Pengantar

Kabupaten Kaimana merupakan kabupaten hasil pemekaran wilayah Kabupaten Fakfak. Kabupaten ini pernah diabadikan dalam sebuah lagu yang menceritakan keindahan senja di Kaimana. Memang jika ditilik dari letak geografis dan bentuk wilayahnya terlihat indah dan masih banyak sekali potensi yang belum tergali secara maksimal. Berikut ini sedikit gambaran mengenai kondisi masyarakat yang berada di kabupaten Kaimana.

Kondisi Masyarakat

Adat istiadat di Kabupaten Kaimana yang oleh karena letaknya yang strategis sebagai tempat persinggahan (transit) telah mendapat pengaruh budaya dari luar (interaksi sosial) sehingga nilai-nilai adat asli daerah ini telah terakulturasi oleh nilai-nilai budaya sekitar.

Penduduk yang bermukim di daerah pegunungan pedalaman belum banyak dipengaruhi oleh interaksi dari luar, sedangkan penduduk daerah pesisir telah banyak mendapat pengaruh tersebut melalui perkawinan, seni musik/ tari maupun cara berbusana.

Kondisi sosial ekonomi penduduk wilayah Kabupaten Kaimana umumnya bergerak dalam bidang perikanan dan pertanian yang sifatnya subsistem, perkebunan tradisional, buruh bangunan dan buruh pelabuhan. Sedangkan dunia usaha umumnya ditekuni oleh penduduk asal bugis, jawa, dan WNI keturunan. Dengan berhembusnya arus reformasi maka telah pula diberdayakan sejumlah putra daerah asli Kaimana untuk menekuni bidang leveransir dan developer.

Secara umum, kondisi ekonomi penduduk di kampung-kampung maupun di kota Kabupaten Kaimana bersifat usbsistem yaitu sebagai petani maupun nelayan, artinya hasil produksi pertanian maupun perikanan umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga secara terbatas dan konsumtif, sebagian kecil penduduk lainnya menekuni lapangan pekerjaan sebagai PNS, pedagang, buruh bangunan dan pelabuhan serta sektor informal lainnya.

Mata pencaharian penduduk di wilayah Kabupaten Kaimana umumnya pada sektor pertanian, perikanan, perdagangan, jasa. Sektor pertanian dan perikanan masih bersifat tradisional. Sedangkan dunia usaha umumnya ditekuni oleh penduduk asal bugis, jawa dan Warga Negara Indonesia Keturunan. Dewasa ini telah diberdayakan sejumlah putera daerah untuk menekuni bidang leveransir dan developer.

Secara umum, kondisi ekonomi penduduk ppedesaan hingga saat ini masih bersifat tradisional (pertanian dan perikanan), artinya hasil produksi pertanian dan perikanan umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga secara terbatas, sedangkan penduduk perkotaan di Kabupaten Kaimana sebagian lainnya menekuni lapangan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil, Pedagang, Buruh bangunan dan pelabuhan serta sektor informal lainnya.

Komposisi pemeluk agama di Kabupaten Kaimana terlihat cukup beragam yakni Islam, Kristen Portestan, Katholik, Hindu dan Budha. Kondisi kerukunan dan toleransi umat beragama berjalan baik yang tidak didapati di wilayah Indonesia lainnya.

Jumlah Umat Beragama Kabupaten Kaimana

Tahun 2000

Distrik

Katholik

Protestan

Islam

Hindu/Budha

Jumlah

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Teluk Arguni

98

3.512

1.586

1

5.197

Kaimana

1.891

7.444

5.085

11

14.431

Buruway

805

2.016

1.202

27

4.051

Teluk Etna

382

3.610

1.800

4

5.795

Jumlah

3.176

16.582

9.673

43

29.474

Suasana keamanan dan ketertiban di Kabupaten Kaimana terbilang rentan, hal ini dikarenakan arus transportasi yang begitu luas dan terbuka. Posisi wilayah yang strategis, mudah disinggahi oleh warga masyarakat lain dari luar Kabupaten Kaimana. Produksi minuman beralkohol secara tradisional mengakibatkan terjadinya gangguan ketentraman dan ketertiban masyarakat dan berdampak pada perbuatan tindak kriminal secara umum. Kondisi ini sangat menganggu bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang aman, tentram dan damai.

