Spanish Romance: menjelang dingin yang terdingin
December 11th, 2009 @ 2:53 am

Suatu ketika,

Seseorang sedang sendiri dan mendengarkan lagu Spanish Romance

Dia berkata, lagi-lagi aku terjebak dalam mesin ruang waktu yang mengantarku pada gelap senja. Tak lagi mampu aku melihat bayang semu rona wajahnya

Dia yang di sana tak dapat kusentuh dalam seperempat waktuku yang tersisa

Rasanya, ada yang tertinggal di belakang sana dan membuatku tak pernah bisa melupakan dia

Dan rasanya ada sedasa jengkal yang hilang bersama gempar murka dan duka

Dia di sana dan aku di sini berkata bersama memaknai dusta dalam mesin waktu yang berbeda

Dia di sana dan aku di sini pun bergumam bersama melampai lampu-lampu kota dan suara Nat King Cole yang bersecanda dengan dingin

Aku sendiri tak bisa mencandai seseorang yang sedang terperangkap oleh ruang waktunya sendiri di sana

Aku ingin pulang, kataku, katanya juga

Walaupun aku tau…pulang tak harus menetap…pulang pun bisa hanya dengan menatap.

Tapi akankah aku berkuasa atas keinginanku sendiri?

Aku hanya ingin pulang

Dan sejatinya…hanya dengan pulang aku akan berserah dalam ruang waktuku sendiri….bukan ruang waktunya….

 

freiburg, 10 Desember 2009


Comments
iseng
Mein liebe adik: kerinduan saja
November 24th, 2009 @ 4:05 pm

Kerinduan

Ridho Rhoma

Betapa hati rindu pada dirimu, duhai kekasihku
Segeralah kembali pada diriku, duhai kekasihku

Aku juga rindu lincah manja sikapmu
Aku sudah rindu kasih sayang darimu

Semoga kita dapat bertemu lagi seperti dahulu
Supaya kita dapat bercinta lagi seperti dahulu

Gelisah, hati gelisah, sejak kepergianmu
Tak sabar, hati tak sabar, menanti kedatanganmu

Tenangkanlah hatimu, jangan gelisah
Aku tahu kau menanti
Sabarkanlah hatimu, sabarlah sayang
Aku segera kembali

 

 

Pertama kali kudengar lagu ini ketika berada di mobil mein liebe Juang yang belakangan rajin hilir mudik mengantarku kemana-mana; dari belanja, curhat sampai mengurus visa. Masih tersisa beberapa hari untuk meikmati sinetron-sinetron yangpun baru belakangan akrab di mataku. Banyak hal yang akan kurindukan. Keluargaku, teman-temanku, dan tentunya mein lieber adik. Satu hal yang kuingat adalah, aku sangat mencintainya. Ketika sudah rindu, maka hanya ada satu keinginan yaitu berbuat satu untuk tanah airku. Tempatku akan pulang.

 

Kani pernah bertanya kapan Gai akan ‘pulang’?

Kapan Gai akan ‘melompat’?

 

Aku tak bisa melompat karena takutku sendiri. Padahal Kani selalu bilang, Realease, merelakan perasaan lepas dari ketakutan-ketakutan. Jangan pernah tunjukkan rasa takut itu karena itu yang semesta cari darimu..begitu kata Kani

 

Terkadang ketakutanku penuh dengan ancaman terhadap rasa nyaman yang sudah kudapat. Namun rasa itu ada pada ruang waktu dan jarak yang sekarang. Sedangkan Kani mengatakan bahwa ‘kadang perkara waktu dan jarak menimbulkan banyak tanya tak terjawab, prasangka menimbunnya terlalu dalam, sehingga dibutuhkan kasih sayang untuk membersihkannya.

 

Masih sempat aku terhenyak serasa ingin menentukan batas murca di awing-awang. Sekali lagi Kani menyebut bahwa arti kesejatian itu harus dikatakan, karena hanya aku yang dapat menentukan saatnya dan batasnya. Tapi entah kapan aku dapat menentukan sedianya aku dapat berkata.

 

Untuk mein liebe adik

 


Comments
iseng
Geliat Barongsai nan Eksotis: Dari global ke lokal, kembali ke global
November 9th, 2009 @ 5:18 pm

Agni Malagina*    Satu hal yang mencolok terjadi setelah Peristiwa Mei 1998 adalah munculnya Barongsai dan tarian singa dan naga di banyak kota di Indonesia. Mula-mula hanya pada perayaan tahun baru Imlek saja tarian itu diperagakan. Tapi selanjutnya tarian Barongsai (demikian disebut di Indonesia) diperagakan di banyak kesempatan. Misalnya, pada kesempatan pembukaan sebuah mall,  atau peristiwa-peristiwa penting semacam pembukaan pesta olah raga, pawai di jalan protokol, dan lainnya.            Dengan kata lain terjadilah boom tarian Barongsai, suatu hal yang mengagumkan, karena untuk jangka waktu yang amat panjang (30 tahun) tarian ini dilarang sama sekali diperagakan di tempat umum di seluruh wilayah Indonesia. Dengan diterbitkannya Keputusan Presiden No. 6 tahun 2000 oleh Presiden Abudrahman Wahid tarian Barongsai segera hidup lagi dan menjadi atraksi yang memikat di seluruh Indonesia. Saat ini di banyak kota Indonesia telah muncul banyak kelompok penari Liong (Naga) dan Barongsai, yang berciri profesional bahkan kormersil.             Tak dapat diingkari bahwa maraknya tarian Barongsai ini akan menghubungkan Indonesia kepada gejala yang sama yang terjadi di seluruh kota-kota di Asia Tenggara yang didiami oleh etnis Cina. Di Kuala Lumpur misalnya diadakan lomba Barongsai internasional, yang mempertemukan kelompok Barongsai di Asia Tenggara.  Peristiwa ini dengan sendirinya menghubungkan kelompok-kelompok serupa yang ada di Hong Kong, Taiwan, bahkan juga Daratan Cina. Lewat kelompok Barongsai ini Indonesia terhubung dengan simpul-simpul yang mementaskan tarian Barongsai.             Tulisan ini bermaksud menanggapi geliat Barongsai yang sedemikian menggejala di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir. Mengapa bisa terjadi demikian? Apakah ini merupakan ekspresi kebebasan yang dialami oleh etnis Cina akibat Reformasi 1998? Ataukah ini merupakan kegiatan yang setelah 10 tahun sebenarnya sudah meluas, tidak ada  terbatas pada etnis Cina, tapi telah menjadi ekspresi kebudayaan orang Indonesia pada umumnya? Makalah ini memaparkan tentang barongsai, tidak termasuk tari liong didalamnya.             Pada bagian pertama dari makalah ini menyajikan asal usul tarian singa yang lebih sering kita kenal sebagai Barongsai. Bagian ini akan menguraikan sejarah tari singa di negeri asalnya, Cina. Pada bagian kedua diuraikan perkembangan Barongsai di Indonesia dengan menggunakan data wawancara yang dikumpulkan pada bulan Mei 2009 karena sumber tertulis masih sedikit yang dapat diperoleh.[1] Sementara pada bagian ketiga akan diuraikan bagaimana wacana Barongsai yang menggeliat cantik erotik di Indonesia bersinggungan dengan wacana kontestasi politik dan etnisitas yang berkembang di dunia.   1.      Pementasan Barongsai  ”Barongsai” yang dikenal dengan舞狮wǔshī merupakan tari tradisional rakyat Cina yang sudah ada sejak abad 3 SM. Hal ini berhubungan dengan kisah mitologi yang berkembang pada masa Dinasti Tang (618 – 906). Suatu ketika salah seorang raja bermimpi bertemu dengan mahluk yang menyelamatkanya. Keesokan hari sang raja bertanya kepada salah seorang menterinya dan menceritakan bentuk mahluk yang hadir dalam mimpinya. Menteri mangatakan bahwa mahluk itu adalah singa yang datang dari Barat (India). Raja kemudian memerintahkan agar menteri membuat replika mahluk yang menyelamatkan hidupnya. Sejak saat itu singa menjadi simbol keberuntungan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Walaupun singa bukan binatang asli Cina, kreasi bentuknya digunakan sebagai hadiah bagi kaisar dari generasi ke generasi. Ragam hias bentuk singa pun tidak terlau banyak muncul dalam ragam hias Cina tradisional karena ragam ini diperkenalkan oleh pengaruh Budhisme yang masuk ke Cina sebagai simbol pembela kebenaran dan penjaga bangunan suci. Biasanya Barongsai dipentaskan pada kesempatan pesta atau perayaan tradisional Cina, misalnya Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh. Tarian ini biasanya ditampilkan sebagai sebuah tarian yang diiringi oleh tabuhan kendang dan genderang, juga simbal, alat-alat musik khas Cina. Suasana amat riuh dan sekaligus mengairahkan. Barongsai berbentuk seekor singa, yang berkepala besar sekali, dengan mulut menganga, gigi lancip dan taring besar serta mata yang melotot keluar, kelihatan menyeramkan. Tapi wajah dan kepala singa dihias indah, sehingga malah berkesan lucu. Tubuh singa bersisik-sisik, dan pada bagian belakang terdapat ekor yang kecil. Satu Barongsai dimainkan oleh dua orang, bagian kepala dan bagian badan. Dua orang ini memang harus sangat kompak sehingga Barongsai benar-benar kelihatan menari, dengan indah dan lincah. Tidak jarang Barongsai dipentaskan dalam gerak akrobatik yang memukau sekaligus mendebarkan. Inilah yang menambah  daya tarik Barongsai. Selain diiringi genderang dan simbal, Barongsai  juga sering dipentaskan dengan iringan letupan petasan, yang memekakkan telinga. Petasan dipercayai dapat menakut-nakuti serta menghalau roh jahat, dan sekaligus membawa keberuntungan dan kemakmuran.

