Terangi Hati

dengan Cahaya Iman & Ilmu

Tiduri Aku…Ibu!!! (Kisah Nyata?)

Tiduri Aku…Ibu!!! (Kisah Nyata?)

By elha (http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/16/tiduri-aku-ibu-kisah-nyata/)

.…Tersentak hati Bu Dina mendengar permintaan anaknya. Anak laki-lakinya ingin ditiduri, ingin diberi kehangatan darinya….kehangatan seorang wanita. Kehangatan…hmm……

—oooOooo—

Sebagai seorang wanita yang cantik, Dina memiliki hampir segala yang diimpikan kaum wanita. Parasnya ayu, manies dan selalu enak dipandang. Bentuk hidung, mata, alis, bulu mata hingga ke garis pipi yang tertata indah bak bulu perindu diatas bintang timur diwaktu senja. Posturnya tubuhnya sangat ideal untuk seorang wanita. Kulitnya yang putih dan jenis rambutnya yang panjang hitam bergelombang menambah nilai keaggunannya. Kemolekan lekuk tubuhnya menyebabkan ia sering disebut wanita terseksi.

Dina, seorang wanita karir pada salah satu perusahaan swasta besar di Ibukota, termasuk wanita yang cerdas. Ditunjang pendidikan formalnya yang merupakan alumni Pasca Sarjana Komunikasi Universitas ternama.

Loyalitas terhadap perusahaan tidak diragukan lagi, sehingga menjadikan dirinya sebagai salah satu ’maskot’ pegawai diperusahaannya. Tak heran bila karirnya bagai ’rising’ star. belum sepuluh tahun bekerja, dia sudah menduduki jabatan penting, setingkat Department Head (Kepala Bagian). Dikenal dekat dengan bawahan. Suppel dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan jajaran pimpinan. Tipikal Dina selalu menjadi bahan pembicaraan dikalangan pegawai, gunjingan hingga tentu saja ’fitnah’ dari orang-orang yang tidak menyukainya. Apalagi ketika terdengar kabar bahwa dia akan dipromosikan menjadi salah satu deputy kepala divisi.

’ah…paling dengan keseksiannya’ kata mereka yang tidak suka.

—oooOooo—

”Ibu mau kemana….?” tanya Fitri, puteri bungsunya

”Ibu mau berangkat ke kantor nak…” jawab Dina, sambil merapihkan pakaiannya

”Kok masih gelap bu….bareng ayah gak bu…?” tanya Fitri lagi dengan bahasa anak yang agak cadel

”Ayah khan belum pulang nak. Masih di Bandung…” jawab dina, tanpa memalingkan wajah dari cermin hiasnya

Jam masih menunjukkan pk. 04.25 pagi. Hari masih gelap. Anak-anaknya masih terlelap, kecuali Fitri yang terbangun karena mendengar suara peralatan riasnya.

”Aku tidak boleh terlambat…aku harus tiba sebelum Bos dan Klienku datang..” pikir Dina dalam hati

”Bu, aku masih mau tidur….” kata Fitri

”Iyya nak….”

.Dina mencium kening anak puteri satu-satunya itu. Dengan penuh kasih sayang dipeluknya erat sambil berkata pelan, ”Nanti sekolah sama si Mbok ya….sarapan disekolah juga gak apa-apa kok…Ibu harus berangkat pagi-pagi…”

”Ah, Ibu…kemarin sudah pegi pagi…kemarinnya lagi pagi, sekarang pagi lagi…” keluh Fitri, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya

”Fitri, Ibu bekerja juga untuk Fitri. Untuk sekolah Fitri dan Adit…..untuk membelikan Fitri rumah-rumahan dan masak-masakan…” jawab Dina pelan

”Tapi Ibu selalu pulang malam. Fitri gak pernah tidur bareng Ibu. Makan sama si Mbok…sekolah juga sama si Mbok….” keluh Fitri lagi sambil menggulingkan tubuhnya.

”Fitri, Ibu mau berangkat…..kamu berangkat sama si Mbok ya…!” seru Dina dengan sedikit keras dan wajah agak memerah.

Dina segera keluar kamar. Dia memang tidur bersama anak puterinya yang masih berusia tiga tahun. Ketika akan membuka pintu kamar, Dina menyempatkan diri melihat raut wajahnya dicermin.

