Definisi Etika

Seperti hanyanya dengan banyak istilah yang menyangkut konteks ilmiah, istilah “etika” pun berasal dari bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berfikir. Dalam bentuk Jamak ta etha artinya adalah : adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah etika yang oleh filusuf Yunani besar Aristoteles sudah dipakai untuk menunjukkan filasafat moral. Jadi jika kita membatas diri pada asal-usul kata ii maka “etika” berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat istiadat. (K. Bertens, Etika)

Kata etika berasal dari kata Yunani “ethos” yang berarti “sifat” atau “adat”. Jadi pertama-tama etika adalah masalah sifat pribadi yang meliputi apa yang disebut “menjadi orang baik”, tetapi juga merupakan masalah sifat keseluruhan segenap masyarakat yang tepatnya disebut”ethos”-nya. Etika menunjuk pada dua hal yang pertama disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai dan pembenarannya, kedua pokok-pokok permasalahan disiplin ilmu itu sendiri yaitu nilai-nilai hidup kita yang sesungguhnya dan hukum-hukum tingkah laku kita. Kedua hal ini terpadu dalam kenyataan bahwa kita bertingkah laku sesuai dengan hukum-hukum, adat dan harapan-harapan yang kompleks dan terus berubah (Robert C. Solomon, Etika:Suatu Pengantar)

Etika adalah penyelidikan filsafat tentang bidang yang mengenai kewajiban-kewajiban manusia serta tentang yang baik dan yang buruk. Bidang itulah yang kita sebut bidang moral. Maka etika didefinisikan sebagai filsafat tentang bidang moral. Dari semua cabang filsafat lain etika dibedakan oleh karena tidak mempersoalkan keadaan manusia melainkan bagaimana ia harus bertindak (Franz Von Magnis, Etika Umum)

Etika merupakan cabang aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai betul (right) dan salah (wrong) dalam arti susila(moral) dan tidak susila (immoral). Sebagai pokok bahasan yang khusus etika membicarakan sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut susila atau bijak (Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat)

Etika juga disebut filsafat moral, adalah suatu studi atau disiplin yang memperhatikan pertimbangan-pertimbangan mengenai pembenaran dan celaan, pertimbangan-pertimbangan mengenai kebenaran atau kesalahan, kebaikan atau keburukan, kebajikan atau kejahatan, kelayakan atau kebijaksanaan tindakan-tindakan, aturan-aturan, tujuan-tujuan, obyek-obyek, atau keadaan-keadaan. (Dagobert D. Runes, Dictionary of Philosophy)

Etika berasal dari perkataan Yunani “Ethos” berarti kesediaan jiwa akan kesusilaan, atau secara bebas dapat diartikan kumpulan dari peraturan-peraturan kesusilaan, yang tercakup didalamnya kesediaan orang untuk mentaatinya (A.W. Widjaja, Etika Pemetintahan)

Pendekatan dalam Etika

K. Bertens membedakan menjadi 3, yaitu :

Etika Deskriptif, melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas. Etika ini mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau subkultur-subkultur yang tertentu, dalam suatu periode sejarah dan sebgainya. Sifatnya hanya melukiskan saja dan tidak memberikan penilaian.

Etika Normatif, merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang dimana berlangsung diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah moral. Etika ini mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia yang dibentuk atas dasar norma-norma. Sifat dari etika normatif ini adalah preskriptif yaitu tidak melukiskan melainkan menentukan benar tidaknya tingkah laku atau anggapan moral. Etika ini bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggung jawabkan dengan cara rasional dan dapat dipergunakan dalam praktek. Etika normatif dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Etika umum, memandang tema-tema umum yang mempertanyakan apa itu nilai dan apakah kekhususan nilai moral?, bagaimana hubungan antara tanggung jawab manusia dan kebebasannya, dan sebaganya

