DATA SPASIAL

Peta adalah data spasial. Data spasial sangat dibutuhkan oleh berbagai kalangan bergantung pada kebutuhannya.

Kasus Pelanggan PAM. Pemetaan lokasi pelanggan PAM awalnya hanya melakukan verifikasi data, apakah pelanggan X (misalnya) dari data alamat, apakah elanggan memang benar masih di alamat yang sama, atau sudah berganti orang lain. Kedua dulu rumahnya kecil, sekarang sudah menjadi besar (jumlah anggota keluarga bertambah asumsinya jumlah pemakaian air bertambah) dikategorikan pemutakhiran data. Ketiga pencurian air secara maling dan manipulasi data, misal kodenya Rumah Tangga ternyata sekarang menjadi Ruko, alatnya dirusak sehingga bayaran tetap Rumah Tangga.  Dari temuan dilapangan, data spasial pelanggan, bisa dijadikan sebagai alat bukti adanya manipulasi alat ukur (kenakalan kontraktor pemasang alat), manipulasi data penggunaan air (kontraktor pembaca data air). Data pelanggan bisa juga digunakan untuk data  perencanaan pengembangan jaringan potensial pelanggan PAM.

Kasus Flu Burung. Hal yang menarik adalah data spasial tentang lokasi Penderita flu burung (tesis S2 FKM UI, Kamal 2008) memperlihatkan dimana lokasi-lokasi penderita flu burung terdapat data secara spasial dan temporal (urutan tanggal penderita terkena virus), sehingga distribusi sebaran penderita pertama kali, kemudian kedua dan seterusnya hingga pada akhirnya kembali ke lokasi awal ditemukan kasus yakni di tangerang (setelah bergerak ke arah jakarta, bandung, karawang, dll). Indikasi awal (berupa asusmsi) adalah adanya korelasi spasial antara penderita dengan kedekatan lokasi peternakan ayam. Ternyata ada juga penyebaran firus akibat ada hubungan kekerabatan antara penderita di satu tempat dengan tempat yang lain (urutan tangggal/bulan), tetapi ada asusmsi juga bahwa jalur transportasi unggas juga menjadi faktor adanya penderita terkena flu burung.

Kasus Perbaikan lampu jalan. Perbaikan lampu jalan ide awalnya adalah ada kordinasi antara Gudang dan Kontraktor Kordinator/Pengawas) perbaikan lampu, dimana jumlah lampu yang dipasang dan dimana saja dipasang, pihak gudang tidak mampu membuktikan barang di pasang dimana. Kedua indikasi ditukarnya lampu dari gudang dengan yang dipasang di Tiang Lampu. Dengan data spasial, setiap ada laporan perbaikan, wajib diambil koordinat lokasi (dengan GPS), sehingga ada korelasi antara jumlah lampu yang keluar dari gudang dengan jumlah titik lampu dilapangan. Kedua dengan Dibuatnya Data Spasial, dapat merubah perilaku mubasir perbaikan lampu dan pengambilan barang di gudang, sehingga ada menjadi perilaku kehati-hatian dalam permintaan lampu perbaikan, karena tiap ada perbaikan lampu wajib mencantumkan lokasi titik lampu yang akan diperbaiki lampunya.

Berdasarkan Kasus-kasus sederhana di atas, maka data spasial sangat penting, dalam melakukan solusi berbagai permasalahan, hingga dapat digunakan sebagai alat ivestigasi, alat bukti, serta ukuran kinerja kerja suatu instansi  bahkan merubah perilaku menjadi lebih terkordinasi dan terstruktur hingga rencana dan realisasi sesuai.

No Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL


Leave a Reply