Selepas Maghrib, dalam sebuah masjid di tengah kompleks perumahan, Ikhwan duduk termenung. Dipandanginya sebuah quran saku putih dalam genggaman. Dengan pandangan nanar, matanya mulai berair. Ingatannya menerawang pada acara resepsi pernikahan kakaknya beberapa hari yang lalu.***
“Anto?! Masya Allah, antum datang akh? Gimana kabarnya? Sudah hampir dua tahun ya, kita nggak ketemu. Antum masih di Malang?” buru Ikhwan ketika menjumpai Anto, teman SMU-nya di antara para undangan. Yang ditanya agak canggung menjawab. “A…alhamdulillah, gue baik-baik aja.” “Eeee…sejak kapan lu pake gue-guean? He, he, tapi kagak pa-pa koq. Ana kangen banget tahu, sudah lama antum kagak ngirim surat lagi, lupa ya? Gimana kabar Malang?” “Mmm…eh, gue udah lama kagak di Malang lagi Wan…” “Lho, kenapa? Pindah kampus lagi? Huuu, dasar nomaden… pindah-pindah kuliah mulu! Kapan lulusnya?” “Yaa, insya Allah ntar juga lulus,” jawab Anto sudah tidak canggung lagi. “Trus, sekarang di mana antum?”
“Di Jakarta, STIE Merdeka.”
“Waaa…udah di Jakarta toh. Koq nggak bilang2? Nggak pernah nongol pula!”
“Sorry deh. Tapi sekarang khan nongol…” “He, he, benar juga. O iya, masih ingat kakak ana khan? Masuk yuk, ana kenalin antum sama istrinya. Tapi awas lho, jaga mata!” canda Ikhwan sambil merangkul Anto masuk ke dalam ruang pelaminan, tempat kakak dan istrinya disandingkan. Tapi yg. dirangkul menahan untuk masuk.
“Tunggu dulu Wan, sebenarnya lu ngerasa ngundang gue kagak sih?”
“Eeee, kenapa? Apa itu jadi masalah? Memang sih, ana nggak ngerasa ngundang. Habis ana pikir antum khan di Malang. Lagian ini khan walimah kakak ana, kalo walimah ana antum pasti, kudu, wajib ana undang. Cuma…mungkin kakak yang ngasih undangan ke antum. Dia khan dah kenal antum dari zaman kita sekolah dulu.”
“Jujur aja Wan. Gue ke sini bukan karena diundang. Kakak lu juga kagak ngundang gue…”
“Aduuhh, To. Gitu aja koq dipusingin. Diundang apa kagak yang penting khan antum datang. Lagian juga, ngapain sih pake
gue-elu-gue-elu mulu. Khan jadi risih nih ngobrolnya,” potong Ikhwan sebelum Anto selesai bicara.
“…gue datang karena diajak pacar gue. Ini dia, namanya Sandra,” lanjut Anto to the point, sambil meraih lengan seorang gadis manis yang dari tadi berdiri mematung di belakangnya.
“Ooo, jadi karena diajak…siapa tadi To? Adik antum?” tanya Ikhwan sambil menjulurkan dua tangan, salaman jarak jauh. Agak heran juga dia, karena baru sekali melihat gadis tersebut. Ikhwan yang terus berbicara dengan Anto, baru menyadari kalau gadis itu berada di antara mereka sejak tadi.
“Bukan, bukan adik. Kenalin Wan, ini pacar gue…”
Deg!! Pacar?!! Anto punya pacar?!! Sejak kapan?!!!
Ikhwan shock kala itu. ***
Masih di masjid yang sama, sudut yang sama, Ikhwan mulai membuka quran saku putih yang sejak tadi digenggamnya. Dibukanya halaman satu per satu, dicarinya tanda batas baca. Pikirannya masih menerawang. Sandra…ah, gadis itu memang manis. Tapi dia belum lagi berjilbab dan…yang lebih membuat Ikhwan shock adalah pengakuan terus-terang
Anto ketika itu, bahwa Sandra adalah pacarnya. Sandra merupakan kenalan istri kakak Ikhwan dan dialah sebenarnya yang diundang ke walimah hari itu, bukan Anto. Pacar? Anto? Ikhwan masih sulit mengerti apalagi menerima
kenyataan tersebut. Anto yang dikenalnya dulu sangat berbeda. Apa yang telah terjadi sebenarnya?