Terlihat jelas rona merah diwajahnya. Warna kulitnya yang putih menambah kejelasan ’rona merahnya’. Dina menghela nafas panjang, kemarahan sesaat telah merubah tutur bahasanya. Sudah merubah pula paras ayunya…

”Huh…Fitri selalu membuat aku marah….Fitri sering memperlambat jalanku ke kantor…” keluhnya sambil mengusap keringat didahinya.

”Ah sudah pk. 04.45…aku bisa terlambat …”

Dina mempercepat langkahnya. Sampai diteras rumah keraguan muncul dihatinya….Dia belum sempat bicara dengan Adit, anak sulungnya…

”Ah dia khan sudah tujuh tahun. Sudah lebih besar. Dia pasti ngerti lah…”

—oooOooo—

Presentasi mengenai pengembangan perusahaan, khususnya bidang komunikasi, kemitraan dan pemasaran yang dipaparkan Dina memdapatkan sambutan luar biasa dari Stake Holder (Pemegang Saham, Komisaris, Jajaran Direksi dan Mitra Kerja). Sambutan itu ditandai dengan tepuk tangan meriah sambil berdiri dan ucapan selamat yang seolah tak putus.

Senyum sumringah tersembul dari wajah Dina. Perasaan puas memenuhi rongga hatinya. Dia menghela nafas panjang. Memejamkan mata sesaat….”Akhirnya aku berhasil….”

Untung aku bisa mempersiapkan diri dengan baik. Untung juga aku tiba lebih awal sehingga bisa mengkondisikan semuanya…….

”Dina selamat ya….tidak sia-sia kami menempatkan kamu sebagai Dept Head Promosi & Kemitraan…..” kata seorang Direksi sambil menjabat erat tangan Dina.

Jabatan tangan yang terasa ’lain’. Terasa ada getaran ’hangat’ yang menjalar melalui jari-jari terus hingga pangkal tangan, dan meluncur deras dihati. Jantung berdegup kencang…entah perasaan apa itu. Yang jelas perasaan itu membuatnya pikirannya ’kacau’, hatinya diliputi oleh suatu misteri..entah misteri apa

”Dina, kerja kamu luar biasa…..masih muda, cantik, jenius….tak salah jika Perusahaan memberimu posisi tsb…..” kata seorang Komisaris

Pujian komisaris menambah kencang degup jantungnya…seolah darah berhenti mengalir. Seolah kaki sulit untuk digerakkan. Dengan menghirup nafas pelan, Dina membalas pujian tsb

”Terima kasih Pak..terima kasih…semua berkat bantuan dan bimbingan Bapak…”

”Berapa usiamu sekarang… adakah 40…?” tanya Komisaris itu lagi

Dina tersipu malu…..rona merah kembali menghiasi wajahnya….

”Saya baru 34…. Pak…” jawab Dina sambil tertunduk malu

”Wow…Surprise…kita memiliki calon direksi termuda. Cantik, jenius dan ber-visi…semoga kamu sukses ya….”

Dina terkesima. Tak percaya. Calon direksi….? ah, gak mungkin… aku salah dengar….

—oooOooo—

Minggu, pk. 04.00 Dina terbangun.

Ohhhhh….lelah pikiran dan badannya membuatnya agak sedikit malas untuk bangun. Namun undangan stake holder untuk sekedar minum kopi pagi di Kafe Padang Golf mengharuskan dia untuk segera bergegas…..

”Ah….ngantuknya…..”

Dina kembali merahkan badannya….rasanya dia ingin meliburkan diri bersama anak-anaknya….terutama Fitri yang kemarin membuatnya sedikit marah….

Tapi…undangan Direksi dan Komisaris adalah sebuah ’Perintah’…laksana titah Raja yang harus dijalankan, meskipun hanya ajakan sambil lalu…

”Ahhhh…..”

Dina mulai menyiapkan diri. Mandi pagi dan sedikit bersolek….tampil agak cantik dan…hmmmm..seksi dikit rasanya tidak apa-apa. Toh akan bersantai bersama orang-orang penting ’penguasa’ kantor….’apalagi bila….bila ada yg tertarik padaku…’ pikirnya..