Kecenderungan meningkatnya angka kriminalitas di Kabupaten Kaimana tidak lepas dari masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap hukum, minimnya aparat penegak hukum serta kondisi wilayah yang sulit untuk di jangkau sehingga menyulitkan dalam menciptakan ketertiban dan keamana masyarakat.

Berikut ini di ungkapkan analisa potensi dari Sumber daya manusia serta kondisi sosial budaya di Kabupaten Kaimana

1. Sumber Daya Manusia

Kekuatan

Jumlah penduduk Kabupaten Kaimana yang cukup besar merupakan sumber daya manusia yang potensial untuk dikembangkan dan diberdayakan

Kelemahan

Dalam pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Kaimana, kelemahan yang di hadapi adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia yang diakibatkan oleh terbatasnya prasarana penunjang pendidikan yang layak, kualitas dan kuantitas tenaga pengajar yang belum memadai serta disiplin dan etos kerja yang rendah.

Peluang

Arus transportasi yang terbuka memunculkan peluang dalam pengembangan sumber daya manusia untuk berkompetisi dalam persaingan bebas dalam segala aspek kehidupan.

Tantangan

Dampak dari rendahnya sumber daya manusia yang dimiliki mengakibatkan daya saing yang rendah sehingga memungkinkan masuknya tenaga kerja profesional dari luar dan menyebabkan tersingkirnya tenaga kerja lokal.

2. Kondisi Sosial Budaya

Kekuatan

Sarana dan prasarana pendidikan dasar dan menengah yang tersedia di Kabupaten Kaimana untuk menunjang terselenggaranya proses belajar mengajar. Keterseiaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan dasar sangat membantu para tenaga medis dan paramedis dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Nilai-nilai kearifan dari adat-istiadat tiga suku besar di wilayah Kabupaten Kaimana merupakan kekuatan yang perlu terus dibina dan dikembangkan.

Kelemahan

Masih tingginya angka putus sekolah dan tidak melanjutkan sekolah sebagai akibat dari kurangnya kesadaran orang tua murid dan anak didik terhadap pentingnya pendidikan, serta lemahnya kondisi sosial ekonomi masyarakat, jumlah tenaga oendidik yang kurang dan penyebarannya tidak merata, dan rasio guru dan jumlah kelas yang tidak seimbang. Hal ini tercermin dari keberadaan SLTP/SMU/ SMK yang hanya terdapat di daerah perkotaan, menyebabkan angka putus sekolah cukup tinggi

Kondisi pelayanan kesehatan apabila diperhatikan ternyata jumlah terbesar tenaga dokter berada di perkotaan, sedangkan sebagian puskesmas-puskesmas pembantu tidak memiliki tenaga bidan atau perawat lainnya (Kamaka, Lobo, Bahumia dan Ubia Sermuku)

Peluang

Adanya kewennangan pemerintah yang memberikan perhatian pada bidang pendidikan, menunjukkan bahwa aspek pendidikan sudah lebih diperhatikan dibidang masa sebelumnya. Kewenangan daerah untuk menyelenggarakan pendidikan pada semua jenjang, jalur dan jenis pendidikan patut direspon secara baik. Porsi yang sama juga diberikan pada sektor kesehatan, menunjukkan bahwa begitu besar kepedulian dan keberpihakan [emerintah terhadap masyarakat dalam kerangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Tantangan

Pengaruh globalisasi tidak saja menjadi peluang, tetapi juga merupakan tantangan dimana dan beresiko terhadap terjadinya interaksi sosial semakin meningkat dalam sistem kehidupan masyarakat yang multi etnik, multi kultur, multi keagamaan dan multi kedaerahan (masyarakat majemuk/ Plural Societies). Salah satu aplikasi serius dari semakin intensifnya interaksi sosial berakibat pada proses penularan penyakit menular seksual (HIV/AIDS). Disamping itu terjadi pula proses pelemahan/ pelunturan kearifan budaya lokal akibat pengaruh budaya luar yang negatif dan atau kurang menguntungkan.

