Mar-30-09

Alat Bukti dan Barang Bukti: Segi Pidana

posted by Brian Prastyo

Dalam sebuah acara diskusi yang diselenggarakan oleh hukum online, seorang jaksa dari kejaksaan agung yang pada saat itu bersama saya sebagai pembicara, menjelaskan perbedaan mendasar dari alat bukti dan barang bukti. Penjelasannya begitu sederhana, sehingga saya dengan mudah mengingatnya sampai sekarang. Beliau mengatakan, “alat bukti ialah sesuatu yang jika dihadirkan ke hadapan hakim dapat bercerita sendiri, sedangkan barang bukti belum bisa bercerita sendiri.”Karena barang bukti belum bisa “bercerita” sendiri, maka yang dapat menceritakan keterkaitan barang tersebut dengan perkara yang disidangkan adalah terdakwa, saksi, atau ahli. Keterangan terdakwa, saksi, dan ahli itulah yang kelak akan menjadi alat bukti, yang dapat dipergunakan oleh hakim sebagai dasar untuk menjatuhkan putusan.

Untuk membantu anda yang tidak mendalami ilmu hukum untuk memahami konsep penting tersebut, berikut saya berikan contoh mudahnya. Anggap saja kasusnya pembunuhan. A menusuk B dengan pisau, sehingga B mati karena kehabisan darah. Pisau tersebut adalah barang bukti. Menunjukkan saja pisau itu ke hadapan hakim tidak akan membuat hakim memperoleh informasi mengenai peran A dalam kasus pembunuhan itu, karena sebagai benda mati hakim tentu saja tidak bisa menanyai si pisau di sidangnya. Oleh karena itu, sebelum ditunjukkan di saat persidangan, penyidik akan membawa pisau itu ke seorang ahli. Sang ahli akan menjelaskan apakah sidik jari dalam pisau itu adalah sidik jari A dan apakah darah di pisau itu adalah darah B. Pendapat sang ahli yang dibuat secara tertulis, kelak dapat dihadirkan ke persidangan sebagai alat bukti: SURAT. Setelah dibawa pada ahli, penyidik akan mencari keterangan atau mengklarifikasi pisau tersebut dari tersangka dan saksi, misalnya dengan menanyakan: apakah tersangka/saksi pernah melihat pisau tersebut, apakah tersangka memegang pisau tersebut saat terjadinya pembunuhan B, apakah tersangka menggunakan pisau tersebut untuk menusuk B, dlsb. Jawaban dari tersangka dan saksi akan dicatat dalam sebuah Berkas Acara Pemeriksaan (BAP). Kelak BAP tersebut dapat dihadirkan ke persidangan sebagai alat bukti: SURAT. Dalam persidangan nanti, keterangan terdakwa, saksi, dan ahli, masing-masing akan bernilai sebagai alat bukti: KETERANGAN TERDAKWA, KETERANGAN SAKSI, DAN KETERANGAN AHLI. Berdasarkan keterangan terdakwa, saksi, atau ahli itulah hakim dapat menarik alat bukti: PETUNJUK. Pada akhir persidangan, SURAT, KETERANGAN TERDAKWA, KETERANGAN SAKSI, KETERANGAN AHLI, dan PETUNJUK itulah yang dapat menjadi landasan bagi hakim dalam menjatuhkan putusan.

Sekarang anda paham kan mengapa dalam suatu perkara tindak pidana barang buktiĀ  memiliki kedudukan yang suangat penting? Nah, lalu bagaimana kita memandang konsep ini dalam konteks kejahatan telematika atau cybercrime? Nanti saya bahas di posting yang lain.

  1. kunderemp "an-narkaulipsiy" ratnawati hardjito Said,

    Ditunggu lanjutannya, Pak.

  2. Brian Prastyo Said,

    Sip deh pak! Btw, wis nduwe momongan po?

  3. Siska Said,

    hmm.. mudah dimengerti.. menyenangkan, thx :)

  4. Asfihani Said,

    Pak Brian,

    Kalau print-out email dan log transaksi internet apakah sudah bisa dijadikan sebagai barang bukti. Sebagai contoh dalam kasus Prita Mulyasari.

    Terima kasih.

  5. dewi Said,

    Dear Pak Brian,

    salam kenal, saya mau bertanya, bagaimana jika barang bukti tidak ada/tidak ditemukan, apakah hanya dengan saksi dapat menyeret sesorang ke proses pengadilan bahkan di penjara, jika di kuti dari artikel bapak diatas, seberapa pentingkah ke tiga faktor di atas (barang bukti, saksi kunci dan saksi ahli)

    ditunggu jawabannya, secepatnya (urgent)

    thanks

  6. arsil Said,

    mengenai masalah ini gue udah pernah nulis ber tahun 2002/2003. tulisan gue ada di blog gue.

  7. putra Said,

    makasi y pak pnjelasannya ..

  8. mamank Said,

    mantap..! mudah di 86…

Add A Comment