Ikhwan berhenti membolak-balik halaman quran saku putih di tangannya. Tanda batasnya menunjukkan permulaan surat At Taubah. Getir, Ikhwan mulai membaca.***
“Wan!! Yeee…mau ke mana ente?” seru Anto begitu melihat Ikhwan berjalan ke kantin, setelah bel istirahat berbunyi.
“Eh, mau makan,” jawab Ikhwan polos. Anto menghampirinya yang sudah berdiri di tepi tangga.
“Wan, Wan. Sekarang baru jam berapa? Masak ente sudah lapar lagi sih, bukannya tadi pagi udah sarapan?” tanya Anto sambil merangkul Ikhwan. “Iya sih, cuma khan biasanya waktu istirahat emang buat makan. Kalau nggak, ngerjain PR,” jawab yang dirangkul.
“Hmm, itu dia tuh, kebiasaan yang mesti diubah. Ente tuh ikhwan, Wan. Biar kagak ikut rohis juga ente udah Ikhwan. Ikhwan wa akhwat kan panggilan ‘sayang’nya anak rohis. He, he, malu dong sama nama. Anak rohis mah, tongkrongannya masjid, bukan kantin. Kita ke masjid aja yuk, sholat Dhuha! Daripada ngabisin duit buat makan, padahal belum lapar. Sekalian lihat bazar Rohis, ya!”
“Iii…ya deh,” agak ragu Ikhwan menyetujui. “Tapi traktir di bazar yach!” syarat Ikhwan.
“Boleh!” balas Anto mantap. Keduanya lalu berjalan beriringan menuju masjid SMU. Dalam perjalanan, Anto bercerita banyak tentang berbagai kegiatan rohis yang menurutnya menarik. Sekaligus mengajak Ikhwan untuk kembali aktif mengikutinya, terutama kegiatan pengajian kelas atau istilah kerennya mentoring. Ikhwan memang sejak kelas II mulai
memperlihatkan kemalasannya untuk aktif di rohis. Hal inilah yang coba dipicu lagi oleh Anto.
“Nah, Wan. Pilih aja yang mana! Asal jangan lebih dari tiga ribu yah, duit ane kagak cukup!” seru Anto setibanya mereka di bazar rohis, yang letaknya bersebelahan dengan masjid. Ikhwan langsung tanggap, memilih dua buah stiker dan sebuah gantungan kunci menarik. Saat itu uang seribu sudah bisa membeli stiker-stiker dengan kualitas bagus. Ditunjukkan pilihannya pada Anto, yang membalas dengan senyum. Kemudian Anto merogoh sakunya untuk membayar. Selesai transaksi, keduanya menuju masjid. Sambil melepas sepatu, Anto kembali mengingatkan Ikhwan tentang mentoring rohis. “Gimana Wan? Jumat besok ente ikut ya! Kak Arif kangen lho sama ente.”
Sejenak Ikhwan ragu. Secara pribadi, dia masih enggan untuk ikut mentoring lagi. Tapi dia sungkan menolak permintaan Anto. “Boleh To, tapi ada syaratnya. Besok kan ane ultah. Kalo ente beliin ane quran kecil yang kayak punyanya Kak Arif, ane mau deh ikut mentoring,” jawab Ikhwan spontan, mencoba menolak secara tidak langsung.
“Waduh! Dasar ente ikhwan matre. Diajak ke surga malah ngajuin syarat,” goda Anto.
“Masih mending lagi, ane minta ke ente. Kalo ke akhwat, khan berabe,” balas Ikhwan.
“Yee, genit juga nih ikhwan. Oke, kita lihat saja besok! Tapi janji ya, mau ikut?!”