Suku-suku di Kabupaten Kaimana

Kabupaten Kaimana sebagai sebuah kabupaten baru mempunyai banyak sekali sub suku yang mempunyai ciri khas yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini merupakan suatu potensi yang cukup besar terutama dari sisi peningkatan sumber daya manusia.Berikut ini diungkapkan beberapa sub suku yang ada di Kabupaten Kaimana.

Buruwai

Orang Buruwai atau Karufa berada di bagian selatan semenanjung Bomberai, bagian barat Teluk Kamrau. Daerah mereka termasuk ke dalam wilayahkabupaten Kaimana. Daerah mereka antara lain Guriasa, Tairi, Hia, Gaka, Yarona, Kuna, Esania dan Marobia. Populasi mereka sekitar 700 jiwa (tahun1997). Nama lainnya Asienara, Madidwana

Irahutu

Orang Irahutu atau Irarutu mendiami bagian timur semenanjung Bomberai, di kepala burung Irian, mulai dari sebelah barat daya teluk Arguni sampai ke utara ke teluk Bintuni. Pemukiman mereka tersebar di 40 buah desa dengan jumlah populasi sekitar 4.000 jiwa. Bahasa mereka termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Daerah mereka sendiri berada dalam wilayah Kabupaten Manokwari, sebagia berada di Teluk Arguni. Desa mereka antara lain Manggera, Kupriai, Warmenu, Egerwara, Wararoma, Temia, Warafuta dan Rauna.

Iresim

Suku bangsa ini mendiami daerah pesisir selatan teluk Cendrawasih, yaitu di sebelah barat kota Nabire, dan di dekat danau Yamur. Daerah tersebut berada dalam wilayah distrik teluk Etna, Kabupaten Kaimana. Jumlah populasinya sekitar 100 jiwa. Bahasa mereka termasuk dalam kelompok bahasa Wurm-Hatori (sub-kelompok bahasa teluk Cendrawasih) dari rumpun bahasa Papua.

Kambrau

Orang Kambrau atau Kamberau atau Lambrau berdiam di semenanjung Bomberai sebelah tenggara, di sekitar teluk Kamberau. Desa-desa mereka adalah Ubia Seramuku, Bahomia, Inari, Tanggaromi, Koi, Wamesa dan Coa do wilayah distrik Kaimana dan Distrik Teluk Arguni, Kabupaten Kaimana. Jumlah Populasinya 9000 jiwa. Bahasa mereka masih satu kelompok dengan bahasa Kamoro dan Asmat.

Kamoro

Ada banyak pendapat berkenaan dengan suku bangsa ini, pertama menganggap bahwa Kamoro sama dengan Mimika, kedua, orang Kamoro adalah sub-kelompok suku Mimika. Ketiga, Kamoro adalah kesatuan bahasa daerah. Mereka mendiami daerah pantai selatan Irian Jaya yang berawa, kira-kira disebelah barat laut wilayah orang Asmat, tepatnya ddi wilayah Mimika Timur dan Mimika Barat. Nama lain mereka adalah Lakahia, Nagramadu, Kaokonau, Umari, Neferipi, Maswena.

