23 Oct

Minggu ini adalah minggu UTS di kampus. Jadwalnya padat bgt. Meskipun ngajarnya team teaching, urusan ngawas ujian biasanya yang paling junior lagi yang kena. Untuk konsumsi pada saat ngawas, kali ini pakai vendor baru. Biasanya, klo nggak bakeri Daniel, ya generik punya.. alias vendor rumahan yang dus kue-nya polos atau bertuliskan “selamat menikmati” dengan gambar bunga warna pink gonjreng. Kali ini, FISIP pakai bakeri O’Lili. Mungkin ini niatnya mau mirip2 dengan kafe Olala itu ya hehehe. Anyway, kue2nya lumayan ada rasanya (manis-asinnya terasa jelas) dan tidak keras. Demikian pula porsi per potongnya pun cukup bijak, tidak terlalu besar tapi juga bukan ukuran mini. Memang tidak selezat MonAmi, tapi ya lumayanlah.

Ngawas ujian memang ngebosenin karena you stuck all alone while you must alert sama mhs yang curi2 kesempatan utk berbuat curang. Kadang kala ngantuk juga karena lupa bawa materi kerjaan yang bisa disambi sambil ngawas. Untunglah klo kebagian ngawas kelas dimana kita sendiri yang ngajar, apalagi klo kelas2 lanjut, jd mhs-nya pun udah gak pada rese, udah nyadar sendiri klo ujian gak perlu nyontek, lebih tertib lah pokoknya. Setiap kali ngawas begini, jadi inget waktu pertama kali tau nama Mohippo.. saat itu hari Rabu, 18 Oktober 2006. Geez.. it was 2 years ago.

16 Oct

Para penikmat es krim di Jakarta pasti sudah tidak asing dengan Es Krim Ragusa yang berlokasi di Jl. Veteran 1 no.10 Jakarta Pusat. Kalo dari arah Masjid Istiqlal atau Jl. Juanda, musti muter di Veteran 3 dulu karena Jl. Veteran 1 ini satu arah. Anyway, tidak susah mencari Es Krim Ragusa karena umumnya pasti ramai pengunjung. Sebenarnya, sudah banyak kedai es krim modern yang mengusung tema es krim Italia di Jakarta ini — misalnya saja gelato Kafe Pisa dan Gelatissimo — tetapi es krim tradisional Ragusa masih memiliki penggemarnya sendiri. Apalagi, harga es krim Ragusa cukup terjangkau kantong anak muda,  antara Rp.8.000 untuk one scoop ice cream  sampai Rp. 26.000 untuk ice cream banana split atau variasi lain yang menyerupai spaghetti. Sedikit berbeda dari es krim di mall yang umumnya sangat “creamy”, tekstur es krim Ragusa terasa agak “watery” dan cepat mencair sehingga memang sebaiknya dikonsumsi segera setelah disajikan.

Saat The Eaters mengunjungi Ragusa weekend lalu, kami memesan Tutti Frutti ice cream dan Spaghetti ice cream.  Es krim Tutti Frutti itu berbentuk seperti potongan kue lapis, terdiri dari 3 lapis berwarna pink, cokelat dan hijau. Di dalamnya ada sukade warna warni yang menyumbang rasa buah bagi es krim itu. Sedangkan Spaghetti ice cream adalah es krim vanila yang bentuknya seperti spaghetti. Cara membuat es krim sehingga berbentuk spaghetti ini sepertinya dengan memasukkannya ke mesin penggiling daging, sehingga keluarannya berbentuk seperti mie panjang. Hampir sama seperti proses membuat cendol yah. Lalu penyajiannya diberi topping cokelat leleh, sukade, dan kacang tumbuk. Total yang harus dibayar adalah Rp. 50.000,- and I think it quite a lot for ice cream yang katanya terjangkau kantong anak muda as I said before (gak konsisten!).

Sebenarnya, kalau beli es krim yang single scoop sih iya, cuman 8 ribuan jadi klo berdua palingan abis 16 ribu. Itu jauh lebih murah of course dibanding es krim Kafe Pisa yang single scoop-nya 15 ribuan (plus pajak jadi sekitar 24 ribuan). Kalau mau makan yang tidak terlalu berat, ada sate ayam, rujak juhi dan asinan yang dijual pedagang di trotoar depan resto ini. Value addednya adalah klo ke Ragusa siang/sore hari dan duduk dekat pintu, maka bisa melihat pemandangan di jalan raya Veteran yang tidak ramai, ada mesjid Istiqlal yang terletak tepat di depan mata, dan kereta api yang melintas di atas rel (flyover ?? apa sih sebutannya??). Belum lagi suasana resto yang cukup antik dengan kursi rotan pendek, meja kayu, foto2 lama tahun 1930-an, dan cash register kuno yang membuat kita lupa sejenak dengan kesibukan nyiapin soal UTS hehehe.. Kayaknya, bakal ke Ragusa lagi nih, sebagai reward ngoreksi UTS hehehe ;)

18 Sep

Daripada tambah pusing setelah acara sosialisasi kepegawaian UI Rabu siang kemarin, The Eaters memutuskan untuk segera reservasi tempat buat buka puasa. Kebetulan kami baru aja nemu satu resto antik Indo-Belanda yang klo diliat di website-nya bisa bikin pengen cepet2 ke tempat itu. Namanya Huize Trivelli di Jl. Tanah Abang II. Dari segi harga, resto ini cukup reasonable, mengingat atmosfir yang tres tres calmize di tempat itu. Hal yang perlu diingat adalah restoran ini buka setiap hari kecuali Minggu, dan setiap harinya resto ini buka jam 11:00-19:00.

