Lisensi Resmi Saya

mad-scientist

Seringkali orang salah kaprah dalam memperkenalkan Perangkat Lunak Bebas/Terbuka (PLBT atau FOSS, Free/Open Source Software). Mereka selalu memperkenalkannya sebagai produk gratis. Akibatnya, orang menganggap remeh produk-produk PLBT sebagai produk untuk kaum proletar. Saya punya lisensi Windows XP Professional asli. Saya juga punya lisensi Microsoft Office 2007. Saya pun punya lisensi …

Lebih lanjut

Media Sosial dan Evolusi Masyarakat

A dart almost at the best point.

Tulisan dari Rhenald Khasali membahas mengenai Dul dan anak-anak lainnya yang mengalami gangguan pesatnya teknologi membuat saya gatal menulis. Berbeda dengan yang dahulu, saat ini manusia modern lebih rentan terbuka terhadap deras informasi. Peralatan elektronik yang banyak bermunculan membuat evolusi sosial berjalan semakin cepat seperti laju perubahan iklim. Orang tua …

Lebih lanjut

4L4Y Generator

alayers

Tulisan asli: Pertama, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoewa, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Dari situs Alay Generator, dengan tiga parameter terpilih (HuRUf bEsAr keCil, P4k3 …

Lebih lanjut

Keamanan Informasi dan Regulasi

censorshiiiip

[Tulisan ini sebagai balasan Twit yang tidak cukup. Kalau tak tertarik baca silakan lewat saja. He... he... he....] Saya banyak menulis tentang keamanan informasi di blog ini. Dari banyak tulisan itu, dapat disimpulkan bahwa Internet menjadi ruang sadap-menyadap yang penuh. Informasi menjadi barang dagangan. Hal ini terjadi karena perilaku orang-orang …

Lebih lanjut

Commuter Line (PT KAI) Kini Dengan Kartu Masuk

KRL Mania

Gambar saya cukup miriplah dengan Kereta Listrik (KRL) milik Commuter Line (anak perusahaan PT KAI). Di gambar-gambar yang lain tidak dipasangi kawat baja. Padahal, semua KRL dipasangi kawat baja di depan. Habis, suka ada orang iseng menimpuk KRL. Omong-omong soal timpuk-menimpuk, mata saya pernah kena pecahan kaca ketika KRL ditimpuk …

Lebih lanjut

Tetap Berjuang!

Pun pucuk terkulai dan ulam berguguran, tetaplah carang tercangkok lekat.

Sewaktu saya membaca manga (komik Jepang), saya menemukan gambaran tentang wanita. Wanita digambarkan dalam tayangan populer seperti seorang yang tidak aman, ingin dihargai, dan menginginkan lelaki yang mengerti dirinya. Demikianlah film/novel populer “Twilight” dalam menggambarkannya. Namun, di manga yang lain saya menemukan bahwa ternyata lelaki adalah makhluk terlemah ketika berbicara cinta.

Di tengah-tengah sikapnya yang acuh-tak acuh, lelaki menutupi hatinya yang gampang terluka. Laiknya seekor anjing yang menunggu tuannya, banyak lelaki yang tak berdaya di hadapan kaum Hawa. Kendati tak terbalas, mereka masih menunggu sang empunya hati agar memberikan hatinya juga. Aneh tapi nyata.

Terus terang, saya dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan bahwa lelaki harus kuat dan mengayomi. Ia harus tegar dan teguh. Siapa lagi yang dapat mengayomi kalau sang nahkoda kehilangan arah?

Namun, hampir 80% penghuni RSJ Bogor adalah lelaki. Penyebab penyakit mereka sebagian besar adalah putus cinta. Saya pun baru-baru ini saja tahu hal ini.

Ketika saya membuka mata tentang aspek ini, saya terkejut. Saya pun menemukan ternyata pria-pria muda di sekitar saya banyak yang mengalami kejatuhan. Ada yang menjadi gila hampir schizo. Ada yang merusak diri dengan ke Warnet dan membolos kuliah. Bahkan, ada yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya ketika pacarnya memutuskan hubungan mereka.

Saya panik!

Patutkah lelaki demikian? Bukankah selama ini gambaran lelaki sebagai seorang yang mengayomi dan kuat menanggung keadaan? Apakah yang terjadi? Di tengah kepanikan itu, saya pun menyalahkan media dan budaya Pop yang menganjurkan pelemahan pria. Ada juga hendak berpikir untuk menuduh mereka yang lemah sebagai produk gagal kemanusiaan. Untungnya itu tak sedikit pun terbesit lama.