Untuk membuat tarian semakin atraktif, ditambahkan juga permainan bola (要狮子y1osh9z-) yang dimainkan oleh dua orang (laki-laki). Bola-bola ini dihias dengan warna-warna mencolok. Bola ini sering dimaknai sebagai matahari, tapi ada pula sebagai telur, simbol kekuatan alam. Konon singa barongsai ini dapat menghasilkan susu dari telapak kakinya. Maka penonton meletakkan bola dalam aneka macam corak yang dapat digunakan oleh singa untuk bermain-main dan menghasilkan susu untuk mereka. Dalam ragam hias, yang biasanya dalam bentuk arca, singa jantan digambarkan sedang membawa bola, sedangkan singa betina ditemani singa kecil atau kerincingan alat musik. Singa ini pun muncul menjadi ragam hias utama bak dua naga yang bertarung berebut mutiara kehidupan. [2]

 Sebelum pementasan diperlukan persiapan-persiapan khusus. Wawancara dengan kelompok  Barongsai dari klenteng Ho Tek Ceng Sin, Bogor, mengungkapkan bagaimana persiapan-persiapan dijalankan, ketika perayaan Imlek akan dilaksanakan. Para pemainnya harus berpuasa tidak makan daging, hanya makan sayuran, selama dua minggu sebelum upacara berlangsung untuk menyucikan diri dari nafsu duniawi. Mereka pun harus melakukan beberapa ’ritual’ seperti membersihkan barongsai, kemudian meletakkannya di atas altar yang sudah tersedia sesaji buah jeruk atau apel yang berjumlah ganjil simbol kesejahteraan. Ritual ini dilakukan agar upacara dan pertunjukkan berjalan lancar. Sebelum upacara para pemain bersembahyang terlebih dahulu. Kemudian sebuah kertas mantra yang ditulis dengan ’darah’ dari upacara potong lidah pun ditempelkan pada kepala sang barongsai oleh sang saman yang sudah ’kerasukan’ roh leluhur. Setelah proses ini selesai, barongsai pun beraksi hampir selama 30 menit. Waktu 30 menit adalah waktu yang cukup lama untuk memainkan barongsai tanpa berganti pemain. Beberapa di antara pemain ini mengatakan bahwa sangat sulit mempertahankan stamina kekuatan, kecepatan, kelenturan dan ekpresi Barongsai pada kesempatan pertunjukan di luar klenteng agar tetap menarik di hadapan penontonnya. Namun tidak demikian jika mereka melakukan pertunjukan di klenteng. Odhi yang menganut agama Budha mengatakan bahwa bermain selama 30 menit tidak akan terasa lelah, bahkan ketika ada rasa lelah datang, tiba-tiba mereka sekan-akan memperoleh kekuatan baru untuk bermain sampai akhir. Para pemain ini pun mengaku merasakan dorongan kekuatan tersebut datang tiba-tiba dan mereka percaya bahwa kekuatan tersebut datang dari berkah para leluhur yang ’hadir’.Lain lagi jika barongsai dimainkan di lingkungan para praktisi kungfu. Sebuah sekolah kungfu belum disebut sekolah kungfu apabila belum memiliki tim Barongsai. Dalam membawakan tarian ini diperlukan kekuatan, stamina, kelenturan, keseimbangan dan kemampuan untuk memvisualisasikan serta memunculkan gerakan dan ekspresi dramatik. Pemain Barongsai berjumlah dua orang yang masing-masing memegang bagian kepala dan menjadi ekor. Kepala Barongsai sangat berat – biasanya dibebani logam, memerlukan bahu dan lengan yang kuat. Sedangkan pemain di bagian ekor lebih memerlukan kekuatan di pinggang dan kaki serta kecepatan ketepatan mengikuti gerak kepala Barongsai.[3] Apabila Anda penggemar Jet Li dan sempat menyaksikan film kungfu berjudul Once Upon Time in China (1991) dengan tokoh utamanya adalah Wong Fei Hung, Anda akan menyeksikan barongsai digunakan sebagai alat berkomunikasi adu kekuatan antar perkumpulan kungfu se-Cina yang sedang giat-giatnya mengobarkan semangat revolusi melawan Dinasti Qing. Kemudian muncullah tokoh legendaris Wong Fei Hung sebagai master barongsai. Pada saat itu barongsai memiliki fungsi sebagai wacana kekuasaan yang dimunculkan melalui representasi, simbol kekuatan dan ritus resistensi terhadap kekuasaan hegemoni. Selama beberapa abad, barongsai diturunkan dari guru di sekolah kungfu kepada muridnya. Seiring dengan diaspora etnis Cina, barongsai pun kemudian menyebar bersama diaspora etnis Cina ke segala penjuru dunia.  2.      Barongsai di Indonesia Kata “barongsai” tidak dikenal dalam bahasa asal permainan ini. Kiranya ada pergeseran dalam hal pengucapan. Christin Bachrun dalam tulisannya “Barongsai: singa atau naga?”[4] menyebutkan bahwa kata ‘Barongsai’ bisa sepenuhnya berasal dari Bahasa Hokkian ‘bbu lang say’ (舞弄狮w&l$ngsh9) dilafalkan ‘bulangsai’ oleh kelompok masyarakat berbahasa Hokkian dan terdengar ‘barongsai’ oleh penduduk lokal.[5]            Sejarah masuknya barongsai ke Indonesia belum dapat diketahui secara pasti. Kemungkinan barongsai muncul dan berkembang di Indonesia pada masa keemasan ketika warga Cina masuk dalam kategori penduduk Hindia Belanda golongan Timur Asing (Vreemde Oosterlingen) [6]. Pada masa kolonial, para imigran Cina yang datang ke Indonesia sudah cukup mapan untuk mengadakan acara pertunjukan barongsai. Pada masa itu barongsai menjadi bagian dari kegiatan di klenteng-klenteng yang tersebar di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Klenteng Dhanagun (Bogor), misalnya, didirikan pada abad ke-18 dan  memiliki kelompok pemain barongsai. [7] Saat itu pertunjukkan Barongsai masih erat kaitannya dengan tradisi dan upacara keagamaan. Tradisi Barongsai masuk ke Indonesia diperkirakan datang bersama para imigran Cina yang berasal dari Provinsi Guangdong, sebagai terlihat dari bentuk barongsai yang ada di Indonesia.[8]             Di Indonesia ditemukan varian lain dari barongsai, yaitu Kielin. Kielin (麒麟q0l0nyang dimiliki oleh kelompok silat PGB[9] ”Bangau Putih” ini merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia. Oleh karenanya Kielin satu-satunya ini sangat dihormati oleh semua Barongsai yang ada di Indonesia. Bersama tiga binatang lain yaitu burung Hong, Naga, dan Harimau, Kielin dianggap sebagai binatang suci. Tarian Kielin ini dibuat dengan karakter Kielin binatang tunggangan para dewa dalam tradisi Cina klasik. Kielin menjadi istimewa karena karakteristik tarian yang jauh dari kesan dinamis, walaupun tetap atraktif.[10] Memasuki masa Republik Indonesia, Barongsai tetap dapat dipentaskan. Barongsai dimainkan pada acara dan festival etnis Cina, seperti Tahun Baru Imlek. Klenteng-klenteng biasanya menjadi pusat kelompok Barongsai. Salah satunya adalah  Bio Hok Tek Ceng Sin  di Bogor, yang sudah berdiri sejak tahun 1950-an. Dalam jangka waktu 30 tahun lebih barongsai lenyap dari wilayah publik di Indonesia. Kalau toh dimainkan, hal itu terjadi secara sembunyi-sembunyi. [11]            Suharto jatuh pada Mei 1998, dan sebelumnya pecah Peristiwa Mei 1998 yang terdiri dari penjarahan dan pembakaran toko-toko milik etnis Cina. Dua peristiwa ini secara kebetulan membuka ruang kebebasan etnis Cina. Kemarahan dan frustrasi akibat Peristiwa Mei itu menemukan penyalurannya begitu pintu “reformasi” dibuka setelah Suharto dilengserkan. Bersama dengan kelompok-kelompok lain, kelompok  etnis Cina juga menuntut diakhirnya otoritarianisme di Indonesia. Pada kesempatan yang sama etnis Cina mengambil langkah membebaskan diri dari kungkungan peraturan yang diskriminatif dari masa Suharto.             Barongsai muncul sebagai bentuk ekspresi kebebasan ini. Tanpa mengindahkan peraturan maupun perundangan yang masih berlaku, permainan Barongsai dimainkan lagi di beberapa tempat. Tapi baru pada tahun 2000 Barongsai secara resmi boleh dipentaskan, yaitu sejak Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) mencabut Keputusan Presiden RI no.14/1967  dengan mengeluarkan Keputusan Presiden no. 6 tahun 2000.             Barongsai dari klenteng Bio Ho Tek Ceng Sin, misalnya,  resmi aktif memulai latihan pertamanya pada tahun 2000. Kelompok yang memiliki anggota senior berusia sekitar 70-an itu pun kembali menggelar latihan tari barongsai dan liong di area klenteng. Tidak ada lagi agenda latihan sembunyi-sembunyi. Mereka generasi tua pun mengajari tehnik dasar bermain Barongsai kepada penerusnya yang tidak menguasai ilmu bela diri seperti mereka. Pada awal latihan, pesertanya adalah para pemain muda yang pernah berlatih era tahun 80 dan 90-an, berasal dari etnis Cina. Ditambah beberapa pemain baru yang terbilang masih ’hijau’ dan masih berasal dari kalangan etnis Cina.   3.      Popularitas Barongsai  Saat ini, menjadi pemain Barongsai tidak lagi memerlukan kemampuan bela diri berlatar belakang kungfu. Pemain hanya perlu berlatih kuda-kuda kokoh dan gaya utama. Latihan rutin merupakan kunci menguasai tari Barongsai dengan cepat, seperti Redi dan Robin yang mampu manguasai Barongsai dalam waktu enam bulan. Odhi pun mengakui hal yang sama, ia tidak membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk mengusai teknik dasar dan puluhan variasi gaya yang dihasilkan dari proses kreatif kerja tim antara ’kepala’ dan ’ekor’. Kedua kelompok ini mengaku bermain di hadapan publik tidak pernah lebih dari 15 menit. Konsentrasi dan teknik memunculkan ekpresi Barongsai yang lucu adalah tantangan utama bagi setiap kelompok Barongsai. Semakin lucu ekspresi dan tingkah laku sang ’Barongsai’ semakin banyak akan mendapat perhatian penonton dan tentu akan mendapatkan angpao.             Jika barongsai pada awalnya dimainkan oleh orang-orang dari kelompok etnis Cina, yang beragama Budha, kini dipentaskan oleh mereka yang beragama non-Budha. Rudi (22 tahun), Robin (16 tahun) dan Regi (13 tahun), keduanya dari etnis Cina tapi beragama Katolik. Keduanya menjadi anggota kesenian barongsai (Bogor) sejak tahun 2005. Mereka memilih ikut berlatih barongsai karena senang melihat barongsai dengan ekspresi lucu mampu bergerak cepat dan berloncatan tanpa terjatuh. Keduanya ikut berlatih pada sore hari, dua kali dalam seminggu. Rudi (22 tahun) mengatakan bahwa kedua anak tersebut merupakan pemain pemuda dengan gaya, kekuatan, dan kelenturan yang tak kalah dengan seniornya. Bahkan keduanya mampu mengembangan tehnik pertunjukan yang kreatif. Permainan barongsai juga menarik kelompok dari etnis lain non-Cina. Kini ditemukan banyak kelompok pemain barongsai yang beranggotakan pemuda dari etnis Jawa atau Sunda. Kelompok Kesenian Barongsai (KKB) di Bogor, misalnya, terdiri dari pemain etnis Cina dan juga kelompok suku lain. Bahkan jumlah pemuda dari suku Jawa dan Sunda lebih banyak. Perkembangan semakin jauh dengan adanya kelompok barongsai di Bogor yang didirikan oleh etnis Jawa atau Sunda dengan tujuan untuk mengembangkan barongsai sebagai salah satu cabang olah raga. Misalnya, Yungyung Wiharja mendirikan kelompok Barongsai Bogor tahun 2000 untuk mengembangkan olah raga. Barongsai sebagai kegiatan olah raga saat ini memang telah semakin diterima.       Pak Uu, Sunda dan beragama Islam, sendiri memilih bergabung dengan Kelompok Kesenian Barongsai Bogor, karena ingin melatih fisik dan berolah raga rutin. Bagi mereka, menjadi pemain barongsai (dan juga liong) tidak dijadikan sebagai sumber mata pencaharian, hanya sebagai kesenangan dan olah raga. Mereka pun mengaku tidak pernah terlibat upacara ritual apapun selama menjadi pemain barongsai. Tim mereka lebih sering mengadakan pertunjukan atas undangan di pelbagai acara seperti pembukaan kegiatan, festival kesenian, dan  acara keluarga.Barongsai tidak bisa tidak masuk mal-mal dan wilayah publik yang luas. Pada acara pembukaan mal atau restoran baru, misalnya, barongsai ditampilkan. Barongsai juga dimainkan pada acara peresmian gedung baru, kantor baru, restoran baru, juga bahkan rumah baru. Pementasan biasanya dipadati oleh penonton. Pementasan Barongsai, seperti dikatakan oleh kelompok barongsai Bio Ho Tek Ceng Sin juga dipakai untuk atraksi selama pemilihan umum. Secara perlahan pementasan barongsai memang mengalami pergeseran. Kecenderungan terbaru,  barongsai muncul sebagai komoditas ’jajanan’ kaki lima yang permainannya muncul tanpa diundang dan sering disebut Barongsai ’ngamen’. Praktek komersialisasi barongsai di mal-mal ditiru oleh  ”Barongsai mini” untuk menjajakan dirinya dengan mengetuk rumah-rumah dan toko-toko untuk memperoleh angpao ala kadarnya. Gairah terhadap Barongsai ini kemudian ditangkap oleh mereka yang berjiwa wiraswasta (entrepreneur), tentu saja. Tak jarang kelompok Barongsai dibentuk untuk memenuhi permintaan pasar. Kelompok-kelompok barongsai ini terdiri dari cukup banyak orang, dan berkembang secara profesional. Barongsai kini berwarna-warni mewah, bisa memainkan adegan-adegan yang mendebarkan. Para pemainnya – baik yang menarikan Barongsai maupun yang mengiringi dengan musik – semuanya nampak terlatih dengan baik.  Tidak jarang lima atau enam barongsai dimainkan sekaligus, membuat suasana benar-benar semarak.  Dengan demikian permainan Barongsai telah memasuki dunia komersial. Tapi tidak semua kelompok Barongsai bertujuan komersial. Kelompok Bio Ho Tek Ceng Sin dan kelompok Barongsai Bogor, misalnya, mengatakan bahwa mereka tidak memasang tarif tertentu untuk pementasan pertunjukan, kecuali biaya transportasi dan konsumsi para pemain yang disediakan oleh pengundang. Apabila yang mengundang dari golongan masyarakat berada, barulah mereka mengenakan tarif tertentu. Tak jarang kelompok Bio Ho Tek Ceng Sin mengadakan pertunjukan sosial tanpa dibayar.  4.      Perkembangan barongsai di Indonesia 

