsel tsb diperuntukkan untuk kebutuhan komunikasi yang berbeda-beda, karena setiap operator memberikan tarif murah untuk produk layanan yang berlainan. Ada yang murah untuk tarif percakapannya, ada yang untuk smsnya, bahkan ada yang menggratiskan komunikasi sesama pengguna dari operator yang sama.

ponselPonsel memang sudah - tidak sepenuhnya - barang mewah lagi. Banyak yang harganya sudah terjangkau oleh kantong tukang sayur, bahkan tukang becak sekalipun. Walaupun ada juga ponsel yang tetap masih menduduki kategori mewah dengan harga yang selangit. Ponsel seperti ini biasanya dimiliki oleh para boss, pejabat, executive atau bahkan siapapun yang ingin merasa ‘prestise’ dirinya makin ‘melangit’ bila dia memperlihatkan ponsel ’selangit’ tersebut. Walaupun tidak sedikit pemiliknya yang tetap saja ‘gaptek’ alias gagap teknologi. Tidak tahu menahu dengan berbagai kecanggihan fitur yang sesungguhnya dimiliki ponsel tersebut. Akhirnya paling-paling hanya digunakan untuk ber-sms dan ber-telepon ria. Yang penting gaya..hehe..:-)

Tambahan lagi, kini para operator pun makin banyak yang bermunculan dengan berbagai produknya. Mereka seakan tidak pernah mau berhenti untuk saling bersaing tarif layanannya. Walaupun iklan-iklannya kini sudah menjurus ke ‘hypermarketing’ yang tidak jarang membuat banyak konsumen malah bingung. Semua operator berlomba-lomba untuk saling menjatuhkan harga tarif layanan serendah-rendahnya. Bahkan uang Rp1000 (seribu rupiah)-pun sudah bisa untuk membeli pulsa operator tertentu.

Fenomena ini sebenarnya positif saja karena membuat siapa pun saat ini bisa menjadi bagian dari dunia komunikasi tanpa batas. Komunikasi seolah menjadi tidak berjarak. Kapan pun dimanapun kita bisa saling berkomunikasi dengan mudah. Seorang dosen bisa menelepon OB (office boy) bila ingin dibuatkan secangkir kopi atau minta dibelikan bubur ayam di kantin. Tanpa harus mencari-cari atau berteriak-teriak memanggil. Bahkan kalau ingin lebih irit, biasanya cukup dengan “missed-call”, maka sang OB pun sudah bisa menghampiri. Seorang mahasiswa bisa menghubungi dosennya untuk membuat janji jadwal konsultasi bimbingan skripsinya di kampus tanpa harus ‘kucing-kucingan’ terlebih dahulu. Sebaliknya sang dosen pun bisa menghubungi mahasiswanya jika ternyata tiba-tiba harus membatalkan jadwal konsultasinya. Walaupun ada juga sejumlah dosen yang masih tidak rela kalau nomor ponselnya sampai diberitahukan ke mahasiswa.

Yang justru membuat fenomena ponsel ini jadi ribet adalah ringtone (nada dering)-nya. Baik nada dering sms maupun nada dering untuk panggilan masuk (incoming call). Rupanya tidak banyak pemilik ponsel yang memahami bagaimana memperlakukan fitur yang satu ini dengan baik. Tidak jarang suasana rapat, pertemuan bahkan sidang skripsi menjadi terganggu konsentrasinya oleh suara nada dering yang tiba-tiba berbunyi dengan kerasnya. Bahkan lebih parah lagi kekhusukan sholat berjamaah pun menjadi buyar oleh suara nada dering yang terus menerus berbunyi tanpa bisa dimatikan oleh si pemiliknya. Pernah terjadi suatu ketika saya sedang memimpin sholat berjamaah, tiba-tiba ada salah satu makmum yang nada dering ponselnya berbunyi sangat keras hingga akhir sholat. Praktis bacaan sholat saya saat itu harus bersaing dengan nada dering alunan lagu dangdut yang sedang populer saat itu. Anehnya, saya perhatikan hampir tiap kejadian ini tidak nampak rasa menyesal dan bersalah sedikitpun dari para pemilik ponsel. Seolah ini adalah hal yang lumrah saja dan bukan masalah serius.