’ah pikiran ngelantur…..’ pikirnya lagi

”Ibuuuu….Tolong tiduri aku Bu….” seru Adit sambil berjalan pelan dan membawa bantal guling yang sarung entah kemana

”Adiiit….?” tanyanya heran

”Adiit….” seru Dina kembali. Heran, tidak biasanya Adit bangun pagi dan pindah ke kamarnya.

”Ibuuu…tolong tiduri aku bu…semalam aku gak bisa tidur…aku kepikiran Ayah….aku ingin bermain bersama Ayah….”

”Adit. Hari ini Ibu masuk kantor….Ibu akan bertemu Bos di kantor…” jawab Dina

”Ibuuu…tolong tiduri aku…aku ngantuk …pengen tidur bareng Ibu…” pinta Adit, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Dina, Ibundanya…

Dina terdiam. Hatinya semakin membuncah….perasaan malas memenuhi undangan Direksi kembali muncul….tapi motivasi untuk memperlihatkan loyalitas demikian tinggi…dus, dia sudah berdandan seksi.

Diusap-usap perlahan kepala Adit. Rambutnya yang sedikit ikal bergelombang mirip seperti rambutnya. Bentuk wajahnya yang agak oval dan halus merujuk pada ayahnya…

”ahhh..aku jadi ingat Mas Darman. Wajah Adit mirip ayahnya….semalam dia memberi kabar kalau Meeting di bandung diperpanjang karena banyak Klien baru yang ikut datang….” bathin Dina dalam hati….seketika ia merasa bersalah dengan suaminya.

”Adiiit, Ibu harus pergi sayang…..Ibu harus masuk kantor…..”

”Tapi buu…” Adit tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena Dina mengangkat kakinya perlahan, sehingga kepala Adit berpindah ke bagian pinggir tempat tidur.

Dina meneruskan riasannya dimuka cermin yang ada di sisi kanan tempat tidurnya. Bibirnya diolesi lipstick tipis warna merah muda, sesuai dengan pakaian yang dikenakannya. Pakaian terbaik yang dimilikinya, hadiah Ulang Tahun dari Mas Darman suami tercinta.

”Mas Darman pasti akan silau bila melihat aku sekarang. Pasti akan memujiku ’Cantiiik’..hehehe…sayang dandananku saat ini untuk orang lain….”

”Huk..huk..huk..” suara batuk kecil beriak keluar dari mulut Adit

”Adiit, kamu batuk. Jajan apa kamu kemarin” tanya Dina sambil terus memainkan penghalus bedak dipipinya

”Huk..huk..huk..” suara itu kembali terdengar

“Mboookkk….tolong ambilkan air putih hangat. Adit batuk nih” teriak Dina dari dalam kamarnya

Tepat pk. 05.00 Dina meluncur menuju Kafe Padang Golf. Perjalanan akan memakan waktu 30 menit. Cukuplah. Karena pertemuan dan sarapan kopi pagi baru akan dimulai pk. 06.00. Tapi biasanya banyak yang sudah datang dengan perlengkapan stick golf, termasuk pemilihan ’caddy’ pendamping permainan golfnya nanti.

—oooOooo—

Dina sangat menikmati suasana Kopi Paginya. Dia begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tidak ada lagi perasaan canggung, malu dan minder bercengkerama dengan jajaran Direksi, Komisaris dan Pimpinan Unit Mitra Kerja. Apalagi dalam acara yang dikemas secara informal ini. Seolah ia sudah menjadi bagian dari mereka. Jajaran elit perusahaan.

”Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu…meski tak layak ku harap debu Cinta-MU” ringtone HP Dina berbunyi….

