Oleh: Evi Yulianti*

Akhir akhir ini perkembangan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) sudah sedemikian maraknya. Hampir seluruh instansi atau perusahaan memanfaatkan TIK tersebut. Misalnya saja dalam bidang perekonomian, dapat dilakukan transfer uang antar bank, transaksi jual beli lewat internet, dll. Dalam bidang politik, dapat dilakukan quick count (hitung cepat pemilu) dimana data perolehan suara dikirim melalui SMS gateway dan data diolah dengan bantuan database. Bidang pendidikan pun tidak luput dari perkembangan TIK tersebut. Dalam tulisan ini saya akan memaparkan gagasan yang saya miliki terkait dengan pemanfaatan TIK di bidang pendidikan (e-education).

Menurut saya masih banyak bagian atau porsi di bidang pendidikan yang sebenarnya dapat memanfaatkan TIK. Dari segi pelaksanaanya, Pertama, TIK dapat digunakan untuk membantu pengajar dalam melakukan absensi. Selama ini yang kita tahu sejak SD hingga SMA, pengajar masih melakukan absensi secara manual, yakni dengan buku absen dan memanggil murid secara satu persatu. Padahal hal tersebut tentunya merepotkan dan jika dilihat dari kefektifan waktu, tentu saja ini cukup memakan waktu dan mengurangi waktu belajar di kelas. Ide saya terkait absensi ini adalah tiap murid dapat secara praktis melakukan absensi dengan menempelkan jari mereka pada suatu instrumen TIK dan data absensi langsung masuk ke database. Data absensi juga bisa diekses secara online oleh orang tua murid yang ingin mengetahui perkembangan anaknya di sekolah, entah melalui situs sekolah maupun SMS gateway.

Kedua, TIK dapat diterapkan dalam mencatat nilai siswa dan mem-publish-nya. Selama ini guru mencatat nilai siswa secara manual. Untuk nilai ulangan harian, nilai UTS maupun nilai UAS. Setelah itu guru tersebut menghitung rata-ratanya keseluruhan sebagai nilai akhir. Tentunya akan lebih bijak jika kita mengurangi beban guru dengan membiarkan teknologi yang bekerja sehingga guru hanya perlu memasukkan nilai tersebut ke suatu instrumen TIK dan instrumen tersebut yang akan mengolah nilai akhir sehingga kesalahan akibat perhitungan manusia akan berkurang dan guru akan lebih nyaman dalam bekerja. Selain itu nilai yang sudah dimasukkan dapat langsung di-publish melalui situs sekolah sehingga semua proses penghitungan nilai siswa dapat diolah secara transparan. Siswa juga dapat melihat nilainya kapan saja dan dimana saja.

Ketiga, TIK dapat diterapkan dalam meletakkan modul pembelajaran. Hal ini dapat menjadi salah satu solusi akan mahalnya buku-buku cetak di Indonesia. Biasanya guru hanya menjelaskan materi di papan tulis dan sumber utamanya tetaplah buku cetak yang harganya mahal dan belum tentu semua materi di dalamnya akan dipelajari oleh siswa. Sebelum saya kuliah di Fakultas Ilmu Komputer UI, saya belum pernah mengalami suatu pembelajaran dimana modul yang saya pelajari pada perkuliahan diletakkan pada suatu wadah dan wadah tersebut juga memungkinkan saya untuk berdiskusi dengan teman maupun pengajar, mengumpulkan tugas, melihat informasi seputar perkuliahan, dll. Wadah tersebut tidak lain adalah Scele. Saya mengharapkan implementasi seperti Scele ini juga bisa diterapkan kepada institusi lain, paling tidak mulai dari SMP atau SMA. Karena yang saya tahu untuk fakultas di Universitas Indonesia sendiri baru Fakultas Ilmu Komputer yang menerapkan metode pembelajaran seperti ini. Saya memahami bahwa ada hambatan untuk menerapkan metode ini pada semua level pendidikan, antara lain masalah infrastruktur IT yang belum tersebar secara merata, mahalnya akses internet di Indonesia dan pemahaman si pengajar terhadap IT. Oleh karena itu menurut saya solusinya adalah sekolah atau institusi belajar dapat menyediakan fasilitas internet yang memungkinkan siswa dapat mengakses modul yang mereka pelajari secara gratis. Training IT kepada para guru juga diperlukan agar guru tersebut dapat membuat modul e-learning. Bila gurunya saja tidak memahami bagaimana membuat modul, maka implementasi seperti Scele tidak akan bisa dilaksanakan.

Keempat, TIKĀ  dapat memberikan wadah bagi suatu institusi untuk bekerja sama dengan institusi lain untuk sharing resource. Misalnya Universitas Indonesia dapat bekerja sama dengan universitas lain misalnya Nanyang University di Singapura. Jadi mahasiswa UI dapat mempelajari modul yang diajarkan di Nanyang dan mengikuti forum diskusinya tanpa harus jauh-jauh kuliah di Nanyang. Hal ini akan meningkatkan kualitas mahassiwa UI karena wawasannya bertambah. Harapannya adalah kita bisa memiliki mahasiswa UI yang berkualitas Nanyang. Sedangkan bagi Nanyang sendiri mereka juga akan memiliki wawasan mengenai bagaimana perkuliahan di Indonesia.

Saya meyakini bahwa semua gagasan di atas akan percuma saja bila cost untuk memanfaatkan TIK itu sendiri sangat tinggi dan infrastruktur IT belum tersebar merata. Cost yang dimaksud antara lain cost untuk mengakses internet, cost untuk SMS gateway, dll. Cost yang tinggi akan menjadi kendala utama karena percuma saja teknologi yang super canggih telah dibangun akan tetapi pengguna atau peminat dari teknologi tersebut tidak ada. Jika dibandingkan dengan negara lain yaitu India, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina, cost budget internet di Indonesia adalah yang termahal. Di Singapura, pemerintah Singapura sudah berani untuk menggratiskan setiap warganya untuk menggunakan internet brodband dengan kecepatan 1Gbps selama setahun. Dibandingkan dengan India pun, cost budget Internet di Indonesia lebih mahal 54 kali dibandingkan cost budget yang dibutuhkan masyarakat India untuk dapat mengakses internet. Jadi disini perlu kerja sama yang sangat baik antara pemerintah dengan institusi lain terkait dengan TIK agar dapat mengusahakan cost yang rendah dalam pemanfaatan TIK. Upaya yang dapat dilakukan antara lain menambah anggaran pemerintah terhadap pendidikan, kerja sama antara pemerintah dengan ISP di Indonesia, dll.

Pemanfaatan TIK pada bidang pendidikan ini tentunya memerlukan pengawasan dari pihak-pihak tertentu sehingga dalam pelaksanaannya tidak disalahgunakan. Misalnya saja jangan sampai penggunaan internet justru digunakan untuk bermain games, melihat situs porno, melihat berita yang kurang penting (seperti gosip), dll. Hal tersebut bisa diantisipasi dengan memblock situs-situs yang membahayakan dan melakukan pengawasan secara langsung di lapangan. Selain itu banyak content yang disediakan di internet menggunakan bahasa Inggris. Akibatnya adalah siswa harus meningkatkan skill mereka dalam bahasa Inggris agar dapat memahami dengan baik informasi yang disampaikan pada situs tersebut.

Sumber:

http://www.duaberita.com/main/artikel-dua/dua-technology/31-suara-mahasiswa-tentang-isp-indonesia-.html

*) Evi Yulianti adalah Peserta matakuliah Pengajaran Berbantuan Komputer Fasilkom UI Semester Genap 2008/2009