2. Etika khusus, berusaha menerapkan prinsip-prinsip etis yang umum atas wilayah perilaku manusia yang khusus.

Metaetika, cara lain untuk mempraktekkan etika sebagai ilmu. Metaetika seolah bergerak pada taraf lebih tinggi dari pada perilaku etis, yaitu pada taraf “bahasa etis”. Pada umumnya kalimat-kalimat etika mempunyai ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh kalimat-kalimat lain. Metaetika mengarahkan perhatiannya kepada arti khusus dari bahasa etika. Dan metaetika ini dapat ditempatkan pada filsafat analitis yang menganggap analisis bahasa sebagai tugas penting dari filsafat. Salah satu masalah yang dibicarakan adalah the is/ought question, yaitu jika sesuatu itu merupakan kenyataan (is:faktual), apakah dari situ dapat disimpulkan bahwa sesuatu harus atau boleh dilakukan (ought:normatif).

Macam-Macam Etika

Menurut Algernon D. Blak dalam bukunya Etika dia membedakan menjadi 3, yaitu :

1. Etika Minus, yaitu etika yang sifatnya larangan yang ditandai dengan kata “jangan”. Dengan asumsi apabila orang dapat dicegah berbuat salah maka masyarakat atau bangsa juga akan lebih sentausa dan bahagia.

2. Etika Nol, Mengambil jalan tengah, tidak berbuat kejahatan tetapi tidak pula berbuat kebaikan. Mereka mengartikan “baik” sebagai tidak berbuat jahat. Dengan kata lain orang ini tidak merugikan orang lain tetapi juga tidak mempunyai manfaat pada orang lain.

3. Etika Plus, Belum cukup dengan mengatakan tak pernah berbuat jahat, tetapi juga harus memberikan kebaikan pada orang lain dengan kata lain harus bermanfaat bagi sesamanya.

Aborsi: Suatu Kajian Filosofis

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Aborsi adalah Pengguguran kandungan. Dalam kamus ini diterangkan ada 2 macam tindakah aborsi, yaitu yang bersifat kriminal, yaitu aborsi yang dilakukan dengan sengaja karena suatu alasan dan bertentangan dengan undang-undangan yang berlaku. Dan aborsi yang sifatnya legal, yaitu aborsi yang dilakukan dengan sepengetahuan pihak yang berwenang.

Lain halnya dengan Abortus, yaitu terpencarnya embrio yang tidak mungkin lagi hidup atau bisa dikatakan sebagai keguguran, atau keadaan terhentinya pertumbuhan yang normal. Sedangkan Abortus Provokatus, yaitu keguguran karena kesengajaan.

Jika dilihat dari perkembangan dari sudut dimensi legal, legalitas aborsi telah bertambah luas, yaitu dimulai sejak undang-undang tahun 1800-an, yaitu ketika pengujian kehamilan berupa gerak janin. Undang-undang aborsi yang dibuat pada pertengahan tahun 1800-an mempunyai dua fungsi, ayitu memantapkan kontrol besar terhadap bidang kedokteran yang bertumbuh pesat dan mengontrol jenis-jenis prepparat yang digunakan untuk melakukan aborsi. Pada akhir tahun 1800-an dan permulaan tahun 1900-an terlihat jelas siapa yang melakukan abosi, yang paling banyak adalah kaum imigran, dan undang-undang yang dibuat pada waktu itu karena ada kekhawatiran penduduk imigran akan melebih pendduka asli Amerika. Dan pada pertengahan abad ke 20 muncul gerakan anti-aborsi yang mencerminkan suatu gabungan luas dari dokter-dokter, para pemuka agama, dan penduduk, yang berpendapat bahwa aborsi harus dilarang, kecuali karena alsan medis yang dirumuskan dan diatur dengan jelas, khususnya berkaitan dengan kesehatan si ibu.