”Maaf Pak,,,,,,,” Dina tak sanggup meneruskan kata-katanya untuk meminta ijin mengangkat Hpnya

”Silakan ..silakan….ini suasana santai kok” jawab salah seorang Direksi

”Permisi Pak”

”Meski begitu ku akan bersimpuh… Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu….” ringtone itu terus berbunyi…

Ditempat yang agak jauh dari kerumunan orang Dina mengangkat Hpnya…

”Hallo….” sapanya

”Bu…kamu ada dimana sekarang….?” tanya suara disana dengan lembut

”Sedang bersama Direksi dan komisaris di kantor.. Yahas…” jawab Dina

Ohhh,…ternyata dari mas Darman, suaminya. Dina terbiasa memanggilnya Ayah, menyesuaikan diri dengan panggilan anak-anaknya

”Loch emangnya masuk… ?” tanya Mas Darman lagi

”Iyya Yah…”

”kapan pulangnya…Adit sakit di rumah kata si Mbok…”

”nanti siang…..atau mungkin juga sore…”

”Yaa sudah…biar Ayah saja yang pulang segera”

—oooOooo—

Pk. 15.30 Dina kembali kerumahnya. Sarapan Kopi Pagi di kafe Padang Golf ternyata diteruskan dengan acara ramah tamah dan meeting informal dengan Mitra Kerja dan Klien. Beberapa Kontrak Kerja ’deal’ setengah kamar dalam ramah tamah itu. Dina baru mengetahui kalau banyak ’deal’ ’deal’ kontrak kerja yang putus di Kafe, Padang Golf serta jamuan makan. Mungkin karena lebih santai dan informal….pikirnya, sehingga lebih mudah untuk bicara dari hati ke hati

Tiba di ujung jalan pemukiman, Dina melihat banyak orang berduyun menuju satu rumah dengan membawa nampan, rantang dan gelas-gelas kecil.

”Ada apa ini…?” tanya Dina dalam hati

Ada bendera kuning terikat di atas tiang listrik tepi jalan…

”Ohh ada yang meninggal….”

Dina mempercepat langkahnya. Ia juga ingin melayat. Ia tak ingin juga tertinggal dalam urusan sosial di lingkungannya….

Tak berapa lama Dina tersentak. Kakinya kaku tak bisa digerakkan….dia melihat banyak orang berkerumun dipekarangan rumahnya. Kebanyakan ibu-ibu dan wanita yang mengenakan pakaian berwarna gelap dan berkerudung. Bapak-bapak ada di ruang tengah…

”ohh…apakah…apakah…..”

”Tidaaaakkkkkkkkk”

Dina mencoba untuk berlari. Namun kakinya semakin sulit bergerak.

Air mata Dina deras mengalir ketiak ia melihat seorang bapak berpeci hitam dan berpakaian muslim putih sedang melantunkan ayat-ayat Qur’an. Dari suaranya tersendat terlihat jelas bahwa Bapak itu menahan tangis. Kadang sesegukan sesekali menghambat laju bacaan Qur’annya..

”Mas Darman…..Ayahhhhhh” seru Dina setengah berteriak

“Ayah siapa yang meninggal Yah….?” tanya Dina kepada Bapak yang sedang mengaji tadi

”Ayah..siapa yah….?” tanyanya lagi

Bapak tadi tidak menjawab. Telunjuk jarinya mengisyaratkan bahwa Dina bisa membuka kain kafan yang belum tertutup

Dengan sedikit merangkak, Dina berjalan tersendat, dan membuka kain kafan penutup wajah si mayit.

”Yaa Allah…Aadiiitttt” Dina langsung memeluk tubuh jenazah itu

”Maafkan Ibu Nak….maafkan Ibu nak…….” teriak Dina keras, membuat seisi rumah menoleh kepadanya. Bahkan beberapa orang yang berada di luar juga berlari kearah rumah

”Adddiiiiittttt….Sini nak…Ibu akan tiduri kamu…Ibu akan tidur bersamamu Nak…..”

”Addiiittttt bangun nak..Ibu sudah pulang…Ibu sudah pulang nak….”

”Ibu ingin tidur bersama mu….”

Dina meraung keras seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya….air matanya mengalir deras. Tak kuasa menahan sedih. Rasanya ingin sekali ia menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu agar kembali bergerak….namun Mas Darman segera merangkulnya. Memeluknya. Dan mencium keningnya…

”Bu….ini salah kita..salah Ayah….Ayah terlalu sering meninggalkan keluarga..”

”Bukan Yah…ini salah Ibu…tadi pagi Adit minta ditemani tidur, tapi Ibu tolak…”

”Ya sudahlah…ini salah kita semua. Adit terkena paru-paru basah akut. Dan terlambat ditolong…..”

