Manusia Adalah Masokis Sejati(?)

Manusia adalah masokis sejati. Mereka tidak tahan apabila mereka tidak tersakiti. Jika hidup mereka nyaman, mereka merasa mati. Mereka memilih untuk tersakiti dari pada memilih untuk hidup yang lebih baik.

Semua orang tahu, penyebab banjir adalah hujan  yang turun tidak tertampung. Apa susahnya, sih, buang sampah pada tempatnya? Kalau semua orang buang sampah pada tempatnya, tentunya tidak akan ada selokan yang tersumbat. Tidak perlu ada acara-acara minta sumbangan. Orang-orang akan lebih sehat hidupnya. Hidup akan jauh lebih berkualitas.

Tuh, ‘kan, manusia memang dari sananya senang menyakiti diri sendiri.

Jakarta dari dulu sudah sumpek. Mobil-mobil pribadi makin banyak berseliweran. Apa salahnya, kalau sudah saatnya penggunaan kendaraan bermotor pribadi diatur? Apa salahnya menghapus Organda dan menender ulang pengelolaan kendaraan umum kepada perusahaan yang lebih layak? Toh, mereka sama-sama pengusaha. Buat apa dibela? Saat harga bensin naik tiga kali, mereka pun tiga kali menaikkan tarif. Tetapi, mengapa saat harga bensin diturunkan tiga kali, kok, tarif tidak turun?

Tapi memang dasar manusia senang menyakiti diri sendiri. Alih-alih menahan diri untuk tidak membeli kendaraan pribadi, semua mengikuti Impian Amerika. Alih-alih mendukung moda transportasi umum, manusia lebih senang berjejal-jejalan sepanjang dua, tiga, empat jam di jalan dan membuang gas-gas kamar kaca ke udara.

Omong-omong, sekarang malah ada kampanye konyol yang bilang “selamatkan bumi”. Dapatkan fakta yang benar, kawan! Bumi akan tetap ada sampai ribuan tahun lagi, kecuali kalau Large Hadron Collider mengalami malfungsi. Yang benar adalah kita akan kehilangan generasi penerus. Bumi akan terus ada, tetapi manusia belum tentu! Akan ada waktunya ketika sesuatu yang selama ini kita dapatkan secara gratis harus dibayar mahal.

Tentu saja, seleksi alam terjadi. Pertanyaannya, siapa yang lolos?

Omong-omong seleksi alam, seandainya populasi dunia ini mati akibat perang yang nanti pasti akan terjadi dalam waktu dekat apabila pengganti minyak bumi belum ada dan orang-orang masih terobsesi dengan Impian Amerika. Apakah Anda termasuk orang-orang yang selamat? Bisakah Anda membunuh nurani dengan makan di atas tetumpukan mayat?

Butuh kebencian yang sangat untuk dapat membunuh perasaan. Tetapi, tenang saja, saat ini orang-orang di Jakarta sedang dilatih untuk itu. Bukankah kita tiap hari melihat orang-orang yang tidak mampu dengan tanpa berpaling sedikit pun? Kita dilatih untuk mengabaikan mereka. Kita dilatih dengan stereotip alasan:

“Ah, mereka mengemis padahal masih muda.” “Ini pasti satu komploton.” “Ah, buat apa kasih mereka makan. Nantinya mereka pasti belikan rokok.”

Itu yang alasan yang sering dibangun kepada para pengemis muda. Lalu melalui proses kreatif berpikir, kita juga mulai berpikir untuk tidak mengasihani pengemis-pengemis tua. Puncaknya, kita mulai merasa jijik melihat pengemis anak-anak di jalanan. Kita mulai tidak menyukai mereka dan mengusir mereka dari tempat-tempat kita.

Manusia butuh raison d’etre. Entah ia seorang agamais atau atheis, seorang ultra-Darwinisme  atau kreasonis, mau pun seorang biasa sampai orang-orang eksentris. Semuanya butuh alasan untuk hidup walaupun alasan tersebut adalah tanpa alasan/teori acak sekalipun. Kita perlu sebuah pegangan sebagai jawaban walau pun jawaban itu adalah tidak ada jawaban. Itu sebabnya, alasan adalah himpunan universal yang berisi himpunan kosong.