Pertentangan tentang aborsi ii sebetulnya menyangkut hal yang disebut persona, yaitu siapa yang merupakan persona dalam kasus aborsi ini. Daniel Callahan membedakan tiga orientasi dalam menentukan kriteria tentang ada tidaknya persona, yaitu :

1. Pandangan Genetik, mendefinisikan persona manusiawi sebagai setiap mahluk yang memiliki kode genetik manusiawi. Orientasi ini menegaskan bahwa status persona sudah ada pada awal kehidupan. Pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya tidak lain adalah pembeberan kode genetik bagi individu khusus ini.

2. Pandangan yang memfokuskan Perkembangan, memfokuskan perkembangan berpendapat tidak saja bahwa adanya kode genetik meyediakan dasar untuk perkembangan lebih lanjut, tapi juga suatu tingkat perkembangan tertentu dan interaksi dengan lingkungan perlu untuk dapat dianggap sebagai persona manusiawi dalam arti sepenuhnya. Potensi genetik seseorang baru terwujud sepenuhnya, jika terjadi interaksi dengan lingkungannya.

3. Pandangan yang menyoroti konsekuensi-konsekuensi sosial dengan cara dramatis mengubah fokus masalahnya. Orientasi ini bertolak dari unsur-unsur biologisserta perkembangan dan berfokus pada apa yang dianggap penting oleh masyarakat untuk adanya persona. Pandangan ini memastikan dulu persona macam apa yang diinginkan oleh masyarakat, alalu merumuskan definisi-definisi yang sesuai dengan keinginan itu. Keinginan masyarakat yang terungkap dalam kebijakan publik dinilai lebih penting daripada aspek biologis dan perkembangan.

Ternyata unsur terppenting dalam debat aborsi selain masalah persona juga pemahaman “kesucian kehidupan”. Frase ini adalah cara singkat untuk menunjukkan nilai kehidupan serta harkat yang melekat padanya. Pemahaman nilai kehidupan ini dapat dipahami sebagai eksternal yaitu kehidupan adalah pemberian Tuhan, atau pemahaman nilai kehidupan sebagai internal sejauh persona mempunyai nilai sendiri.

Paham kesucian hidup ini adalah sederhana dalam perumusannya, namun menjadi kompleks juga jika kita mencoba menjelaskannya, seperti yang diungkapkan oleh Bonaventura yang mengaskan bahwa jejak Tuhan Pencipta membekas pada ciptaan-Nya. Apa yan diciptakan itu mencerminkan Perbuatannya dan karenanya harus dianggap berharga. Jika kita melakukan aborsi maka kita sudah turut campur dalam kehendak Tuhan atau proses penciptaan-Nya.

Teilhard de Chardin mengatakan bahwa kehidupan personal adalah ciptaan yang menjadi sadar akan dirinya sendiri. Ciri-ciri manusiawi yang khas adalah akal budi dan kehendak, mencerminkan apa yang secara tradisional disebut citra ilahi yang masuk ke dalam persona, artinya kemampuan untuk memahami dan memilih itu mencerminkan sifat-sifat ilahi yang diberikan ketika kita diciptakan, dan martabat seperti itu hadir dalam setiap anggota spesies manusia dari saat pertama keberadaannya.

Pendekatan lain mengenai paham “kesucian kehidupan” melihatnya dalam perspektif yang lebih sosial sifatnya, yaitu :

1. Kelangsungan hidup spesies manusia, dimana manusia tidak boleh membahayakan kelestarian rasnya.

2. Kelangsungan garis silsilah famili, dimana keluarga harus bebas dalam menentukan jumlah anaknya.

3. Hormat untuk kehidupan fisik atau badani, punya kepastian bahwa kehidupan dilindungi dan dihormati oleh orang lain.

4. Hormat untuk penentuan diri, dimana otonomi harus dihormati

5. Hormat untuk keutuhan tubuh, dimana setiap manusia harus merasa aman dan pasti bahwa kesejahteraan tubuh dan integrasinya tetap terjamin.