Belum ada penelitian luas dan intensif tentang perkembangan Barongsai di Indonesia. Namun dapat dipastikan bahwa jumlah perkumpulan liong barongsai saat ini mampu menembus angka 100 grup yang tersebar di seluruh nusantara. Pada tahun 2000 pun terbentuk beberapa persatuan perkumpulan barongsai. Di Bogor, misalnya,  terbentuk Persatuan Liong Barongsai Bogor (PLBB) yang memiliki misi pelestarian budaya. Bogor menjadi salah satu kota dengan pekembangan Barongsai terpadat di antara beberapa daerah lainnya seperti Jakarta, Sukabumi, Medan, Pontianak, dan Singkawang.  Beberapa kelompok yang terkenal, misalnya kelompok barongsai PSMTI-Tarakan, yang merebut  juara kompetisi internasional.

Kong Ha Hong di Jakarta, Adi Pusaka di Surakarta, Long Ching di Bandung, Singa Mas di Magelang, Satya Dharma-Kudus, Adi Pusaka-Kartasura, Red Dragon-Jakarta, Genta Suci-Ambarawa. Semua kelompok tersebut adalah para pemenang Persobarin National Lion Dance Championship 2007. Mereka tidak hanya memainkan barongsai tunggal tetapi juga memainkan nomor tonggak.  Pada nomor lantai juga terkenal kelompok Dharma Cinta Kasih di Tangerang, TITD Liong Hak Bio di Magelang, Suaka Insan di Jakarta, Lima Naga diSurabaya, Maha Virya di Tanggerang, dan Rajawali Sakti di Tegal.[12] Mereka itu semua memiliki induk organisasinya bernana PERSOBARIN yang berada di bawah KONI.  Pertama kali ia berdiri sebagai anak cabang KONI dengan nama Pernabi (Persatuan Tarian Naga Barongsai Seluruh Indonesia). Pernabi dijadikan juru bicara perkumpulan barongsai di Indonesia untuk tampil di ajang perlombaan tari naga dan barongsai di dunia. Kiprah Pernabi tidaklah lama. Kemudian muncul Persatuan Kungfu dan Lion Seluruh Indonesia (PKLBSI) pada tahun 2006. Tahun 2006 dan 2007 perkumpulan ini mengikuti banyak kegiatan festival dan perlombaan Barongsai baik tingkat nasional maupun internasional. Bahkan tahun 2006, PKLBSI menjadi penyelenggara pertandingan dunia di Jakarta, disusul pada tahun 2007 di Surabaya. Sementera PKLBSI berjaya di kancah internasional, Persobarin tetap menjadi wadah alternatif perkumpulan seni Barongsai di beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Utara. Kelompok Kesenian Barongsai Bogor mengatakan pernah mengikuti kejuaraan Barongsai nasional yang diadakan oleh PKLBSI.            Sejak tahun 2008, kegiatan rutin PKLBSI dialihkan kepada Persobarin di bawah kepemimpinan Dahlan Iskan dengan Sekjen Budi Santoso Tanuwibowo. Barongsai terus berkembang dan semakin digandrungi banyak orang baik sebagai tontonan, hiburan maupun sebagai saran olah raga. Sampai pada suatu ketika, perkumpulan Barongsai di bawah KONI ini mengusulkan untuk menjadikan Barongsai sebagai anak cabang dalam KONI, bukan lagi menjadi bagian dari cabang Wushu. Saat ini Barongsai di seluruh dunia berada dalam naungan federasi internasional yang lebih dikenal dengan IDLDF (Internasional Dragon and Lion Dance Federation)[13] yang berpusat di Beijing, Cina. Dalam beberapa pemberitaan IDLDF ini tengah giat memperjuangkan agar cabang tari liong dan tari singa masuk dalam salah satu cabang lomba Olimpiade.Dengan alasan Barongsai sudah menjadi olah raga kelas dunia dengan adanya ILDF, maka Persobarin menjadi penggerak untuk mewujudkan independensi Barongsai pada tingkat organisasi KONI seiring perjuangan ILDF untuk memasukkan Barongsai dalam salah satu cabang Olimpiade. Jika ILDF berhasil maka Barongsai yang menjadi ciri budaya lokal Cina akan menjadi budaya global yang melewati batas geografis sekaligus batas imajiner budaya etnis Cina.   5.      Barongsai sebagai ekspresi kebudayaan Apabila pada awal kemunculannya pada tahun 1998, Barongsai menjadi simbol kebebasan berekpresi dalam kerangka bereligi masyarakat etnis Cina. Perkembangan selanjutnya Barongsai tidak hanya sebagai pengisi acara pernikahan, pesta ulang tahun, perayaan hari besar tetapi juga menjadi sarana kesenian, olah raga, dan praktek komersialisasi. Semua perkembangan ini mendorong orang untuk bertanya apakah Barongsai masih menjadi milik etnis Cina? Ataukah ia telah menjadi milik bangsa Indonesia? Pada awal lahirnya pada 1998, Barongsai masih menjadi milik etnis Cina, dan menjadi ekspresi kebebasan etnis Cina. Setelah terkungkung selama 30 tahun, mereka mementaskan kembali Barongsai tidak hanya di kelenteng-kelenteng, tetapi juga di tempat-tempat umum. Berdirilah kelompok-kelompok Barongsai di berbagai kota dan mereka serentak dengan senang hati – tanpa dibayar – mementaskan Barongsai. Pada kesempatan itu mau dinyatakan bahwa etnis Cina telah bebas dari kungkungan rezim yang lalim. Gairah untuk menonton maupun untuk memainkan Barongsai mengubah status Barongsai. Sekarang tidak hanya orang dari etnis Cina yang mementaskan Barongsai, tetapi juga orang-orang dari etnis-etnis lain. Bahkan ada kelompok-kelompok Barongsai yang didirikan oleh etnis non-Cina. Hal ini terjadi untuk memenuhi kebutuhan akan pertunjunkan dan pementasan yang sungguh menggairahkan, tetapi sekaligus juga untuk menanggapi sebuah permintaan (demand)  yang nyata. Tidak mungkin mengandalkan kelompok-kelompok yang didirikan oleh etnis Cina saja karena permintaan makin banyak, terutama untuk kebutuhan-kebutuhan yang bersifat non-religius (peresmian mal baru, peresmian toko, keperluan pesta, dsb.). Lagipula permainan Barongsai tidaklah terlalu sulit sehingga hanya kelompok etnis tertentu saja yang bisa memainkan. Namun, pada saat yang bersamaan nampak jelas juga bahwa permainan Barongsai tetap tidak dapat dilepaskan dari lingkungan etnis Cina. Barongsai tidak mungkin dimainkan jika tidak berhubungan dengan pesta atau festival etnis Cina, misalnya pada waktu hari Natal atau hari Idul Fitri. Barongsai juga biasanya dipentaskan di mal-mal atau toko yang berada di lingkungan orang Cina, atau dapat menarik kehadiran orang Cina. Di kota-kota besar tempat ditemukan banyak orang Cina (Jakarta, Medan, Semarang, Surabaya, dsb.) pementasan Barongsai menjadi sebuah atraksi yang menarik. Tidak demikian halnya di tempat yang sama sekali tidak ada orang etnis Cina. Oleh sebab itu, tarian Barongsai sebenarnya masih terikat dengan identitas etnis Cina. Pertama, Barongsai tetap merupakan alat ekspersi etnis Cina. Ia telah menjadi ekspresi kebebasan dan representasi identitas etnis Cina yang pernah mengalami diskriminasi. Kedua, Barongsai merupakan juga upaya untuk mempertahankan tradisi leluhur kaum etnis Cina. Dengan memainkan Barongsai identitas mereka ditegaskan, mungkin diperkuat.  Ketiga, akibat dari dua butir yang di atas, Barongsai tidak dapat bersentuhan dengan kesenian lokal Indonesia karena tidak terjadi proses seperti dalam ’melting pot’. Sampai pada titik ini, Barongsai tidak dapat disejajarkan dengan budaya Cina peranakan dengan tinggalanya seperti sastra melayu tionghoa, kebaya encim, motif batik pesisir utara Jawa, serta masakan Baba dan Nyonya. Barongsai tetap berwajah Cina, dengan iringan musik khas Cina. Akan tetapi, ikatan dengan budaya Cina bersifat ambigu ketika tarian barongsai dibawa ke pentas dan kontes internasional.  Dalam kontes-kontes yang telah diadakan di beberapa negara di Asia Timur, tarian barongsai dari berbagai negara berlaga atas nama negara asal mereka. Ada ”barongsai Malaysia,” ”barongsai Singapura,” ”barongsai Thailand,” dan tentu saja ada ”Barongsai Indonesia.” Kemenangan kelompok barongsai dari Indonesia tetaplah mewakili Indonesia, bukan mewakili Cina.  Dengan demikian identitas Indonesia melekat pada kelompok penari barongsai tersebut. Proses konstruksi identitas  telah terjadi pada tataran yang lain sama sekali. Dengan ini sebenarnya barongsai telah meninggalkan “tanah leluhurnya.” Pertama, dia menjadi ikon global, barangkali setara dengan ikon-ikon bisnis Cina, seperti Lenovo, Huawei, Sinopec, dst. Tapi, barongsai menjadi milik dunia ketika barongsai masuk menjadi kegiatan olahraga di tingkat internasional, tidak ada bedanya dari wushu, karate, taekwondo, dsb.  Barongsai kini telah memiliki status yang benar-benar Cina dan sekaligus juga global.  Dalam dunia yang ditandai dengan “hibriditas” akibat globalisasi yang amat intensif, apapun, termasuk barongsai, menjadi milik komunitas global. Proses konstruksi yang mula-mula terbatas pada satu kelompok sosial, kini terjadi pada tingkat nasional, bahkan juga pada tingkat global.[14]   Penutup Barongsai sebagai sebuah tarian yang dimiliki oleh salah satu kantung peradaban dunia kuno di Asia, merupakan hasil proses kreatif manusia, yang mencakup, religi, tradisi, etika, moralitas, bahkan budaya politik. Dalam pelbagai versinya, Barongsai menyebar ke pelbagai wilayah, mengikuti titik-titik daerah persebaran etnis Cina di seluruh dunia sebagai bagian dari simbol-simbol budaya orang etnis Cina. Di Indonesia, seperti diuraikan di atas, tarian barongsai (dan juga tarian liong) juga terlekat dengan budaya Cina. Memang barongsai telah keluar dari lingkungan masyarakat Cina, tapi barongsai nampak belum terserap seluruhnya dalam budaya Indonesia seperti makanan ataupun pakaian Cina.  Tapi berbeda dari makanan dan pakaian, barongsai telah menjadi titik simpul yang menghubungkan Indonesia dengan negara-negara lain di kawasan Asia Timur karena berbagai kontes tarian barongsai. Dalam hal ini barongsai kemudian memperoleh identitas Indonesia! Barongsai dengan lokalisme Indonesianya. ”Barongsai Indonesia,” jika kelompok barongsai dari Indonesia memenangkan hadiah.  Barongsai, dengan demikian memperoleh dua identitas sekaligus. Dia adalah ekspresi kebudayaan Cina, tetapi sekaligus juga merepresentasikan Indonesia. Hal yang sama dapat dikatakan tentang barongsai-barongsai lain yang tumbuh di banyak negara di Asia timur. Langkah geliat Barongsai dimanapun dia mengedipkan mata lentiknya, memainkan kekuatan otot kakinya, mengibaskan ekor mungilnya akan membawanya pada bentuk jejaring internasional yang akan menjadi ikon global Cina.