Alasan mengapa kita jijik kepada anak-anak itu biasanya karena kita tahu bahwa anak-anak itu merupakan aset dari komplotan pengemis. Bahwa mereka dipakai oleh orang-orang dewasa untuk mengemis. Kita begitu menjiwai alasan tersebut sehingga melupakan beberapa fakta menarik lainnya:

  1. Anak-anak itu tidak memilih untuk hidup di jalanan. Mereka dipaksa untuk itu.
  2. Anak-anak itu sepuluh tahun mendatang akan menjadi alasan mengapa ada semakin banyak anak perempuan yang diperkosa, atau pun anak lelaki yang mati tertikam, atau pun rumah terampok.
  3. a) Anak-anak itu titipan Tuhan.  b) Negara (Pemerintah dan Rakyat) seharusnya melindungi mereka.

Tetapi, memang dasar manusia adalah makhluk masokis. Sudah tahu tentang itu semua, bukannya berubah malah masih saja mengejar kekayaan. Lebih senang bersusah payah melakukan korupsi, merugikan orang lain, dan bahkan berusaha mengeliminasi persaingan. Yang penting  berada di puncak kesuksesan.

Omong-omong soal puncak kesuksesan, memang ada pejabat yang tidak jujur tidak terkena Diabetes atau pun penyakit tua lainnya? Yah, setidaknya cuma anaknya terkena narkoba atau pun pasangan selingkuh di belakang.

Omong-omong soal masokis, padahal sudah tahu bakal ada karma, mengapa orang masih saja berusaha tidak baik? Padahal sudah tahu tentang prinsip untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tetapi, mengapa terus saja manusia mengejar?

Padahal…

Ayolah, memangnya banyak dari kita yang mengejar impian? Bukankah banyak dari kita hasil dari pendidikan yang melarang kita untuk menjadi siapa kita? Berapa banyak orang yang hidupnya hanya dipenuhi oleh keperluan untuk mencari uang dan mendapati dirinya sedang berada dalam balapan tikus?*

Semua orang seperti belajar bahasa asing dan tak seorang pun benar-benar bisa berbicara dengan lancar.

Hmm… baiklah, saya memang salah dan ucapan ini kasar. Saya juga produk orang-orang tersakiti yang sering ingin merasa superior dari orang lain. Saya merasa lebih baik dari orang lain dan merasa lega bila orang lain mengakuinya juga. Kalau orang berkata bahwa minder adalah kesombongan yang tak tersalurkan, maka saya berani bilang bahwa kesombongan adalah rasa kekurangan yang berlebihan. Ketika saya menyakiti orang lain, saya merasa superior sesaat lalu kemudian menyesalinya seterusnya.

Justru, ketika saya meminta maaf dan mendapatkan maaf, saya bisa kembali tersenyum. Justru, ketika saya mau memaafkan orang lain maka beban itu terlepas. Justru, kesombongan itulah yang membuat saya semakin terluka. Justru, dendam itulah yang membuat potensi-potensi diri tidak maksimal. Justru, ketika kesombongan itu ada, saya kehilangan diri saya.

Mengetahui ini dan terus saja berlaku sombong, apakah saya juga seorang masokis juga?


*Apa padanan untuk idiom rat race?