Menurut Thoman A. Shannon, ada tiga pendirian tentang Aborsi, yaitu :

Pendirian Konservatif berpendapat bahwa aborsi tidak pernah boleh dilakukan dalam keadaan apa pun juga, dikarenakan alasan agama dan filosofis diantaranya kesucian kehidupan, larangan untuk memusnahkan kehidupan manusia yang tidak bersalah, dan ketakutan akan implikasi sosial dari kebijakan aborsi yang leberal bagi orang lain yang tidak bisa membela dir seperti orang cacat dan kaum lanjut usia.

Pendirian Liberal memperbolehkan aborsi dalam banyak keadaan yang berbeda. Banyak diantara mereka tetap melihat aborsi sebagai suatu keputusan moral, tapi menerima berbagai kemungkinan untuk membenarkannya secra moral. Diantaranya : menyangkut kualitas si janin, keadaan kesehatan fisik dan mental si wanita, hak wanita atas integritas badani, kesejahteraan keluarga yang sudah ada, pertimbangan karier, dan keluarga berencana.

Pendirian Moderat mencari suatu posisi tengah yang mengakui kemungkinan legitimasi moral bagi beberapa aborsi, tapi tidak pernah tampa turut mengakui penderitaan dan rasa berat hati pada pihak wanita maupun janin. Pendirian ini melihat bahwa janin dan wanita sebagai pemilik hak dan mengakui bahwa upaya untuk memecahkan konflik hak seperti itu mau tidak mau akan menyebabkan penderitaan dan rasa berat hati.

Ada dua pandangan dunia menurut Gregory Baum yang merupakan penyebab perbedaan pendapat dan konflik moral mendalam yang keduanya berbeda secara radikal tentang alam dan seksualitas.

Pertama melihat seksualitas dan reproduksi sebagai bagian dari alam, menurut mereka seksualitas oleh penyelenggaraan Ilahi ditentukan sedemikian rupa, sehingga memiliki fungsi biologis yang secara interinsik terkait dengan reproduksi. Karena alam ditentukan dan diawasi oleh sang Pencipta, maka campur tangan dalam tatanan alamiah itu melalui kontrasepsi artifisial atau aborsi merupakan pelanggaran terhadap tatanan tersebut.

Pandangan kedua, kita harus memahami Penyelenggaraan Tuhan bukan sebagai terungkap dalam suatu tatanan biologis yang statis, melainkan sebagai tindakan penuh murah hati di dalam sejarah manusia yang menganugerahkan manusia kemungkinan memikul tanggung jawab lebih besar atas dirinya sendiri dan lingkungannya.

Kalau kita berani menyimak permasalahan tentang aborsi ini maka ada baiknya kita juga menyimak tentang etiak dalam hubungan dokter dan pasien, karena dipandang perlu mengingat aborsi ini merupakan tindakan pengguguran kandungan yang melibatkan dua persona ini.

Dalam dunia barat – dimana dunia kedokteran kita di Indonesia juga mengarah kesana – hubungan dokter-pasien berdasarkan sumpah Hippokrates seorang dokter yang berasal dari jaman Yunani kuno dan sumpah in dihasilkan dari mazhab Pytagorean yang dikembangkan antara abad 5 sampai abad 1 sebelum masehi. Adapun aturan yang tercantum dalam sumpah ini adalah :

1. Tidak melakukan tindakan yang merugikan pasien.

2. Memperlakukan si sakit menurut tingkat kemampuan dan penilaian dokter yang terbaik

3. Tidak pernah meracuni pasien

4. Tidak pernah melakukan abosri

5. Tidak pernah melakukan pembedahan yang tidak termasuk kometensinya

6. Tidak pernah melukai pasien secara pribadi atau melakukan kesalahan seksual terhadap pasien atau keluarganya

7. Tidak pernah membocorkan rahasia tentang diri pasien.

Dari prinsip ini mengandung perlabagi prinsip yaitu tidak merugikan, berbuat baik, konfidensialitas, teidak mencari diri sendiri, berprilaku luhur, dan kesetiaan pada kepercayaan yang telah diberikan.