 Perkembangan ini sangat menguntungkan bagi kelompok etnis Cina di Indonesia. Mereka dapat memakai barongsai sebagai ekspresi kebudayaan mereka, tetapi sekaligus juga sebagai sarana untuk ambil bagian dalam sebuah ekspresi global. Di satu pihak kelompok etnis Cina masih bisa mendaku (claim)  bahwa barongsai adalah “miliknya,” di lain pihak mereka juga bisa melepaskannya sebagai milik sebuah negara (antara lain Indonesia!),  bahkan milik komunitas global.

Dengan demikian barongsai sebenarnya telah mengalami proses konstruksi berlapis-lapis yang sangat rumit. Sulit untuk menyaring dan memilah-milah proses yang terjadi secara spontan, tanpa terencana. Mula-mula dia datang ke Indonesia dari Cina, dan ditangkap serta ditanam di Indonesia, tapi kini telah kembali menjadi fenomen global.     

  Referensi:Bachrun, Christine. 2000. Barongsai: singa atau naga?, Lembaran Berita KATA, Vol. 3 No.1/April, hlm.Coppel, Charles A.  1994. Tionghoa Indonesia Dalam Krisis. Pustaka Sinar Harapan.

Coppel, Charles A. 2008. Anti Chinese Violence in Indonesia After Soeharto. Suryadinata, Leo, ed. Ethnic Chinese in Contemporary Indonesia. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. Hlm. 124.

Lombard, Denys. 2005. Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia.

Williams, CAS. 1999. Chinese Symbolisme and Art Motifs. (Singapore: Berkeley Books, 1999)http://www.chinaculture.org/gb/en_chinaway/2004-01/21/content_45720.htm (diakses pada tanggal 14 April 2009)http://dragonlion.sport.org.cn/home/xhgg/2009-02/235079.html (diakses pada tanggal 3 September 2009, pukul 09.30)  Wawancara dengan beberapa narasumber yaitu (1) Odhi, 20 tahun, dari kelompok Bio Hok Tek Ceng Sin Jakarta Selatan, (2) Pak Uu, 40 tahun, dari Grup Kesenian Barongsai, Bogor, (3) Bapak Karta Lugina, 80 tahun,  sesepuh PGB, (4) Bapak Arifin Himawan, Ketua PLBB (Persatuan Liong Barongsai Bogor), dan beberapa pemain Barongsai. Wawancara diadakan pada bulan April-Mei 2009.     


* Penulis berterima kasih kepada narasumber yang meluangkan waktu untuk wawancara,  dan juga kepada editor buku. I. Wibowo atas saran-sarannya untuk memperbaiki makalah ini.

[1] Wawancara ini melibatkan beberapa narasumber yaitu (1) Odhi, 20 tahun, dari kelompok Bio Hok Tek Ceng Sin Jakarta Selatan, (2) Pak Uu, 40 tahun, dari Grup Kesenian Barongsai, Bogor, (3) Bapak Karta Lugina, 80 tahun,  sesepuh PGB, (4) Bapak Arifin Himawan, Ketua PLBB (Persatuan Liong Barongsai Bogor), dan beberapa pemain Barongsai. Wawancara diadakan pada bulan April-Mei 2009.

[2] Williams, CAS. Chinese Symbolism and Art Motifs. (Singapore: Berkeley Books, 1999), hlm. 254.

[3] http://www.chinaculture.org/gb/en_chinaway/2004-01/21/content_45720.htm (diakses pada tanggal 14 April 2009)

[4] Christin Bachrun, “ Barongsai: singa atau naga?”  dlm. Lembaran Berita KATA, Vol. 3 No.1/April 2000, hlm. 11 – 12.

[5] Dalam hal ini, penulis juga mengamati bahwa Bali memiliki tarian yang dinamakan Tari Barong dengan singa sebagai imaji fisik dari kepala barong. Jika diamati, binatang ’barongsai’ Cina datang dari India karena harimau/singa bukan hewan khas Cina. Begitu pula barong yang ada di Bali merupakan tarian masyarakat Hindu di Bali. Agaknya kata dengan bunyi ’Bulangsai’ dalam Bahasa Hokkian agak jauh jika kemudian dibunyikan dengan Barongsai oleh penduduk lokal karena bunyi vokal berbeda. Penulis menduga, kata barong dalam barongsai mengacu pada persamaan bentuk kepala (tarian yang menggunakan topeng) yang lebih dikenal oleh penduduk lokal. Agaknya penelitian asal kata Barongsai perlu dilanjutkan. Denys Lombard dalam catatan kaki buku Nusa Jawa Silang Budaya (jilid 2) menyebutkan bahwa Barongsay adalah gabungan dari Bahasa Nusantara (yang masih dikenal di Bali) dan kata say dari shi ’singa’.