Di tengah kepanikan itu, saya pun bernalar! Tak ada gunanya menyalahkan media dan budaya Pop.  Manusia sejati harus bersolusi. Saya pikir, ketetapan hatilah yang mampu menghipnotis diri untuk tetap berjuang; memberikan alasan untuk melihat indahnya hidup di tengah badai dan asa yang semakin menipis. Sebuah ungkapan yang mampu menggambarkan perjuangan, kendati hidup telah tersakiti oleh orang yang disayang.

Tantangan Alih Bahasa

Saya pun mengungkapkannya dengan bahasa Inggris:

Even if the loved one doesn’t love you back, doesn’t mean you must unlove yourself.

Artinya, walau pun yang kita cintai tak mencintai kita, bukan berarti kita harus berhenti mengasihi diri kita sendiri. Saya pun berusaha meng-Indonesia-kan ungkapan tersebut:

Pun yang kau cintai tak mencintaimu, bukan berarti kamu harus berhenti mencintai dirimu.

Sayangnya, ada masalah dengan kalimat ini. Kalimat “to love yourself” dalam bangsa Barat berarti untuk menghargai dirimu, memperlakukan dirimu sendiri dengan baik, memeliharanya dan mensyukurinya. Dalam konteks kekinian yang saya pahami, hal tersebut tidak berlaku untuk Bahasa Indonesia. Dalam konteks kekinian, kata “mencintai dirimu sendiri” berimplikasi kepada kesombongan, egois, dan segala hal yang negatif berbau chauvinistik.

Tantangan kedua dalam menerjemahkan begitu saja adalah eufimisme bahasa. Eufimisme yang berlebihan dalam Bahasa Indonesia mengakibatkan kata-kata harafiah mengalami penurunan kuasa. Maksud saya, dalam bahasa Inggris mereka sering menyebutkan setiap kata yang dipakai dalam percakapan sehari-hari dalam kalimat romantis dan puisi. Setiap kata harafiah dalam bahasa Inggris memiliki kuasa kuat dalam menimbulkan kesan mendalam bagi pendengarnya.

Uh, saya kesulitan memberikan contoh tanpa mengubah tulisan ini menjadi sebuah tulisan ilmiah yang panjang dan tak terbaca. Tapi, saya coba memberikan satu atau dua contoh supaya lebih dipahami.

Sebuah cuplikan teks lagu dari sebuah lagu populer Inggris, “I won’t give up”, Jason Mraz:

I won’t give up on us Even if the skies get rough I’m giving you all my love I’m still looking up

Yang kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia secara harafiah menjadi:

Aku takkan menyerah dengan [hubungan] kita. Walau langit semakin tak bersahabat. Aku memberikan seluruh cintaku. Aku masih menantikan.

Hmm… sepertinya ini bukan contoh yang baik. Ini, kok, terjemahannya tampak puitis juga. Ah, ini saja, “Inside of love”, Nada Surf:

Watching terrible TV  it kills all thoughts Getting spacier than an astronaut Making out with people I hardly know or like I can’t believe what i do late at night

Kalau diterjemahkan:

Menonton acara TV membosankan, untuk membunuh seluruh pikiran. Mendapatkan ruang lebih besar dari pada seorang astronot Bercinta dengan orang yang hampir tak kukenali dan sukai Aku tak percaya apa yang aku lakukan malam hari

Ketika menulis tulisan ini, saya menyadari bahwa ternyata akhir-akhir ini artis Indonesia berusaha mempopulerkan terjemahan harafiah dari lagu berbahasa Inggris. Sebab, kok, sepertinya ungkapan-ungkapan yang sepertinya dangkal dan tak begitu nyaman di telinga orang Indonesia akhir-akhir ini terinterpretasi lebih kuat. Walau pun ada juga teks lagu yang seakan memaksakan konsep romantika ala Barat. Yah, salut untuk globalisasi dan sinkretisme konsep seni!

Oh, iya, kembali kepada Nada Surf.