Namun pada perkembangannya berkembang suatu hal otonom dari dokter yang hal ini menyebabkan adanya perubahan dalam dunia kedokteran pada umumnya dan prinsip-prinsip etis pada khususnya. Adapun prinsip-prinsip etis utama yang terlibat dalam hubungan dokter-pasien adalah :

Berbuat baik, yaitu tidak melakukan suatu yang merugikan, berbuat baik meskipun berakibat kesusahan bagi sang dokter dan meskipun sang dokter harus berkorban

Keadilan yaitu perlakukan yang sama untuk orang yang sama dalam situasi yang sama, artinya menekankan persamaan dan kebutuhan, bukannya jasa, kekayaan, posisi sosial atau kemampuan untuk membayar.

Otonomi, menghindari paternalisme yang kuat, dan otonomi di dalam batas-batas, yaitu “berbuat baik” dalam kepercayaan dan tanpa batas, kecuali kerugian untuk orang lain.

Mempertanggungjawabkan Suara Hati

Dalam menanggapi aborsi ini sepertinya kita tidak akan lepas dari suara hati yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai alat kita dalam mencapai kebenaran yang hakiki. Dan kita hanya bertindak secara bertanggung jawab apabila kita bertindak sesuai dengan suara hati kita.

Suara hati adalah kesadaran akan kewajiban kita dalam situasi konkrit, jadi yang dilakukan oleh suara hati adalah memberikan sebuah penilaian. Penilaian moral pada hakekatnya merupakan masalah perasaan belaka, dan suatu perasaan memang tidak daat disebut benar atau salah dan oleh karena itu tidak masuk akal kalau dituntut pertanggungjawaban. Jadi sifatnya emotivisme, yaitu mengungkapkan perasaan berdasarkan nilai perorangan atau kelompok masyarakat.

Seperti hanya kasus aborsi seorang siswi SMU yang ditinggal kekasihnya karena kedapatan sudah hamil 4 bulan , bagi yang setuju akan aborsi maka pengguguran kandungan boleh dilakukan demi masa depan anak putri tersebut, dan anak itu berhak menentukan sendiri keinginannya sedangkan yang menolak pengguguran mengemukakan bahwa isi kandungan putri itu bukan sekedar segumpal daging, melainkan seorang manusia kecil yang sebagai manusia berhak agar hidupnya dilindungi. Secara aturan logika maka hal ini hanya berlaku satu yang benar, tidak mungkin argumen itu semuanya benar atau semuanya salah karena mengandung unsur oposisi kontradiktoris.

Melihatanya bahwa penilaian moral bukan sekedar masalah perasaan, melainkan maslaah kebenaran objektif, sehingga penilaian moral harus bersifat rasional dan objektif, karena dengan penilaian yang rasional dan objektif inilah yang bisa disangkal atau dibenarkan penilaiannya.

Menurut Immanuel Kant universalitas kebrlakuan termasuk ciri khas kesadaran moral. Suara hati kita selalu disertai kesadaran, bahwa apa yang diyakini sebagai kewajiban berlaku objektif dan bagi siapa saja yang berada dalam situasi yang sama dengan saya. Jadi yang dimaksud dengan universalitas kesadaran moral adalah kesadaran bahwa seharusnya setiap orang dalam situasi saya sependapat dengan saya. Atau apa yang dalam suara hati saya sadari sebagai suatu kewajiban saya merupakan kewajiban bagi siapa saja yang berada dalam situasi yang sama dengan saya.

Karena suara hati mengklaim dirinya harus rasional dan objektif maka harus dapat dipertanggungjawabkan, harus menunjukkan pendapat saya ini masuk akal.

Pertangungjawaban rasinal suara hati bukan berarti bahwa setiap pandangan moral harus kita buktikan dulu, melainkan kita harus terbuka bagi setiap argumen, sangkalan, pertanyaan dan keragu-raguan dari orang lain atau dari dalam hati kita sendiri, kita harus mencari argumentasi untuk mempertanggungjawabkan pendapat moral kita. Kehabisan argumen belum tentu pendapat moral kita salah.