Saya teringat ketika masih studi di Melbourne, pada saat kuliah hari pertama biasanya dosen menyampaikan hal-hal penting terkait rencana perkuliahan dan juga menyepakati ‘rules’ di kelas. Terutama dalam hal menghargai dosen yang sedang memberi kuliah. Sang Dosen akan merasa terganggu bila ada mahasiswa yang menginterupsinya untuk meminta ijin ketika terlambat masuk kelas ataupun keluar untuk ke toilet. Nah, apalagi terkait dengan nada dering ponsel. “During the lecture, all mobile phone must be switched off or set to the silent mode, please…” begitu kata sang dosen.

Sebenarnya tidak perlu ada yang merasa terganggu selama kita cukup sensitif dan memiliki empati untuk selalu menyesuaikan nada dering ini dengan kondisi sekitar kita. Bukankah setiap ponsel dapat diatur nada deringnya menjadi tak bersuara yaitu dengan mengaktifkan fitur ’silent mode’ ataupun nada getar (vibrasi). “Use technology wisely and appropriately…”

Bersahabat dengan Hewan

Memiliki hewan peliharaan merupakan sesuatu yang unik. Biasanya hewan peliharaan adalah hewan yang bisa bersahabat dengan manusia. Anak saya suka sekali dengan kucing dan kelinci. Di rumah kami ada seekor kucing ‘yatim piatu’ yang kami temukan di dekat rumah. Kasihan, seekor kucing kecil yang lucu kok ditinggalkan begitu saja. Sungguh ‘orangtua’-nya benar-benar tidak bertanggung jawab..:-) Sekarang kucing itu sudah tumbuh dewasa. Namun tetap saja lucu. Kerjanya hanya main, tidur dan makan.

Selain kucing, di rumah kami ada sepasang kelinci yang dibeli dari pedagang kelinci di samping Kebun Raya Bogor sekitar setahun yang lalu karena anak saya memang sudah lama meminta hadiah kelinci. Saat ini kelinci tsb sudah berkembangbiak menjadi 5 ekor yang semuanya lucu-lucu. Kerjanya hanya makan dan berlari-larian. Kalau sedang makan wortel dan kangkung sepertinya tidak pernah kenyang.

pets

Hewan peliharaan yang ketiga di rumah kami adalah sepasang angsa (soang) pemberian mertua, yang saat ini pun sudah bertambah menjadi 4 ekor. Hewan ini termasuk hewan yang sensitif terhadap suara sekecil apapun sehingga bisa menjadi ’satpam’ di kebun, dan juga termasuk pemakan segala macam makanan. Apapun yang kita berikan akan dimakannya dengan ‘ikhlas’.

Tentu ada kesenangan sendiri memelihara hewan peliharaan. Tapi saya berprinsip, walaupun mereka hewan, tetap memerlukan hidup yang layak dan nyaman. Diperlukan hubungan yang harmonis dengan mereka, karena sebenarnya ada rasa saling membutuhkan. Saya memberikan syarat kepada keluarga di rumah: boleh memiliki hewan peliharaan selama tidak dibiarkan hidup dalam kurungan atau kandang yang sempit. Kalau tidak seperti itu, mohon maaf, lebih baik tidak usah memelihara hewan apapun. Hingga saat ini, kelinci kami dibuatkan kandang yang cukup luas di kebun samping rumah yang berlokasi di kolong saung kebun kami. Sehingga mereka masih leluasa untuk berlari-lari dan bermain. Angsa (soang) kami pun demikian, mereka punya area tersendiri dengan kolamnya yang cukup luas untuk bermain air dan hidup dengan nyaman. Khusus untuk kucing, tidak perlu diberikan tempat khusus karena binatang ini cukup bisa hidup berdampingan di dalam rumah. Kecuali kalau malam hari terpaksa harus ‘rela’ tidur di teras luar rumah.

Salah satu keuntungan yang kami rasakan dengan adanya hewan itu adalah tidak adanya makanan yang mubazir dan terbuang. Tulang ayam, sisa-sisa lauk/ikan adalah jatahnya sang kucing. Sisa nasi, bahkan makanan basi sekalipun akan dilahap dengan senang hati oleh angsa (soang). Nah, untuk sisa sayuran dan buah menjadi jatahnya para kelinci. Alhamdulillah, semuanya termakan dan tak ada yang terbuang. Indah bukan?