[6] Coppel, 1994, hlm.23

[7] Wawancara dengan Pak Uu, Grup Kesenian Barongsai Bogor, pada tanggal Kamis 16 April 2009

[8] Provinsi Guangdong adalah daerah asal Barongsai dengan gaya selatan 南狮n2nsh9.http://en.wikipedia.org/wiki/Lion_dance

[9] PGB didirikan oleh Subur Raharja pada tahun 1952. Sampai saat ini PGB yang dipimpin oleh Gunawan Raharja menjadi salah satu perkumpulan olah raga silat yang terkenal di Indonesia. Berawal dari pertemuan ramah tamah antar tokoh silat di Bogor pada tahun 1949, terbentuklah suatu bentuk perkumpulan silat yang menggabungkan seni silat kungfu dan silat tradisional. Pada awal tahun 1950-an, perkumpulan yang berbasis silat inipun memiliki wahana kesenian ’barongsai’ sebagai salah satu alat pembuktian tingkat ilmu silat mereka. Salah satu yang menarik adalah bahwa kelompok ini mencipkatan Kielin sebagai bentuk tarian ’barongsai’ yang hanya menjadi satu-satunya di Indonesia. Kielin PGB dibakar bada tahun 1965. Kielin kembali dimainkan pada tahun 2000 setelah Kielin baru selesai direkonstruksi.

[10] Qilin (Kirin, bahasa Jepang) merupakan salah satu dari Empat Mahluk Supernatural/mahluk mitologi Cina  (四灵/) bersama Naga, Burung Phoenix, dan Kura-kura. Qilin dikenal juga dengan ’Kuda naga’ (龙马). Ia merupakan lambang panjang umur, kemuliaan, dan kebahagiaan. Qilin dapat berjalan di atas air dan tanah. Tubuhnya terdiri dari bebapa bentuk bagian binatang. Tediri dari kombinasi kepala serigala, tanduk kijang, ekor sapi, kaki kuda, kulit naga dan sisik ikan. Kulitnya berwarna merah, kuning, biru, putih dan hitam. Suaranya seperti suara kerincingan instrumen musik.

Williams, CAS. Chinese Symbolism and Art Motifs. (Singapore: Berkeley Books, 1999), hlm. 414.

[11] Wawancara dengan Odhi,  dari Bio Hok Tek Ceng Sin. 10 April 2009.

[12] Perlombaan Barongsai dibedakan dalam kategori nomor Lantai dan nomor Tonggak. Nomor Lantai merupakan kelas khusus yang diadaptasi dari penguasaan Barongsai dengan gaya Utara (Beijing) yang menggunakan undakan/bangku pendek sebagai wahana loncat si barongsai. Sedangkan nomor tonggak merupakan gaya barongsai yang dikembangkan di Cina bagian selatan dan Malaysia dengan tiang pancang tonggak yang ketinggiannya bervariasi.

[13] IDLDF mengeluarkan 6 kriteria penilaian pertandingan barongsai yaitu (1)kostum barong, pemusik, dan properti; (2) kesesuaian dengan pakem tradisional untuk cabang tertentu; (3) kesinambungan gerakan kepala, kekuatan kaki, dan ekor; (4) Harmoni gerakan dengan musik; (5) tingkat kesulitan; dan (6)formasi barongsai.Diunduh dari website:  http://dragonlion.sport.org.cn/home/xhgg/2009-02/235079.html (diakses 3 September 2009, pukul 09.30)

[14] Mackie dalam Coppel (2008:124)  Mackie, jamie, ed. ”Anti Chinese Outbreaks in Indonesia, 1959-68”. Dalam Chinenese in Indonesia. Melbourne: Thomas Nelson, 1976. Coppel, Charles A. 2008. Anti Chinese Violence in Indonesia After Soeharto. Suryadinata, Leo, ed. Ethnic Chinese in Contemporary Indonesia. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. Hlm. 124. Apa judul dari tulisan Mackie? Dan apa judul buku yang disunting oleh Coppel?  menyebutkan bahwa ekspresi terbuka dan sengaja, yang menunjukkan perbedaan etnik dan budaya di depan publik Indonesia – Barongsai – bisa menjadi pemicu kekerasan anti Cina. Kekhawatiran semacam ini tentu bisa terjadi kalau barongsai itu benar-benar bagaikan rumah abu, yang tidak terjamah oleh masyarakat sekitarnya dan menimbulkan ancaman.  


Comments
Chinese Culture
tirtha wening
November 6th, 2009 @ 11:47 am

“kayanya aku pelu ganti nama…supaya tidak terlalu berat membawa nama sang dewa api…”

“tirthawening saja…dipanggil ‘Ning’”

 

Begitulah salah satu kejutan di akhir tahun 2008 ini. Aku kehilangan sekaligus mendapatkan. Kehilangan tumpuan yang kukira bias menjadi tempatku berpulang….tapi aku mendapatkan nama baru yang sangat mendinginkan hatiku…’Tirthawening’ itu namaku. Panggil saja aku ‘Ning’

 

Beberapa saat lalu aku mengalami banyak hal. Layaknya perjalanan manusia, ada sedih ada senang. Ada suka ada duka. Semua kulalui dengan penuh gejolak dan tetap manusiawi. Tirthawening diberikan kepadaku oleh seorang sahabat. Ning…pangil saja aku Ning….Ning geulis…

 

Nama itu diberikan ketika aku sedang sedikit bersedih. Dan dibalik sedih itu, nama Tirthawening pun seolah membasahi hatiku yang terbakar agni yang sedang berkobar. Dingin seketika…duka berganti bahagia, sesal berganti indahnya khayal. Seketika aku bahagia.

Sahabat-sahabatku yang baik,

Terima kasih atas dukungannya…

Aku sayang kalian semua…..

 

Terima kasih semua…terima kasih masih ada di sampingku walau kita semua terpisah jarak yang sangat jauh

   


Comments
iseng
curhatan sabtu: dekonstruksi kepercayaan, falsifikasi “percaya”
October 16th, 2009 @ 12:50 pm

ngomong-ngomong tentang kepercayaan
sepertinya agak berat ya?
begitu mendengar kata kepercayaan
rasanya kok ya seperti ada montase-
montase yang berkeliaran di kepala.
seperti gambar-gambar hurup bersambung
yang muncul “kepercayaan terhada Tuhan
Yang Maha Esa”, “kpercayaan terhadap
pasangan”, “Kepercayaan terhadap
pemimpin” dll
masalah kepercayaan sepertinya salah
satu dasar dari pergaulan sosial kali
ya?
“gw percaya sama cowok gw kok”, “gw
percaya sama dia kok”, “gw percaya
sama cintanya”, “saya percaya dengan
komitmennya” dll
percaya…percaya…percaya…
sebuah komitmen yang harus diungkapkan?
sebenarnya sampai mana kita bisa
percaya?
ada hukum rimba…ada kepercayaan akan
ada penghianatan!

Percaya pada kekasih, kadang
ditelikung dengan penghianatan
(selingkuh, mendua, poligami?)

Percaya pada pemimpin, sering
dikhianati dengan kebohongan
publik…janji yang tidak
ditepati…korupsi…

Percaya yang dikhianati akan membawa
kekecewaan

lain dengan halnya percaya pada Tuhan.
Percaya pada Tuhan sepertinya tidak
hanya disaingi oleh penghianatan,tapi
juga oleh “tidak percaya Tuhan”
pergulatan ini sangat manusiawi ya?

saya teringat percakapan dengan
seorang kawan yang bernama Rio,
saat dia meminta “tunjukkan bahwa
Tuhan itu ada!” maka saya
menjawab “Tunjukkan bahwa Tuhan itu
tidak ada”
dan pembicaraanpun terhenti
tiada kekecewaan terhadap Tuhan
hanya ada kecewa pada diri sendiri


Comments
iseng
Cap Gomeh Bogor 2007
October 16th, 2009 @ 12:50 pm

Pesta Rakyat Bogor 2007–

Cap Go Meh 2007, bertepatan dengan
gerhana bulan. Bulan subuh tadi
tertutup total….

Bogor sejak tengah hari diguyur hujan
yang cukup deras. Sore pun masih saja
hujan rintik bulu-bulu halus. Sorea
tadi menjelang pukul 17.00, Vihara
Dhanagun/klenteng Ho Tek Bio dipadati
warga Bogor, baik jemaah sembahyang,
panitia acara, delegasi kesenian Liong
dan Barong, delegasi kesenian
sisingaan dan tanjidor, dan juga entah
berapa banyak warga Bogor yang
memadati ruas jalan Suryakencana
sampai dengan jalan Siliwangi.

Pesta rakyat Bogor ini mungkin
merupakan salah satu yang terbesar
dalam waktu 6 tahun ini. Sang Merah
Putih diusung oleh 2 pemudi dengan
bangganya. Diikuti oleh panji-panji
pemerintah Bogor dan PMSTI. Lampion-
lampion menjulang tinggi mengikuti
Sang Merah Putih dengan anggunnya.
Tanjidor Babe Mali menempati urutan
pertama pawai pesta ini. Babe Mali
yang mengaku sering nangkring bersama
Mandara dan Si Doel serta H. Bokir ini
tersenyum lebar sambil menenteng
terompet yang sudah ia mainkan sejak
usia 15 tahun. “Babe, ni neng, sudah
ikut arak-arakan Cap Gomeh ini dari
taun lima puluan. Dulu pan ramee, kaga
ada larang-larangngan,” ungkap pemain
tajidor gaek ini.
Rombongan babe Mali kemudian diikuti
kelompok kecil pemain calung, dan
dilanjutkan dengan kelompok Sisingaan
dengan penari-penarinya yang
berselendang kuning cantik menggoda.
Dan rombongan terakhir yang paling
panjang adalah arak-arakan 9 Joli yang
mengankut Toapekong (2 diantaranya
dari Ungaran) diiringi Liong dan
Barongsay.

Lebih dari 22 delegasi Barong dan
Liong yang tampil pada acara pawai
ini. Ratusan peserta pawai
menyemarakkan suasana pesta ini. Bunyi
genderang bertalu diriuhkan oleh bunyi
simbal khas musik Cina. Liukan naga
Liong yang sangat cantik dimainkan
oleh minimal 10 orang yang tidak
dibatasi usia. Ada Liong yang
dimainkan oleh kelompok pemuda pemudi,
ada yang dimainkan oleh manula, ada
pula yang dimaikan oleh anak-anak.
Dalam harmoni gerak yang kompak,
mereka menghidupkan geliat legenda
naga di tanah Pajajaran. Barongsay pun
tak kalah lincah melompat, berguling,
dan melonjak sambil mengedipkan
kelopak matanya yang warna-warni.
Atraksi semburan api juga mewarnai
udara sore itu.

Gelap datang merayap mendekati
Maghrib. Beberapa menit sebelum Adzan
Maghrib berkumandang, serentak semua
kegiatan pawai berhenti. Berhenti di
tengah jalan. Musik berhenti, seniman
duduk melepas lelah, Liong-liong
melingkar, Barongsay pun duduk manis
menunggu waktu selesai solat maghrib.
Malam sudah turun, genderang
berkumandang, perjalanan dilanjutkan.
Beberapa titik pemukiman membuat
kejutan dengan meluncurkan kembang api
yang meledak di udara memecah
dinginnya angin gunung Salak.