Interpretasi saya adalah bahwa Nada Surf menggambarkan orang yang suka mendapatkan privasi dengan menyendiri di ruang tamu. Menonton acara TV untuk membunuh pikiran-pikirannya. Dipenuhi dengan tayangan-tayangan TV tersebut, ia tersedot ke sebuah dunia tanpa batas. Dalam khayalan-khayalan yang ia kehendaki ia pun melakukan….

Kendati ini adalah gambaran pria modern yang telah hidup di perkotaan, konsep ini masih rancu bagi sebagian besar orang Indonesia. Lagi pula, kebanyakan kita tidak menggambarkan keadaan secara harafiah. Sudah adat Asia untuk tidak membuka diri selebar-lebarnya. Itu sebabnya, banyak bapak di Indonesia yang risih untuk menyatakan kepada anaknya, “Papa sayang sama kamu.”

Walau pun sebenarnya bangga, seorang ayah Asia jarang memuji anaknya. Seorang pemudi Indonesia jarang menyatakan cintanya, ia menunggu pemuda yang menyatakan. Seorang pemuda tak langsung menyatakan kesukaannya, biasanya melalui pihak ketiga (makcomblang) ia berani menghampiri. Mungkin hanya ibu saja yang terbuka menyatakan cintanya kepada anak-anaknya. Itu sebabnya, orang lebih mengenal kasih ibu ketimbang sang ayah yang membanting tulang demi keluarga.

Dengan ketertutupan itu, konsep-konsep harafiah menjadi asing. Itu konsep Barat yang biasa terbuka menyatakan segala sesuatu secara gamblang. Itu bukan konsep orang Asia. Itu bukanlah konsep orang Indonesia.

Kalimat seperti “cinta ini membunuhku” (terjemahan dari “this love’s killing me”) terasa asing dan aneh. Ini sebenarnya adalah ungkapan asing. Saya bukannya anti terhadap kalimat asing, tapi apakah benar Bahasa Indonesia sedangkal itu untuk tidak memiliki ungkapan untuk menyatakannya?

Majas dan Pantun

Saya ingat dengan kisah-kisah novel yang saya baca sewaktu SMA dulu. Kisah-kisah dongeng si Pahit Lidah dan kisah-kisah kependekaran (maaf saya sudah lupa judul-judulnya) mengingatkan saya sesuatu. Bangsa Melayu adalah bangsa yang berpantun. Bangsa yang menyatakan segala sesuatu dengan alegori, personifikasi, dan metafora. Saya ingat bagaimana ketika seorang pendekar bersilat lidah dengan pendekar lainnya untuk mengukur ilmu. Saya ingat bagaimana dua penasihat raja berbalas perumpamaan untuk menyatakan siapa yang lebih unggul.

Sekali lagi, saya pun terhenyak dan sekali lagi memutuskan:

Sastra bangsa Melayu dibangun dengan majas! Dengan alegori, dengan personifikasi, dan dengan metafora.

Solusi Saya untuk Ungkapan Bahasa Indonesia

Kembali kepada ungkapan saya yang semula dalam bahasa Inggris. Saya pun berupaya menemukan ungkapan yang berhubungan dengan ketetapan cinta. Kedangkalan pengetahuan saya tentang Bahasa Indonesia hanya menemukan kalimat berikut:

Pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Menurut KBBI daring (tak bisa ditautkan, URL tak tersedia) dan Kamus Peribahasa, arti ungkapan tersebut adalah mendapatkan hal yang lebih dari yang diidamkan. Ingin mendapatkan pucuk, lebih dari itu malah mendapatkan ulam. Ulam adalah pucuknya pucuk. Ia adalah pucuk muda yang cocok untuk dijadikan sayur lalap.

Hal berikutnya, saya terinspirasi dengan penggambaran Alkitab tentang pohon Anggur. Bahwa Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah carang-carang yang tercangkok kepada-Nya. Dalam hal ini, setiap carang akan tetap hidup selama ia lekat tercangkok.

Anda bisa mengaitkan ini secara religius atau tidak, tetapi saya mencoba untuk menggeneralisasinya sesuai konsep umum tanpa embel-embel keagamaan. Saya pikir selama sakratul maut belum menjemput, setiap manusia tetaplah hidup. Hidup manusia kendati berada dalam roda, kadang di atas, kadang di bawah, tetapi roda tersebut tetap berputar.