“Suer deh!” keduanya tertawa. Tampak keakraban mulai cair di antara mereka. Segera kemudian mereka berwudhu, lalu sholat. Keesokan harinya, Ikhwan menerima hadiah ultah yang tak diduga-duga. Hadiah yang dipintanya hanya agar terhindar dari mentoring, karena yakin Anto tidak akan mengabulkan, kini tergeletak di depan mejanya. Sebuah quran saku putih, pemberian Anto. Yang membuatnya tidak bisa tidak, mengikuti mentoring rohis pada hari Jumat.***
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan yang tidak mengambil menjadi teman setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman?” Sudah ayat ke-16, lewat satu lembar. Ikhwan menyeka air matanya, kembali melanjutkan.***
“Kenapa sih, pacaran nggak boleh?” tanya Ikhwan pada Anto saat mereka sedang menunggu bus yang akan lewat. Mereka baru saja membeli perlengkapan spanduk di mall, untuk acara tabligh akbar rohis minggu depan. Kain spanduknya sudah ada, mereka tinggal membeli kertas karton warna dan double tape. “Lho, kan udah jelas dilarang Allah. Laa takrabuzzina, janganlah kamu mendekati zina. Pacaran khan mendekati zina, makanya dalam Islam dilarang. Gimana sih, masak ente belum tahu?” “Udah sih…cuma, ane masih bingung. Kalo nggak pacaran, gimana caranya mengenal calon istri kita?”
“Naa, ini dia nih. Ente sih, pas acara bedah buku ‘Pacaran Dalam Kacamata Islam’ kagak ikut. Jadi bingung deh. Makanya, males jangan dipiara!”
“Iya, iya. Afwan (maaf) deh. Trus, gimana dong caranya?”
“Sebelumnya ente mesti tahu dulu Wan, bahwa pacaran justru bukanlah cara yang baik untuk mengenal calon istri kita. Kenapa? Karena dalam pacaran, yang akan kita tunjukkan kepada pacar kita, begitu pula pacar kita kepada kita, tentunya adalah sosok diri yang kita pikir akan disukai oleh sang pacar, bukan diri kita apa adanya. Yang dimunculkan sisi-sisi baiknya saja, yang jelek ditutup-tutupi. Akhirnya…akan lahir kekecewaan-kekecewaan begitu disadari bahwa semua itu palsu, begitu pacar kita atau kita tahu yang sesungguhnya,” jelas Anto. “Dalam Islam jelas, pacaran lebih dekat kepada zina, karena ia memiliki kecenderungan yang sangat besar untuk diliputi syahwat. Makanya, buat yang sudah merasa siap disuruh menikah, yang belum kudu banyakin puasa dan ibadah. Nah, kalo kita sudah siap nikah…baru dah dicariin akhwat. Ntar nih Wan, ada yang namanya ta’aruf. Kita kenalan sama akhwat calon kita, kayak wawancara gitu. Selain itu kita juga bisa menggali informasi lewat orang-orang yang dekat dengan akhwat tersebut biar berimbang. Dari situlah kita mengenalnya lebih dalam.”
“Ooo, gitu,” Ikhwan mengangguk-angguk walau tampak masih bingung. “Trus, gimana kita tahu kalo tuh akhwat, atau orang-orang dekatnya kagak bohong?” tanyanya lagi. “Yee, ente coba…udah jadi ikhwan apa masih berani bohong?” Anto
balik bertanya.“Ngg, kalo terpaksa…iya,” jawab Ikhwan polos, yang disambut Antodengan tinju di bahu.
“Huu, itu sih emang entenya yang bandel! Lagian kalaupun tuh akhwat bohong, khan nanti sebelum memutuskan kita akan istikharah dulu, minta petunjuk. Mana bisa dia bohongin Allah!”
“Nah, kalo petunjuk-Nya nggak turun?” kejar Ikhwan lagi, iseng.