Renungan 1430 Hijrah

waktuTak terasa kita telah memasuki tahun baru 1430 Hijrah. Semoga saja momentum ini menjadi sarana untuk melakukan perbaikan dan perubahan, baik dalam diri, keluarga maupun masyarakat. Jangan sampai kita termasuk ke dalam orang-orang yang “ghurur”, yaitu orang-orang yang telah tertipu oleh dirinya sendiri. Yang menyangka telah banyak berbuat, dengan begitu banyaknya kesibukan dan aktifitas kita. Padahal pada kenyataannya begitu miskinnya nilai amal kita, hati kita begitu jauh dari keikhlasan dan semangat memperbaiki diri. Keluarga kita, suami, istri dan anak-anak kita yang seharusnya senantiasa kita bimbing dan kita sirami dengan benih-benih ketaqwaan, seringkali terabaikan oleh kesibukan-kesibukan kita.

Tahun demi tahun berjalan, jangan sampai kita mendapati ternyata kualitas iman kita tak pernah berubah, kualitas ibadah harian kita pun masih disitu-situ saja, bahkan makin hari makin terkikis baik kuantitas apalagi kualitas. Jangan sampai lembaran-lembaran Qur’an pun sudah mulai terasa jarang kita sentuh dan kita baca apalagi untuk kita renungi. Jangan sampai shalat-shalat kita makin terasa hambar dan tak berjiwa. Hingga hari-hari kita dengan Yang Maha Rahman terasa makin berjarak. Ya Allah, padahal saat-saat perjumpaan itu sudah makin dekat…

Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kelalaian kita, serta melimpahkan kepada kita kekuatan agar senantiasa mampu memperbaiki setiap kesalahan dan kelalaian pada diri kita dan keluarga kita, untuk kemudian menata langkah-langkah kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Semoga Allah melimpahkan kekuatan dan pertolongannya kepada saudara-saudara kita dimanapun berada, yang saat ini sedang tertimpa musibah, dihantam kedzaliman dan penindasan, terancam kelaparan, kesengsaraan dan kesempitan hidup, tergusur tak berdaya serta tercerabut hak-hak kemanusiaannya.

Semoga selalu ada do’a dan sedekah kita yang senantiasa mengalir; ada uluran tangan yang tulus dan ikhlas yang senantiasa kita upayakan. Allahumanshurhum ya Allah..

Selamat datang tahun baru 1430 hijrah
Mari kita sambut masa depan yang lebih baik.

Bogor, 1 Muharram 1430H
@salman&family

Para ‘Deadliner’ Tugas Kuliah

Hari ini mailbox saya kebanjiran email yang berisi file tugas kuliah dari para mahasiswa saya. Tadi malam adalah deadline dari tugas yang saya berikan kepada mahasiswa peserta matakuliah Keamanan Jaringan. Padahal seharusnya tidak ada satupun pekerjaan mahasiswa yang boleh dikirimkan ke mailbox email pribadi saya. Sebenarnya saya sudah menyediakan mekanisme upload melalui Web eCourse yang saya kelola di website departemen Elektro. Disanalah seluruh matakuliah yang saya ajarkan dikelola melalui website ini sehingga resources-nya dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa terikat oleh dimensi waktu dan tempat. Selain itu saya juga dengan mudah dapat mendokumentasikan setiap perkuliahan yang saya berikan pada tiap semester.

DeadlinePertanyaannya adalah kenapa hari ini mailbox saya demikian penuh dengan file tugas-tugas mahasiswa? rupanya pada saat deadline tugas matakuliah ini kondisi jaringan di kampus sedang mengalami masalah alias “down”. Entah sedang dilakukan “maintenance” rutin atau memang sedang mengalami trouble. Sebelum hari tsb sebenarnya proses upload dapat dilakukan dengan baik karena kondisi jaringan di kampus dalam keadaan normal.

Pertanyaan berikutnya, kenapa baru pada saat deadline mereka mengumpulkan tugas? hehe.. Nah ini memang unik.