Ketika saya berpikir tentang manusia sebagai pusatnya, saya menemukan sebuah gambaran. Manusia bisa digambarkan sebagai sebuah pokok dan setiap harapan yang timbul adalah carang-carang kehidupannya. Beberapa seperti bernapas dan berpikir diberikan secara otomatis, artinya ia adalah carang yang tumbuh dari dalam manusia itu sendiri.

Cinta kepada lawan jenis di lain pihak adalah sebuah carang yang dicangkokkan kepada manusia. Hal ini saya interpretasikan dari cara manusia mulai mengenal cinta. Biasanya, sebelum akil balik dan umur belum tinggi menjulang, manusia tidak terpikir untuk menyukai lawan jenis. Pikiran kanak-kanak yang murni tak mengenal perbedaan dan memandang semua sama.

Seiring dengan umur yang semakin meninggi, tergantung orang-orang, manusia pun memandang sekelilingnya berbeda. Dengan stigma di masyarakat yang menginspirasi dirinya, ia pun mulai memandang sesama jenis dengan berbeda. Hal ini ditunjang pula dengan sifat naluriah untuk melakukan kehendak alam terbesar: mempertahankan keberadaan spesiesnya.

Ketika ia mulai memandang berbeda lawan jenisnya, perasaan tak bernalar pun menyerang. Cinta platonik yang tak terbalas pun bersemi. Dengan adanya cinta yang tak terbalas ini, akal sehat mengalah kepada kekalutan. Sang individu pun mulai berpikir yang tidak-tidak.

Namun, saya coba menawarkan untuk melihat bahwa kendati harapan-harapan yang indah tak kesampaian, namun hidup manusia tetap ada. Harapan untuk sang cinta memperhatikan mungkin pupus. Atau sesuatu yang lebih dari itu, bahwa ia akan selamanya menjadi tulang rusuk yang hilang sudah tak kesampaian lagi. Tetap, seseorang seharusnya bersyukur memiliki cinta yang tercangkok lekat.

Biarlah ketika cinta itu mengalami ujian berat dengan seluruh daun-daun dan pucuknya gugur dan seakan mengering, namun selama cangkokan masih lekat dan kayu carang tidak mengeriput, akan tumbuh pucuk yang lain. Memang, gugurnya semua harapan ini menyakitkan. Tapi, waktu menyembuhkan segalanya. Positivisme akan membukakan jalan untuk dia yang lain yang lebih mencintai dirimu dan menerimamu.

Lagipula, bagaimana orang lain dapat menghargaimu sedangkan dirimu sendiri tak kau hargai?

Akhir Kata dan Arti Lain

Seperti ungkapan “pucuk dicinta, ulam pun tiba”, ungkapan yang saya buat ini ternyata juga mengandung arti lain. Rekan saya, Narpati, mengartikannya untuk tema perjuangan. Kendati harapan yang lain telah punah, sebuah carang tetap terlekat pada pokok dan masih hidup. Selama ia masih dapat berdiri tegap harapan baru akan tercipta. Yah, itu terserah dan saya rasa itulah indahnya kedalaman Bahasa Indonesia.

Saya mungkin seorang pengguna Bahasa Indonesia yang masih amatir. Saya bukan ahli sastra. Tetapi, saya sudah sebisa mungkin membela bahasa yang menjadi salah satu pilar bangsa ini.

Madu dan Racun

Koleksi lagu Madu dan Racun. Di mulai dari penyanyi asli, seorang penyiar radio Prambors, Arie Wibowo sampai J-Rocks.

Penyanyi asli: (Pop)

Penyanyi berikut yang mempopulerkan: (Pop)

Versi cadas dari negeri tetangga: (Hard rock)

Versi cadas juga: (Glam Rock)

Kembali ke dalam negeri dalam aliran J-Rock oleh band yang sama dengan nama alirannya:

Ada beberapa alasan mengapa saya suka lagu ini:

  1. Liriknya ciri khas Melayu, penuh majas, namun tetap relevan pada tata bahasa sehari-hari.
  2. Tata nadanya (chord progression?) dinamis sehingga masih bisa relevan untuk dibuat ke hampir semua aliran musik.
  3. Jangkauan nadanya tidak terlalu jauh dan tidak datar sehingga bisa dimainkan sesuai dengan area.
  4. Tetap relevan dengan isu anak muda di segala zaman (galau).

Demikianlah.