interior huize trivelli

fish filletTeh Sereh

Interior restoran yang lebih tepat berupa rumah yang dimodifikasi untuk santap makan itu bener2 full tempo doeloe. Mulai dari furnitur, foto2, barang pajangan, dll. semuanya mengingatkan kita pada masa lampau. Kebetulan kami duduk di ruang bagian depan yang dihiasi tempat untuk sembahyang antik khas Tionghoa. Ruang itu menghadap ke arah taman dengan tetesan air ke kolam.  Suasananya sangat nyaman dan rumahan sekali. Demikian juga makanan yang disajikan, khas masakan nenek sewaktu kita kecil dulu. The Eaters memesan fish steak (steak fillet ikan), steak chateaubriand aux champignons (steak has dalam sapi dengan saus jamur), croquette ragout daging, risoles ragout ayam, klappertaart dan teh sereh. Menurut saya, this is one of the best klappertaart yang pernah saya cicipi. Penyajian teh yang dicampur potongan serai juga dilengkapi dengan biskuit Verkade dan crackers tawar dengan gula berbentuk kubus yang dibungkus dengan tulle dan diberi pita cantik. It was soooo coooolll !!!

 

17 Sep

One of my activities during the fasting month is browsing and googling about food.. whether it’s the image / pictures, the cool restaurant in Jakarta, or the recipes I’d never gonna use… anyway,I need to have a close contact to food. It’s kinda psychological thingy, to ease away the hunger. Last week, The Eaters went to Gramedia Matraman just for ngabuburit and end up buying a dining guide book. We browsed through pages and decided to reserve a place for buka puasa that day in Kembang Goela Restaurant.

 Lokasi Kembang Goela ini ada di parkiran bagian belakang Gd. Plaza Sentral. Biar gampangnya, gedung itu ada di samping Universitas Atmajaya. Itu lhoo.. yang gedung  biru muda dan ada lambang McDonalds di pojok halaman depannya. Jadi, klo dari arah Thamrin atau Karet, harus sudah masuk di jalur lambat. Untuk reservasi tempat, telpon aja ke : (021)520-5625.

Suasananya sangat homey, nyaman, terasa ada harum bunga dan wangi aromaterapi. Sekeliling ruangannya dihiasi berbagai kain tradisional yang digantung di dinding dan beberapa furnitur lemari antik. Jenis makanannya adalah masakan Indonesia yang khas rumahan dan peranakan Indo-Belanda. Katanya sih yang khas adalah Ikan Kerapu goreng, Sosis Oom Yance yang panjangnya 1 meter dan Dendeng Balado crispy. Sore itu kami memesan appetizer Lumpia Semarang yang seporsinya isi 3 dan bentuknya mirip cheese stick tapi ternyata rasanya enak bgt. Untuk main course, kami pesan nasi goreng rumah, sate sapi, tahu goreng asam manis dan oseng baby buncis. Harga makanannya berkisar antara 25rb-150rb, sedangkan minuman sekitar 10rb-30rb. Walaupun dari segi kuantitas terkesan kurang banyak, tetapi karena kualitasnya sangat baik jadi cukup mengenyangkan. Dari segi rasa (taste) juga cukup enak. Overall, jadi mau ke sana lagi hehehe..

17 Sep

Weekend 19 Juli 2008 yang lalu, tiba2 aja The Eaters berminat untuk makan cuisine française. Tadinya mau makan di Marche Movenpick, tapi ternyata resto di hotel Gran Melia ini udah tutup usaha. Akhirnya kami mencoba Bistro Orleans di Wolter Monginsidi. Tempatnya nyaman, such a quiet place buat makan malam, dan kebetulan kami adalah first customer yang datang malam itu. Konsepnya fine dining dengan sejumlah peralatan makan lengkap di setiap meja. Suasananya jadi mengingatkan pada bistro maupun resto di Paris. Rasa (taste) dan penampilan makanannya juga sudah a la française. Begitu pula dengan harga yang tercantum dalam menu yang nyaris sama dengan di Paris sana (dan belum termasuk tax 15,5%) hehehe.. Meskipun demikian, biaya yang dikeluarkan pelanggan menurut kami cukup sebanding dengan kualitas (dan kuantitas) makanan yang disajikan. Yumm…

08 Sep

Suatu ketika, Oxal my annoying sis cerita about rumah makan baru berjudul Warung Desa di Sabang a.k.a Jl. Wahid Hasyim, sederetan dengan restoran Libanon. Katanya sih harganya terjangkau dan porsinya banyak. The Eaters akhirnya sepakat untuk mencobanya. Bener aja, ternyata lumayan murah buat restoran yang suasananya bersih dan nyaman karena AC-nya dingiiinn.. hihihi. Kami pesan gado2 komplit yang harganya cukup ceban aja dan Ifumie Seafood seharga 17 ribu. Porsinya memang cukup mengenyangkan. Mohippo pesan jus pisang 7 ribuan & 2 es teh tawar seharga 3 ribuan. Total makan nggak nyampe goban !! Bahkan lebih hemat dibanding lunch di Bloc FISIP huehehehe…Pelayanannya juga cukup baik, ramah dan asiknya lagi, ini restoran buka 24 jam non stop.ifumi seafood

03 Sep

C’est un blog plutôt formel avec des choses machin truc, enfin.. tous ce que je pense sur la vie quotidienne, enseignement, etc. en anglais / francais / bahasa indonesia.

 

This is a kinda formal blog where I can share ideas and my writings in English / French / Indonesian.