Saat saya menjauh dari pawai dan
menuju kelenteng Ho Tek Bio, saya
sempat mencicipi lumpia bacah di depan
toko ABC yang terkenal sedapnya karena
dimasak dengan arang. Kembali memasuki
kelenteng, ramai tak jua berkurang.
Umat bersembahyang, sedangkan di
halaman kelenteng tampak warga Bogor
yang menyaksikan ritual yang sedang
dijalankan oleh umat. “Bapak, anak itu
lagi ngapain? Kok bakar-bakar kembang
api?” celoteh seorang anak kecil yang
digendong ayahnya. Sang ayah
menjawab, “mereka itu lagi sembahyang.
Itu bukan kembang api. Namanya hio.
Orang Cina sembahyang di kelenteng.”
Saya hanya bisa tersenyum saat anak
kecil itu berkata, “Kalo kita
sembahyang di mesjid ya.”

Tak puasnya saya melihat nuansa
kemerahan dan bau hio yang terbakar.
Saya kembali masuk kelenteng untuk
mengambil beberapa gambar. Berdiri di
dekat tempat menancapkan hio ada 2
orang remaja yang membawa hio. Salah
seorangnya bertanya,”Taro berapa ini?”
Kawannya berkata,”Aduh..berapa ya?
Lupa.” Dan saya pun menjawab,”Tiga
saja.”

Saat meninggalkan Ho Tek Bio, suasana
di jalanan sangat ramai. Entah berapa
ribu orang yang tumpah ruah di
sepanjang jalan Suryakencana yang
ditutup malam itu. Kendaraan hanya
dapat melintasi jalan depan pintu
gerbang utama Kebun raya Bogor menuju
arah Tugu Kujang dan Botani Square.
Kemacetan tak terhindarkan. Entah
berapa banyak manusia yang merayakan
pesta rakyat ini.


Comments
Chinese Culture
Mainan, permainan, dan bermain!
October 16th, 2009 @ 12:49 pm

Manusia mahluk bermain “Homo Ludens”
digagas oleh Johan Huizinga (Belanda)
pada tahun 1938.

Perbincangan dengan Zaini Alif tentang
mainan dan permainan anak tradisional
merupakan hal yang sangat berharga.
Mainan, permainan dan bermain adalah
hal yang sangat dekat dengan kehidupan
sehari-hari. Bahkan mungkin bisa jadi
bahwa mainan dan permainan adalah
bagian dari hidup kita yang tidak
dapat lepas. Zaini berpendapat bahwa
manusia dalam hal apapun selalu
bermain. Aturan-aturan dan hukuman
yang ada dalam kehidupan sama seperti
aturan-aturan dalam permainan. Manusia
selalu bermain dalam hidupnya. Mungkin
ini berhubungan dengan kata-kata
bermain cinta, bermain api, bermain
politik, bermain bola, bermain air,
bermain kata-kata, bermain perasaan,
bermain dengan alam, bermain dengan
maut dan sebagainya.
Semua yang ada dalam hidup kita adalah
permainan….is that so?
Saat orang dewasa melihat anak-anak
bermain…apa pendapatnya? Apakah kita
(orang dewasa) melihat anak-anak itu
bermain dan tidak serius dalam
hidupnya?
Bukan…justru saat bermain itulah
seorang anak sedang serius dengan
hidupnya.
Adakah kita tahu bahwa anak-anak bisa
bermain sampai lupa waktu? Sama
seperti orang dewasa yang bekerja
sampai lupa waktu? Workaholic….
Anak-anak bisa menjadi playaholic…
Bisakah kita bayangkan…dalam dunia
orang dewasa ketika penat dengan kerja
selama 5 hari penuh kemudian mendapat
libur? Senangnya bisa istirahat…
Tapi bisakan dibayangkan dalam dunia
anak ada libur bermain?
Tidak…tidak….dalam bermain tidak
ada hari libur.
Manakah yang lebih serius? Kerja atau
bermain?
Ketika kita orang dewasa bekerja, dan
dipanggil untuk istirahat, maka pada
umumnya kita akan segera memenuhi
panggilan istirahat tersebut.
Coba lihat anak-anak….ketika sedang
bemain, dipanggil untuk makan, kita
paksa berhenti bermain…dia akan
menangis sejadi-jadinya..
Ketika dia sedang serius dengan
bermainnya…maka dia tidak ingin
diganggu…
Anak sangat serius ketika sedang
bermain.
Hebat…dalam bermain ada keseriusan
kerja yang luar biasa
Dalam bekerja ada keseriusan bermain!
Tengoklah semacam politisi. Serius
dalam bermain politik. Serius dalam
kancah permainan politik. Seorang
politisi akan serius mempermainkan
strategi agar posisinya sebagai
politisi tetap dalam ’orbitnya’.
Begitu pula dengan pengacara, serius
bermain dengan kata-kata untuk membela
kliennya. Atau seorang guru yang
bermain-main dengan bahan ajarnya
supaya anak didiknya dapat
mengeksploitasi kemampuan dirinya
sendiri untuk mengolah informasi yang
diberikan oleh gurunya.
Permainan…bermain…mainan.
Pemerintah bermain-main dengan
kebijakan yang dibuatnya,
mempermainkan rakyatnya sebagaimana
sebuah mainan yang dilempar-lempar
dalam kancah permainan politik dan
kekuasaan. Semuanya adalah mainan,
pemainan dan bermain.

”honey…please…dont play with
me…coz i love you so much!”


Comments
iseng
curhatan: gw ini pecinta IPDN da’ah!
October 16th, 2009 @ 12:48 pm

Dulu bangeeeet…jaman gw masih muda…heheheJaman gw smp dan sma di bandung, gw dan temen gw selalu heboh kalo lagi wikenan di BIP (plasa bandung indah) tea…kyaaaaaaaaaa…..ganteng bangeeeet!Greget bet da’ah liat yang ganteng berseragam…Gw Tanya…”anak mana tu?”Temen gw jawa, “STPDN”  Wow….Selama beberapa tahun duduk di bangku smp, gw kadang ke BIP hanya dengan tujuan liat anak-anak STPDN itu!Sma juga masih sering kok…apalagi dulu ada temen jg yang rumanya deket2 jatinangor sana..wuiih…. Kesan gw liat anak-anak STPDN tu ….gagah, cakep, berwibawa, tegap, dahsyat dah!Biar muka pas-pasan juga kalo pake seragam STPDN mah jadi juara tu! Uniformgenic kali yaa? Pernah juga terbersit dalam pikiran gw untuk masuk STPDN…gara-gara liat yang gagah2 tea…wuii….ga banget siiiiy yaaa! Belakangan….gw liat di media ada pemberitaan ini itu…termasuk seks bebas di kalangan praja STPDN….iuuuuw…harusnya udah IPDN ya…but…whats in the name ah!!Gw lebih suka make STPDN. Lebih gagah..heheheBalik lagi doong..Iya…gitu deh…belakangan banyak banget yang mau membubarkan STPDNAda juga yang usul agar masing-masing daerah otonomi membangun “STPDN”-nya sendiri-sendiri… Wuih….Ini ide gila lagi!Membubarkan STPDN aja gw pikir adalah ide yang rada gila!Kenapa? Kenapa musti dibubarkan?Gw rasa ilmu yang mereka dapat sudah baik. Sekian tahun sekolah itu berdiri kan ya sudah punya form yang jelas to?Kalo dibubarkan….apa yang akan terjadi? Banyak sisi yang akan terguncang. Menelantarkan bangunan fisik yang segede bagong! Artinya Mubazir! Buang-buang duit! Menelantarkan praja yang belajar! Artinya membuat orang menjadi bodoh! Itu penindasan intelektual! Menelantarkan sekian banyak tenaga pengajar dan staff karyawan! Artinya pemecatan, bakal banyak pengangguran, yang nganggur bakal miskin frustasi…dan bisa jadi tingkat kriminalitas dan bunuh diri meningkat pesat! Artinya…hajat hidup orang banyak dihancurkan… Menelantarkan penjual makanan, tukang londri, ibu kos dsb…dsb…yang ada disekitar kampus itu! Artinya…penderitaan orang banyak!Stupid itu yang ngasi usul agar STPDN atau IPDN atau what everlah dibubarkan!Egois ya? Asal nyablak! Ga mikirin konsekuensinya!Saya rasa banyak yaaa…..yang asal nyablak!Kalo nyablak soal obrolan2 warung kopi mah asik..Tapi nyablak sama urusan orang banyak mah namanya ga bertanggungjawab! Cuma bisa ngomong doang! Belum lagi usul tambahan belakangan yang beredar ini…”bubarin aja, terus masing-masing daerah bikin tu yang kaya IPDN!”Laaaah….apa ini ga lebih gila?Ngebubarin sekolah itu aja udah banyak efeknya!Sekarng bikin di masing2 daerah?Apa siap itu daerah2?Otonomi si otonomi….tapi ya jgn kebablasan!Ntar apa kerjanya pemerintah pusat?Ato lama2 muncul ini raja-raja kecil yang sewaktu2 bisa merorong pusat?!Who knows?Kalo daerah2 itu bikin sekolah, siapa yang mau ngajar?Jujur aja…ahli2nya ada di Jawa, di IPDN sekarang….Sekian banyak propinsi bikin….gimana bisa  masing2 sekolah bakal punya pengajar seperti sekarang?Mau ngundang pengajar2 ahli? Ga efektif efesien kaleeee!Get real….Mau pake putra-putra daerah?Mereka sudah menjadi pejabat2 yang kerja tiap hari..apa ada yang bisa ngajar?Mau pake putra-putra daerah yang lulusan2 univ terkenal? Yakin mereka mau? Yaa…who knows siiy..Tapi berapa lama proses mendirikan sekolah seperti ini?Emang ijinnya gampang?Belum ntar birokrasi dan salam-salam tempelnya!? Ribet dah Apa dengan membubarkan IPDN dan membangunnya di daerah2 akan memutus rantai kekerasan yang sudah terjadi?Bukannya malah akan memperpanjang kesulitan yang lain? KKN, penindasan, kekerasan, sampai praktek seks bebas!  Hehe…itu siy hanya pemikiran gw..Semua berita dan pendapat orang kan perlu dihargai…Sekali lagi..ini kan cuma pemikiran gw…gw sebagai pecinta praja IPDN dah!