Ternyata berapapun lamanya kita memberikan waktu deadline kepada mahasiswa untuk suatu tugas kuliah, bisa dipastikan mereka akan mengumpulkan tugas pada detik-detik deadline. Sepertinya seluruh energi baru akan mulai menggerakan pikiran dan tubuh untuk bekerja pada 1-2 hari menjelang deadline, atau bahkan 1 malam sebelum deadline dengan menggunakan jurus ’sistem kebut semalam’ (sks). Adrenalin terasa bekerja secara optimal justru pada saat-saat menjelang deadline. Bahkan ada yang merasakan, betapa menjelang deadline adalah saat-saat yang paling kondusif untuk mendapatkan berbagai ide dan inspirasi. Nah lho…???

Saya sebenarnya selalu memberikan batas waktu yang lumayan memadai kepada mahasiswa saya untuk suatu tugas kuliah. Bahkan seringkali saya mengambil kesepakatan bersama dengan para mahasiswa saya di kelas, sehingga diperoleh waktu yang paling sesuai dengan kesanggupan mereka. Saya sangat memahami bahwa mereka tentu juga dibebani dengan berbagai macam tugas dari matakuliah lainnya yang mereka ikuti. Namun rupanya tetap saja, deadline merupakan saat-saat yang paling ditunggu untuk menyelesaikan suatu tugas. Hmm..ternyata susah juga ya mengubah budaya suka menunda-nunda pekerjaan…

Laboratorium Kejujuran

warungKejujuran saat in sepertinya sudah menjadi barang yang langka. Bahkan ada yang mengatakan, kalau anda berbisnis jangan coba-coba bawa kejujuran deh, bisa-bisa ngga akan untung… nah lho!

Gerakan antikorupsi yang saat ini bergulir perlu kita sambut dengan langkah-langkah nyata. Bahkan kini banyak sekolah yang menindaklanjutinya dengan mendirikan “Warung atau Kantin Jujur”.  Konon hingga saat ini sudah berdiri lebih dari 2700 Kantin Jujur di seluruh Indonesia. Sebuah fenomena yang menarik karena kantin ini dibiarkan tak dijaga alias self-service. Transaksi dilakukan hanya melalui kotak uang yang disediakan disana. Setiap anak membayar sesuai barang yang dibeli dan mengambil kembalian sesuai dengan jumlahnya. Bahkan kalaupun berhutang, mereka tinggal menuliskan di notes yang tersedia. Hmm…luar biasa. Program ini menjadi bagian dari mataajaran Pendidikan Antikorupsi yang diadopsi dalam kurikulum sekolah. Hasilnya cukup efektif, karena saat ini tingkat kejujuran bertransaksi di Kantin Jujur sudah mulai dirasakan oleh pihak sekolah.

Walaupun ada yang menganggap bahwa program Kantin Jujur ini terlalu mensimplifikasi persoalan ketidakjujuran yang sudah menggurita di masyarakat, namun hal ini menurut saya perlu diapresiasi. Setidaknya mulai ada langkah-langkah serius dari sekolah-sekolah untuk memulai gerakan antikorupsi sedini mungkin dengan membuat Laboratorium Kejujuran melalui Kantin Jujur ini. Tentu saja, program Kantin Jujur ini bukan satu-satunya cara untuk menerapkan pendidikan antikorupsi. Semoga gerakan pendidikan antikorupsi ini juga mulai diikuti di berbagai tempat, di instansi pemerintah dan swasta, bahkan juga di kampus2 universitas agar para mahasiswa dan dosennya pun selalu menjunjung tinggi etika dan kejujuran akademik.Bagaimana dengan kita?

Belajar dan Berbuat

learningBanyak orang yang merasa dirinya sedang belajar, namun tidak semua orang mengerti kenapa dia harus belajar dan untuk apa dia belajar. Adapula orang yang merasa dirinya belajar, namun sesungguhnya dia tidak pernah belajar…

Sesungguhnya, belajar membuat seseorang menjadi berdaya tahan terhadap apa pun yang menimpanya. Karena dia bisa memaknai apa yang dialaminya sebagai bagian dari skenario yang sedang disiapkan Allah untuk menjadikan kualitas dirinya menjadi lebih baik.