—oooOooo—

Anak, isteri, suami dan keluarga adalah perhiasan dunia. Perhiasan yang paling indah adalah istri yang sholeh (Amar’atush-Sholihah), suami yang adil (’imamun ’adilun) dan anak-anak yang mendoakan orang tuanya (awaladdun sholihin yad’ulah)

Salam ukhuwah elha.

posted by Ikun in Hikmah and have Comments (30)

30 comments

  1. Comment by Seti@wan Dirgant@Ra on February 15, 2010 at 8:53 am

    Kisah yang membuat saya terenyuh.

  2. Comment by deden haryanti on February 16, 2010 at 5:43 pm

    aku gak tahan bacanya,aku sedih banget,air mataku bercucuran,semoga adit d terima di sisi allah SWT,amin.dan untuk ibunya tolong berikan anaknya perhatian yang banyak walaupun kita sibuk..

  3. Comment by NADYA on March 2, 2010 at 4:54 pm

    SUNGGUH CERITA INI BISA BUAT PANUTAN BAGI YANG MEMENTINGKAN DUNIAWI.KALAU NASI UDAH JADI BUBUR BARULAH AKAN SADAR

  4. Comment by atep on March 14, 2010 at 5:16 pm

    Mengharukan…wahai para wanita karir, sadarlah bahwa dalam keriangan anakmu ditinggal kerja, menyimpan keriduan mendalam akan kehangatan dan kasih sayang ibu

  5. Comment by mila on March 18, 2010 at 6:35 pm

    someday kalo aku sudah diberi amanah olehNya maka akan ku prioritaskan daripada karirku…ya Allah,wujudkanlah..amin

  6. Comment by abdul hamid on March 20, 2010 at 5:45 am

    memang kondisi seorang wanita yang sukses dalam bidang pekerjaan terkadang melupakan kesuksesan yang abadi yaitu mengurus anak menjadi berhasil dalam kehidupan di masa depannya, bukannya wanita tidak boleh berkarir dengan alasan untuk anak, kalau penghasilan suami sudah cukup alangkah baiknya wanita sebagai pengelola rumah tangga toh tidak kalah hebatnya dari pada mengabdi kepada instansi yang hanya menghargai bila kita masih punya kemampuan untuk berkarya setelah itu di PHK atau pensiun, sedangkan mengurus anak merupakan kewajiban orang tua yang harus dipertanggungjjawabkan kepada pemiliknya yaitu Allah, rumah tangga bahagia bukan semata mata banyak harta, suami istri kerja dengan alasan mencari uang untuk anak, padahal yang sesungguhnya kita mencari uang untuk pemilik perusahaan, kita hanya dibagi kurang dari 1% dari keuntungan yang diperoleh karena pengabdian kita, jadikan surga bagi anak anak di rumah dan ibunya adalah bidadari yang selalu menjadi sebutan bila nanti ibu telah tiada, selalu diucapkan ia berhasil karena ibu, jangan sampai terucap bahwa ia besar dan dibesarkan oleh pembantu atau babysister

  7. Comment by dahra on April 8, 2010 at 8:52 pm

    seharusnya si anak bukan ngomong ngin d tiduri…v ingin tidur dengan ibu kandungnya ….lagian kan anak cwonya itu dah dewasa gk baik tidur dengan ibunya yg sexi.walau pun anank pasti dong punya nafsu

  8. Comment by lily on April 11, 2010 at 7:52 am

    ITulah mengapa kelak saya tidak ingin menjadi wanita karir. Saya akan menjadi supermom untuk keluarga saya. meski tentu saja, saya ingin bekerja. semoga saja dengan pekerjaan saya kelak, saya tidak melupakan suami dan anak-anak saya.. Masya Allah.. apa ini kisah nyata??

  9. Comment by pipik on April 15, 2010 at 12:15 pm

    kisah ini bener2 buatku menitikkan air mata karena aku juga seorang ibu yg bekerja ninggalin anaknya selama 8 jam sehari,semoga keluarga kami tak mengalaminya….amien!!!

  10. Comment by rera on May 1, 2010 at 7:08 pm

    cerita yang sangat menarik..