Membajak Itu Indah*

D3

Seorang musisi Gereja mentwit sebuah pernyataan: Sedih memang menjadi musisi zaman sekarang. Mereka menjadi korban perang idealisme. Karya-karya mereka selalu dibajak orang. Namun, sebenarnya tidak semua pembajak itu memiliki motif keuangan. Sekali lagi, saya tidak berusaha membela pembajakan. Sebaliknya, saya memilih FOSS untuk melawan itu. Saya pun mendengarkan lagu dari …

Lebih lanjut

Menerapkan Kebijakan TIK Berdasarkan Budaya Lokal

D2

Sebagai seorang administrator TIK di UI, saya sering kali kesulitan dalam menerapkan strategi keamanan. Sering kali pengguna tidak paham akan pentingnya sebuah sarana keamanan. Bahkan, untuk bisa menerapkan kebijakan yang ketat pun dirasakan sebagai sebuah arogansi bagi banyak pengguna. Ujung-ujungnya, kebijakan tersebut terpaksa dicabut. Ternyata, hal ini dialami pula dengan …

Lebih lanjut

SPAM, Pencurian Identitas, dan Teknologi Sistem Temu Kembali

Ninja uses 4l4y language for on-the-fly encryption

Beberapa hari yang lalu banyak pengguna UI yang terjebak. Mereka mengirimkan pengguna dan sandi mereka. Setelah saya teliti, berikut salah satu pesan yang menipu: PERINGATAN; Kotak surat Anda telah melebihi batas penyimpanan 10GB ditetapkan oleh Anda administrator, yang saat ini berjalan pada 10.9GB, Anda mungkin tidak dapat untuk mengirim atau …

Lebih lanjut

RE: Terompet Tahun Baru dan TBC/TB

Pedagang Kecil

Saya membaca tulisan dari Dr. Ari mengenai berita menyesatkan di BBM (BlackBerry Messenger). Berita tersebut menganjurkan agar tidak membeli terompet tahun baru karena takut terinfeksi TBC. Beliau menyanggah info dalam BBM tersebut yang menyesatkan. Beliau mengatakan bahwa orang yang tertular biasanya tinggal serumah atau sekantor dengan orang lain yang telah …

Lebih lanjut

Etika dan Bisnis

human-factory

Phoronix melaporkan tulisan Stallman (RMS) mengenai Ubuntu memasang spyware. RMS dalam tulisan tersebut menjelaskan bahwa Ubuntu telah memasang lens yang terhubung ke Internet sehingga pencarian yang dilakukan oleh pengguna di Dash diunggah ke Amazon. Ini merupakan sebuah pelanggaran hak privasi. Jono Bacon membuat tulisan menyanggah hal tersebut. Bagi banyak orang, terutama orang Indonesia, …

Lebih lanjut

Perjalanan Menuju Keterbukaan Informasi (Bagian 1)

Monster Pengetahuan hidup dengan menelan buku. Ia monster yang baik dan tulus. Namun, jangan main-main dengannya karena ia punya kekuatan.

Judul tulisan saya mungkin sedikit lebay. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya hendak membagi tulisan-tulisan saya berupa tugas-tugas kuliah dan kalau bisa, karya-karya akhir saya. Daripada usang tersimpan di perpustakaan atau di suatu direktori PC, lebih baik dibagikan. Mungkin tulisan itu berguna bagi orang lain. Mungkin juga, beberapa menganggapnya sampah. Tapi, …

Lebih lanjut

Data Terbuka, Bukan Sekedar Masalah Transparansi

Tome of Knowledge

Biasanya, pemerintah menggunakan sebuah proyek pemerintah menggunakan tender dengan dana triliunan untuk memenuhi suatu target capaian. Pemerintah melalui kontraktor pihak ketiga, membangun infrastruktur bagi masyarakat. Namun, semenjak adanya crowdsourcing, pemerintah daerah dapat mengutilisasi data-data yang dimilikinya menjadi pengetahuan yang kaya dan menjadi sebuah industri tersendiri. Ada beberapa aspek yang menyebabkan …

Lebih lanjut

Identitas di Internet

Anonimitas

Saat ini ada dua kutub pandangan mengenai identitas Internet. Yang pertama adalah penganut Transparansi (a single identity transparancy). Identitas di Internet harus berupa identitas asli dan bukan identitas palsu. Dengan adanya identitas asli ini, pengguna identitas dapat bertindak sepantasnya. Pendapat ini didukung oleh Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Yang kedua adalah …

Lebih lanjut