Comments
iseng
Road to Holy Land: Balada Pantuners Sejati
October 16th, 2009 @ 12:47 pm

Catetan Sindangbarang 26 Mei 2007  Balada Pantunis Sajati Dibere judul Balada Pantunis Sajati teh kusabab si kuring ngarasa takjub ka aki-aki anu tetep eksis ngalakonkeun cerita pantun. LUAR BIASA! Si Aki anu biasa disebut Abah Ucup ieu teh dumukna di hiji titik pinggiran Kabupaten Bogor. Hirup nunggelis teu boga anak, teu boga dulur, teu boga kadang baraya. Ceuk ceunah mah, ayeuna si aki teh ngilu numpang di imah tatanggana. Emh….karunya pisan si Aki teh. Padahal mah ceuk beja mah Abah Ucup teh  juru pantun Sunda pangkolotna di kota Bogor, jeung lamun anjeunna tilar dunya tradisi mantun di Bogor teh bakal leungit. Ieu Pantunis sajati teh teu ngawariskeun elmuna ka antragan sahandapeunana, duka naon alasanana pangna si abah teu ngawariskeun elmuna. Ceuk beja mah aya sababaraha dugaan ngeunaan cara ngawariskeun elmu pantun. Konon pantun diwariskeun ka anak si pantunis. Ngan lamun si iue anak teh dianggap teu mampuh, si pantunis moal ngawariskeun ka eta anak. Bisa oge pantun teh diwariskeun ku pantunis ka jelema sejen anu eweuh hubungan kulawarga jeung manehna. Ngan tangtu wae dina ngawariskeun elmuna ka jelema sejen teh, si pantunis boga sababaraha tinimbangan. Bener-bener proses anu teu gampang…..LUAR BIASA! Si kuring datang ka Sindangbarang dina tanggal 26 Mei 2007 bari mawa pesenan ti Kang Mumu pikeun ngarekam pantun Sunda anu diduga rek punah. Teu kasawang samemehna, di kampung adat Sindangbarang nu bakal diresmikeun bulan Juni 2007, si kuring papanggih jeung sababaraha urang jelema anyar nu ceuk si kuring mah eta jelema teh ibarat mutiara mustika anu moncorong di tatar Sunda. Tapi saha eta mutiara-mutiara teh bakal dicaritakeun ku si kuring saenggeus si kuring nulis ngeunaan si Abah Ucup, si Pantunis Sajati nu salawasna kukuh pengkuh mantun nepi ka ahir jaman. Tabah sampai akhir. LUAR BIASA! Abah Ucup anu geus kolot pisan teh, tos ompong, huntuna teu nyesa hiji-hiji acan. Tapi ari ngalinting rokok mah masih sumangat keneh. Waktu mantun si Abah teh make totopong coklat-hideung, dikacamata riben, make setelan jas hideung. Trendi pisan. LUAR BIASA! Hanjakal pisan, nu lalajo si abah mantun teh teu leuwih ti 20 urang. Nu lalajo nu tadina ngagimbung bari molotot nempo nu gual-geol nari jeung ngagondang teh, dak dumadak leungit tanpa lebih ilang tanpa karana, teuing kamarana…Nu pasti mah nu lalajo si Abah teh beuki lila beuki ngorotan, tina 20 jadi 10, tina 10 jadi 4, kaasup si kuring pastina. Hehehe…. Jujur, si kuring bisa tetep di sisi panggung nepi ka rengse pantun teh kusabab doping kopi ti Pak Maki jeung aya geng leutik ti FIB UI jeung kang dedy (kecapis ti STSI) jeung kang Nata ti bandung batur ngawangkong ngeunaan banalitas sapopoe, ngalor-ngidul ngomongkeun eksistensialisme, komunisme, ateisme, kesadaran diri, sonoritas, musik kontemporer nepi ka tafsir mimpi….eta teh dilakukeun salila si Abah mantun. Tapi kadang-kadang si kuring sareng babaturan merhatikeun si Abah mantun bari jeung ngarasa takjub ku parigelna si Abah metik kacapi. LUAR BIASA! 12.30 liwat tengah peuting, si kuring ninggalkeun geng leutik anu keur rame-ramena madungdengkeun kasaimbangan notasi musik jeung alam. Bari sibuk ngaganti kaset minidv, si kuring terus tumanya ka not-not nu kaluar ti alunan kacapi Abah, saha sih si Abah Ucup teh? Kumaha kamekaran karirna salaku pantunis? Kumaha nu lalajo (pantuners) ngapresiasi pantun manehna? Kumaha kahirupan sapopoe neupi ka geus kolot siga kieu? Naon rencanana keur pantun dina waktu nu bakal datang? Naon kahayangna, cita-citana nu can kacumponan? Naon harepanana kana carita pantun Sunda? Naha masih aya keneh nu haying dilakukeun ku manehna? Naon usaha-usaha anu terkait keur melestarikeun jeung majukeun pantun Sunda kususna, kasenian Sunda umumna? Duka teuing….eta mah ngan saukur pananya-pananya nu kapikir ku si kuring tapi can kungsi kakedalkeun. Bisa jadi hiji mangsa aya nu bisa ngajawab eta pananya….bisa jadi oge…….LUAR BIASA!  PS: punten pisan euy, masih nyambung sebenerna, Masih dalam proses diterjemahkan dan diselaraskan kuKang Mumu DUDU: Buat kang Mumu, Hatur tengkyuh sudah mengalihbasakeuntulisan sayah ini. Jasamu abadi, Kang.


Comments
tutulisan sundana agni
ROAD TO THE HOLY LAND Pengantar pada pemahaman jati diri
October 16th, 2009 @ 12:46 pm