  11. Comment by tidus on May 7, 2010 at 10:41 pm

    bagus banget tp gak cocok jadi bahan dakwah bagi orang2 yg taraf ekonominya masih dibawah…

    dakwah diatas lbh cocok untuk orang2 yg udah menikmati rasanya puncak gunung

  12. Comment by nieza on May 11, 2010 at 8:39 am

    waw….kisahnya begitu membuat hatiku terasa gmana gtu

  13. Comment by sigit on July 11, 2010 at 1:32 pm

    jadilah manusia saat kelahiranmu semua orang tertawa, dan kamu menangis sendiri………….dan jadilah manusia di mana semua orang menangis……..dan kamu sendiri tersenyum saat kematianmu tiba………semoga bisa jd pelajaran kita semua……dan ada hikmanya……..amin..

  14. Comment by Bang cha-cha on July 20, 2010 at 8:19 am

    Awal kisahnya gak begitu menggigit. tapi ketika ending, ibunya pulang dari jamuan di padang golf. moment itu yang membuat bulir air mataku mengalir tanpa komando!
    semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah diatas.
    ayo bersama kita mencari arti
    HIDUP UNTUK KEHIDUPAN!

  15. Comment by yantie on August 16, 2010 at 9:24 pm

    orang yang cinta dunia tidak akan peka dengan sekelilingnya

  16. Comment by ricky on September 5, 2010 at 9:38 pm

    suhannallah sungguh menyesal bahkan lebih besar dibandingkan dunia dan seisinya……ya allah
    jangan lah engkau putuskan rahmat mu pada ku ya allah

  17. Comment by bacilid on September 14, 2010 at 10:16 pm

    sungguh. menyedihkan sekali, sangat terharu…..

  18. Comment by irosi on November 3, 2010 at 1:11 pm

    sedih….haru…air mataku tak tertahan….perpisahan memang menyedihkan….kita bakal berpisah dengan keluarga kita

  19. Comment by hesky on November 11, 2010 at 11:25 am

    Bagus sekali

  20. Comment by X. Khoury on February 22, 2011 at 10:30 am

    This is my favorite webpage of all time! http://kalskjdsofwoierwrtwetitponfmhphkdgf.com -X. Khoury

  21. Comment by wiena on March 27, 2011 at 3:30 pm

    sesibuk apa pun sehrsnya dy hrs pny wktu bwt klwrgnya trumta bwt ank2.
    hrt yg plng berhrg diduni adlah klwrg. This story is very nice and I like it. able to make a woman a lesson not to forget his duty as a wife and parents

  22. Comment by indra on May 10, 2011 at 10:57 pm

    kisah ini sangat menyadarkanku……

  23. Comment by RAHMAT HIDAYAT on October 13, 2011 at 9:27 am

    Kesibukan keluarga yang membuat keberhagiaannya pergi…

  24. Comment by Asti on October 25, 2011 at 9:01 am

    Kisah yang mengharukan…
    Dan menyadarkanku bahwa keluarga adalah segala-galanya…

  25. Comment by singapore pools on February 2, 2013 at 10:42 pm

    sedih cerita nya ya :(

  26. Comment by saputro on June 16, 2013 at 3:30 pm

    anak adalah amanahh..menyia nyiakan amanahh adalaah dosa yang besaarrr….taubatlahh sebelum terlmbtt..

  27. Comment by Promosi Zalora on August 5, 2013 at 11:04 am

    Mmmm saya bersetuju ngan pendapat awak…. awak memang betul dalam hal nie….

  28. Comment by moelyadnz on August 23, 2013 at 3:34 pm

    penyesalan selalu datang pada akhir ingat itu…soba2 ku….wa.allaikum salam wr.wb

  29. Comment by Arisuta caRIconus on September 6, 2013 at 6:38 pm

    Menyedihkan banget sih!!!

  30. Comment by Noor indarto on September 17, 2013 at 4:05 am

    Tak ada yg hrs disesali krn takdir tak bisa ,maju dan mundur,bukan salah bunda mengandung mmg suratan tangan sendiri,pelajaran utk kita dlm srt athakazur.mudah2an ibunya adit mmg bidadari yg brtugas menjadi contoh sekaligus memberi contoh utk umat manusia, krn apa “ORANG YG BEKERJA TERUS MENERUS ITU SEPERTI BERDO’A TAK PUTUS-2.INSYA Allah ini pendapat yg positif,amiiin ya Rabbal’alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>