Dalam kasus aborsi tentunya yang harus menjadi acuan bagi dokter adalah sumpah dokter tersebut, juga hukum yang berlaku dalam masyarakat dimana dia tinggal dan semua itu diadukan termasuk pendapat hati nurani dokter tersebut, dan hasil penggabungan itu merupakan pendapat moral si dokter tersebut.

Dalam mengambil keputusan maka ada dua tahapa yang harus dilalui oleh seseorang yaitu tahapa sebelum keputusan diambil dan saat keputusan itu diambil. Pada saat sebelum keputusan diambil yang harus diperhatikan adalah keterbukaan, yaitu bersedia untuk membiarkan pendapat sendiri dipersoalkan secara kritis dan terbuka dan harus mencari apa yang paling baik untuk diputuskan. Mencari semua informasi, memperhatikan semua pendapat-pendapat utama yang berkenaan dengan masalah yang harus diputuskan baik yang berasala dari orang bijaksana atau ahli bidang maslah itu, baik per\ndapat yang pro maupun yang kontra.

Saat penting kedua adalah saat pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan selalu harus diambil menurut apa yang pada saat itu disadari sebagai kewajiban, jadi menurut suara hati, jadi ada saat keputusan harus diambil kita harus mengikuti suara hati kita. Namun suara hati kita tidak mengandung garansi bahwa dalam pertimbangan-pertimbangan yang mendahului pengambilan keputusan tidak ada yang keliru, namun meskipun keputusan itu keliru atau salah namun orang yang mengambilnya secara moral tidak bersalah, atau dalam bahasa agama ia tidak berdosa, apabila pada saat pengambilan keputusan ia yakin bahwa itulah yang wajib diputuskannya.

Yang dapat dipersalahkan secara moral ialah kalau persiapan keputusan itu kurang teliti, atau kurang terbuka atau terlalu mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain, jadi kesalahan moral terletak pada persiapan keputusan yang kurang dapat dipertanggung jawabkan. Apabila keputusan itu batul-betul diambil sesuai dengan apa yang pada saat itu disadari sebagai kewajiban, keputusan itu sendiri secara moral tidak cacat.

Bagaimana jika suara hati tetap ragu-ragu, maka tindakan yang perlu diambil adalah tindakah yang membutuhkan keberanian. Sikap tegas dan kepribadian yang kuat menc\jadi modal yang penting sebagai pendukung pengambilan keputusan. Seorang pemimpin adalah orang yang dalam situasi kompleks dan membingungkan berani mengambil tanggung jawab, berani bertindak dengan bijaksana dan berani mengambil resiko. Dan ia akan siap untuk mempertanggungjawabkan semua tindakannya sekalipun itu berdamak negatif.

Kalau tetap tidak jelas mana yang lebih baik dan mana yang lebih merugikan, maka kita bebas untuk memilih salah satu. Daripada mengelak dari tanggung jawab dan menyembunyikan diri di belakang keragu-raguan itu.

Kesimpulan

Jadi jelaslah bahwa Aborsi merupakan tindakan yang masih dilematis masih ada yang menyetujui akan tindakan aborsi dan masih ada pula yang mempertentangkan hal ini, yang jelas penyelesaian masalah ini ada ditangan kita semua dengan mengandalkan suara hati kita masing-masing yang tentunya harus dipertanggungjawabkan.

Daftar Pustaka

Bertens ,K., Etika, cet. 4, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed. 2, cet. 8 , Balai Pustaka, Jakarta, 1996

Kattsoff, Louis O., Pengantar Filasafat, cet. 7, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 1996

Maertens, G., M. de Wachter, et.al., Bioetika : Refleksi Atas Masalah Etika Biomedis, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1990

Magnis –Suseno, Franz, Etika Dasar : Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, cet. 10, Kanisius, yogyakarta, 1987

Moekijat, Asas-asas Etika, cet. 1, CV. Mandar Maju, Bandung 1995

Shannon, Thomas A., Pengantar Bioetika, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1995