Tubuhmu adalah kecapiku  Kulihat jariku Ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking…Ingin kugerakkan satu persatu Memetik senar bisu tubuhmuKujentikkan telunjukku pada dawai tipis ujung rambutmuKutekan senar jingga di kabut matamuKupetik serabut merah darahmuKumainkan sebuah komposisi tak berlarasTiada pelog, tiada salendro, tiada madendaKusatukan dengan alamMembuat sonoritas terbuka di alamkuTubuhmu meronta bersemuka dengankuAku mengaggumi nada semu katamuTubuhmu adalah kecapikuKan kumainkan sampai retas airmataku di ujung gelap cumbumu                        27 Mei 2007 kegundahanku dalam gelap   Kecapi banyak kita jumpai di pelbagai tempat di pelbagai negara. Sebutlah kecapi, sitar, siter, zithar, koto di Jepang, gucheng di Cina. Alat musik petik dengan tabung resonansi segi empat memanjang pada umumnya. Cara memainkannya adalah dengan dipetik menggunakan jari jemari kedua tangan. Ada banyak jenis kecapi dan sitar ini. Yaaa…itu urusan ahli etnomusikologi dan pengamat musik lah. Saya mah hanya ingin menuliskan kesan-kesan mendengar bunyi kecapi dan sitar.  Pada perjalanan ke Sindangbarang pada saat Seren Taun dilaksanakan (Maret 2007), saya sempat kepincut dengan permainan kecapi suling di panggung depan Rumah Bali (rumah Pak Maki). Sayang….karena hujan yang terus mengguyur, saya tidak bisa menikmati permainan kecapi suling tersebut. Alih-alih saya lebih memilih jalan-jalan ke warung Ceuceu untuk mencicipi hangat-hangat goreng pisang sekaligus minum kopi item instant. Nah….sebelum masuk ke kecapi…ngobrol-ngobrol tentang kopi niy…kemaren tanggal 26 Mei di Sindangbarang teh…saya disuguhi kopi tengah malam yang luar biasa enaknya. Entah terbuat dari komposisi apa…rasa kopi ini baru saya temui. Baru saya jumpai dan rasakan kopi hitam manis panas yang mungkin sepadan dengan nasgitel (panas legit kentel). Luar biasa! Saya dibuatnya ngejegleg sampai jam 4.30 pagi. Menurut Kang Mumu, konon, di Bogor ada yang namanya Kopi Bogor, dan hanya ada di Bogor. Mungkin kopi Bogor inilah yang saya tenggak sampai habis malam itu. Luar Biasa…. Kembali ke kecapi….Di panggung kampung adat Sindangbarang saya melihat ada dua buah alat musik petik, yaitu sitar dan kecapi yang seperti perahu bentuknya. Kecapi indung ya? Semula saya bingung membedakan kecapi dengan sitar. Tapi setelah mendapat petunjuk tentang bentuk fisik setidaknya kesalahan mengidentifikasi kedua benda tersebut dapat diminimalisasikan.Saya agak terperangah melihat ukuran kecapi indung yang sedemikian besarnya. Saya bayangkan…pasti berat sangat ya?!Tak lama setelah sibuk dengan tetek bengek peralatan kamera, saya melihat abah Ucup sudah dalam keadaan PW (puosisi wuenak) di depan kacapi indung. Tak lama setelah menata pelbagai alat dan sesajen, abah mulai mendendangkan cerita pantun diiringi petikan kecapinya. Rasanya begitu bernyawa, begitu berjiwa. Petikan ekspresif penuh kejutan. Berbeda dengan petikan suara kecapi yang saya dengar siang hari Sabtu tanggal 26 Mei. Saat itu sebuah sitar dipetik oleh Kang Didi, seorang pantuner/tembanger/kecapis yang belajar main kecapi sejak tahun 89. beliau berasal dari Sindangheula Kabupaten Brebes, tentunya dekat dengan Gunung Kumbang yang legendaris itu. Sitar pun bergantian dipetik juga oleh Kang Dedy seorang kecapis/sitaris dari STSI Bandung yang sudah manggung berkolaborasi dengan musikus di panggung nasional dan internasional. Nada-nada melodius yang dipadukan dengan lantunan tembang. Saya sempat terkagum-kagum ketika mengabadikan gambar dan suara tersebut. Ada yaaa…..musik yang bisa membuat saya merasa tenang. Mungkin bisa disejajarkan dengan kelezatan hidangan buatan Ibu Maki yang Luar Biasaaaa…. Malam dini hari setelah pantun Abah Ucup selesai, tepatnya pukul 01:06, saya dan 3 orang kawan (Ocid, Risna, Mufhti) segera meminta Kang Dedy, Kang Didi, dan Kang Nata untuk mengadakan ’renungan’ …atau lebih tepatnya memaksa mereka untuk mengadakan resital kecapi. Sebenarnya kami sudah siap menerima jawaban tidak, tapi rupanya akang-akang teh tidak bisa menolak permintaan kami yang menatap mereka dengan tatapan nanar dan memelas. Dan terjadilah apa yang harus terjadi dalam skenario. Resital kecapi plus kuliah tentang kecapi, tembang, pantun sekaligus diselingi obrolan ringan dan celoteh celetuk ga nyambung. Jaka Sembung makan ikan tongkol, ga nyambung dodol! Luar biasa….. Menjelang pukul 2 pagi, bunyi-bunyi kecapi dimeriahkan oleh nyanyian Kang Nata yang penuh semangat membahana menyanyikan sepotong lagu….saya hanya dengar sedikit….seperti ini: Pajajaran kari ngaran, pangrango geus narik kolot, mandala wangi ngeleungit…..keren banget.Selesai beberapa baris… pertunjukkan nyanyian dan kecapi pun dialihkan ke kang Didi. Kali ini suara Kang Didi sangat ramah menyapa telinga saya. Sedikit berbeda dengan suara Kang Nata yang menggelegar di gelap malam. Hahahha…..(Kang Nata, suara kang mah luar biasaaaa! Semangat yaaa)Yang saya ingat waktu itu Kang Didi menyanyikan tembang yang ada kata-kata Pangapungan, Lalayang Salaka Domas, puputon kembang keraton. Saat mendengar Kang Didi nembang, terbersit pertanyaan lagi…lagi-lagi pertanyaan seperti sudah berapa lama kang Didi belajar nembang ini? Dari Brebes, masih muda tapi sudah memiliki kemampuan yang …Luar Biasaaaaa….. Selesai pertunjukkan singkat itu, Kak Ocid mulai mengorek informasi dari Kang Dedy tentang kecapi dan sitar. Dasar semua itu adalah bahwa kami sangat ingin mendengar komposisi ciptaan Kang Dedy yang liar. Belakangan kami sebut Kang Dedy si siter edan! Luar Biasaaaa… Kuliah pun dimulai dengan teknik memetik. Perbedaan petikan tradisional dan yang sudah dimodifikasi. Tak lupa juga dibahas tentang iringan dan lirik saling mengisi…ngarumpaka lagu, ngalaguan rumpaka. Pun disinggung tentang 2 ekspresi dalam penciptaan lagu, yaitu ekspresi yang diciptakan untuk kebutuhan musikal atau ekspresi berupa struktur lagu untuk kebutuhan ekspresi lagu. Banyak proses dalam pembentukan lagu dalam musik tradisional Sunda, misalnya lirik hanya difungsikan semacam pemukul alat tabuh. Sudah tidak memperhatikan lagi pemenggalan kata. Tergantung kebutuhan. Namun dalam lagu tradisional masih memperhatikan keduanya. Aturan sastra maupun pelafalan.Seperti kuliah musik layaknya. Celetuk seorang kawan pun muncul: ”belajar setaun juga ga akan bisa seedan Kang Dedy euy!” Luar Biasaaaa….. Kami sempat bertanya apa perbedaan tembang, kawih, mamaos, pantun…dan penjelasan singkat pun terkatakan dari si pendekar siter edan ini ditambah celetukan dari Kang Didi. Terkadang Kang Nata pun menjawab semena-mena karena ga nyambung! Ada beberapa catatan seperti: Iringan yang dipakai untuk mamaos sering  tidak ada beat atau beat tidak menentu. Lain dengan tembang yang punya kekonstanan aksentuasi. Diperkenalkan juga cara metik ala Mang Koko yang banyak dijadikan standar permainan kecapi di Bandung. Petikan ala Mang Koko ini paling populer, stuktur komposisinya lebih nyaman didengar. Aturan sistem nadanya lebih dianggap tidak mengganggu telinga. Karena pada petikan tradisional ada nada yang tidak sesuai dengan struktur kenong, struktur kendangan. Jadi Mang Koko sering dijadikan rujukan. Karena terasa lebih mudah dinikmati oleh telinga-telinga masa kini yang kadang sulit mendengar petikan kecapi tradisional Kang Dedy yang belajar main kecapi sejak umur 10 tahum juga menambahkan bahwa ia mengembangkan teknik bermain kecapi, bidangnya adalah yang liar-liar. Bukan sesuatu yang baru secara teknis, namun bisa disebut mengadaptasi. Kadang mengadaptasi gucheng kecapi dari Cina. Atau memainkan kecapi dengan inspirasi dari bunyi slap bass. Ada juga memetik ala ngagenjreng gitar, seperti yang biasa dimainkan di kacapi biola atau di kacapi kopi. Kata orang dari tradisi cianjuran sering ada celetukan ”kecapi kok digucrek-gucrek”. Kang Dedy rupanya melihat ada yang bisa berkembang dari kecapi. Sebuah senar kecapi bisa menghasilkan beberapa bunyi dengan perlbagai teknik petikan yang dikembangkan…sampai ke nada mikrotone. Apapun yang bisa memungkinkan menjadi bunyi pun dieksplorasi. Sebelum membuat komposisi dicari dulu kemungkinan bunyi yang bisa terjadi. Sitar pun bisa dieksplorasi, kunci disetel bisa menghasilkan bermacam laras….salendro, pelog, madenda, bahkan laras yang digunakan oleh kecapi Cina, laras dalam gambang kromong, dan beberapa komposisi sitar dari Jawa Tengah. Luar biasaaaaa…. Malam makin larut pagi menjelah Subuh, kami pun menodong Kang Dedy memainkan satu komposisi yang kami nobatkan sebagi salah satu komposisi edan. Waktu itu kang Dedy mengambil sebuah lagu tradisional Lalayang Salaka Domas yang ia interpretasikan dengan gayanya. Entah apa yang bisa saya katakan waktu mendengar komposisi itu. Imajinasi saya tak terbebaskan, terkungkung dengan putaran nada yang bervariasi. Musik macam apa ini? Luar Biasaaa….Saya hanya memikirkan, sepiawai ini permainan kecapinya membutuhkan waktu berapa lama untuk menguasainya? Saya berusaha mencari kekurangan dan kelemahannya, tetap belum saya temukan. Saya tonton rekaman videonya pun tetap tidak menemukan kelamahannya. Luar Biasaaaa…. 

Resital pun diakhiri dengan berbagai bentuk iringan sitar yang mengiringi lagu-lagu tradisional seperti Es Lilin, Jangkrik Genggong, si Jali-Jali. Saya sangat menyukai komposisi Es Lilin yang juga dinyanyikan oleh Kang Didi. Entah komposisi macam mana yang bisa sangat ramah di telinga saya. Kecapi yang dipetik kang Dedy, dan suara Kang Didi rasanya tak boleh dipisahkan lagi. Biarkan mereka menyatu pagi itu. Tarik menarik kedua kuasa, tradisional dan kontemporer sepertinya menambah kekayaan ragam budaya Sunda masa kini. Entah apakah jenis ini bisa disebut budaya Sunda? Masih adakah kontroversi antara mana yang asli tradisional dan mana yang liar? Bagaimana keduanya kelak dapat berjalan beriringan? Apakah keduanya dapat saling mengisi sesuai dengan kebutuhan masa kini? Apakah budaya lokal bisa bersaing dengan budaya global? Dapatkan yang lokal ini terus hidup dalam keglobalan? Apakah justru bisa bersatu sehingga dapat disebut glokalisasi? Hhh…..pentanyaan lagi….pertanyaan lagi….saat ini mungkin kami hanya bisa bertanya…sambil terus mencari jawabnya. Kami yakin, jawabnya ada di depan mata, hanya saja belum terlihat. Suatu saat kami yakin akan muncul jawaban jujur yang sejujurnya, asli yang seaslinya seperti kata Pak Agus Aris Munandar yang berlaiu kutip dari naskah Sunda kuno, Sirnaraga

 4.30 pagi. Gelap masih yang tergelap. Dingin pun masih yang terdingin. Seusai Subuh, kami semua memilih nangkub di kamar sambil bersarung. Kami si geulis-geulis sempat diskusi, seharian ini kami banyak belajar. Sedikit tahu tentang seorang pantuner gaek si Abah Ucup, sedikit tahu tentang si siteredan, sedikit tahu tentang pantuner gunung kumbang, sedikit tahu tentang sejarah Sunda, sedikit tahu cerita bangunan istana Pajajaran, sedikit tahu tentang kisah Dewi Asri. Luar Biasaaaaa….

Sedikit tahu tapi membuat mata kami terbuka. Begitu kayanya budaya Sunda. Terbayang begitu banyaknya budaya di Indonesia…kami ada dimana? Kami milik siapa?

Abah Ucup, Kang Didi, Kang Dedy memiliki sinarnya masing-masing. Mutiara-mutiara tatar Sunda yang punya rohnya sendiri-sendiri. Perjalanan kami, ROAD TO HOLY LAND[1] akan mencoba mencari mutiara-mutiara yang masih menyembunyikan sinarannya. ROAD TO HOLY LAND akan mencari akarnya….ROAD TO THE ROOT…sepertinya akan menjadi perjalanan panjang kami-kami generasi muda kosmopolitan yang mencari akarnya….  


[1] ROAD TO HOLY LAND ini kami gunakan hanya untuk keren-kerenan pada awalnya. Namun akhirnya ada motif untuk lebih serius menggunakan terminologi ini. Ada alasan kuat mengapa kami menggunakan kalimat Road to Holy Land. Kami mangacu pada keterangan pada tulisan Dr. Agus Aris Munandar yang berisi tentang penelusurannya terhadap situs Sindangbarang dan sekitarnya. Dalam beberapa naskah Sunda kuno disebutkan bahwa Sindangbarang disebut Lembur Luhur yang mengacu sebagai tempat suci di kaki Gunung Salak. Dr. Agus Aris Munandar juga menyebutkan dalam tulisannya, bahwa dari banyaknya punden berundak diduga pernah terjadi aktivitas keagamaan di Sindangbarang sekitar abad 14-15 an. Penemuan tersebut juga diperkuat dengan penemuan beberapa menhir, batu dakon, batu beryantra dan batu tapak kaki (tapak kaki manusia). Road to Holy Land ini mungkin alih-alih akan kami sebut dengan ‘perjalanan ke tanah suci’. Tanah suci di sini bukan mengacu pada tanah suci dalam agama Islam (Arab), atau Land of Religions di Yerusalem. Perjalanan ke tanah suci ini hanya digunakan oleh kami dalam rangka mengapresiasi dan bentuk kekaguman kami pada Sindangbarang dalam konteksnya abad 14-15an 

 


Comments
Sundanese Culture