Sebaik-baik orang yang berilmu adalah yang mampu menjadikan ilmunya berguna (’ilman naafi’an). Menjadi berguna bukan dari seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa banyak dari yang kita tahu itu berbuah amal yang bermanfaat bagi kebaikan dan kemaslahatan ummat.

Semoga Allah senantiasa memasukkan kita semua ke dalam golongan orang-orang yang memiliki semangat belajar dan juga semangat beramal nyata. Dengan belajar sesungguhnya kita akan makin peka terhadap kesalahan yang pernah kita buat, sehingga kita akan menjadi lebih baik dan lebih berhati-hati dalam menapaki perjalanan hidup ini. Dengan beramal nyata, kita akan menjadi hamba yang dicintai Allah, karena Allah sangat mencintai orang-orang yang tidak sekedar menempatkan iman pada lisannya saja.

Kondomisasi kebablasan

aidsAwal Desember ini kita semua diperlihatkan fenomena yang terbilang baru di negeri ini. Sesuatu yang sebelumnya terkesan malu-malu untuk dibicarakan di ruang publik, justru saat ini terkesan sangat demonstratif. Memanfaatkan momentum kampanye Hari AIDS sedunia secara serentak di berbagai kota maka dilakukan pula Kampanye Safe Sex yaitu “Gerakan Kondomisasi” dengan cara membagikan ribuan kondom secara gratis (tentu dengan dukungan penuh dari para produsen Kondom). Menurut saya gerakan ini sudah salah arah. Alih-alih memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk menjauhi Sex Bebas. Malah seolah-olah memberikan dorongan bahwa dengan menggunakan kondom silakan saja berhubungan intim dengan siapapun. Bahkan untuk lebih mempermudah maka penyediaan ATM Kondom (Condom Vending Machine) sudah mulai disebar ke banyak kota. Terutama di Jakarta yang katanya sudah tersebar di banyak lokasi.

Sebenarnya seberapa berhubungan sih antara Kondom dengan AIDS? Menurut penelitian dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA ternyata membuktikan bahwa virus HIV dengan ukuran 1/250 mikron tetap dapat menembus pori-pori kondom yang hanya berukuran 1/60 mikron. Nah lho, jadi sebenarnya sia-sia aja kan..

Kekhawatiran bahwa Gerakan Kondomisasi bakal semakin meningkatkan pergaulan seks bebas sebenarnya sudah terbukti. Ngga percaya? Ini buktinya. Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California menyampaikan bahwa berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today,14/4/1998).

Itulah sebabnya, pakar AIDS, R Smith (1995), setelah bertahun-tahun meneliti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya ia merekomendasikan agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seks bebas di luar nikah (Republika, 12/11/1995).

Kok kita sepertinya cenderung menyelesaikan suatu masalah dengan pendekatan pragmatis ya.. bukannya tuntas justru malah berpotensi menimbulkan masalah baru..

Cerdas menangkap hikmah

mindSetiap perjalanan kehidupan seseorang sesungguhnya sarat dengan hikmah yang dapat dijadikan pelajaran hidup. Namun demikian, sepertinya tidak semua orang memiliki kepekaan dan kecerdasan untuk dapat menangkap dan membaca hikmah kehidupan walaupun dia mengalami begitu banyak peristiwa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Ternyata tidak selalu kecerdasan secara intelektual berbanding lurus dengan kecerdasan dalam membaca hikmah ini.

Tidak sedikit orang yang menjadikan setiap kejadian yang dilihat dan didengarnya hanya sekedar sebagai berita dan informasi, yang akhirnya berlalu dan terlupakan begitu saja. Namun ada pula yang mampu menjadikan setiap peristiwa apapun sebagai hikmah, yang membuat dirinya makin dewasa dan bijak dalam menjalani perjalanan hidupnya.

Kita mungkin pernah mendengar kalimat bijak yang berbunyi “Sebaik-baik manusia adalah yang mampu belajar dari pengalamannya, dan juga mampu belajar dari pengalaman orang lain”. Artinya tidak semua hikmah kita dapatkan dari apa yang kita alami sendiri, namun kita perlu juga mengambilnya dari apa-apa yang telah dialami oleh orang lain. Ternyata kitab suci al-Qur’an pun banyak berisi ayat-ayat yang mengandung kisah dan peristiwa yang dialami oleh umat-umat terdahulu, agar dapat menjadi hikmah bagi umat sesudahnya sehingga kita bisa belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, yang pernah dilakukan oleh orang-orang terdahulu.