NB: Ini adalah sebuah entri  ringan yang dibuat untuk memberi jeda terhadap entri-entri teknis. Entri ini juga untuk membuktikan bahwa penulis bisa menulis dengan gaya emo (memang belum 4lay, sih). Bahwa yang menulis blog ini bukan bot, tetapi manusia juga. Bukan begitu kk Ajay? :-)

Jan Peter Alexander Rajagukguk

One of system administrator at Universitas Indonesia. His current interests are in smart card technology, pervasive computing, and free/open source software. He is an evangelist of free/open source movement and using FOSS actively.
  • adji

    MASOKIS!! :twisted:

    ada beberapa hal yang tidak saya setujui disini kk hepe..

    perihal bahwa kita sedang dilatih untuk membunuh perasaan ketika melihat pengemis.. masalahnya kita di indonesia kk, banyak orang yang lebih milih ngemis daripada mencari kerja. padahal kalo dia beneran mau kerja, dia pasti mendapatkannya. dan saya masih tetap pada pendapat saya, bahwa jika kita memberi uang pada pengemis cilik, itu sama saja kita mendidik mereka untuk terus meminta2. mereka diajari untuk menadahkan tangan, bukan menggunakan tangan mereka untuk mengerjakan sesuatu. itu yang saya tidak setujui.

    masih banyak cara yang lebih baik bagi anak2 cilik yang tidak punya pilihan lain selain tinggal di jalanan. misalkan dengan menyumbang ke panti asuhan. coba kalau semua orang yang membiasakan diri mereka memberi uang ke pengemis cilik itu dialihkan derma-nya ke panti asuhan, saya yakin panti asuhan bisa semakin berkembang dan menampung lebih banyak anak jalanan.

    sayangnya, pada kenyataan, lebih banyak uang yang didapatkan dari jalanan ketimbang dari panti asuhan. that’s why lebih banyak anak hidup di jalan. padahal di panti asuhan itu mereka bisa belajar banyak. tapi kenapa? kenapa mereka lebih suka di jalan? bukan karena saya tentunya, karena saya sudah tidak pernah lagi memberi mereka uang.

    that justified my reason to never give them any money. apalagi buat anak2 kurang pelajaran yang meneriaki saya pelit saat saya tersenyum dan berkata maaf ketika mereka meminta uang. :roll:

    jadi ya.. maafkan saya juga kk hepe jika menurut saya pendapat saya masih belum bisa digoyahkan. hihihihi..

    • http://jpmrblood.blogspot.com Jan Peter Alexander

      Q.E.D. :D

  • Ramot

    apakah definisi tersakiti? bagi orang yang tidak mau hidup di panti asuhan karena gak dapet duit dan mau hidup di jalan karena duitnya banyak, apakah mereka tersakiti dengan dipaksa hidup di panti asuhan atau dengan dibiarkan di jalan?

    jadi sebenarnya siapa yang tersakiti? :roll:

    • http://jpmrblood.blogspot.com Jan Peter Alexander

      Apakah mereka memilih untuk hidup di panti asuhan dan dibiarkan di jalan?

      • Ramot

        mereka memilih untuk hidup di jalan ;-)

  • adji

    ada anak jalanan yang memilih untuk di panti asuhan, sayangnya jarang orang yang berderma ke panti, lebih mudah untuk memberi peminta2 yang ada di jalan, sehingga panti asuhan menjadi sangat terbatas daya tampungnya.

    tapi menurut saya lebih banyak yang memilih di jalan karena mereka lebih “BEBAS” dan uangnya lebih besar.

    oleh karena itu, saya sangat menyayangkan kalo kita terbiasa mendidik anak2 kecil itu untuk kelayapan di jalan. saya tau itu bukan pilihan mereka. mungkin itu pilihan orang tua mereka yang kesulitan. apapun itu alasannya, saya menyayangkan pilihan mereka..

    btw pe, apa yang harus didemonstrasikan emang?

    • http://jpmrblood.blogspot.com Jan Peter Alexander

      @adji: tapi menurut saya lebih banyak yang memilih di jalan karena mereka lebih “BEBAS” dan uangnya lebih besar. Apakah Anda pernah tinggal bersama atau mewawancarai mereka sehingga bisa berkesimpulan demikian?

      btw pe, apa yang harus didemonstrasikan emang? Komentar lo memperkuat apa yang gw bilang… :D

      • Ramot

        Beberapa alasan mereka tidak mau tinggal di panti: - Ibu panti kejam - Gak bisa ngerokok - Gak bebas maen2 - Gak mau sekolah - Gak dapet duit

        Yes, that’s the result of interviews