Sebagai bagian dari kelompok suku bangsa Mimika, orang Kamoro mendiami wilayah bagian barat dekat teluk Etna, jumlah populasi mereka sekitar 8.000 jiwa. Desa mereka antara lain Tarja, Kamora, Wania, Mukumuga

Koiwai

Orang Koiwai atau Namatote mendiami daerah pesisir selatan Irian Jaya, yaitu di bagian selatan Leher Burung Irian, tepatnya di sebelah barat laut di Kaimana terus ke tenggara ke Maimai. Sebagian lagi mendiami pulau Namatote dan pulau-pulau keil lain di teluk Kamrau. Desa-desa mereka adalah, Keroi, Namatota, Waikala, Namatote, Kayumerah dan Maimai. Daerah ini termasuk dalam distrik Kaimana dan Teluk Etna. Jumlah populasi mereka sekitar 700 jiwa. Nama lain mereka adalah Kaiwai, Kuiwai Koiwai, Namatota Aiduma, Kayumerah.

Mairasi

Suku bangsa Mairasi menddiami daerah di sekitar teluk Arguni, sampai ke teluk Triton (Etna) dan teluk Wandamen timur laiut, di daerah Leher Burung Irian. Daerah mereka masuk ke dalam kabupaten Kaimana terutama di distrik Kaimana dan Teluk Etna serta sebagian masuk di daerah Kabupaten Manokwari. Jumlah populasi mereka 3.000 jiwa. Kata Mairasi berarti “asli”, bahasa ini termasuk dalam kelompok bahasa Papua. Desa mereka adalah Morano, Faranyao, Sisir, Lobo, Susunu, Warika, Kokoroba, Barari, Urisa, dan Maimai. Nama lain mereka adalah Kaniran, Faranyao.

Mer

Orang Mer tinggal di daerah bagian tengah Kepala Burung Irian, yaitu di sekitar mata air Wosimi dan hulu sungai Urema. Daerah tersebut termasuk dalam wilayah Distrik Teluk Etna dan Kabupaten Manokwari. Jumlah populasi mereka sekitar 200 jiwa. Desa-desa mereka antara lain Ure atau Muri dan Javor. Nama lain mereka Muri atau Miere

Mor

Suku bangsa kecil ini berdiam di sekitar daerah timur laut semenanjung Bomberai, yaitu di pantai selatan Teluk Bintuni. Daerah in termasuk ke dalam wilayah Distrik Kaimana. Populasinya sekitar 100 jiwa. Desa mereka Tomage.

Semimi

Orang Semimi meniami daerah bagian selatan Leher Burung Irian Jaya, yaitu sekitar Teluk Etna, sampai ke Teluk Triton. Daerah mereka termasuk wilayah Distrik Teluk Etna. Jumlah populasi mereka sekitar 300 jiwa.

Penduduk asli di Kabupaten Kaimana secara umum mengembangkan pola usaha tani tanaman ubi-ubian, diikuti dengan kegiatan mengumpulkan hasil hutan, berburu ataupun menangkap ikan. Disamping itu masih terdapat penduduk yang melakukan sistem perladangan berpindah.

Pola konsumsi pangan yang masih membudaya dikalangan penduduk asli adalah makanan sehari-hari berupa ubi-ubian dan sagu, namun dilain sisi ternyata sagu dan ubi-ubian sudah mulai tergeser oleh jenis makanan lain yaitu beras. Hal ini ditunjang oleh adanya fasilitas-fasilitas perdagangan yang menjual 9 bahan kebutuhan pokok penduduk. Selain itu karena semakin terbukanya daerah ini dari daerah luar.

Dengan melihat kelompok-kelompok etnis ini diharapkan dalam setiap kegiatan pembangunan di Kabupaten Kaimana dapat dijadikan sebagai latar belakang dan dasar untuk menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan pembangunan yang berkaitan langsung dengan kelompok masyarakat tersebut. Disamping itu di Kabupaten Kaimana terdapat minoritas penduduk yang berasal dari berbagai daerah dalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, misalnya keberadaan suku Bugis, Jawa, Cina dan lain sebagainya. Keberadaan mereka perlu juga menjadi pertimbangan, karena mereka sudah sejak lama bermukim bahkan ada yang lahir dan mati di Kabupaten Kaimana.