“Ente tuh nanya apa ngajak ribut sih? Udah ah! Ane males ngeladenin! Nanya lagi ane dorong ke jalan nih, biar ditabrak!”
canda Anto yang disusul tawa keduanya. Sesaat kemudian bus yang mereka tunggu tiba. Merekapun naik,
kembali ke sekolah untuk mengerjakan spanduk mereka.***
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepadamu, “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah!” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”
Ayat ke-38, tambah lagi dua lembar. Tampak marbot sudah muncul, sedang sholat sunnah. Pertanda waktu Isya menjelang. Ikhwan berhenti sejenak, kembali merenung. Renungan akan sosok yang dulu sangat dikaguminya, tempatnya sering bertanya, yang selalu coba diikuti setiap tindak baiknya, sosok yang telah mengajarinya banyak hal tentang Islam.
Mengenalkannya nasyid, meminjamkannya buku dan majalah Islam, menjelaskannya hakikat dakwah dan jihad. Dan terutama, sosok yang telah memberikannya quran saku putih yang kini dia baca. Sosok yang kini telah hilang. Berandai jika dirinya bisa kembali ke masa lalu, akan dia perbaiki segalanya. Tapi tidak bisa. Merenung jika dia bisa melihat masa depan, akankah dia temukan dirinya melalui jalan yang sama. Istighfar Ikhwan mengkhawatirkan imannya. Tinggal munajat yang tersisa, harapkan bantuan-Nya. Ikhwan pun melanjutkan tilawah.***
“Gue lelah Wan. Lelah menjadi Anto yang dulu. Anto yang selalu baik saat orang lain tidak baik, Anto yang tetap lurus saat di sekitarnya berubah bengkok. Dengan semua itu, apa yang gue dapet? Sepertinya dunia ini tidak adil. Seolah mereka semua nertawain gue Wan.” “Lucu khan, kalo yang lain bisa bebas ngapain aja, sedang hidupnya aman damai sentosa. Sedang gue harus susah payah mengejar arti kebahagiaan, dengan menjaga imej, berpura-pura menyukai apa yang
gue sebenernya gak suka, membenci apa yang gue sukai. Mengekang kebebasan gue sendiri.”
“Yang lain boleh berbuat salah, sedang gue kagak boleh salah. Gue harus tetap lurus dan terus-terusan menegur, berusaha sekuat tenaga meluruskan mereka yang bengkok. Gue harus tetap baik biar yang lain bisa niru gue jadi baik. Tapi apa yang gue dapet Wan? Yang bengkok tetap bengkok, yang tidak baik tetap tidak baik. Nggak ada yang mau dengerin gue, ngikutin gue. Jadi gue putusin, gue harus juga nikmatin hidup. Nikmatin masa muda gue, toh gue nothing to lose ya kan? Toh nggak bakal ada yang kehilangan atau ngikutin gue jadi bengkok. So, here I am. Right here, right now. The brand new Anto Rahardian.” Begitulah Anto menjelaskan sebab perubahannya pada Ikhwan. Singkat, namun Ikhwan menangkap nada kegamangan dalam kalimatnya. Pasti ada sesuatu yang lain. Sebab yang jauh lebih besar daripada hal sesepele itu. Tapi dia urung menggali lebih dalam. Keterpukulannya telah membuat Ikhwan enggan berbicara lebih banyak. Dia lebih memilih diam dan melayani tamu yang lain. ***
“Kalau yang kamu serukan itu adalah keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup, tentulah kami akan berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka
sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang berdusta.” Sampai ayat ke-42, Ikhwan kembali terhenti. Kali ini dia menangis, terisak-isak. Sang marbot yang sedang mempersiapkan sound memerhatikan, Ikhwan tidak peduli. Dia ingin menangis. Menangis sepuasnya kepada Sang Pemilik Air Mata. Yang menyadarkannya betapa jalan masih panjang.
Yang telah menunjukkannya betapa Dia Maha Membolak-balik Hati.
Yang mengajarkannya nilai sebuah keistiqamahan dan kewaspadaan pada perangkap setan.
Yang padaNya pula Ikhwan meminta…dijaga dari kefuturan (penurunan keimanan).
Adzan Isya pun mulai berkumandang.
Jurangmangu, 6 years after (08022002)
Jgn. ada yg. futur lagi yach…
To someone out there,
please send this mail to Hardi
we’ll love him…always