Beban Pelajaran di Sekolah Dasar

anak SD

Akhir-akhir ini, banyak orangtua yang mau tidak mau harus terlibat aktif dalam mengikuti pelajaran anaknya yang duduk di bangku SD. Banyak cerita dari para orangtua murid yang mengeluhkan beban pelajaran siswa SD saat ini. Saya sempat merasa heran, kira-kira apa yang sesungguhnya dikeluhkan oleh banyak orangtua murid. Akhirnya saya bisa mendapatkan jawabannya pada suatu ketika saya membaca sendiri isi buku-buku pelajaran anak saya yang duduk di bangku kelas 4 SD.

Nah, coba kita lihat salah satu, yaitu pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) betapa terkejutnya saya menemukan bahasan yang cukup dalam mengenai fungsi dan tugas lembaga legislatif yaitu fungsi pengawasan, budgeting dan legislasi, termasuk bahasan mengenai hak amandemen, hak interpelasi, hak budget dst. Selain itu ada juga tugas lembaga lembaga yudikatif seperti halnya mahkamah agung, mahkamah konstitusi, komisi yudisial. Belum lagi tugas lembaga eksekutif, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah. Tambah lagi harus menghafal nama-nama menteri, yang lumayan banyak. Apakah memang seorang anak SD kelas 4 harus menguasai banyak hal dan sedemikian detil mengenai lembaga pemerintahan? Jangan-jangan kita pun para orangtuanya belum tentu banyak yang paham.

Ini adalah salah satu dari sekian banyak persoalan dalam dunia pendidikan SD kita, yaitu beban pelajaran dan muatan kurikulum yang terlalu tinggi bahkan terkesan terlalu “dijejali”. Dari sisi bahasa pun, penggunaan kalimatnya tidak sesuai untuk tingkatan seorang anak SD, bahkan sepertinya lebih sesuai untuk dibaca oleh mereka yang sudah menjadi seorang mahasiswa. Aduh kasihan sekali ya beban anak-anak SD kita sekarang…

Menulis Blog? mana sempat…

Era keterbukaan informasi saat ini salah satunya ditandai dengan maraknya Blog. Setiap orang bisa menyampaikan apapun secara terbuka. Dulu orang menulis hanya di buku diary-nya. Dan hanya dia - si penulis - yang bisa menikmati setiap halaman diary-nya. Saat ini kita bisa mengenal dan mengetahui apa yang seseorang pikirkan dan rasakan dengan membaca tulisan Blog-nya. Tidak sedikit para tokoh, artis, profesional, CEO, pejabat publik bahkan seorang Presiden sekalipun yang memiliki Blog agar dapat berinteraksi dengan banyak orang.

Ketika saya berkunjung dan melihat-lihat beberapa Blog (Blog-walking), terus terang saja saya dibuat penasaran apalagi ketika melihat isi Blog yang sangat aktif dan sarat dengan berbagai tulisan yang terus terupdate.  Saya tidak habis pikir “Kok mereka sempat dan punya waktu ya untuk menulis di Blog dengan tulisan yang begitu panjang dan bahkan begitu aktifnya merespon setiap komentar dari komunitas Blog-nya? Lalu, bagaimana ya cara mereka meluangkan waktu untuk menulis Blog? Boleh jadi mereka mengisi Blog-nya dengan memanfaatkan waktu disela-sela waktu kerja (daripada untuk nge-gosip atau keluyuran mengganggu ke ruang kerja orang lain..hehe..), atau mungkin ditengah keheningan malam ketika seisi rumah sudah tertidur pulas atau mungkin juga di pagi buta sebelum berangkat kerja?”.

Tentu tiap orang punya waktu yang paling nyaman untuk mengalokasikan waktunya menulis Blog. Walaupun saya sendiri hingga kini masih sulit menemukan waktu agar bisa berlama-lama di depan komputer…:-(

“You won't realize the distance you've walked until you take a look around and realize how far you've been...”

Muhammad Salman's Facebook profile

All Blogs